
"Tuan." panggil bawahan Tuan Smith, ingin melaporkan sesuatu.
"Katakan." sungguh, Tuan Smith sudah tidak sabar untuk mendengar hasil dari penyelidikan bawahannya tersebut.
"Tuan Beno dan Nyonya Rianti sudah lebih dari dua tahun telah meninggalkan negara ini. Beliau berdua saat ini tinggal di luar negeri. Di sebuah desa yang berpenghuni sedikit keluarga." jelasnya, memberitahu keberadaan kedua orang tua Vanya.
Tuan Smith dapat menebak, kenapa mereka memilih untuk tinggal di tempat seperti itu untuk masa tua mereka. Pasti keduanya menginginkan ketenangan untuk masa tua mereka.
"Mereka bersama siapa?" tanya Tuan Smith terlihat ingin segera mendapatkan jawaban atas semua pertanyaan yang tersimpan di benaknya.
"Hanya berdua. Tetapi tetap membawa pelayan bersama mereka." jawabnya, membuat Tuan Smith memicingkan sebelah matanya.
"Lalu bagaimana dengan anak yang tinggal di rumah mereka sebelumnya? Apa dia juga berada di sana?" tanya tuan Smith semakin penasaran.
"Sekitar tujuh tahun yang lalu, anak tersebut sudah tidak tinggal di kediaman mereka." jelasnya.
Setelah mendapatkan perintah dari majikannya, untuk menyelidiki keluarga Vanya. Dia mengetahui semua kebenaran yang selama ini tersimpan rapat.
Rahasia yang tidak pernah terkuak pada publik. Jika Tuannya pernah menikah dengan putri tunggal Tuan Beno bersama Nyonya Rianti. Hingga mendapatkan seorang anak perempuan. Yang sekarang tidak di ketahui keberadaannya.
Dirinya juga sempat syok saat mengetahui semua kebenaran tersebut. Tapi dia sadar, jika dirinya hanyalah seorang bawahan Tuan Smith. Mana mungkin berani bertindak di luar batas.
"Apa lagi yang ingin kamu sampaikan?" tanya Tuan Smith menahan emosi. Mendengar jika putrinya sudah tidak tinggal bersama mantan istrinya sejak dulu.
"Anak buah saya mengatakan, jika Nyonya Vanya pernah menurunkan seorang anak perempuan di tepi jalan. Sekitar tujuh tahun yang lalu." ucapnya dengan pelan dan hati-hati.
Karena dia tahu, jika kabar yang dia katakan saat ini sangatlah berimbas pada Tuannya. "Vanya..." geram Tuan Smith mengeraskan kedua rahangnya.
"Lanjutkan." ucap Tuan Smith.
"Anak tersebut di besarkan oleh sepasang suami istri. Sayangnya, sekarang mereka sudah meninggal." lanjutnya.
__ADS_1
"Atur pertemuanku dengan Viki." perintah Tuan Smith, sembari menggerakkan telapak tangannya.
Brakk,,,,, Tar.... Baru saja dia menutup pintu dari luar. Sudah terdengar suara gaduh dari dalam ruangan Tuan Smith.
Dia menghela nafas. Karena dirinya tahu, apa yang sekarang terjadi di dalam ruangan majikannya tersebut. "Kehidupan orang kaya memang sangat rumit." gumamnya.
"Kayla. Maafkan papa sayang." ucap Tuan Smith menangis.
"Karena keadaan, papa tidak bisa melakukan apa-apa untuk kamu saat itu." imbuh Tuan Smith merasa bersalah.
"Bahkan, untuk bertemu kamu saja papa mengalami kesulitan." ucap Tuan Smith.
Tuan Smith merasa semakin bersalah manakala dirinya sudah mempunyai uang dan juga kekuasaan. Tapi dirinya malah ingin melupakan masa lalunya.
"Maafkan papa." tubuh Tuan Smith merosot ke lantai, dengan air mata mengalir bebas di pipi.
Beliau berpikiran jika sang putri memiliki kehidupan yang layak. Karena memang keluarga Vanya yang kaya dam berlimpah harta. Membuat Tuan Smith merasa jika kehidupan sang putri pasti baik-baik saja.
Seorang anak yang dilahirkan dari rahimnya sendiri dengan penuh perjuangan. Seorang anak yang hadir karena rasa cinta dari dua insan. Bukan karena paksaan.
"Aku juga harus bertemu dengan Vanya. Dan menanyakan kebenaran semua ini." ucap Tuan Smith, merasa dirinya sangatlah bodoh.
Keadaan Tuan Hendra berangsur membaik setiap harinya. Bahkan sekarang, beliau sudah mulai turun dari ranjangnya. Meski baru berjalan-jalan di dalam rumah.
Namun semua orang merasa lega, karena pada akhirnya Tuan Smith kembali membuka matanya. Dan jangan tanyakan lagi bagaimana antusiasnya Rini. Setiap hari, dia selalu bersama dengan Tuan Hendra sepulang sekolah.
Begitu juga dengan Nara. Dia sudah mendapatkan guru baru privat. Seorang perempuan paruh baya. Sepantaran dengan Nyonya Rahma. Aman. Bukan lelaki atau perempuan muda.
Karena Nara berpesan pada Viki, untuk mencarikan dirinya guru yang sudah berumur. Menghadapi Puspa saja kadang membuat emosi Nara tersulut.
Dan Nara tidak ingin menghadirkan Puspa yang lainnya di dalam rumah. Meski dapat di pastikan pertemuan Viki dan guru privat Nara sangat jarang. Namun tidak menutup kemungkinan hal yang di takutkan Nara terjadi.
__ADS_1
Sementara untuk Viki, sudah di pastikan, dirinya juga tidak ingin jika guru Nara seorang lelaki. Berapapun usianya. Yang namanya lelaki, menurut Viki tetap lelaki. Punya rasa tertarik pada lawan jenis. Jika dia lelaki normal..
"Ada apa bang?" tanya Nara, melihat Viki menatapnya dengan intens.
"Pantas saja kamu cantik." batin Viki, karena memang wajah Nara merupakan perpaduan dari wajah Tuan Smith dan Nyonya Vanya. Keduanya masih tampak cantik dan tampan, meski sudah berumur.
Viki merentangkan tangan. Seolah tahu apa yang di inginkan sang kekasih, Nara segera mendekat dan duduk dipangkuan sang kekasih. "Kenapa bang?" tanya Nara lagi.
Viki menaruh dagunya di pundak Nara, dengan tatapan mata memandang wajah cantik Nara dari samping. "Kayla." gumam Viki lirih.
Namun masih bisa terdengar jelas di telinga Nara. Lantaran memang bibir Viki berada sangat dekat dengan daun telinga Nara.
Deg,,,, ada desiran aneh di dada Nara. Mendengar Viki menyebut nama tersebut. Nara hanya diam, dan tersenyum kecut.
Viki mencium pipi Nara. "Tidak akan ada lagi nama Kayla. Hanya ada Nara. Kinara. Calon istri Viki Radika Mahendra." ucap Viki dengan suara lirih namun sangat tegas.
"Abang sudah bertemu dengannya?" tanya Nara memandang lurus ke depan.
"Persiapkan dirimu. Kemungkinan kamu akan abang bawa keluar." ucap Viki.
Viki sadar, jika tidak mungkin dirinya terus menyembunyikan Nara. Terlebih saat ini Viki sudah bisa menebak, siapa orang di balik kejadian atas kecelakaan sang papa.
"Tapi kamu harus berhati-hati." lanjut Viki.
Nara tersenyum. "Apa abang lupa, siapa Nara." ucap Nara menoleh ke samping. Memandang wajah tampan Viki dengan singkat, kemudian kembali menatap lurus ke depan.
Nara menghela nafas. "Tujuh tahun Nara hidup di jalanan. Tujuh tahun Nara merasakan kerasnya hidup. Tujuh tahun Nara belajar bagaimana caranya bertahan untuk hidup." jelas Nara dengan ekspresi wajah datar.
Meski sebenarnya sejak kecil Nara sudah menjalani kehidupan yang sangat tertekan. Bahkan untuk anak seusianya, yang seharusnya merasakan bahagia.
"Hanya tujuh tahun sayang. Dan lupakan tujuh tahun itu. Karena setelah ini, kamu akan merasakan kebahagiaan. Lebih dari tujuh tahun." ucap Viki mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Terimakasih." cicit Nara, merasa bersyukur di pertemukan dengan Viki. Juga dengan keluarga Viki yang dengan tangan terbuka menerimanya. Memperlakukan Nara dan kedua adik Nara dengan baik dan penuh kasih sayang dan hangat.