
"Baiklah, jika kalian berdua sudah memutuskannya. Papa hanya bisa merestuinya." ucap Tuan Hendra tersenyum.
"Tunggu pa, tapi Viki masih belum bisa menikah dengan Nara dalam waktu dekat ini." ucap Viki.
Membuat semua orang memandang ke arah Viki. Bukankah Viki yang ngotot untuk menikahi Nara. Dan sekarang, setelah mendapat restu. Viki malah seakan melangkah mundur.
Apa yang sebenarnya ada dalam otak Viki. "Nara membutuhkan wali untuk menikah." ujar Viki, membuat ketiga orang di ruangan seketika bungkam.
Wali. Tubuh Nara menjadi lemas. Mendengar perkataan tersebut. "Itu mudah, kita bisa meminta tolong pada saudara almarhum orang tuanya Nara." ucap Nyonya Rahma. Yang memang belum tahu jika Nara bukankah anak kandung dari kedua orang tua Rini dan Bima.
Nara menunduk. "Ma, sebenarnya..." Viki ingin menceritakan pada sang mama. Mengenai siapa Nara. Tapi Viki juga tidak punya hak untuk membuka mulutnya. Karena yang lebih berhak adalah Nara.
"Nara bukan anak kandung ibu dan bapak tante." timpal Nara dengan kepala masih menunduk ke bawah, meneruskan perkataan Viki.
Karena Nara sudah memulai membuka siapa dirinya, Viki meneruskan apa yang Nara katakan. Karena Viki menyimpulkan, jika Nara tidak keberatan jika asal usulnya di ceritakan kepada kedua orang tua Viki.
"Sebenarnya....." Viki menceritakan semua tentang Nara. Seperti saat Nara memberitahu dirinya.
Hingga cerita Viki selesai, Nara masih dalam keadaan tertunduk. Dirinya seakan takut untuk menatap wajah Tuan Hendra dan Nyonya Rahma.
Nara takut, keduanya tidak bisa menerima Nara. Karena asal usul Nara yang tidak di ketahui. "Ehh..." Nyonya Rahma menggenggam telapak tangan Nara.
"Kamu hebat. Kamu perempuan berhati tulus. Kamu perempuan baik. Pasti suatu saat, kamu akan menjadi ibu yang baik untuk anak-anak kamu." ucap Nyonya Rahma menangis.
Sungguh Nyonya Rahma terharu mendengar cerita dari Viki. Dari awal Nara tahu, jika dirinya hanya di angkat menjadi anak oleh kedua orang tua Rini dan Bima.
Jika Nara perempuan yang tidak berhati mulia, pasti Nara akan memilih untuk pergi. Membiarkan Rini dan Bima. Dan memilih untuk menjalani hidup seorang diri. Tanpa harus setiap hari mencari uang, untuk biaya hidup mereka.
Apalagi harus bekerja dan bersusah payah seperti sekarang. Menjadi pemulung. Bekerja tanpa lelah dan mengeluh.
Tapi Nara tidak melakukan semua itu. Dia tetap menjaga keduanya. Seperti saudara kandung. Dia rela bekerja keras menghidupi kedua adiknya. Meski sudah mengetahui jika mereka tidak ada ikatan darah.
Tuan Hendra tersenyum melihat ke arah Nara. Beliau menengadahkan kepala. Mencoba menghalangi air mata yang hendak jatuh ke pipi. Tuan Hendra benar-benar salut atas pemikiran Nara.
Nyonya Rahma membawa Nara ke dalam pelukannya. "Saya akan menjadi orang yang sangat berbahagia, jika cucu-cucu saya dilahirkan dari rahim seorang perempuan seperti kamu." ucap Nyonya Rahma menangis sesegukan.
Masih dengan air mata terus jatuh ke pipi, Nyonya Rahma tetap memeluk Nara. "Hatimu begitu mulia sayang."
Nyonya Rahma mengurai pelukannya. Menghapus air mata di pipinya. Menangkup kedua pipi Nara. Mencium dengan lembut kening Nara.
Tuan Hendra hanya terdiam dan tersenyum melihat keduanya. Begitu juga dengan Viki. "Apa Nara tidak akan membuat malu keluarga tante." cicit Nara.
"Nara bahkan tidak tahu, dari rahim siapa Nara dilahirkan. Nara..." ucap Nara terhenti, saat jari telunjuk Nyonya Rahma menempel di bibirnya.
"Tante tidak peduli. Tante tidak peduli bagaimana dengan keluarga kamu. Berasal dari mana kamu. Tante tidak peduli." tegas Nyonya Rahma.
Nara menoleh ke arah Tuan Hendra, dan papa Viki tersenyum sambil mengangguk pelan. "Terimakasih tante." Nara kembali memeluk Nyonya Rahma.
"Ekhemm." Viki berdehem. "Nara, tapi saya akan tetap mencari keluarga kamu. Sebisa mungkin." jelas Viki.
Nara melepas pelukannya pada Nyonya Rahma. "Mungkin ada yang kamu ingat. Sesuatu yang bisa kita jadikan petunjuk." tanya Viki.
Nara melihat ke arah Nyonya Rahma. Tangan Nyonya Rahma mengelus lembut rambut panjang milik Nara dan tersenyum, sambil menghapus sisa air mata di pipinya.
"Benar kata Viki. Kita harus mencari keluarga kamu. Lagi pula, usia kamu belum genap tujuh belas tahun. Belum bisa menikah. Lantaran belum memenuhi syarat. Karena kamu juga belum punya KTP." jelas Tuan Hendra.
"Sambil menunggu, biar Viki mencoba mencari tahu keluarga kamu." imbuh Tuan Hendra.
Nara teringat sesuatu. "Nara mempunyai sesuatu." ucap Nara.
"Apa?" tanya Nyonya Rahma penasaran.
"Ibu dulu pernah memberi Nara bros. Kata ibu, bros itu ada di baju yang Nara pakai." jelas Nara.
"Sekarang brosnya di mana?" tanya Nyonya Rahma dengan antusias.
__ADS_1
"Ada di kamar." jawab Nara. "Sebentar Nara ambilkan." dengan segera, Nara menuju kamarnya, mencari bros yang dia maksud.
"Ini bang." Nara kembali dengan memegang bros tersebut. Memberikannya pada Viki.
Viki mengamati bros tersebut dengan seksama. "Coba mama lihat." ujar Nyonya Rahma, mengambil benda tersebut dari tangan sang putra.
Viki dan Nyonya Rahma saling memandang. Juga dengan Tuan Hendra, meski tidak memegang benda tersebut, beliau sudah bisa memastikan. Jika itu adalah benda mahal dan langka.
"K." gumam Nyonya Rahma.
"K. Kinara. Ibu dan bapak memberi nama Kinara padaku. Dengan panggilan Nara." jelas Nara.
Bros dengan huruf K. Dimana tersebar permata asli berwarna putih kebiruan. Nyonya Rahma mengembalikan benda tersebut ke tangan Viki.
Nara menyadari, jika suasana sedikit aneh. Semenjak Nara memperlihatkan benda tersebut. "Ada apa tante?" tanya Nara dengan nada takut.
Nyonya Rahma segera tersenyum. "Jangan khawatir. Viki pasti akan menemukan mereka." ucap Nyonya Rahma, membuat Nara merasa lebih tenang
Viki masih melihat ke arah benda dan juga Nara secara bergantian. "Kelihatannya kamu berasal dari keluarga yang tidak sederhana." ucap Viki dalam hati.
Bros tersebut adalah benda yang memang dipesan secara pribadi oleh pihak tertentu. "Jika seperti ini, ada dua kemungkinan. Dengan mudah gue menemukan orang tua Nara. Dan juga, akan sulit menemukan mereka." imbuh Viki dalam hati.
Viki akan memulai dari mana benda tersebut di buat. Tapi, Viki masih ragu. Apakah pihak pembuat akan dengan mudah membocorkan nama peminta.
Apalagi, jika keluarga Nara adalah orang berpengaruh. Pasti mereka akan menyembunyikan identitas mereka dengan sangat rapat.
"Nara." panggil Viki, dengan masih menggenggam benda tersebut.
"Iya bang." sahut Nara.
Viki menghembuskan nafas pelan. "Apa kamu masih ingat, saat pertama kali kamu bertemu kedua orang tua angkat kamu?" tanya Viki.
Nara mengangguk. "Di pinggir jalan." jelas Nara mencoba mengingat sesuatu. "Yang Nara ingat, Nara diturunkan dari mobil. Lalu mobil itu pergi. Hanya itu saja." imbuh Nara.
Nyonya Rahma mengangguk. Mengerti jika keduanya akan membicarakan hal yang serius. Segera Nyonya Rahma mengajak Nara untuk keluar. "Bagaimana menurut papa?" tanya Viki.
Tuan Hendra berdiri dan berjalan ke arah jendela. Menatap keluar ruangan. "Sepertinya Nara berasal dari keluarga terpandang. Sejak awal papa melihat kedua bola matanya, papa sudah curiga. Jika identitas Nara tidak semudah yang kita bayangkan." jelas Tuan Hendra.
"Sangat mudah mencari siapa pemesan benda tersebut. Tapi juga akan sulit menemukannya. Kamu paham maksud papa?" tanya Tuan Hendra.
Viki berdiri di samping Tuan Hendra. "Viki akan mencarinya dengan cara Viki. Dan pastinya dengan diam-diam." Viki memandang jauh ke depan.
"Apalagi kita juga tidak tahu. Kenapa Nara sampai ditinggalkan dipinggir jalan. Dan jika memang Nara berasal dari keluarga kaya. Pasti mereka akan dengan mudah menemukan keberadaan Nara." imbuh Viki.
Tuan Hendra memandang ke arah sang putra. "Itu juga, yang sedang papa takutkan. Ada seseorang yang sengaja membuang Nara. Dan menutupi keberadaannya." timpal Tuan Hendra, memegang pundak Viki.
"Lakukan apa yang perlu kamu lakukan. Sekarang Nara adalah tanggung jawab kita. Papa percaya dengan kamu." Tuan Hendra menepuk pundak Viki.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Plakkkk,,,,,, terdengar suara tamparan keras.
"Pa,,,,!!!!" teriak Giska, mendapati sang papa secara tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya dan menamparnya.
Giska memegang pipinya yang terasa sakit akibat tamparan tersebut. Giska melihat tatapan sang papa seperti sedang menahan amarah dan murka padanya.
Tuan Marko melempar beberapa foto tepat ke wajah Giska. Kedua mata Giska melebar sempurna, saat melihat ada beberapa foto yang berada di lantai dengan keadaan terpampang jelas. Karena sebagian foto tersebut dalam keadaan tengkurap.
Giska mengambil foto tersebut. Tangannya gemetar saat melihat apa yang di tampilkan di dalam foto tersebut. "Papa sudah melawan Viki. Berusaha membuatnya bangkrut. Hanya untuk kamu." geram Tuan Marko.
"Kamu membuat papa kecewa. Kamu membuat papa malu!!" hardik Tuan Marko.
Tuan Marko tahu, jika setiap malam putrinya selalu berkumpul dengan sahabatnya. Tapi beliau membiarkannya. Karena Tuan Marko berpikir, itu hal yang wajar dan lumrah.
Tuan Marko mengusap kasar wajahnya. "Mulai sekarang, semua fasilitas kamu papa cabut." tegas Tuan Marko.
__ADS_1
Belum selesai rasa terkejut karena foto, sekarang Giska mendapatkan kejutan baru. "Paaaaa!! Tidak bisa. Giska tidak mau." teriak Giska.
"Terserah kamu. Mau apa tidak. Tidak ada pengaruhnya untuk saya. Karena selama ini, uang yang kamu pakai. Fasilitas yang kami pakai adalah milik saya." ucap Tuan Marko dengan penekanan.
"Pa,,,, apa papa sudah tidak menyayangi Giska lagi." rengek Giska, memegang lengan sang papa.
Sementara Nyonya Gina berada di ambang pintu kamar Giska. Tuan Marko melepaskan tangan Giska di lengannya. "Mulai sekarang, semua kebutuhan kamu akan papa berikan lewat mama." ucap Tuan Marko.
Mulut Giska terbuka sambil menggeleng. Tuan Marko memandang ke arah sang istri dan beranjak pergi meninggalkan kamar Giska.
Giska menatap ke arah mamanya dengan kedua mata memerah menahan kesal dan amarah. "Puassss!!!" teriak Giska.
Nyonya Gina bersedekap dada. "Asal kamu menurut. Mama bisa mengembalikan semuanya." ucap Nyonya Gina dengan tenang.
Giska mengambil tasnya. "Jangan harap." ucapnya keluar dari dalam kamar, menabrakkan lengan atasnya pada lengan Nyonya Gina.
"Haaahhhh,,,, sabar Gina. Ini memang sudah terlambat. Tapi setidaknya, kamu harus berusaha." gumam Nyonya Gina, menatap tubuh sang anak yang berjalan semakin jauh darinya.
Nyonya Gina mengambil ponsel. Dan menghubungi seseorang. "Pasti sebentar lagi Giska akan menemui kamu. Ingat, jangan pernah berkata jika foto itu dari kamu. Kamu hanya perlu berpura-pura tidak tahu." ucap Nyonya Gina dengan Renggo melalui ponselnya.
"Satu hal lagi. Jangan memberi kartu kredit atau sesuatu yang mewah untuk Giska. Jika kamu benar-benar mencintainya. Bantu saya, merubah sifat Giska." imbuh Nyonya Gina pada Renggo, sebelum kemudian mematikan panggilan teleponnya.
Meski beberapa fasilitas sudah ditarik oleh sang papa. Tapi Gina masih bisa menggunakan mobil untuk bepergian.
"Mobil jelek begini, diberikan. Dijual juga nggak seberapa harganya." dumal Giska, saat dirinya di berikan sebuah mobil dengan harga hampir setengah miliar.
Karena hanya mobil itu yang menjadi mobil termurah milik Tuan Marko. "Renggo.... Kenapa bisa kecolongan." gerak Giska.
Seperti tebakan Nyonya Gina, Giska mendatangi rumah Renggo. Membuat kekacauan di rumah besar dan mewah tersebut.
"Apa kamu tidak mau bertanggung jawab!!" teriak Giska.
Renggo tersenyum. "Pasti aku akan bertanggung jawab." ucap Renggo dengan tenang.
"Bagus kalau kamu sadar. Cepat!!!" seru Giska, bahkan beberapa pelayan di rumah Renggo menggelengkan kepala melihat kelakuan dari Giska.
Sangat bar-bar. Sama sekali tidak sesuai dengan penampilannya yang anggun. Kelakuan dan sifat seperti Medusa.
"Baik, nanti malam aku akan datang ke rumah kamu. Kita bicarakan semuanya." jelas Renggo.
"Hahhhh,,,, datang ke rumah aku. Ngapain??" tanya Giska menggunakan nada tinggi.
"Bertanggung jawab. Bukankah kamu menginginkan aku bertanggung jawab. Aku akan menikahi kamu." ujar Renggo dengan sungguh-sungguh.
"Haaaa... haaaa....." Giska tertawa terbahak-bahak. "Heii,, siapa yang minta kamu bertanggung jawab soal itu." ucap Giska.
"Jangan mimpi. Giska hanya akan menikah dengan Viki." ucap Giska dengan sinis memandang ke arah Renggo.
Tangan Renggo terkepal mendengar perkataan Giska. Tapi dia harus menahannya. "Aku hanya memerlukan uang dari kamu. Hanya itu bentuk tanggung jawab yang aku inginkan. Paham." ucap Giska.
Renggo tersenyum. "Ternyata benar kata Nyonya Gina." ucap Renggo dalam hati.
Renggo mengambil dompet di saku celananya. Mengeluarkan uang berwarna merah beberapa lembar. Dan menaruhnya di atas meja.
Giska menatapnya dengan ekspresi bingung. "Kenapa, apa kurang. Kami butuh uang. Itu, aku berikan uang." jelas Renggo, memasukkan kembali dompetnya ke dalam saku celana.
Giska melotot tidak percaya. "Well,,, jika kamu menginginkan uang lebih. Masuklah ke kamarku. Seperti biasa. Layani aku, sampai aku puas. Aku berjanji, akan memberikan tips yang lebih dari ini." ucap Renggo, terdengar seperti merendahkan Giska.
"Kamu pikir aku...." ucap Giska menggantung. Dia tidak bisa meneruskan kalimatnya, karena selama ini. Dirinya memang sering bermain di atas ranjang dengan Renggo. Tanpa dibayar.
Giska mengambil uang yang Renggo taruh di atas meja. "Kalau gue nggak butuh, nggak bakal gue ambil." sungutnya, meninggalkan rumah Renggo.
Brakkk.... terdengar pintu dibanting dengan keras. Dan pasti Giska pelakunya.
Renggo hanya menatap ke arah pintu dengan tatapan yang rumit. "Semoga saya dan Nyonya Gina dapat merubah kamu." gumam Renggo.
__ADS_1