VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 73


__ADS_3

"Ini Tuan." Rey menyerahkan berkas pada Viki. Dimana di lembar tersebut tertera asal dari bros milik Nara di buat.


Dan juga pemilik keluarga mana yang biasanya menggunakan simbol kecil yang ada di balik bros tersebut digunakan. "Keluarga ini." Viki memicingkan kedua matanya.


Viki membacanya dengan teliti. "Cari tahu tentang keluarga ini. Dan juga, orang yang sudah memesan bros tersebut. Cari tahu semuanya." perintah Viki.


"Baik Tuan." segera Rey meninggalkan ruangan Viki. Kali ini, Rey harus bekerja sedikit ekstra. Meskipun Viki hanya menyuruhnya untuk memantau proyek besar yang sekarang berada di tangan Viki.


Tidak lantas membuat seorang Rey bernafas lega. Memantau. Kata tersebut terdengar ringan, namun tetap saja Rey harus memastikan proyek berjalan dengan lancar tanpa hambatan.


Belum lagi masalah bros dan juga kecelakaan yang menimpa Tuan Hendra. Membuat Rey harus bekerja lebih giat di samping seorang Viki untuk kali ini.


"Beruntung gaji gue besar." gumam Rey, kembali ke ruangannya.


Rey mendaratkan pantatnya di kursi kebesarannya yang berada di ruangannya. Memejamkan kedua matanya sembari menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.


"Sebenarnya, milik siapa bros tersebut." Rey membuka kedua matanya. Ada rada penasaran yang amat besar di benak Rey.


Terlebih Viki seorang yang sangat tertutup mengenai kehidupan pribadinya. Meskipun pada Rey, asisten pribadinya. Viki tidak pernah menceritakan masalah pribadi pada Rey.


"Apa Tuan sedang dekat dengan seorang perempuan." gumam Rey, tersenyum lebar.


Entah kenapa, memikirkan hal tersebut membuat Rey merasa senang. Bukan apa-apa. Tapi karena memang selama ini, Rey tidak pernah melihat atasannya tersebut terlihat dekat dengan seorang perempuan. Kecuali Ella.


Padahal, dirinya saja juga tidak pernah dekat dengan perempuan. Karena kesibukan yang dia miliki sebagai asisten sekaligus orang kepercayaan dari Viki.


Dan saat di rumah sakit, Rey memang tidak melihat Nara. Karena Nara terus berada di dalam ruangan Tuan Hendra saat Rey datang untuk menemui Viki. Terlebih, Rey sangat jarang mendatangi kediaman dari Tuan Hendra.


Dan juga, Viki hanya mengajak Rey berbicara di luar ruangan. Sementara Rey juga tidak pernah masuk ke dalam ruang rawat Tuan Hendra. Menjadikan Rey dan Nara tidak pernah bertemu.


"Giska." ucap Rey lirih. Menggelengkan kepalanya. "Tidak mungkin. Tuan Viki tidak sebodoh itu. Menjadikan perempuan seperti Giska untuk mendampinginya." lanjut Rey seperti mengejek Giska.


"Seandainya saja Giska bisa menjadi perempuan yang sedikit mempunyai kehormatan dan kebaikan di hatinya. Mungkin Tuan Viki akan mempertimbangkannya." ucap Rey bermonolog.


"Melva." tebak Rey. Lagi-lagi Rey menggelengkan kepalanya. "Tidak mungkin juga dia. Aisss... aku saja tidak mau jika mempunyai istri seperti Melva." Rey membayangkan wajah Melva yang berseliweran di layar televisi dan juga majalah.

__ADS_1


"Melva. Giska. Sama saja. Keduanya pintar berakting. Sayangnya, Giska berakting, tapi tak menghasilkan uang. Berbeda dengan Melva. Tapi, sayangnya Melva membawa aktingnya yang bagus dalam dunia nyata." ucap Rey mencebik.


Teringat saat Rey beberapa kali memergoki Melva berbicara kasar pada asistennya, hingga bersikap kasar padanya. "Pantas saja, asistennya selalu ganti. Mungkin selain karena sifat asli Melva. Bayarannya juga sedikit." tebak Rey.


Rey memukul kepalanya sendiri. "Kenapa otak kamu malah berpikir kepada mereka berdua. Dasar." gumam Rey kesal pada dirinya sendiri, karena tersadar dirinya sibuk menilai kedua perempuan penggila Tuannya tersebut.


Segera Rey mengambil laptop dan membukanya. Menyelesaikan pekerjaannya, yang sedikit tertunda di karenakan pikirannya malah fokus pada dua perempuan yang saat ini mengejar-ngejar Viki.


Di dalam ruangan, jari Viki bergerak lincah di atas keyboard. Viki, Denis, dan Ella. Ketiganya mempunyai jari yang sama hebatnya saat berada di atas keyboard.


"Nara, kamu berasal dari keluarga yang sulit. Dan pemicunya adalah harta. Rebutan harta warisan. Ckkk,,, dasar. Manusia tidak berguna. Sampah." dengus Viki.


"Tapi siapa kedua orang tua kamu?" tanya Viki pada dirinya sendiri, dengan kedua mata fokus ke layar laptopnya.


Di sana tertera silsilah keluarga, yang di yakini Viki adalah keluarga kandung dari Nara. Tapi Viki belum bisa menebak, siapa kedua orang tua Nara.


"Aku harus mencari tahu, siapa kedua orang tua kamu. Siapa yang sudah membuang kamu." gumam Viki.


Viki menatap lurus jauh ke depan. "Pantas, jika otak kamu encer. Padahal kamu tidak pernah bersekolah." ucap Viki, saat mengetahui latar belakang Nara yang tidak biasa.


Viki menduga jika Nara sebenarnya masih mengingat masa lalunya. Meski hanya sedikit ataupun kepingan-kepingan kecil.


"Apa aku harus memulai dari Nara sendiri." ucap Viki, menyakinkan dirinya sendiri. Untuk langkah yang akan di ambil selanjutnya.


Di rumah sakit tempat Tuan Hendra di rawat.


"Ada apa dok?" tanya Nyonya Rahma terlihat khawatir, begitu juga Nara, karena beberapa petugas medis masuk ke ruang rawat Tuan Hendra.


"Kami hanya melakukan pemeriksaan secara berkala Nyonya." jelasnya dengan senyum ramah. Karena tidak mungkin jika berkata terus terang pada Nyonya Rahma.


"Silahkan." Nyonya Rahma dan Nara memberi ruang pada beberapa petugas medis. Melihat dari belakang, apa saja yang hendak di lakukan oleh mereka.


Nyonya Rahma merangkul pundak Nara. Entah kenapa, Nyonya Rahma merasa jika Nara lebih tegang dari pada dirinya.


Nara sedikit mendongakkan kepalanya. Menatap ke arah Nyonya Rahma. "Semua akan baik-baik saja. Om pasti akan segera sembuh." ucap Nyonya Rahma, menenangkan Nara.

__ADS_1


Kedua mata Nara memperhatikan setiap gerakan dari para ahli medis tersebut sedari tadi. "Tunggu..!!!" teriak Nara. Membuat semua petugas medis menghentikan kerjanya.


Nara melepaskan tangan Nyonya Rahma di pundaknya. Berjalan ke arah dokter yang menurut Nara dari tadi bertingkah mencurigakan.


"Apa yang ingin kamu berikan pada om Hendra?!" tanya Nara membentak sang dokter. Membuat semua dokter beserta perawat yang memeriksa Tuan Hendra memandang ke arah Nara dengan tatapan heran.


"Tolonnggg!!!?" teriak Nara, membuat beberapa bawahan Viki yang berjaga di depan ruangan masuk ke dalam.


Nara tidak peduli meskipun membuat kegaduhan di dalam ruangan. Yang dia inginkan hanya menyelamatkan Tuan Hendra dan memastikan sesuatu yang menurutnya janggal.


"Ada apa Nona?" tanyanya.


Jari telunjuk Nara mengarah pada seorang dokter yang dia curiga. "Ada yang aneh dari dia." tegas Nara tanpa rasa takut sedikitpun.


Tapi dokter tersebut dengan tenang mengeluarkan suara. "Nona, kami hanya melakukan semuanya, sesuai prosedur." kilahnya.


"Benar Nona. Tolong, jangan persulit kami." ucap kepala dokter yang menangani Tuan Hendra.


Tapi bawahan Viki tetap bersiaga. Mereka lebih mempercayai apa yang dikatakan oleh Nara ketimbang oleh sang dokter.


Mereka saling berpandangan. Dan salah satu dari mereka mengangguk dan bergegas keluar ruangan. Entah apa yang akan dilakukan olehnya


"Sayang." Nyonya Rahma mendekat, merangkul pundak Nara.


Nara melihat ke arah Nyonya Rahma. "Tante, Nara tidak berbohong. Sedari tadi. Bahkan sejak awal dokter itu masuk ke ruangan ini, Nara merasa ada yang aneh. Dia seperti sedang ingin melakukan sesuatu pada om Hendra." Nara menyakinkan Nyonya Rahma.


Nara berharap Nyonya Rahma percaya padanya. Karena Nara sangat amat yakin dengan instingnya. Terlebih Nara melihat jika gerak-gerik sang dokter mencurigakan.


Tidak seperti yang lainnya yang fokus pada tubuh Tuan Hendra. Satu dokter malah sering melirik ke dana ke mari. Seolah seperti memastikan jika rekannya yang lain tidak sedang memperhatikannya. Sehingga dia dapat berbuat sesuatu yang ada di dalam benaknya.


Nara menatap dengan tajam ke arah Nara. "Nona, tolong. Jangan persulit kami. Biarkan kami melakukan apa yang seharusnya kami lakukan. Nyonya Rahma." ucap sang dokter, menatap Nara dan Nyonya Rahma bergantian.


"Maaf. Sebaiknya kalian menghentikan sementara apa yang sudah kalian lakukan." ucap bawahan Viki.


"Kalau begitu, biarkan kami keluar dari ruangan ini." pinta seorang dokter yang di curigai oleh Nara.

__ADS_1


"Benar. Pekerjaan kami masih banyak." timpal dokter yang lain.


"Jangan harap bisa melangkahkan kaki untuk keluar dari ruangan ini. Sebelum Tuan Viki datang." tegasnya dengan sorot mata tajam.


__ADS_2