VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 131


__ADS_3

"Tuan, Nyonya. Di depan ada tamu." ucap Mbak Mira memberitahu majikannya.


Nyonya Rahma dan Tuan Hendra saling memandang. Keduanya heran, siapa gerangan yang bertamu pagi-pagi seperti ini.


Saat ini keduanya hendak bersiap untuk sarapan. Dengan Tuan Hendra yang sudah rapi menggunakan pakaian dinasnya. Sebab, Tuan Hendra sudah kembali ke aktifitas semula. Bekerja di kursi pemerintahan.


Seorang lelaki dengan memakai kaos sebagai atasannya dengan celana pendek, menuju ke arah mereka.


Tuan Hendra dan Nyonya Rahma mengernyitkan keningnya. Kenapa Viki muncul dari arah lain, yakni kamar Nara. Bukan turun dari anak tangga.


"Apa ada tamu?" tanya Viki, mengabaikan tatapan kedua orang tuanya, yang pastinya ingin menanyakan kenapa dirinya melangkah dari arah kamar Nara.


"Iya den." jawab Mbak Mira.


"Buatkan air minum." perintah Viki. Dengan santai Viki berjalan menuju ruang tamu.


"Apa-apaan tu anak." geram Nyonya Rahma, merasa Viki sangat tidak sopan.


Giska. Tidak ada yang peduli dengan sosok perempuan tersebut. Penghuni rumah ini, bahkan tidak menganggap kehadiran Giska di antara mereka. Sungguh ironis.


Sebab, memang Giska tidak di terima dengan tangan terbuka di rumah ini. Mereka terpaksa menerima Giska, lantaran Tuan Hendra yang memberi izin.


Bahkan, sudah dapat di tebak. Jika Tuan Hendra juga terpaksa menerima kehadiran Giska. Karena Giska beralasan sedang sakit.


Tuan Hendra mengajak sang istri untuk menyusul Viki. Sementara Nara masih di belakang. Sibuk dengan Rini. Atau lebih tepatnya, membantu persiapan Rini yang hendak pergi ke sekolah.


Tuan Marko dan Nyonya Gina berdiri, bersalaman dengan Viki. "Terimakasih sudah datang." ucap Viki, dengan menggerakkan tangannya, mengisyaratkan kedua tamunya untuk duduk kembali.


"Maaf, jika putri kami mengganggu kenyamanan keluarga ini." ucap Nyonya Gina dengan tulus. Viki hanya mengangguk dengan wajah datarnya.


"Tuan, Nyonya." segera Tuan Marko dan Nyonya Gina berdiri, berjabat tangan dengan Tuan Hendra dan Nyonya Rahma yang baru saja datang.


Kedua orang tua Viki sebenarnya merasa penasaran akan kedatangan kedua orang tua Giska. Namun mereka lebih memilih untuk tidak mengeluarkan pertanyaan yang sekarang ada di dalam benak mereka.


"Jujur, kami merasa sangat malu. Putri kami pasti sangat menyusahkan kalian." ucap Nyonya Gina lagi, merasa tak enak hati.


"Jadi mereka tahu, atau baru tahu." tebak Nyonya Rahma dalam hati.

__ADS_1


"Coba saja, kelakuan dan sifat Giska seperti mamanya. Pasti kami akan menerima kehadirannya dengan baik." lanjut Nyonya Rahma dalam hati.


"Tidak apa-apa Jeng, Giska sama sekali tidak merepotkan. Dia lebih sering menghabiskan waktu di dalam kamar." jelas Nyonya Rahma.


Tuan Smith dan Nyonya Gina hanya tersenyum kikuk mendengar penuturan dari Nyonya Rahma. "Silahkan di minum." ucap Nyonya Rahma, setelah Mbak Mira menurunkan beberapa gelas di atas meja.


"Sebaiknya, kita sarapan bersama. Bagaimana?" tawar Tuan Hendra.


Sebagai tuan rumah, tidak mungkin Tuan Hendra memperlakukan tamu dengan tidak sopan. Apalagi beliau melihat jika kedatangan keduanya tidak bermaksud untuk membuat keributan.


"Maaf, bukannya kami menolak. Namun kami sudah sarapan di rumah, sebelum berangkat ke sini." tolak Nyonya Gina dengan sopan.


"Khemmm,,,," Viki berdehem, sebab dia merasa pembicaraan yang dia dengarkan sama sekali tak bermanfaat sama sekali.


"Saya ingin, kalian mengajak Giska pulang dari sini." lanjut Viki tanpa membuang-buang waktu.


Tuan Marko menghela nafas panjang. Beliau sebenarnya merasa malu. Semalam, Rey, asisten Viki menghubunginya. Dan mengatakan semuanya yang diinginkan oleh atasannya.


Yakni, mereka harus segera mengambil Giska di kediaman Tuan Hendra. Besok. Jika tidak, semua rahasia Giska akan terbongkar. Termasuk Giska yang saat ini tengah berbadan dua.


Dan Tuan Marko memastikan, jika para pekerja di rumahnya. Tidak ada yang berkhianat. Lalu bagaimana Viki bisa mengetahuinya.


"Vik,,,," tegur Tuan Hendra, merasa Viki tidak memiliki sopan santun sama sekali pada orang yang lebih tua.


Namun Viki sama sekali tidak menghiraukan teguran dari sang papa. "Anda pasti sudah di beritahu oleh Rey semalam." ucap Viki dengan tenang.


"Viki...!!" seru Tuan Hendra, menegur kembali Viki.


Bukan Viki namanya, jika dia akan berhenti saat sang papa menegur kedua kali. Apalagi Viki merasa, apa yang dia lakukan adalah keputusan yang tepat.


"Mbak Siti, keluarkan dia dari kamar." perintah Viki dengan nada sedikit keras.


Mbak Siti memang sedang membersihkan perabot di ruang tengah, dan terlihat dengan jelas dari ruang tamu. "Baik Den." ucap Mbak Siti, segera melajukan perintah dari Viki.


Kata-kata dari Viki. Keluarkan dari kamar. Membuat semuanya mengernyit.


"Jika Giska bisa menempatkan diri, dan tidak berniat membuat masalah. Tentu saja, saya akan tetap membiarkan dia hidup di sini dengan senang hati." ucap Viki terjeda, memandang Tuan Smith dengan senyum smirk.

__ADS_1


"Tentu saja, dengan janinnya." lanjut Viki, membuat Tuan Hendra dan Nyonya Rahma terkejut dan merasa bingung.


Dengan kasar, Nyonya Rahma menelan salivanya. "Hamil... Giska, hamil." gumam Nyonya Rahma tidak percaya.


"Semalam, tanpa sepengetahuan saya, putri anda masuk ke dalam kamar saya. Beruntung, saya sedang tidak berada di dalam kamar." ucap Viki menohok.


Membuat Tuan Marko dan sang istri ingin sekali menghilang dari hadapan keluarga Viki saat ini. "Maaf." ucap Nyonya Gina dengan suara lirih.


Tuan Hendra hanya diam, dan tidak ingin menambah masalah lagi. Suara dari Viki, menurutnya sudah cukup. "Giska, masuk ke kamar kamu. Astaga, perempuan itu. Di kasih hati, minta jantung." geram Nyonya Rahma.


"Ma,,,," Tuan Hendra memegang telapak tangan sang istri, menenangkan rasa kesal yang bisa saja membuat Nyonya Rahma melontarkan kata yang lebih kasar lagi.


Bukannya Tuan Hendra membenarkan apa yang di perbuat Giska, hanya daja beliau merasa sungkan dengan kedua orang tua Giska.


Apalagi sangat jelas terlihat gurat malu, sedih, dan kecewa di raut wajah keduanya. Sebagai seorang yang sudah mempunyai anak, tentunya Tuan Hendra mengerti apa yang sekarang di rasakan oleh kedua orang tuan Giska.


Putri satu-satunya hamil di luar nikah. Kabur dari rumah. Dan bahkan hendak menjebak orang lain, untuk bertanggung jawab atas apa yang tidak dia lakukan.


Dan membutuhkan keberanian yang besar untuk keduanya datang ke rumah Tuan Hendra. Meminta maaf, atas kesalahan sang putri.


"Maaf, maafkan saya. Sebagai seorang perempuan, saya gagal menjadi ibu, saya gagal mendidik anak saya." air mata menetes di kedua pipi Nyonya Gina.


Begitu juga dengan Tuan Marko, beliau hanya memasang wajah sendu. Tangannya mengelus bahu sang istri. "Papa yang salah, papa yang salah." ucap Tuan Marko.


"Sudahlah, sekarang bukan saatnya saling menyalahkan. Semuanya sudah terjadi. Saya hanya bisa mendoakan, semoga ke depannya, Giska akan menjadi perempuan yang lebih baik." ucap Tuan Hendra tersenyum.


"Betul jeng, jeng adalah ibu yang hebat. Jangan menyalahkan diri sendiri." lontar Nyonya Rahma, merasa kasihan dengan kedua orang yang berada di depan mereka.


Karena putri mereka yang bermasalah, pasti keduanya akan mendapatkan rasa malu yang luar biasa. Terlebih semua orang mengenal siapa Tuan Marko.


"Sebaiknya Giska segera kalian nikahkan dengan Renggo, kehamilannya semakin lama akan semakin membesar. Tidak mungkin, bisa ditutupi. Dan lagi, seorang anak membutuhkan sosok seorang ayah." ucap Viki.


Tuan Hendra dan Nyonya Rahma tersenyum mendengar perkataan dari Viki. "Terimakasih, kami akan berbicara dengan Giska dengan pelan-pelan." tutur Nyonya Gina.


Viki terkekeh pelan. "Apa menurut kalian Giska perempuan penurut. Dia putri kalian. Pasti kalian lebih tahu bagaimana cara membuat seorang Giska patuh." ujar Viki.


Giska, dengan raut wajah di tekuk. Dia meninggalkan kediaman Viki. Dan kembali ke rumah kedua orang tuanya.

__ADS_1


__ADS_2