
Seorang perempuan mengibaskan telapak tangannya di baju bagian depannya yang basah karena air yang Viki bawa tumpah, dan membasahi pakaiannya. "Aishhh...." ucapnya, terdengar dengan nada manja di sertai bibir cemberut.
Viki hanya memandangnya sekilas, lalu berniat meninggalkannya. "Eee,,, mau kemana?!" serunya, menarik lengan Viki, membuat Viki menghentikan langkah kakinya.
"Udah nyiram gaun saya. Sekarang mau kabur." serunya dengan suara lantang, membuat semua tamu undangan menoleh ke arah keduanya. Sang perempuan tersenyum penuh makna.
Viki menoleh ke arah lain, menggerakkan telapak tangannya. Membuat seorang dengan pakaian jas lengkap dengan alat kecil yang tertempel di telinga segera menghampiri Viki.
"Iya Tuan." ucapnya sedikit membungkukkan badan. Ternyata yang di panggil Viki adalah pihak keamanan acara pesta.
Dan pastinya mereka mengenal Viki. Lantaran mereka adalah bawahan dari Denis. Viki sedikit menyentak tangan sang perempuan yang berada di lengannya.
Viki memberikan dua gelas berisi air minum yang sudah berkurang sebelum di minum tersebut pada pihak keamanan. "Apa di sini ada CCTV?" tanya Viki dengan wajah datar.
"Ada Tuan."
"Perlihatkan." Viki memandang tajam pada perempuan di sampingnya, lalu mengalihkan pandangannya pada bawahan Denis.
"Kamu pasti tahu, apa yang seharusnya kamu lakukan." perintah Viki dengan tenang.
"Baik Tuan."
"Haahhh....." sang perempuan melongo tidak percaya dengan apa yang di lihat. Viki meninggalkannya tanpa mengucapkan apapun padanya.
Dia berharap Viki mengucapkan kata maaf, atau kata lainnya dari dalam mulutnya untuk dirinya. Tapi ternyata Viki malah acuh. Dan memilih untuk mengatakan beberapa kalimat pada lelaki di samping mereka.
"Jangan bertindak lebih jauh. Seharusnya kamu tahu siapa dia." ujar bawahan Denis menghentikan langkah sang perempuan yang hendak mengikuti langkah Viki.
Sang perempuan menghempaskan tangan bawahan Denis. Menatapnya dengan sengit, lalu beranjak meninggalkannya. Tentu saja, dia tidak ingin membuat dirinya malu.
"Cara kamu kampungan." bisik Melva, mencekal lengan sang perempuan yang sedang berjalan.
__ADS_1
Melva melihat jika perempuan tersebut selalu memperhatikan Viki sedari tadi. Melva tersenyum licik. Tentu saja otak liciknya langsung mempunyai rencana yang pastinya menguntungkan dirinya sendiri.
"Nggak usah sok, gue tahu elo sebenarnya kayak gimana." sinisnya dengan menghentakkan tangan Melva, hingga tangannya terbebas dari cekalan dari Melva.
Seolah mengetahui, jika selama ini Melva hanyalah berpura-pura menjadi ibu peri di hadapan banyak orang.
Melva mengangkat kedua tangannya. "Oke, terserah elo mau ngomong apa. Gue cuma kasihan sama elo. Nggak lebih." Melva bersedekap dada, manik matanya memandang ke arah Viki yang sudah berada di samping Nara.
"Ckk,,,, haahhhh.... Gue cuma kasihan sama elo. Itu saja, nggak lebih. Biar bagaimanapun, gue juga perempuan." Melva berdecak sambil menghela nafas, mengulang kalimatnya kembali untuk menyakinkan sang perempuan tersebut.
"Nggak usah sok polos. Elo juga mengincar Vikikan?!" sinisnya memandang Melva dengan tatapan remeh.
"Astaga, gue sama Viki murni partner kerja. Lagi pula seharusnya elo tahulah, bagaimana cara kerja industri hiburan." elak Melva masih mencari cara supaya dia dapat memanfaatkan perempuan di depannya.
"Oke, gue cabut dulu. Kalau elo butuh bantuan gue, elo cari gue. Elo tahukan, harus mencari gue di mana?" Melva meninggalkannya dengan senyum licik di bibirnya.
Sang perempuan tersebut hanya menatap Melva dengan tatapan malas. "Dia aktris, pasti jago akting. Siapa tahu dia juga akting baik. Elo pikir gue sebego itu." gumamnya.
Otak sang perempuan tersebut ternyata juga sama liciknya dengan Melva. Kita lihat saja, apa mereka berdua akan bekerja sama. Atau malah akan saling serang.
"Sayang, maaf lama." Viki langsung melingkarkan tangannya pada pinggang Nara, mencium mesra pucuk rambut sang kekasih.
Nara mendongakkan kepalanya melihat wajah calon suaminya. Lantaran beda tinggi tubuh keduanya. "Sebentar lagi dia akan mengantarkan air minumnya." ujar Viki mengelus pelan rambut Nara.
"Tuan Smith, apa kabar?" tanya Viki, lantaran di samping Nara masih ada pasangan suami istri tersebut.
"Baik." ucap Tuan Smith tersenyum. Jujur saja, beliau merasa senang melihat sikap yang ditunjukkan Viki terhadap Nara. Viki memperlakukan Nara dengan begitu lembut dan penuh kasih sayang.
"Terimakasih, sudah memberikan sesuatu pada Kayla. Yang selama ini tidak pernah aku berikan padanya. Yaitu kasih sayang." ucap Tuan Smith dalam hati.
Nyonya Binta juga tersenyum dan mengelus lengan sang suami pelan. Tak lama, datang bawahan Denis. Membawa dua gelas air minum untuk Nara dan Viki.
__ADS_1
Viki membawa Nara untuk duduk kembali dengan air minum di tangannya. Mengacuhkan Tuan Smith dan sang istri yang masih berdiri di samping mereka.
"Khemmm,,, baiklah. Jika begitu, kami permisi." ucap Tuan Smith pada Viki dan Nara.
"Silahkan." ucap Viki tenang.
Sepeninggal Tuan Smith dan sang istri. Nara meneguk habis air minum di dalam gelas yang berada di tangannya. "Semua akan baik-baik saja." lirih Viki.
Nara tersenyum memandang Viki. "Jangan tinggalkan Nara sendirian." cicit Nara pelan. Viki kembali mencium singkat pipi Nara dengan lembut.
"Maaf, membiarkan kamu sendiri. Aku hanya ingin membuat kamu menjadi lebih kuat, tanpa kamu sadari." ucap Viki dalam hati, menaruh tangannya di pundak Nara sembari mengelusnya.
Dari tempat lain, Melva mencengkeram gelas yang ada di tangannya dengan kencang. Melva menahan emosi yang sekarang sudah berada di ubun-ubun.
"Nikmati Nara. Nikmati kebahagiaan yang sekarang kamu rasakan. Karena sebentar lagi, akan aku pastikan. Sedikitpun, kamu tidak akan pernah merasakannya lagi." Melva meneguk habis minuman berwarna biru di tangannya.
Seketika tamu undangan hening dan terdiam. Semua mata menatap ke arah panggung. Di mana pasangan pengantin sedang mengatakan beberapa kalimat dari mulut keduanya secara bergantian.
"Tenang saja, sebentar lagi kita berdua yang akan berada di atas sana." bisik Viki, langsung membuat kedua pipi Nara bersemu merah.
Seakan tidak mendengarkan apa yang dikatakan Viki, Nara tetap memandang ke arah panggung. Padahal ingin sekali Nara menoleh dan melihat wajah tampan sang kekasih.
Namun Nara juga tidak ingin Viki melihat wajahnya yang berwarna merah seperti tomat matang. Terlebih Viki selalu mengecup rambutnya secara berulang.
Ada rasa senang bercampur malu yang sekarang Nara rasakan. Senang, karena Viki tidak malu memperlakukan Nara layaknya seorang putri di hadapan banyak orang.
Malu, karena pasti Nara dan Viki menjadi sorotan. Karena tindakan yang di lakukan Viki. Lantaran seorang Viki yang terkenal dingin dan cuek dengan perempuan.
Kini, sekali membawa seorang perempuan di sampingnya. Viki benar-benar memperlakukan gadis tersebut secara istimewa.
Tangan dan pandangan Viki masih sibuk dengan rambut Nara. Sementara pasangan pengantin entah kenapa menjatuhkan mic di tangan mereka dan malah berlari ke arah pintu masuk.
__ADS_1
Nara mengikuti kemana arah pasangan pengantin tersebut bermuara. Bola mata Nara membulat sempurna. Melihat siapa yang datang ke pesta pernikahan sahabat calon suaminya.