
Viki dan klien dari perusahaan kota sebelah sedang berdiskusi di ruang pertemuan. Sesekali Viki melihat ke arah pergelangan tangannya. Seperti sedang memastikan sesuatu.
Rey yang melihatnya, langsung tanggap. Rey teringat jika atasannya berkata untuk tidak melewati jam makan siang, saat berdiskusi.
"Sabar Tuan, Nyonya pasti juga belum datang." ucap Rey dalam hati. Mengerti jika sang atasan menunggu jam waktu makan siang. Dimana Viki akan makan bersama dengan Nara, istri kecilnya.
Sedangkan Nara tengah berjalan menuju lift. Namun siapa sangka, baru melangkah beberapa jangkah, seseorang menyenggol lengan Nara. Hampir membuat rantang berisi makanan untuk sang suami terjatuh.
"Astaga..." ucap Nara, langsung memegang erat rantangnya. Takut jika sampai makanan yang dia masak dengan penuh cinta terbuang sia-sia. Sebelum sang suami mencicipinya.
"Maaf." ucapnya, lantaran memang dia tidak sengaja menabrak tubuh Nara.
"Anda tidak apa-apa?" tanya Erlangga memandang Nara dengan perasaan bersalahnya.
Nara tersenyum sembari mengangguk. "Saya baik-baik saja Tuan." ucap Nara dengan ramah.
Erlangga memang tidak tahu. Jika sosok perempuan di depannya adalah istri dari pemilik perusahaan tempatnya bernaung.
Saat Viki dan Nara menikah, dirinya tidak bisa menghadiri acara tersebut. Lantaran tidak berada di tempat.
Erlangga yang memang tidak sering, atau jarang melihat berita. Tidak tahu menahu sosok seperti apa istri dari Viki.
"Imut sekali dia." batin Erlangga, saat melihat senyum ramah dari Nara. Apalagi tubuh Nara yang memang sedikit kecil, dengan wajah manis yang membuatnya terlihat semakin imut.
Nara merasa risih saat Erlangga menatapnya dengan intens. "Permisi." segera Nara berpamitan pada Erlangga.
"Tunggu, kamu mau kemana?" tanya Erlangga, menghentikan langkah Nara.
Nara mencoba bersikap ramah. Dirinya sebagai istri dari pemilik perusahaan, tentunya tidak ingin di cap sebagai perempuan sombong. Yang nanti semua karyawan menyalahkan sang suami.
Tanpa Nara sadari, jika lelaki didepannya, tidak mengetahui jika dirinya adalah istri dari pemilik perusahaan.
"Saya..." jawab Nara terpotong oleh perkataan Erlangga.
"Pasti mau melamar kerja ya." tebak Erlangga. Membuat Nara terdiam.
Erlangga memandang intens ke arah Nara. "Maaf, apakah ada yang salah dengan penampilan saya?" tanya Nara memberanikan diri.
__ADS_1
Erlangga segera menggeleng dan menggerakkan tangannya. "Bukan. Bukan seperti itu." sangkal Erlangga dengan segera.
"Kamu sepertinya cocok jika menjadi artis. Bagaimana, tertarik." tawar Erlangga.
Nara mengerutkan keningnya. Menatap aneh pada Erlangga. Dia menawarkan Nara untuk menjadi artis di bawah naungan perusahaan milik sang suami. "Apa dia tidak salah bicara." ucap Nara dalam hati.
"Astaga, apa kamu tidak tahu. Siapa saya." Erlangga mengarahkan jarinya tepat ke hidungnya.
Nara menggeleng dengan polos. Sebab, Nara tidak begitu sering melihat acara di televisi. "Sungguh?!" tanya Erlangga tidak percaya.
Erlangga mengulurkan tangannya. "Ckk,,, terlalu lama." Erlangga mengambil tangan Nara dan menjabatkan tangannya.
"Saya Erlangga. Salah satu artis penting di perusahaan Tuan Viki." ucap Erlangga memperkenalkan dirinya dengan bangga.
Nara segera melepaskan tangannya. "Emm,,, maaf, tapi saya permisi dulu." ucap Nara.
"Tunggu sebentar. Kamu sedang apa di sini?" Erlangga baru menyadari, jika perempuan di depannya membawa rantang tempat makanan.
Manik mata Erlangga menatap ke arah tangan Nara yang membawa rantang makanan. "Mau mengantar makan siang." jawab Nara jujur, mengangkat rantangnya.
"Makan siang." gumam Erlangga. Mencoba menebak untuk siapa makan siang yang dibawakan perempuan manis di depannya ini.
Rey hanya bisa menghela nafas. Mengikuti kemana area pandangan sang atasan. "Cari mati." ucap Rey dalam hati. Menyadari apa yang sedang atasannya lihat.
Tak ingin membuang waktu, Rey segera berlari ke arah dimana Nara dan Erlangga sedang berbincang. "Nyonya." panggil Rey setelah berada di dekat Nara dan Erlangga.
Keduanya lantas menatap ke arah Rey. Erlangga menatap dengan tatapan aneh, karena panggilan yang Rey lontarkan. Sementara Nara tersenyum simpul.
"Nyonya sudah lama?" tanya Rey dengan ramah.
"Belum, baru saja." jawab Nara benar adanya.
"Kenapa tidak langsung menunggu di ruangan Tuan?" tanya Rey sembari mengedipkan matanya, memberi kode. Jika Viki ada di sekitar mereka.
"Tunggu, kalian saling kenal. Dan anda memanggil gadis kecil ini dengan sebutan Nyonya. Ngawur sekali." cicit Erlangga.
"Asisten Rey, dimana suami saya?" tanya Nara, mengacuhkan Erlangga. Nara seolah tahu isyarat yang diberikan oleh Rey.
__ADS_1
"Nyonya. Tuan. Suami. Kalian sedang melakoni peran apa!?" tanya Erlangga semakin dibuat bingung.
Sebab, semua orang yang tidak mengenal Nara, pasti tidak akan menyangka. Jika gadis kecil tersebut sudah memiliki suami.
Belum sempat Rey maupun Nara menjelaskan pada Erlangga, Viki terlebih dulu sampai di dekat Nara. Melingkarkan tangannya di pinggang kecil milik sang istri dengan posesif. "Sayang, kenapa kamu berada di sini?" tanya Viki, mencium kening sang istri.
Menurut dan diam. Tentu saja Nara memilih hal itu. Jika Nara menolak, pasti Viki akan marah padanya. Terlebih Nara yakin, jika saat ini sang suami sedang berada pada fase cemburu.
"Nara baru sampai abang. Ini, Nara bawakan makan siang untuk Abang. Dan juga untuk Nara." jelas Nara tersenyum penuh cinta memandang ke arah Viki.
Beberapa karyawan yang sedang melintas di sekitar mereka tersenyum malu sendiri. Bagaimana tidak, atasan yang selama ini sama sekali tidak pernah dekat seorang perempuan.
Bahkan seperti alergi dan sangat menjaga jarak dengan yang namanya perempuan. Sekarang malah terlihat sangat romantis. Dan sangat mencintai sang istri.
Rey hanya diam dan sesekali menunduk, membuang muka ke arah lain. Dari pada melihat kebucinan atasannya. Dan Erlangga, dirinya masih berusaha untuk mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
"Kita ke ruangan abang. Abang sudah lapar." Viki memiringkan matanya dengan genit.
"Abang..." geram Nara merasa malu pada beberapa karyawan Viki yang melintas di sekitar mereka.
"Ehhh,,, tunggu. Kalian mau ke mana?" tanya Erlangga, saat Viki membawa Nara berjalan menuju lift khusus untuk pemilik perusahaan dan jabatan penting di perusahaan lainnya.
Viki hanya acuh atas pertanyaan Erlangga. Tetap meletakkan tangannya di pinggang sang istri dan berjalan masuk ke dalam lift.
"Katanya kaki kami terkilir. Sudah sembuh?" tanya Rey.
"Bukan itu masalahnya sekarang. Kenapa Tuan Viki bersikap seperti itu?!" tanya Erlangga dengan menaikkan nafa suaranya melihat ke arah lift yang baru saja tertutup.
"Seperti itu bagaimana?" tanya Rey merasa aneh.
"Cckk,,, dia baru saja menikah. Kenapa sekarang membawa gadis kecil ke kantor. Apa dia pedofil?" tanya Erlangga nyleneh.
"Jaga bicara anda Tuan Erlangga." hardik Rey tidak terima.
"Gadis kecil yang anda maksud tadi adalah Nyonya Viki. Istri dari Tuan Viki." tegas Rey menjelaskan.
Rey berdecak, meninggalkan Erlangga uang masih terbengong dan berpikir seorang diri. "Istri, nyonya Viki. Astaga, apa benar." ucap Erlangga seakan tidak percaya.
__ADS_1
Segera Erlangga membuka ponsel, mencari tahu tentang Viki. Dan benar saja, di layarnya terdapat beberapa foto pernikahan Viki dan Nara.
"Ohh,,, my...." ucap Erlangga terdiam, menggelengkan kepalanya. "Dia benar-benar istrinya. Masih sangat muda. Lebih pantas menjadi adiknya." cicit Erlangga.