VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 189


__ADS_3

"Sayang,,, kami datang..!!!" seru Nyonya Rahma. Beliau datang bersama dengan Nyonya Binta.


Keduanya sepakat untuk datang bersama ke rumah Viki dan Nara, selepas para suami berangkat bekerja.


Setelah pemeriksaan, dan dinyatakan hamil. Nara ingin segera memberitahu kedua orang tuanya, dan juga mertua kesayangannya.


Namun tak berhasil. Sebab dicegah oleh sang suami. Viki beralasan jika sudah malam, dan hal tersebut akan mengganggu waktu mereka.


Padahal waktu masih menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Dan pastinya mereka belum tertidur, dan masih sedang bersantai.


Oleh karena itu, Viki memberitahu mereka pagi ini. Dan benar saja, keduanya langsung datang sepagi ini, setelah diberitahu.


Hemm,,,, pasti hanya alasan Viki tidak memperbolehkan Nara memberitahu tadi malam.


"Mbok,, dimana mantu kesayanganku?" tanya Nyonya Rahma.


Mbok yang sedang beberes, segera menghentikan kegiatannya. Begitu mendengar suara Nyonya Rahma dan Nyonya Binta yang menggelegar.


"Tuan dan Nyonya masih di atas, Nyonya besar."


"Astaga, apa Nara belum turun. Belum sarapan?" tanya Nyonya Rahma khawatir.


Belum sempat mbok membalas perkataan Nyonya Rahma, beliau sudah melenggang menaiki tangga. Mengajak sang besan untuk mendatangi kamar Viki dan Nara.


Di bawah, si mbok hanya bisa tersenyum, menghela nafas dan melanjutkan pekerjaannya. "Ehh,,, sebaiknya aku tambah piringnya. Siapa tahu kedua Nyonya besar juga akan ikut sarapan." ujarnya.


"Jeng, apa perlu, kita bangunkan mereka?" tanya Nyonya Binta, merasa tidak enak menganggu kenyamanan tidur sepasang suami istri tersebut.


"Harus. Nara sedang hamil. Masa jam segini belum bangun. Belum sarapan juga. Kasihan baby nya dong." ujar Nyonya Rahma di depan pintu kamar Viki dan Nara.


Belum sempat Nyonya Rahma mengetuk pintu, pintu sudah terlebih dulu terbuka dari dalam. "Mama." panggil Nara dengan senyum di bibir.


Nara telah selesai berbenah diri, mendengar suara gaduh dari luar kamar. Karena penasaran, Nara membuka pintu kamarnya.


Ternyata di depan kamar sudah berdiri mama tirinya dan mama mertua kesayangannya. "Mama sudah lama?" Nara menatap Nyonya Rahma dan Nyonya Binta bergantian.


Tanpa dipersilahkan masuk, Nyonya Rahma nylonong masuk ke dalam kamar Nara. "Baru saja." ucap Nyonya Binta.


"Masuk ma." suruh Nara, Nyonya Binta tersenyum fan mengikuti sang besan yang telah berada di dalam kamar.


"Viki mana?" Nyonya Rahma mengedarkan pandangan. Mencari putra kebanggaannya.


"Ada apa ma, pagi-pagi sekali datang." celetuk Viki dari kamar ganti.


Viki mengulurkan dasi ke arah sang istri. Dengan cekatan, Nara segera memasangkan dasi tersebut dengan rapi, melingkar di leher sang suami.


"Pasti mama mau minta sarapan." celetuk Viki, membuat Nara menggeleng dan tersenyum.


Nyonya Binta hanya bisa memutar kedua bola matanya dengan jengah. "Mulut kamu itu. Perlu mama sumpal pake kain pel." kesal Nyonya Rahma.


"Kapan kalian tahu, jika Nara tengah mengandung calon cucu kita?" tanya Nyonya Rahma.


"Tadi malam." jawab Viki santai, dengan tangan sibuk memasang jam tangan. Namun, Nara segera mengambil alih hal tersebut. Membantu sang suami memakai jam tangan.


Cup,,, Viki mengecup singkat kening sang istri. "Kamu dengarkan jeng. Mereka tahu tadi malam, kenapa baru memberi kabar tadi pagi." gerutu Nyonya Rahma tidak terima.


"Semalam sudah larut. Viki hanya takut menganggu waktu kalian." elak Viki mencari alasan.


"Memang semalam pukul berapa kalian pulang dari dokter?" kini, Nyonya Bintalah yang membuka suara.


"Setengah sembilan malam ma." jawab Nara jujur.


Nyonya Rahma dan Nyonya Binta hanya melongo. Pukul setengah sembilan malam. Sudah larut malam. Tidak ingin menganggu waktu mereka.


Merasa kedua mamanya menatap aneh ke arahnya, Nara segera kembali meluruskan duduk persoalannya. "Nara ingin memberitahu mama, tapi abang melarang. Kata abang, nanti menganggu jam istirahat mama dan papa." jelas Nara.


"Menantu kurang ajar."


"Anak kurang ajar."


Nyonya Rahma dan Nyonya Binta bersamaan mengumpat Viki. Sementara Viki hanya diam, seolah dirinya tidak merasa bersalah.


"Ckk,, ma,,, mama-mamaku yang cantik, setengah sembilan itu sudah malam. Dan Nara harus istirahat. Dia sedang hamil mama. Masa kalian akan datang jam segitu." bela Viki pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Tapi bang....." Nara ingin berkata lagi, tapi Viki terlebih dulu menutup mulut Nara dengan telapak tangannya.


Dirinya tidak ingin sang istri mengatakan hal yang malah akan membuat dirinya disalahkan dan dipojokkan oleh kedua perempuan di depannya.


Jika ternyata alasan Viki melarang Nara memberitahu merkea bukan karena Nara butuh istirahat. Sebab, keduanya tertidur tengah malam.


Meski tidak ada olah raga ranjang, tapi keduanya larut dalam obrolan ringan. Mengenai calon anaknya kelak.


"Lebih baik sekarang kita keluar, dan sarapan." ajak Viki, sebelum kedua mamanya bertanya lebih lanjut. Dan sang istri polosnya akan menjawab semuanya dengan jujur.


Di meja makan, tampak Nara disuapi oleh Viki. Nyonya Rahma dan Nyonya Binta hanya bisa memandang heran. Sebab biasanya Nara selalu mandiri.


Nara mengerti apa yang ada di benak kedua mamanya tersebut. "Emm,,,, Nara akan mual dan muntah, jika bukan suami Nara yang menyuapinya." ucap Nara lirih.


Malu. Tentu saja Nara malu. Tapi mau bagaimana lagi. Dirinya sebenarnya tidak menginginkan hal ini. Tapi, demi calon bayi yang sekarang masih berada di dalam kandungannya. Nara harus melakukannya.


Selain itu, Viki juga terlihat biasa-biasa saja. Dan juga menikmati kemanjaan yang di berikan pada sang istri padanya.


"Mungkin itu bawaan bayi. Kamu tidak perlu merasa sungkan. Iyakan jeng."


Nyonya Binta dan Nyonya Rahma hanya ikut duduk di kursi makan. Tanpa ikut sarapan. Sebab, mereka memang sudah sarapan sebelum datang ke rumah Nara.


Nyonya Binta mengangguk, membenarkan perkataan Nyonya Rahma. "Oh iya ma, bagaimana kabar Rini dan Bima?" tanya Nara.


"Rini. Anak itu semakin dewasa dan pintar. Tapi sepertinya dia akan mewarisi sifat papanya. Kritis sekali. Setiap ada sesuatu yang dia tidak tahu, pasti dia akan tanya sampai ke akarnya." geleng Nyonya Rahma, mengingat bagaimana dirinya kesusahan menjawab setiap pertanyaan yang keluar dari mulut Rini.


"Kamu tahu, sekarang dia bukan anak mama. Tapi anak papa. Setiap malam, Rini selalu bercerita pada papa kamu. Bagaimana dirinya di sekolahan." kekeh Nyonya Rahma.


Teringat setiap malam, setelah mereka makan malam. Mereka akan menyempatkan diri berbincang ringan di depan televisi.


"Lalu Bima?"


"Kemarin mama datang ke tempatnya sekolah. Kamu tahu, dia berkelahi." jelas Nyonya Rahma dengan antusias.


Nara dan Viki saling pandang. Lalu mengalihkan pandangan pada Nyonya Rahma. "Kok bisa jeng?" tanya Nyonya Binta penasaran.


"Biasa. Anak seusia mereka. Apalagi sih. Pasti rebutan mainan." jelas Nyonya Rahma.


"Bagaimana jika Bima tinggal bersama Nara?" tanya Nara.


"Tidak."


"Jangan."


"No."


Nyonya Binta, Nyonya Rahma, dan Viki menjawab bersamaan. Membuat Nara melongo. "Nara, kamu sedang hamil muda." tukas Nyonya Binta.


"Dan anak seusia Bima itu sedang aktif-aktifnya." imbuh Nyonya Rahma.


"Aku hanya tidak ingin terjadi apa-apa dengan kamu, dan calon akan kita. Lagian sudah tepat, Bima berada di sana." tutur Viki.


"Bagaimana jika Bima ikut bersama saya saja." tawar Nyonya Binta.


"Tidak bisa." sahut Nyonya Rahma dengan segera. "Aduh jeng, nggak usah aneh-aneh. Saya saja sekarang kalau nggak lihat Bima sama Rini, nggak bisa tidur." jelas Nyonya Rahma, disambut tawa oleh semuanya.


"Segitunya jeng."


Nyonya Rahma lalu mengangguk serius. "Lagian di rumah sudah ada Al. Pasti jeng nggak kesepian lagi."


"Iya juga sih, terlebih Al sekarang sudah mulai bisa jalan." jelas Nyonya Binta.


Meski beliau tahu, jika darah Al tidak mengalir darah dari sang putra, namun Nyonya Binta tetap menyayanginya.


"Vik, kamu bisa pergi bekerja dengan tenang. Kami akan berada di sini. Menemani Nara." jelas Nyonya Rahma.


"Benar, mama tadi juga bilang sama sus yang merawat Al. Mama juga sudah minta izin sama papa." jelas Nyonya Binta tidak kalah antusias ingin menemani Nara.


Nara tersenyum kaku memandang Nyonya Rahma dan Nyonya Binta bergantian. "Minumnya sayang." Viki menyodorkan segelas susu ibu hamil pada sang istri.


Viki kemudian menaruh piring yang sudah kosong di atas meja. "Nara mau ikut Viki ma." papar Viki dengan santai.


"Loh,, jangan. Tidak boleh. Kamu tenang saja, kami akan menemani Nara sampai kamu pulang." tegas Nyonya Rahma.

__ADS_1


"Bukan Viki yang mengajak. Tapi memang, my baby kelihatannya tak ingin jauh-jauh dari papanya." Viki tersenyum, mengelus pelan perut Nara yang masih datar.


Nyonya Rahma dan Nyonya Binta menatap Nara. Membuat Nara mau tak mau harus menjelaskannya. "Nara ingin selalu melihat wajah suami Nara, ma." cicit Nara menahan rasa malu.


"Entah kenapa, setiap Nara melihat wajah abang, Nara akan merasa aman dan tidak sedih." tutur Nara.


Viki tersenyum bangga. Seolah dirinyalah disini pemenangnya. "Hah,,, ya sudah kalau begitu. Viki, kamu bawa saja pekerjaan kamu ke rumah. Kasihan Nara, jika harus ikut kamu ke kantor." saran Nyonya Rahma.


"Mama tanya saja sama Nara." ujar Viki tersenyum aneh, mendapat cubitan kecil di pahanya dari sang istri.


"Nara bosan tinggal di kamar terus. Bosan tinggal di rumah terus. Nara kepingin ke kantor abang." jelas Nara dengan lirih.


Nyonya Rahma dan Nyonya Binta saling pandang. Pundak keduanya merosot ke bawah. "Ya sudah. Memang bawaan bayi." celetuk Nyonya Binta.


"Tapi kamu harus ingat Vik, jika Nara sedang hamil. Dan dia tidak boleh stres atau lelah Ingat." ucap Nyonya Rahma mengingatkan.


Viki tersenyum sambil memainkan kedua alisnya. "Kamu itu, dikasih tahu." gerutu Nyonya Rahma dengan kesal.


Setiap hari, selama lima bulan usia kehamilan Nara. Dirinya selalu mengikuti kemanapun sang suami pergi. Jika sedetik saja, Nara tidak melihat wajah sang suami, maka entah kenapa Nara tiba-tiba ingin menangis.


Bahkan, saat Viki sedang berada di ruang pertemuan atau sedang meeting di luar kantor bersama para kliennya, Nara juga menempel seperti prangko di samping Viki.


Risih. Sama sekali tidak. Viki bahkan dengan bangga memamerkan sang istri yang tengah hamil pada rekan kerjanya.


Untuk ngidam. Nara sama sekali tidak ngidam yang aneh-aneh. Layaknya perempuan hamil pada umumnya. Bahkan bisa dibilang, Nara makan semua makanan, asal makanan tersebut di suapi oleh sang suami.


Dan untuk dokter yang memeriksa dan mendampingi Nara selama hamil, Nara tetap menggunakan dokter perempuan yang direkomendasikan oleh Viki pada awal kehamilannya.


Karena ternyata, dokter perempuan yang cantik tersebut sudah bersuami. Dan Nara tidak harus was-was, jika sang dokter akan main mata dengan Viki.


Lagi pula, Nara melihat sikap yang ditunjukkan Viki pada sang dokter, sama seperti sikap Viki pada perempuan lainnya. Dingin dan cuek.


Dan sekarang, setelah usia kandungan Nara menginjak tujuh bulan. Kebiasaan Nara juga berubah.


Nara sudah tidak menempel seperti hewan bertentakel pada sang suami. Bahkan Nara sekarang kembali seperti Nara yang dulu. Mandiri dan juga tidak cengeng.


Namun, Viki merasa kehilangan. Mungkin selama beberapa bulan Viki sudah terbiasa dengan kehadiran Nara di sampingnya.


Namun, Viki juga tidak mau egois. Sebab, sekarang perut sang istri sudah semakin besar. Apalagi beberapa hari lagi, mereka akan menggelar tujuh bulanan untuk usia kandungan Nara.


Seperti sekarang, Nara sudah mulai mempersiapkan acara tujuh bulanannya. Tentu saja dibantu Nyonya Rahma dan Nyonya Binta. Dan dibantu oleh Sara. Calon istri dari Renggo.


Mereka dengan wajah gembira membantu supaya acara tersebut berjalan dengan lancar. "Kak Sara, kapan akan menikah dengan kak Renggo?" tanya Nara di sela-sela menata bunga sembari duduk lesehan.


"Belum tahu Ra." jawab Sara, melirik pada Nyonya Binta yang tengah sibuk bersama Nyonya Rahma, tak jauh dari mereka.


Nara mengelus pelan paha Sara. "Tenang saja, mama Binta itu orangnya baik kok. Nara yakin, mama akan setuju. Jika kakak menikah dengan kak Sara." ucap Nara, membuat Sara tenang.


"Semoga." Sara pun berharap hubungan mereka berdua akan berjalan dengan lancar.


"Apa kakak sering main sama Al?" tanya Nara.


"Iya, jika aku sedang tidak bekerja, biasanya aku akan menyempatkan diri bermain dengan Al."


Nara mengangguk. "Kakak tidak keberatan, merawat dan menjaga Al, setelah menikah dengan kak Renggo?"


Sara tersenyum dan mengangguk serius. "Dia anak yang baik dan lincah. Aku menyukainya."


"Meski kak Sara tahu, dia bukan anak kandung kak Renggo." Nara bicara dengan lirih.


"Tidak masalah. Aku tetap menyayanginya." yakin Sara.


"Kak, seandainya setelah menikah dengan kak Renggo, kakak diminta meninggalkan pekerjaan kakak. Apa kakak mau?" tanya Nara.


Sara diam. Tidak menjawab pertanyaan Nara. Dan Nara lihat, ada rasa bimbang dalam mata Sara. "Sudah, kak Sara tidak perlu menjawab. Itu urusan kak Sara dan kak Renggo. Nara hanya bertanya asal saja." tukas Nara.


Sara tersenyum pada Nara. Sara juga mengagumi Nara. Diusia yang belum genap dua puluh tahun, Nara menjelma menjadi sosok yang luar biasa di mata Sara.


Cantik, dewasa, dan juga bisa berbaur di semua kalangan.


"Pantas saja Tuan Viki begitu tergila-gila pada dia." puji Sara dalam hati.


"Apalagi, di usianya yang masih muda. Dia sudah siap menjadi seorang ibu. Benar-benar perempuan hebat." imbuh Sara.

__ADS_1


__ADS_2