
Keesokan hari, berita mengenai kedekatan Viki dan Melva santer beredar. Apalagi setiap majalah hingga sosial media menampilkan foto keduanya yang tampak serasi.
Belum lagi acara di televisi. Semua acara gosip memberitakan kedekatan keduanya. Viki dan Melva memasang senyum sempurna di bibir mereka.
Lengan mbok Nah menyikut tangan Mbak Mira. Membuat Mbak Mira menoleh ke arah Mbok Nah. Segera mbok Nah memberikan kode melalui ekspresi wajahnya pada Mbak Mira.
Mbak Mira menatap ke mana mbok Nah mengangkat dagunya. "Biarkan saja mbok. Jangan di tanya. Biasanya orang cemburu itu sangat sensitif." ucap Mbak Mira.
Tadi pagi Nara mengambil koran yang setiap hari di antar ke rumah Tuan Hendra di pos depan. Mata Nara membulat sempurna saat melihat bagian depannya.
Tampak gambar Viki dan Melva sedang bergandengan tangan. Terlihat sangat serasi. Nara masih ingat, jika pakaian tersebut di pakai Viki semalam untuk menghadiri acara.
Dengan cekatan, Nara menyalakan televisi. Dan tepat, Nara melihat acara infotaiment. Dimana kedekatan Viki dan Melva di bahas pada acara tersebut.
Dengan bibir cemberut, Nara merapikan mainan Bima di depan televisi. Sementara Bima sendiri di ajak pergi oleh Nyonya Rahma dan Mbak Siti untuk berbelanja keperluan sehari-hari.
Tuan Hendra sudah berangkat bekerja. Dan Rini juga sudah berangkat sekolah.
Brakkk..... "Astaghfirullohal adzim." ucap Mbok Nah dan Mbak Mira memegang dadanya. Terkejut saat Nara meletakkan dengan kasar mainan Bima di pojok tembok.
"Rusak, rusak deh itu mainan." gumam Mbak Mira menggelengkan kepala.
"Husss..." ucap Mbak Mira menepuk punggung Mbok Nah. Karena posisi Mbok Nah yang membelakanginya.
Mbok Nah membalikkan badan. "Apa?" tanya Mbok Nah.
"Tu." ucap Mbak Mira, dengan pandangan mata mengarah ke tangga. Dimana Viki turun dari atas, masih menggunakan kaos serta celana pendek. Tampaknya Viki baru bangun tidur.
Nara hanya melirik ke arah Viki, dan tampak acuh. Malah dirinya seperti sibuk sendiri. Sementara Viki langsung duduk. "Nara..." panggil Viki.
Tapi Nara tetap tidak memandang bahkan menyahuti panggilan Viki. "Ra,,, minum." ucap Viki. Tapi lagi-lagi Nara acuh.
"Nara....!!" panggil Viki menaikkan nada suaranya. Nara pergi ke dapur, mengambil segelas air putih. Menaruhnya dengan kasar di depan Viki. Membuat sebagian air meloncat keluar.
"Ehhh...." ucap Viki, Nara segera meninggalkan Viki kembali tanpa bersuara sedikitpun. "PMS kali ya." ucap Viki meminum air tersebut.
"Tumben belum mandi den." tanya Mbok Nah mendekat.
"Iya mbok, sebentar lagi. Masih ngantuk." jawab Viki.
"Ngantuk. Ya iyalah ngantuk. Semalam begadang." sindir Nara, tapi Viki sama sekali tidak paham akan perkataan Nara.
Mbok Nah meletakkan koran di depan meja Viki. "Lihat dan baca." ucap Mbok Nah pelan.
Baru saja Viki hendak melebarkan bagian koran yang tertekuk. Viki sudah melihat wajahnya dan juga wajah Melva di sana. Viki menatap ke arah Mbok Nah yang masih berdiri di sampingnya.
"Cemburu." ucap Mbok Nah, tanpa mengeluarkan suara. Lalu melihat ke arah Nara yang sedang membawa kemoceng. Membersihkan beberapa hiasan rumah.
Viki tersenyum dan mengangguk. "Aaaa....!!!" jerit Nara saat Viki dengan cepat menggendong tubuh Nara seperti karung beras. Bahkan kemoceng di tangan Nara terlepas.
Mbok Nah dan Mbak Mira hanya tertawa melihat keduanya.
"Aaauu......!!" seru Nara, saat Viki menjatuhkan badannya di kasur empuk yang berada di dalam kamar Viki.
Viki menahan tubuh Nara yang hendak bangun. Menindihnya hingga Nara tidak bisa bergerak. "Mau kemana?" tanya Viki.
Nara memukul ke arah Viki. Bahkan pukulan Nara mengenai wajah dan badan Viki. "Diam." geram Viki memegang kedua pergelangan tangan Nara.
Nara masih dengan wajah kesal dan cemberut memalingkan wajahnya ke samping. Viki tersenyum dan.... cup,, cup,, cup,, cup,, berkali-kali Viki mencium pipi mulus milik Nara.
"Abang!!!" teriak Nara dengan nada kesal.
"Apa? Cemburu?" goda Viki.
"Berat. Sesak bang...." ucap Nara, masih memalingkan wajahnya ke samping.
Viki turun dari atas tubuh Nara. Memeluk Nara dari samping. "Diam Nara." ucap Viki lirih. Tepat di samping telinga Nara. Saat tangan Nara yang sudah terlepas berusaha menyingkirkan tangan Viki yang melingkar di perutnya.
"Abang sengaja." ucap Viki, Nara mengernyitkan keningnya, menatap ke arah Viki yang tidur di sampingnya dengan menggunakan sebelah tangannya sebagai penopang kepalanya.
"Abang sengaja melakukannya." ucap Viki kembali, dengan tangan bermain di pipi Nara. "Bukan untuk membuat kamu cemburu." lanjut Viki mengecup kening Nara.
"Tapi untuk melindungi kamu. Sayangku." bisik Viki, sambil menggigit kecil daun telinga Nara.
"Bisa kita bicara sambil duduk." pinta Nara, merasa jika posisinya sangat membuatnya tidak nyaman.
__ADS_1
Viki malah mengeratkan pelukannya kembali. "Abang suka yang seperti ini." ucap Viki dengan nada manja, menaruh kepalanya di leher Nara bagian samping. Nara tersenyum samar mendengarnya.
Tidak dipungkiri, ada riak kebahagiaan saat Viki bersikap manja pada dirinya. "Bang." panggil Nara lirih, menatap ke langit-langit kamar Viki.
"Tadi abang bilang mau melindungi Nara. Memang Nara kenapa?" tanya Nara penasaran.
Nara memang masih muda. Tapi dirinya termasuk perempuan dengan sifat sabar. Apalagi dia juga menjaga kedua adiknya yang masih kecil.
Membuat Nara tanpa sadar berlatih mengasah kesabaran dari hal tersebut. "Abang mau menceritakan semuanya sama kamu. Kamu dengar sampai selesai. Jangan pernah memotong perkataan abang." pinta Viki.
"Iya." sahut Nara lirih.
Viki menceritakan siapa Giska. Juga tentang bagaimana Viki bisa kenal dengan Giska. Bagaimana kelakuan Giska. Dan juga tentang Giska yang terobsesi pada dirinya.
"Begitu sayang." ungkap Viki.
"Memang tante tidak tahu?" tanya Nara, apalagi Nara mendengar jika Nyonya Rahma yang memulainya.
Viki melepas pelukannya. Lalu beralih ke posisi duduk. Membawa Nara duduk di dekatnya. Dan memeluk Nara dari belakang. Menaruh kepalanya di pundak Nara.
"Kalau mama tahu, pasti dia nggak akan melakukannya. Karena memang awalnya Giska sangat lembut dan terlihat sopan." ungkap Viki.
"Kenapa abang tidak tertarik?" tanya Nara. Karena menurut Nara, pasti perempuan yang bernama Giska tidak akan menjadi seperti sekarang jika Viki menerimanya.
Viki mencubit gemas pipi Nara. "Kenapa harus tanya. Kamu tahu jawabannya." jawab Viki.
Nara tersenyum. Dirinya merasa bersyukur jika dulu Viki mempunyai kelainan. Jahatkah Nara? Siapa yang peduli. Yang terpenting sekarang Viki sudah sembuh. Dan Nara satu-satunya perempuan di hati Viki.
"Bang, kenapa abang dulu tidak berterus terang pada Giska. Seperti abang berterus terang pada Nara. Mungkin dia sama seperti Nara. Menerima abang dengan ikhlas." tutur Nara.
"Abang bukan orang yang ceroboh. Abang sudah menyelidiki siapa Giska. Dia bukan perempuan baik yang bisa melahirkan anak-anak abang." ucap Viki tegas.
Viki mendekatkan bibirnya ke telinga Nara. "Abang hanya ingin menikahi seorang perawan." bisik Viki.
Sontak, Nara menolehkan wajahnya ke arah Viki. "Dia..." tebak Nara, jika Giska sudah bukan perawan.
Nara memicingkan sebelah matanya. "Dari mana abang tahu?" selidik Nara.
Viki terkekeh. "Calon suamimu ini bisa menemukan dan menyelidiki apapun." sombong Viki.
"Iya, makanya abang minta kamu berhati-hati. Abang yakin, jika suatu saat dia pasti akan datang ke sini. Dan abang juga yakin, jika calon istri abang ini sangat pandai." puji Viki, mencium pipi Nara.
"Tunggu." Nara melepaskan tangan Viki di perutnya. Membalikkan badan dan duduk menghadap ke arah Viki. "Lalu perempuan di foto. Pasti sekarang dalam bahaya." ucap Nara merasa khawatir dengan Melva.
"Dia Melva. Seorang artis." jelas Viki mencubit gemas hidung kecil dan mancung milik Nara.
"Iya, Nara tahu itu." ucap Nara terlihat khawatir. Viki tertawa melihat ekspresi wajah Nara. "Bang!!" seru Nara memukul lengan Viki. Marasa kesal karena menertawakannya.
"Dia sama seperti Giska." ungkap Viki. Nara menyatukan kedua alisnya.
Viki menangkup kedua pipi Nara dan memberi sedikit tekanan. Hingga bibir Nara maju. "Mereka sama. Kamu tidak perlu khawatir." ucap Viki.
Nara memegang tangan Viki. Membawanya menjauh dari kedua pipinya. "Tapi Melva terlihat sangat anggun dan baik." ucap Nara, karena Nara hanya melihat Melva di televisi.
"Dia artis sayang. Sudah sepatutnya menjaga semua kehidupannya. Supaya terlihat baik di mata masyarakat dan fansnya." ucap Viki.
"Benarkah?" tanya Nara, masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Viki.
Viki mengangguk pelan. "Kamu jangan mudah percaya dengan seseorang yang baru atau belum kamu kenal. Paham." ucap Viki serius.
Nara mengangguk. "Apa ada lagi perempuan yang mendekati abang. Selain mereka." cicit Nara lirih.
"Banyak. Dan pastinya kamu tahu apa alasannya." ucap Viki.
Viki memandang ke arah Nara dan tersenyum. "Apa sih bang." ucap Nara merasa malu, karena Viki menatapnya dengan intens.
"Sudah cemburunya?" goda Viki.
"Cemburu. Siapa yang cemburu." sanggah Nara.
"Beneran." goda Viki, memajukan wajahnya. "Mau kemana?" Viki memegang pergelangan tangan Nara, saat Nara hendak turun dari atas ranjang Viki.
"Lepas bang. Nara mau keluar." rengek Nara.
Bukannya melepaskan Nara, Viki malah mencium seluruh wajah Nara secara berkali-kali. "Emmmmhhh..." ucap Nara saat Viki hendak menempelkan bibirnya di bibir Nara.
__ADS_1
Brakkk..... pintu terbuka dari luar dengan keras.
"Viki,,,,,, Nara,,,,,!!!!!" seru Nyonya Rahma melihat keduanya di atas ranjang.
Segera Nara mendorong kuat tubuh Viki. Bergegas turun dari kasur Viki dan berdiri. Tak lupa Nara merapikan rambut panjangnya yang berantakan dan juga pakaiannya. Entah dimana tali rambut yang tadi mengikat rambutnya menjadi satu. Hingga rambutnya saat ini menjadi tergerai.
"Apa yang kalian lakukan!" bentak Nyonya Rahma berkacak pinggang.
Sepulang berbelanja, Nyonya Rahma menaruh barang belanjaannya di atas meja dapur. Karena tidak melihat sosok Nara, beliau bertanya pada Mbok Nah.
Segera Nyonya Rahma bergegas ke kamar Viki begitu Mbok Nah menyampaikan jika Viki membawa Nara ke dalam kamarnya. Dan terhitung lumayan lama.
Nara menunduk. "Kami tidak melakukan hal yang melebihi batas tante." ucap Nara lirih. Merasa takut.
"Melebihi batas juga tidak apa-apa." gumam Viki cuek, tapi masih bisa di dengar Nyonya Rahma yang sekarang sudah berdiri di samping Viki.
Nyonya Rahma melotot memandang ke arah Viki. "Kamu." geram Nyonya Rahma melihat ke arah Viki.
"Pengganggu." imbuh Viki membuang wajah.
"Aaaaaauuuwwww,,,,, maaaaa!!" jerit Viki saat tangan Nyonya Rahma mengangkat salah satu telinganya ke atas.
Nara meringis melihat Viki kesakitan. "Apa kamu bilang. Pengganggu. Kamu mau merusak Nara. Jawab. Dasar tidak punya aturan. Beruntung mama segera datang. Kamu mau ngapain Nara. Hah." omel Nyonya Rahma, dengan tangan masih menjewer telinga Viki.
"Tante..." ucap Nara merasa kasihan melihat Viki kesakitan.
"Diam kamu Nara." bentak Nyonya Rahma. Membuat Nara langsung membungkam mulutnya.
"Ma,,,, lepas. Sakit." rengek Viki. "Daun telinga Viki bisa putus ma." imbuh Viki mengiba.
Nyonya Rahma melepas tangannya di telinga Viki. Segera Viki memegang telinganya yang terasa sakit. "The power of emak-emak." ucap Viki dalam hati.
"Awas kalau kamu sampai ngapa-ngapain Nara. Lihat saja, Mama nggak akan merestui kamu." gertak Nyonya Rahma.
"Ma, Viki anak kandung mama." ucap Viki, merasa sang mama lebih menyayangi Nara.
"Dan kamu Nara. Jangan asal masuk ke dalam kamar Viki. Jika tante nggak ada di rumah. Bisa-bisa kamu di perkosa Viki." celetuk Nyonya Rahma. Membuat Nara kembali menunduk.
"Sudah sana keluar." ucap Nyonya Rahma.
"Maaa...!!" seru Viki, saat tangan sang mama mencubit lengannya hingga meninggalkan bekas kemerahan. Nara meringis melihatnya.
"Awas kalau kamu apa-apain Nara." sungut Nyonya Rahma. Dan Viki mengelus pelan bekas cubitan sang mama.
"Sayang." ucap Viki menatap Nara dengan iba.
"Apa!!" bentak sang mama.
"Nara,, keluar." perintah Nyonya Rahma. Alih-alih marah dan kesal. Nara merasa senang dengan apa yang dilakukan dan dikatakan oleh Nyonya Rahma.
Meskipun dirinya juga di bentak oleh beliau. Nara merasa jika Nyonya Rahma juga menyayanginya, seperti beliau menyayangi Viki.
Viki berangkat ke perusahaan agak siang. Sementara Nara, sekitar pukul satu siang melanjutkan kegiatan belajarnya.
Kali ini, Nara merasa Alif bersikap seperti biasanya. Dia tidak lagi bersikap sok akrab pada Nara. Setelah Nara menegurnya. Menjadikan Nara tenang dan juga fokus saat belajar.
Semoga Alif benar-benar tahu kesalahannya. Bukan hanya pengalihan sementara.
"Bagiamana?" tanya Viki pada Rey.
"Tuan, saya sudah menemukan di mana bros ini di buat. Tapi..." ucap Rey menggantung.
Rey menatap Viki dengan tatapan sulit. "Bros ini tidak di pesan di negara ini. Melainkan di luar negeri." lanjut Rey.
Tampak Viki hanya diam. Dan Rey menduga jika atasannya tersebut sudah mengetahui hal tersebut. "Lambang." kata Viki.
"Ini adalah lambang dari keluarga bangsawan Tuan. Hanya orang tertentu yang bisa menggunakan lambang ini dalam bendanya." jelas Rey.
"Maaf Tuan." Rey membuat laptop milik Viki. Lalu jarinya mengetik sesuatu di keyboard.
"Ini Tuan." Viki melihat ke arah laptop. Viki menatap ke layar laptop dengan tatapan datar.
"Maaf Tuan, jika saya boleh bertanya. Benda tersebut milik siapa?" tanya Rey dengan hati-hati.
"Cari siapa yang memesan barang tersebut. Jika perlu, bayar orang untuk menelusurinya. Pastikan orang tersebut bisa menjaga mulutnya." bukannya menjawab pertanyaan Rey, Viki malah memberi perintah kepada Rey.
__ADS_1
"Baik Tuan."