
Hoekk.... hoek.... Nara memegangi perutnya. Rasanya sungguh mual, tapi hanya air saja yang keluar dari dalam mulut Nara.
Setelah Viki berangkat kerja, Nara kembali masuk ke dalam kamar. Dia mengatakan pada para pembantu jika kepalanya sedikit pusing.
Dan ingin tidur, tanpa ada yang menganggu. Padahal Nara belum sarapan. Karena biasanya Nara akan sarapan bersama Viki.
Namun, pagi ini Nara mengatakan jika akan sarapan nanti saja. Dirinya beralasan pada sang suami jika masih sedikit kenyang, karena berulang kali mencicipi makanan saat membantu memasak.
Dan Viki percaya. Padahal, perut Nara akan terasa mual saat ada makanan masuk ke mulutnya.
Perlahan, Nara kembali berbaring di atas ranjang. Menarik selimut dan kembali. "Pasti masuk angin nih." Nara kembali menyibak selimut yang menutupi tubuhnya.
Perlahan mengambil minyak angin di laci meja, dioleskan pada perutnya. Berharap sebentar lagi rasa mual dan tidak enak di perutnya akan perlahan menghilang dan sembuh.
Tok,,, tok,,, "Nyonya." terdengar suara panggilan dari luar.
"Ckk,,, sudah dibilang jangan ganggu. Tetap saja." dengus Nara kesal.
Dengan perasaan jengkel, Nara membuka pintu. "Ada apa?" tanyanya dengan wajah judes dan jutek.
Sang pembantu sedikit terkejut. Sebab, selama bekerja di rumah ini, dirinya sama sekali belum pernah melihat Nara bersikap demikian.
"Maaf, Nyonya. Apa perlu, kami membawakan makanan ke dalam kamar Nyonya." tanyanya, meminta izin.
"Ckk,,, tidak perlu. Saya hanya ingin tidur."
Tanpa berkata lagi, Nara menutup pintunya. Membuat sang pembantu terlonjak kaget. "Astaga, ada apa dengan Nyonya?" tanyanya pada diri sendiri.
Segera dia pergi ke bawah, dan menceritakan pada Mbok. Yakni kepala pembantu di sini. "Mbok,, ada yang aneh sama Nyonya." ujarnya mengadu.
"Bicara yang jelas." pinta si mbok.
"Itu, wajah Nyonya pucat. Terus, saya tadi mencium ada bau minyak angin. Nyonya juga tidak biasanya seperti tadi."
"Memang Nyonya tadi kenapa?" tanya mbok yang penasaran.
"Wajahnya jutek, terus nada ngomongnya kasar. Padahal saya cuma mau menanyakan sarapan. Kan tadi Nyonya belum sarapan. Saya hanya khawatir." jelasnya, sedikit takut.
Keduanya belum selesai berbincang, seorang pembantu berlari dari atas tangga dan memanggil si mbok. "Mbokk... mbok...." panggilnya heboh.
"Ini lagi, ada apa?"
"Itu, saya tadi dari kamar Tuan dan Nyonya, mau ambil cucian kotor. Nyonya muntah-muntah di kamar mandi. Mau saya tolongin malah marah-marah." jelasnya, dengan nafas terengah-engah.
Tanpa bertanya lagi, si mbok langsung berlari ke kamar utama. Melihat keadaan majikan mereka. "Nyonya, Nyonya baik-baik saja?" tanya si mbok pelan.
Nara hanya diam, membungkus badannya menggunakan selimut. Dengan kedua mata terpejam.
Si mbok memberanikan diri, mendekat dan melihat wajah majikannya. "Gusti, pucat sekali wajah Nyonya."
Si mbok segera keluar dari kamar Nara. "Telepon Tuan Viki. Katakan jika Nyonya sakit. Saya mau buat bubur." pinta si mbok.
"Baik." ucap pembantu lainnya.
Semua pembantu di rumah seketika panik, mendengar jika Nyonya kecil mereka sakit.
Sementara di perusahaan, Viki yang sedang memeriksa beberapa berkas penting, terhenti lantaran ponselnya berdering.
"Halo. Ada apa?" Viki tahu jika orang rumah yang menghubunginya, sebab dia juga menyimpan nomor rumah pada ponselnya.
"Bagiamana keadaannya sekarang?" tanya Viki khawatir, mendengar jika sang istri sedang sakit.
Viki langsung mematikan panggilan telepon. "Atur ulang semua meeting saya. Istri saya sedang sakit." perintahnya pada sekertaris.
"Dimana Rey?" tanyanya, dengan tangan sibuk menghubungi seseorang.
Belum sempat sang sekertaris mengatakan sepatah katapun, Viki lebih dulu kembali memberi tugas untuknya. "Jika ada pertemuan penting, suruh Rey untuk menggantikan saya, dan menghandle semuanya."
Viki berjalan cepat meninggalkan perusahaan, dengan ponsel tertempel di telinga. "Halo, ke rumah saya sekarang juga. Istri saya sedang sakit." pintanya pada seseorang di seberang ponsel.
"Ada apa dengan Tuan Viki?" tanya Rey pada sekertaris. Dari ruangannya, Rey mendengar suara panik dari atasannya tersebut.
"Tuan Viki pamit pulang. Katanya Nyonya sedang sakit. Untuk pekerjaan yang penting, Tuan meminta anda menghandle semuanya." jelas sang sekertaris.
Rey hanya mengangguk dan kembali ke ruangannya. Tanpa bertanya lebih lanjut.
Viki mengendarai mobil dengan laju cepat. Dibenaknya hanya ada Nara, Nara, dan Nara. Beruntung, suasana jalanan tampak lenggang. Sebab di jam-jam seperti ini, semuanya akan sibuk dengan kegiatan masing-masing.
__ADS_1
"Di mana istri saya?" tanya Viki, setelah sampai di rumah.
Sebelum terjawab oleh pembantu di rumahnya, Viki melangkahkan kakinya untuk menuju ke dalam kamar.
Di kamar, si mbok ternyata sedang membujuk Nara untuk makan. "Sayang,,," panggil Viki dengan lembut.
Viki mengambil semangkuk bubur dari tangan si mbok. "Biar saya saja."
"Baik Tuan. Sejak pagi, Nyonya belum makan apapun Tuan." ucap si mbok, menyerahkan semangkuk bubur pada Viki.
Viki mengangguk. "Sebentar lagi akan ada dokter yang datang, mbok tunggu dia di depan. Bawa ke sini segera setelah dia sampai." perintah Viki.
"Baik Tuan."
Viki duduk di tepi ranjang. Memegang kening sang istri. "Tidak panas." gumam Viki. Namun wajah Nara terlihat pucat.
"Sayang, bangun. Buka mata kamu. Ayo, sarapan dulu." Viki berusaha selembut mungkin membangunkan sang istri kecilnya.
Nara membuka kedua matanya, dan tiba-tiba menangis. Segera Viki meletakkan mangkuk berisi buburnya di atas meja.
"Hey,,, ada apa? Hemm... katakan." Viki membelai rambut Nara.
Nara menggeleng, dan segera duduk, lalu memeluk tubuh sang suami dengan erat. Mencium aroma tubuh Viki, membuat perasaannya menjadi tenang.
"Makan dulu ya, nanti kamu malah tambah sakit." bujuk Viki dengan nada lembut.
Nara menggeleng. "Sedikit saja." bujuk Viki.
Nara menengadahkan wajahnya. "Nara akan mual, saat makan." cicit Nara mengadu.
"Mual?" tanya Viki.
Nara mengangguk. "Bahkan muntah."
Viki mengacak gemas rambut istri kecilnya. "Itu karena kamu tidak makan apa-apa dari pagi. Jadi kemungkinan, kamu masuk angin." jelas Viki.
"Abang suapi, sedikit saja. Nanti, jika kamu terasa mual saat makan, kita berhenti. Bagaimana?" bujuk Viki.
Nara memandang ke arah sang suami. Ada perasaan ragu untuk mengiyakan perkataan sang suami. "Kita coba dulu." bujuk Viki tak mau menyerah.
Nara mengangguk. "Akhirnya." ucap Viki dalam hati.
Sedikit demi sedikit. Tak terasa, bubur di dalam mangkuk telah habis tak tersisa. "Lihat, tidak muntahkan." Viki memperlihatkan mangkuk yang sudah kosong.
Nara mengangguk dan tersenyum. "Suamiku kenapa pulang?" tanya Nara, padahal ini masih terlalu pagi untuk pulang.
"Mbok tadi telepon. Katanya kamu sakit. Abang jadi khawatir." Viki mengecup singkat bibir Nara.
Viki selalu menoleh ke arah pintu. "Nungguin siapa?" tanya Nara.
"Tadi Abang suruh dokter ke sini. Untuk periksa kamu." jelas Viki.
"Nggak usah, nggak perlu. Nara sudah lebih baik kok. Benar." ucap Nara menyakinkan sang suami.
"Tapi wajah kamu pucat sayang." Viki membelai lembut pipi Nara.
"Nara sudah baikan kok." rengek Nara merasa tidak perlu diperiksa oleh dokter.
Tak berselang lama, terdengar pintu diketuk dari luar. Tok,,, tok,,, "Masuk..." Viki menaikkan nada suarnaya.
Ceklek... perlahan, pintu kamar terbuka dari luar. "Tuan, dokternya sudah datang." lapor mbok.
Seorang perempuan cantik masuk ke dalam kamar Viki, dengan senyum manis di bibirnya. Nara memicingkan sebelah matanya. Tidak suka melihat perempuan tersebut.
"Tuan Viki, siapa yang sakit?" tanyanya dengan sopan dan ramah, bahkan senyumnya tetap setia berada di bibirnya.
Viki hendak membuka mulutnya, namun Nara terlebih dahulu menyerobot. "Tidak ada yang sakit. Anda boleh kembali keluar dan pulang." Nara berkata dengan jutek.
Viki dan mbok sampai menoleh ke arah Nara. Terkejut. Tentu saja, biasanya Nara akan bersikap ramah pada siapa saja yang dia temui.
Namun apa yang terjadi saat ini, Nara menampilkan ekspresi wajah dingin dan juteknya. Benar-benar menunjukkan jika dia tidak menyukai kehadiran dokter perempuan tersebut.
Sang dokter hanya tersenyum. Entah senyum palsu, atau tulus. "Tapi wajah anda sangat pucat Nyonya."
Nara menghela nafas kasar. Memandang ke arah Viki dengan air mata sudah terkumpul di pelupuk mata.
Sontak, Viki menjadi khawatir. "Sayang, ada apa. Kenapa kamu malah menangis." Viki membawa Nara dalam pelukannya, menenangkan sang istri yang moodnya tiba-tiba berubah seketika.
__ADS_1
Viki memandang ke arah si mbok dan dokter secara bergantian. "Nara nggak mau diperiksa dokter cantik itu." cicit Nara. Semakin membuat Viki heran.
"Baiklah, jika memang kamu tidak mau diperiksa dokter cantik itu." ujar Viki.
Nara melepaskan pelukan Viki, dan memukulnya. "Loh,, loh,, ada apa." Viki menangkap lengan istrinya.
"Kenapa abang memuji perempuan lain. Bilang kalau dokter itu cantik." Nara berkata di tengah tangisannya. Padahal Viki hanya mengikuti apa yang dia katakan.
Semua melongo dibuatnya. Tak terkecuali sang dokter. "Oke,,, abang ralat. Dokternya tidak cantik. Masih cantik istri kecil abang." Viki mencium kening Nara dan memeluknya kembali.
Sang dokter dan Viki saling menatap, dan sang dokter mengangguk. Lalu mengajak si mbok keluar dari kamar.
"Maaf dok, maafkan Nyonya. Sumpah, Nyonya biasanya tidak seperti itu. Saya saja juga kaget. Apalagi sejak pagi, Nyonya selalu marah-marah tidak jelas. Padahal, selama saya bekerja di sini, beliau tidak pernah menaikkan nada suaranya pada kami. Tapi hari ini, Nyonya sangat aneh." jelas si mbok panjang lebar.
Sang Dokter tersenyum. "Iya, tidak apa-apa. Saya mengerti. Maaf sebelumnya, jika boleh tahu. Apa Nyonya Nara mual atau muntah?"
Si mbok langsung mengangguk. "Iya dok, bahkan beliau tidak sarapan. Saat kita suruh sarapan malah marah-marah nggak jelas." ungkap si mbok.
Sang Dokter mengangguk pelan. "Baiklah, jika begitu saya permisi dulu. Biar nanti, saya sendiri yang akan menghubungi Tuan Viki." tutur sang dokter.
"Baik dok, terimakasih."
Di dalam kamar, Nara masih betah untuk memeluk tubuh sang suami. Hingga Viki merasa jika sang istri sudah tidak menangis, dan tidak melakukan sedikitpun pergerakan.
"Apa Nara tidur." tebak Viki dalam hati.
Perlahan, Viki menggerakkan badannya. Dan mengubah posisi sang istri. Membaringkan tubuh Nara dengan pelan.
Viki menggeleng dan tersenyum, melihat dengan begitu mudahnya Nara tertidur. Setelah ada drama menangis dan marah-marah, yang menurut Viki, itu bukanlah sifat Nara.
Ting,,,, ponsel Viki berbunyi. Ternyata sang dokter mengiriminya pesan, agar mereka dapat berbicara.
Viki kembali menatap wajah ayu Nara saat terlelap. "Dia sendiri yang bilang cantik. Giliran gue ngikutin kata dia, ehh,,,, malah marah." Viki terkekeh pelan.
Segera Viki berjalan menuju balkon kamar. Dan menghubungi sang dokter. Nampak keduanya tengah mengobrol serius.
"Terimakasih dok." Viki segera menutup teleponnya, begitu percakapan mereka selesai.
Senyum Viki mengembang, teringat perkiraan sang dokter. Jika saat ini, Nara tengah mengandung buah cinta mereka.
"Bang...." terdengar suara Nara memanggil sang suami, segera Viki kembali menghampiri sang istri.
Nara tersenyum memandang ke arah Viki. "Aku kira suamiku berangkat kerja lagi." cicit Nara, menaruh kepalanya di paha sang suami.
Manja. Cengeng. Mood mudah berubah. Itulah yang kini Viki lihat dari sang istri kecilnya. "Sayang, abang mau tanya." Viki membelai lembut rambut Nara.
Nara melingkarkan tangannya di pinggang sang suami, dan menaruh wajahnya di depan perut Viki. "Bagaimana menurut kamu, jika kita dalam waktu dekat diberi momongan?"
Posisi Nara tetap sama. Malah semakin mengeratkan pelukannya, dan mencium wangi tubuh sang suami. "Maksud abang?"
"Jika Tuhan menitipkan janin di rahim kamu, apa kamu akan menerimanya?" tanya Viki dengan hati-hati.
Nara terdiam sesaat, tidak menjawab pertanyaan dari sang suami. Lalu melepaskan pelukannya. Mengubah posisinya dengan duduk bersila di depan Viki.
"Hamil." cicit Nara. Viki mengangguk. "Seandainya." tekan Viki.
Nara malah kembali menangis, membuat Viki bingung. "Oke, jangan menangis." Viki membawa Nara ke dalam pelukannya.
"Husstt,,, jangan menangis. Jika kamu belum siap, tidak apa-apa. Lagi pula umur kamu saja belum genap dua puluh tahun." Viki mencoba mengerti apa keinginan Nara.
"Iiihh,,,, abang, kok bicara begitu." Nara melepas pelukannya, mengusap air mata di pipinya dengan kasar.
Salah lagi. Viki menjadi serba salah. Dirinya mengira jika sang istri belum siap. "Maaf, abang salah. Kamu maunya bagaimana?"
Viki mencoba menahan emosinya dan bersabar. Jika benar seperti yang dikatakan sang dokter, jika Nara tengah berbadan dua. Viki harus bisa menahan emosinya.
Sebab, sang dokter mengatakan jika hormon perempuan hamil akan cepat berubah. Dan itu sangat berpengaruh di setiap perasaan dan sikapnya.
"Memang abang nggak mau, punya anak dari Nara?!" tanya Nara dengan kesal.
"Tadi manja, terus nangis, sekarang galak kayak singa. Tuhan, perbanyak stok kesabaran hamba." ucap Viki dalam hati.
Viki tersenyum. "Mau, tentu saja abang mau. Malah abang berharap kita..." Viki menggantung kalimatnya. Dia tidak ingin Nara salah paham lagi.
"Emmm,,, maksud abang. Abang serahkan semuanya sama kamu. Iya. Abang ikut saja apa keinginan kamu." ucap Viki memutuskan.
Nara tersenyum. "Nara kepengen hamil dan punya baby. Kayak baby Al. Dia lucu banget bang." ujar Nara.
__ADS_1
"Iya.. Iya... Benar." Viki tertawa kaku.
Huffttt.... Viki menghela nafas panjang. "Semoga kamu beneran hamil sayang. Tapi, jangan rubah sifat kamu yang dulu. Sumpah, sekarang kamu bikin abang jantungan." keluh Viki dalam hati.