
Nara belum juga memejamkan kedua matanya. Meski dirinya sudah membaringkan badannya di atas kasur sedari tadi.
"Haaahhh...." untuk kesekian kalinya Nara membuang nafas kasar. Dengan menampilkan ekspresi kesal. Tapi seketika berubah sangat sedih.
"Iiihhh,,," ucap Nara dengan suara lirih tertahan. Meremas tepi selimut yang berada di atas dadanya dengan mengeratkan gigi-giginya.
Nara mengingat Viki, jika saat ini sekarang Viki sedang berada di acara tersebut. "Pasti di sana banyak perempuan cantik dan seksi." gumam Nara dengan ekspresi sedih.
Apalagi Viki tadi berpenampilan sangat tampan. "Pasti sekarang bang Viki sedang bersenang-senang." gumam Nara dengan kesal.
Cemburu. Itulah yang dirasakan Nara sekarang. Nara merasakan cemburu dengan alasan tidak jelas. "Ckkk..." decak Nara. Entah kenapa, dada Nara bergemuruh hanya memikirkan hal tersebut.
Nara menyingkap selimut di atas tubuhnya. Berjalan keluar dari kamar. "Apa bang Viki sudah pulang ya." ucap Nara dalam hati. Tapi dirinya belum mendengar suara deru dari mesin mobil.
Masih di depan kamarnya. Nara memukul pelan kepalanya sendiri. "Kenapa aku merasa kesal. Ingin menangis." Nara menjambak rambutnya kasar.
"Oke Nara, tenang. Hufffftt..." Nara mencoba menenangkan dirinya. Mengatur nafasnya dengan pelan.
Di umur Nara yang masih muda. Nara belum mampu mengontrol emosi yang berada di dalam dirinya. Terlebih Nara hanya tahu mencari uang untuk kedua adiknya saja. Menjadikan dirinya jarang bersosialisasi dengan banyak orang.
Nara termenung di kursi yang berada di dapur. Perasaannya benar-benar tidak karuan. "Aku harus apa?" ucap Nara, merasa perasaannya bertambah buruk.
Sungguh, Nara ingin menangis dan berteriak. Tapi dirinya tidak mungkin melakukannya. Bisa-bisa semua orang yang di rumah ini akan terbangun. Karena hari sudah larut. "Kenapa seperti ini." ucap Nara pelan, menaruh kepalanya di atas meja.
Sementara di dalam kamar, Nyonya Rahma dan Tuan Hendra berbincang di atas ranjang. Meski keduanya sudah berada di bawah selimut dan sudah bersiap memejamkan kedua matanya.
"Menurut papa, kenapa Viki berkata seperti itu?" tanya Nyonya Rahma, setelah beliau menceritakan apa yang dikatakan oleh sang putra kepada suaminya, sebelum Viki berangkat tadi.
"Sekarang coba mama ingat. Bagaimana kelakuan Giska. Apa dia terlihat baik seperti pertama bertemu dengan mama. Setelah mengetahui jika Viki menolaknya?" tanya Tuan Hendra.
Nyonya Rahma dan Tuan Hendra saling berpandangan. Nyonya Rahma menggeleng pelan. Teringat saat Giska terakhir kali mendatangi rumahnya.
Dimana Nyonya Rahma mencoba memberitahu dengan lembut jika dirinya tidak bisa membantu Giska. Dan Giska malah marah, juga berteriak.
Padahal Nyonya Rahma hanya berniat baik saat itu. Dirinya tidak ingin Giska mengharap Viki terlalu jauh. Yang malah akan membuat Giska semakin sakit hati.
"Dia marah, dan berteriak." ucap Nyonya Rahma mengingatnya, yang saat itu juga kaget dengan sikap yang di tunjukkan Giska padanya.
"Mama yakin, selama ini Giska tidak selembut yang mama kira." ucap Nyonya Rahma berprasangka.
"Sudahlah, mama tidak perlu memikirkan Giska. Karena dia bukan keluarga kita. Yang sekarang mama lakukan adalah melakukan apa yang Viki minta." saran Tuan Hendra.
"Iya, Papa benar." ujar Nyonya Rahma.
"Dan satu lagi." ucap Tuan Hendra, membuat Nyonya Rahma kembali menatap ke wajah milik sang suami. "Kenapa mama tidak menyiapkan air minum." lanjut Tuan Hendra memandang meja.
Nyonya Rahma menepuk pelan kedua pipinya menggunakan kedua telapak tangannya. "Astaga. Tadi mama sudah taruh di nampan. Lupa bawa." ucap Nyonya Rahma, turun dari ranjang.
Nyonya Rahma, menggelung asal rambutnya. "Sebentar pa." ucap Nyonya Rahma. Segera bergegas ke dapur, mengambil air minum. Karena kebiasaan Tuan Hendra, beliau akan minum air putih begitu membuka mata di pagi hari.
__ADS_1
Degg,,,, jantung Nyonya Rahma hendak copot. Saat melihat ada seseorang yang menelungkupkan kepala di meja dapur.
Apalagi lampu yang di dapur di matikan. Hanya lampu di ruang makan yang di nyalakan. Membuat dapur menjadi sedikit remang-remang karena memperoleh sinar dari tempat tersebut
"Siapa." ucap Nyonya Rahma dalam hati. Ada rasa takut di hatinya. Apalagi hanya terlihat rambut panjang milik Nara.
Segera Nyonya Rahma berdiri dan mengintip di balik tembok. "Mana mungkin ada maling. Apa hantu." ucap Nyonya Rahma lirih, dengan dada berdebar takut.
Saat Nyonya Rahma ingin kembali ke kamarnya, Nara mengeluarkan suara. "Aaahhh..." Nara mengangkat kepalanya dengan menampilkan ekspresi wajah masam.
"Nara." kesal Nyonya Rahma, saat mengetahui jika orang tersebut adalah Nara.
Ceklekk... "Ehhh..." Nara langsung melihat ke arah lain. Karena tiba-tiba lampu di nyalakan dengan terang.
"Tante." gumam Nara melihat Nyonya Rahma berjalan menuju ke arahnya.
"Kenapa kamu belum tidur?" tanya Nyonya Rahma, duduk di samping Nara.
"Belum mengantuk Tante." ucap Nara tidak sepenuhnya berbohong.
Nyonya Rahma memandang ke arah Nara. "Kamu tidak bisa membohongi tante. Kamu bahkan tidak bisa menyembunyikan ekspresi wajah kamu. Ada apa? Kenapa? Cerita sama tante." tanya Nyonya Rahma beruntun.
"Nara nggak tahu." ucap Nara menundukkan kepala, meremas jari jemarinya sendiri di atas meja dengan ekspresi lucu.
Nyonya Rahma memegang pundak Nara. "Kamu mikirin Viki?" tebak Nyonya Rahma.
Nara mendongakkan kepala. Membuatnya bersitatap dengan kedua mata Nyonya Rahma. Lalu mengalihkan pandangan ke depan.
Dan sepertinya Nyonya Rahma mengetahui alasan Nara seperti ini. Nyonya Rahma menggeser tempat duduknya. Lebih mendekat ke arah Nara.
"Apa yang kamu takutkan?" tanya Nyonya Rahma, tapi Nara hanya diam dan menundukkan kepala.
"Pasti di sana Viki bertemu dengan banyak perempuan cantik. Perempuan seksi. Iya?" tanya Nyonya Rahma.
Nyonya Rahma tersenyum, karena tebakannya ternyata benar. Nara sedang cemburu tanpa alasan. Nyonya Rahma tidak bisa menyalahkan Nara.
Karena Nyonya Rahma sadar jika umur Nara masih sangat muda. Pasti emosinya juga belum stabil alias labil. Dan menurut Nyonya Rahma, wajar saja jika Nara merasa cemburu. Karena Nara merasa takut jika saat ini Viki sedang bersama perempuan.
"Nara, lihat tante." suruh Nyonya Rahma. Dengan pelan, Nara memandang ke arah Nyonya Rahma.
"Setiap hari. Setiap hari Viki selalu bertemu dengan perempuan seperti itu. Bukan hanya di acara ini. Tapi di manapun Viki berada. Viki pasti bertemu dengan mereka."
"Sekarang saya mau tanya. Apa setiap hari kamu akan melakukan hal seperti ini? Cemburu. Dan hasilnya, kamu malah akan menjadi kesal." Nara masih diam mencerna setiap kalimat yang keluar dari bibir Nyonya Rahma.
"Kamu tahu. Selama ini, Viki hanya membawa pulang dua perempuan ke rumah ini. Dan pastinya kamu tahu siapa itu."
Nara mengangguk. "Mbak Ella dan saya." cicit Nara pelan.
"Betul. Sekarang saya mau tanya." Nara memandang dengan serius ke arah Nyonya Rahma. "Apa kamu benar-benar serius mau menikah dengan Viki?"
__ADS_1
"Kamu tahukan. Viki adalah lelaki tampan. Dia pengusaha. Dan pastinya di kelilingi perempuan cantik. Apa kamu akan tahan?"
"Sekarang, sebelum kamu menyesal. Kamu pikirkan lagi dengan benar mengenai keputusan kamu. Mau menikahi anak tante atau tidak."
"Meskipun tante sangat tahu, jika Viki tidak pernah memainkan perasaan kamu. Dia benar-benar mencintai kamu. Dia serius sama kamu. Karena tante, sangat tahu siapa anak tante." cecar Nyonya Rahma dengan berbagai pertanyaan.
"Nara, jika Viki menginginkan perempuan cantik dan seksi sebagai istrinya. Mungkin saat ini Viki tidak memilih kamu. Karena pasti Viki sudah menikah dengan perempuan seperti yang kamu pikirkan." tutur Nyonya Rahma.
"Kamu seharusnya tahu, kenapa Viki mencintai kamu. Kar- " ucap Nyonya Rahma terhenti saat Nara memeluk tubuhnya. "Terimakasih tante." ucap Nara.
"Nara akan menjadi perempuan seperti yang diinginkan bang Viki." ucap Nara, melepas pelukannya pada Nyonya Rahma.
"Kami itu cantik. Bahkan, tanpa make-up sekalipun. Dan Viki menyukai itu. Kamu juga seksi, untuk perempuan seusia kamu." puji Nyonya Rahma, membuat Nara tersipu.
Nyonya Rahma memegang telapak tangan Nara. "Tapi kamu tahukan, Viki tidak hanya membutuhkan perempuan cantik dan seksi sebagai istrinya." Nara mengangguk menyahuti perkataan Nyonya Rahma.
"Sekarang kamu paham. Apa maksud semua perkataan tante?" Nara mengangguk lagi kali ini dengan senyum.
"Mungkin ini saatnya aku menceritakan pada Nara, jika ada perempuan yang menginginkan Viki." ucap Nyonya Rahma dalam hati.
Nyonya Rahma menggeleng. "Tidak. Jangan sekarang." imbuhnya dalam hati.
"Tante kenapa?" tanya Nara, merasa jika Nyonya Rahma sedikit aneh.
"Ahh,,, tidak. Tidak ada apa-apa." ucap Nyonya Rahma. "Tante mau balik ke kamar, kamu tidur gih. Sudah malam. Tidak usah menunggu Viki pulang. Biasanya dia pulang larut malam jika ada acara seperti ini." jelas Nyonya Rahma.
Bukannya Viki tidak sanggup untuk melindungi Nara dengan kemampuannya saat ini. Tapi, bukan hanya perlindungan dari Viki yang Nara butuhkan.
Nara lebih membutuhkan kekuatan di mental untuk berada di samping Viki. Mengingat perempuan yang mendekati Viki mempunyai pikiran seorang psikopat.
Apalagi saat Viki membawa Nara ke hadapan umum. Yang berarti penting bagi Nara untuk mengenal siapa kawan dan lawan Viki.
Melva dengan berani melingkarkan tangannya di lengan Viki. Tangan Viki mengepal, tapi Viki segera menahan emosinya. "Gue harus memanfaatkan situasi ini." ucap Viki dalam hati.
Tangan Viki memegang telapak tangan Melva yang berada di lengannya. Tersenyum dengan lembut, menatap ke arah Melva.
Membuat Melva seketika merasa senang dan besar kepala. Sementara Giska mengeratkan kepalan tangannya. "Ular. Elo berani bermain sama gue. Oke. Kita buktikan, siapa yang akan menang. Tidak ada satu perempuan yang bisa bersanding dengan Viki. Tidak ada selain gue." ucap Giska dalam hati.
Melva menatap ke arah Giska dengan senyum terbaiknya. Tapi tidak untuk Giska, senyum yang di tampilkan Melva padanya adalah senyum penuh ejekan.
"Maaf, saya harus pergi. Ada beberapa orang yang harus saya sapa." ucap Viki, membawa Melva pergi bersamanya.
Renggo menatap ke arah Giska. "Mereka terlihat serasi. Bukan begitu sayang." ucap Renggo menggoda Giska.
"Cukup. Kita tidak sedekat itu. Jangan pernah memanggil saya dengan sebutan itu." geram Giska lirih, merasa jijik dengan panggilan yang Renggo berikan padanya.
Dari arah lain, ada seseorang yang selalu mengawasi gerak-gerik Viki. "Pintar sekali kamu menutupi aibmu. Tapi tenang saja. Karen saat ini, aku masih memberikan waktu untuk kamu bersenang-senang. Sebelum semua orang tahu, siapa kamu sebenarnya." ucapnya.
Orang itu belum mengetahui jika Viki sudah sembuh. Apa yang sebenarnya sedang dia inginkan. Dan siapakah dia. Kenapa bisa mengetahui tentang kelainan yang Viki alami.
__ADS_1
Bukankah selama ini hanya ada dua orang yang mengetahuinya. Ditambah dengan satu orang Nara. Tapi jangan lupa, masih ada satu orang yang mengetahuinya. Namun, saat ini orang tersebut sudah meninggal.