
"Cantiknya." goda Mbak Mira, melihat penampilan Nara yang memakai dress pemberian Viki.
"Kan Nara perempuan." timpal Nara tersenyum malu
Bukan hanya Mbak Mira yang menggoda Nara Mbak Siti pun ikut menggoda Nara. "Cie,,, yang mau ketemu yayang..." goda Mbak Siti sambil mencolek dagu Nara.
"Mbakkk...." ucap Nara cemberut dengan suara mendayu karena malu.
Dari tempat yang tak jauh dari mereka, Nyonya Rahma dan Tuan Hendra tersenyum melihat Nara yang bersikap malu-malu saat di goda Mbak Mira maupun Mbak Siti.
"Kakakkk....!!" teriak Bima lari ke arah Nara bersama dengan Mbok Nah di belakangnya.
"Ikut." rengek Bima memeluk kaki Nara. "Ikut ke mana?" tanya Nara dengan tangan mengelus lembut pucuk kepala Bima.
Bima mendongakkan kepalanya, memasang wajah memelas dan mengharap. Membuat semuanya tertawa lepas.
Bima seakan tahu jika sang kakak hendak pergi. Jelaslah, terlihat dari pakaian yang di kenakan oleh Nara. Yang biasanya hanya menggunakan kaos oblong dengan celana bawahan selutut.
Kali ini Nara menggunakan dress, dengan rambut di gerai indah. Dengan menggunakan jepit rambut sederhana di satu sisi rambutnya. Memperlihatkan wajah Nara yang imut dan manis.
"Bima, bagaimana kalau Bima sama Mbok Nah. Kita lihat ikan yang mau melahirkan." ajak Mbok Nah mengalihkan perhatian Bima.
Mendengar kata ikan, Bima sontak melepaskan pelukannya di kaki Nara dan memegang tangan Mbok Nah. "Ikannya mau melahirkan. Ayo mbok." ajak Bima, menyeret Mbok Nah dengan tidak sabar.
"Astaga, ikan lebih berharga dari kakaknya." ucap Nara lirih sembari tersenyum dan menggelengkan kepala. Mendengar kata ikan, membuat Bima sudah tidak lagi menginginkan Nara. Bocah, begitu mudahnya.
Mbak Mira dan Mbak Siti juga tertawa melihat Bima sekaligus mendengar perkataan Nara. Kakak beradik tersebut bisa membuat semua orang di dalam rumah merasa senang hanya dengan tingkahnya yang sederhana.
Puspa, di karenakan kondisi Tuan Hendra semakin membaik. Menjadikan Puspa hanya dua kali seminggu datang ke rumah Viki, pada saat jadwal terapi Tuan Hendra.
Awalnya Puspa menginginkan setiap hari datang ke rumah Viki. Tentu saja dengan alasan kesehatan Tuan Hendra. Namun Nara segera mencari alasan, supaya Puspa tidak setiap hati datang.
Nara mengatakan jika sudah ada banyak orang di rumah tersebut. Dan itu sudah cukup untuk menjaga Tuan Hendra. Dan hal tersebut di setujui oleh Dokter Andrew dan juga Viki. Termasuk Nyonya Rahma.
Selesai Nara menaruh makanan di rantang, dia berpamitan pada Tuan Hendra dan Nyonya Rahma. "Hati-hati." ucap Nyonya Rahma.
__ADS_1
"Iya tante."
Nara menuju ke perusahaan Viki di antar oleh sopir pribadi keluarga Tuan Hendra. "Nanti Non Nara tidak perlu terburu-buru. Temani Den Viki makan siang dulu. Saya akan menunggu di parkiran." papar pak sopir.
"Baik pak."
"Oh iya, Non Nara sudah memberitahu Den Viki, jika mau mengantar makan siang?" tanya pak sopir, beliau hanya takut jika Viki tidak berada di tempat.
"Sudah pak. Tadi pagi, sebelum abang berangkat bekerja, saya sudah mengatakannya." tutur Nara.
"Syukurlah." ucap pak sopir. Beliau merasa senang, melihat anak dari majikannya mendapatkan perempuan seperti Nara.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Silahkan di minum." ucap Viki, dengan tangannya mengangkat secangkir kopi dan menyeruputnya.
Tuan Smith pun segera mengikuti gerakan Viki untuk meminum minuman yang sudah di sediakan oleh Rey.
"Saya ingin bertemu dengan Kayla." ucap Tuan Smith langsung menuju inti.
Viki tersenyum dan dengan gaya elegannya, meletakkan kembali segelas kopi di atas meja. "Tidak masalah bagi saya. Kapan pun anda ingin bertemu, saya tidak keberatan." ucap Viki.
Perkataan Viki bagai anak panah yang melesat ke jantung lawan. Tuan Smith menatap tajam ke arah Viki. Namun pandangan tersebut tak berarti apa-apa untuk seorang Viki.
"Kenapa?" tanya Tuan Smith dengan kaku.
Viki terkekeh pelan. "Kenapa?" kata Viki mengulangi pertanyaan Tuan Smith. "Kenapa anda menanyakan pada saya. Bahkan saya tidak punya jawaban atas pertanyaan dari anda." sindir Viki.
Viki melihat ke arah pergelangan tangannya. "Maaf, sepertinya saya ada keperluan penting." usir Viki secara halus pada Tuan Smith.
Tuan Smith dengan hati tidak rela meninggalkan perusahaan Viki. "Aku akan mencobanya lagi." gumam Tuan Smith.
Di depan perusahaan, Tuan Smith hendak masuk ke dalam mobilnya. Sang sopir dengan sopan membukakan pintu belakang untuk tempat duduk Tuan Smith.
Sebelum Tuan Smith masuk, mobil yang membawa Nara juga baru saja berhenti di depan perusahaan. Tepatnya di belakang mobil Tuan Smith.
__ADS_1
"Bapak tidak perlu keluar, saya akan keluar sendiri." ucap Nara, saat sang sopir melepas sabuk pengaman yang di gunakannya.
"Baik Non." pak sopir menghentikan gerakan tangannya.
"Tunggu ya pak." ucap Nara.
"Tidak perlu terburu-buru Non, saya akan menunggu." papar pak sopir.
Nara tersenyum dan segera keluar. Sayangnya, Nara tidak menoleh ke arah samping. Di mana Tuan Smith berada. Hanya Tuan Smith yang memperhatikan wajah Nara. Itupun dari samping.
Ada perasaaan aneh saat Tuan Smith menatap tubuh Nara yang masuk ke dalam perusahaan. "Seperti kenal." gumam Tuan Smith.
"Tuan." panggil sang sopir, lantaran Tuan Smith tidak segera masuk ke dalam mobil. Malah menatap punggung Nara yang semakin menjauh darinya.
"Maaf mbak, bisa bertemu dengan Abang. Eh,, maksud saya Pak Viki." ucap Nara pada resepsionis di depan.
"Apakah anda Nara?" tanya sang resepsionis dengan sopan.
Sebelum Nara datang, Rey memberitahunya jika akan ada perempuan yang akan datang menemui Viki. "Iya." jawab Nara dengan senyum.
"Sebentar ya mbak." sang resepsionis memanggil pihak keamanan, menyuruhnya untuk mengantar Nara ke ruangan Viki.
"Perempuan." gumam sang resepsionis saat Nara sudah tak lagi di depannya. "Masih seperti anak remaja. Mungkin ponakan Boss." ucapnya, mengingat wajah Nara.
"Terimakasih." ucap Nara, pada pihak keamanan yang mengantarnya sampai di depan ruangan Viki.
Belum sempat Nara masuk, terdengar suara seseorang memanggilnya. "Nona Nara." sapa Rey.
Sebenarnya Rey sengaja memanggil Nara bukan tanpa alasan. Rey mengetahui jika Tuan Smith berada di dalam ruangan atasannya tersebut.
Namun Rey tidak melihat Tuan Smith keluar dari ruangan Viki. Oleh karenanya Rey hanya ingin Viki mendengar suara Nara dari dalam.
"Siang asisten Rey." balas Nara dengan ramah. "Saya permisi masuk dulu." lanjut Nara memegang handle pintu.
"Tunggu..!!" teriak Rey, hingga membuat Nara sedikit terjingkit karena kaget. Bahkan Nara sampai melongo dan memegang dadanya.
__ADS_1
Nara memandang ke arah Rey masih dengan tatapan terkejut bercampur heran. Lantaran jarak keduanya sangat dekat. Tanpa Rey berteriak pun, Nara pasti akan mendengar. "Ada apa?" tanya Nara.
Ceklekk... belum sempat Rey membuka mulutnya, pintu ruangan Viki terbuka dari dalam.