
Sehari penuh, Viki menemani Nara di dalam kamar. Mengenai pekerjaan kantornya, Viki menyuruh Rey untuk mengirimnya melalui email. Alhasil, Viki dapat bekerja sekaligus menemani sang istri.
Kemanapun Viki pergi, Nara selalu mengikuti. Bahkan saat Viki ingin mandi, Nara juga duduk dengan tenang di dalam kamar mandi. Menyaksikan sang suami yang tengah mandi.
Busyet dah.... hari ini, Viki seperti tersangka kriminal yang diawasi selalu gerak geriknya. Dengan tidak tahu malu, Viki malah menghampiri Nara yang duduk di kursi bersenderkan dinding dengan tubuh telanjang yang masih basah.
"Sayang, mandi bareng yuk?" ajak Viki merayu sang istri.
Nara menggeleng. "Lantas kamu mau apa, hanya duduk dan memandangi keindahan ini." Viki menunjuk ke arah pusakanya yang sudah tegak berdiri.
Nara melotot. "Mesum. Nara hanya ingin melihat abang mandi saja. Tidak lebih." tutur Nara.
Entah kenapa, Nara ingin selalu memandangi wajah sang suami. Rasanya Nara ingin menangis, jika Viki tidak berada di dekatnya.
Nara sendiri juga bingung dengan keadaan ini. Namun dirinya juga tidak tahu mengapa. "Cepat sana mandi, setelah itu kita gantian." suruh Nara.
Viki tersenyum mesum. "Mandi bareng yuk. Selain menghemat waktu, kita juga tidak akan kedinginan. Bagaimana? Mau ya...?" rengek Viki.
Nara hanya diam. Sementara tangan Viki membimbing Nara untuk berdiri. Melepaskan baju Nara dan semua yang melekat pada tubuh Nara. Sehingga Nara mengikuti jejak sang suami. Telanjang tanpa busana.
Nara sendiri juga bingung, mulutnya berkata tidak. Tetapi, tubuhnya mengatakan lain. Seakan malah menyuruhnya dan mendorongnya untuk melakukan apa yang diinginkan sang suami.
Terjadilah olah raga panas sore hari di dalam kamar mandi. Keduanya tidak saling bertukar keringat. Sebab, air mengguyur deras dari shower.
Membasahi seluruh badan pasangan suami istri tersebut. Membawa keringat mengalir bersama dengan air.
Viki segera menggendong sang istri keluar dari kamar mandi, begitu ritual yang mereka jalankan telah selesai. "Abang sih,,, bukannya cepat, malah makin lama." gerutu Nara protes.
Keduanya bahkan menghabiskan waktu hampir satu jam lebih berada di dalam kamar mandi. Bahkan Nara semakin pucat.
Nara mengomel, dengan masih hanya memakai baju mandi dan membungkus badannya dengan selimut. "Sayang, pakai baju dulu."
Viki keluar dari walk ini closet dengan membawa pakaian ganti untuk sang istri, sekaligus **********. "Ini." Viki menyerahkan pada Nara.
Dengan cemberut, Nara mengambilnya. "Kenapa sih, masih kurang?" goda Viki.
"Badan Nara udah hampir mengembang, terlalu lama berada di bawah air." omel Nara, dengan tangan sibuk memakai baju yang diambilkan sang suami.
Viki tiba-tiba memeluk Nara dari belakang. Mencium leher jenjang sang istri kecilnya. "Tapi kamu juga menikmatinya kan sayang."
"Lepas. Aku mau pakai baju dulu." Nara mencoba melepaskan diri dari pelukan sang suami.
Nara menyadari, jika dirinya juga menikmati apa yang dilakukannya dengan sang suami di dalam kamar mandi tadi.
Bahkan, Nara merasa sangat bersemangat. Padahal dirinya merasa tidak enak badan mulai pagi tadi. Tapi kenapa saat melakukan *** *** dengan sang suami, Nara merasa badannya baik-baik saja.
Viki melihat sang istri sedang melamun. "Ada apa sayang?" tanya Viki, melihat Nara sepertinya sedang memikirkan sesuatu.
Nara menggeleng. "Kamu mual lagi? Atau, ada bagian badan kamu yang sakit?" Viki merasa khawatir.
Apalagi Viki tidak bisa menahan hasratnya, sehingga menggempur istri kecilnya di dalam kamar mandi tadi. Sungguh, ada sedikit rasa menyesal di hati Viki. Namun setelah dirinya selesai menjalani ritual tersebut.
Saat menjalaninya, Viki bahkan sama sekali tidak ingat. Jika istri kecilnya sedang tidak enak badan. Sebab sudah dikuasai hawa nafsu yang membumbung tinggi.
"Suamimu ini sudah membuat janji dengan seseorang. Setelah ini, kita akan ke sana?" ajak Viki, membantu Nara mengeringkan rambut.
"Setelah kita makan?" tanya Nara yang dijawab anggukan oleh Viki.
"Siapa?" tanya Nara penasaran.
"Dokter tadi." tebak Nara, padahal Viki belum menjawabnya.
"Jika kamu tidak nyaman, kita bisa ganti dokter." jelas Viki, tidak ingin istrinya marah dan salah paham.
"Nara tidak sakit." tolak Nara.
"Hanya memastikan sesuatu. Siapa tahu sekarang ada nyawa lain di dalam perut kamu."
__ADS_1
Viki mengatakan dengan santai, sebab dirinya tahu, jika sang istri juga menanti kehadiran buah hati mereka. Sama halnya seperti dia.
Nara terdiam, mencoba menela'ah perkataan sang suami. Nyawa lain di dalam perut kamu. "Nara hamil." gumam Nara.
"Bisa jadi, makanya kita periksa. Kamu maukan?"
Nara langsung mengangguk. "Kenapa harus dokter tadi?"
"Karena dia perempuan." jawab Viki santai, benar adanya.
Tentu saja Viki tahu bagaimana seorang dokter kandungan memeriksa perempuan hamil. Dirinya yang pencemburu, tidak ingin ada yang melihat kulit perut mulus milik sang istri.
Apalagi jika mereka melakukan USG transvagina. Yang mengharuskan si dokter melihat alat kelamin Nara. Tidak,,,, Viki tidak akan ikhlas.
Meski USG transvagina hanya dilakukan jika USG dari perut tidak membuahkan hasil maksimal.
Nara tersenyum mendengar alasan Viki yang terdengar sepele. Namun membuat hati Nara meleleh.
Akhirnya Nara setuju memakai dokter yang tadi pagi sempat datang ke rumah. "Baiklah, kita pakai dokter itu saja. Toh, sudah janjian. Nggak enak juga jika dibatalkan." ucap Nara beralasan.
Meski entah kenapa, Nara merasa sedikit tidak nyaman jika dokter perempuan tersebut berada dekat dengan sang suami.
"Kamu tenang saja. Secantik apapun dokter itu, dia tidak lebih cantik dari istri kecilku yang super cantik." Seakan Viki bisa membaca dan mengerti apa yang ada dalam benak Nara.
Dirasa rambut Nara sudah kering, Viki meletakkan alat pengering rambutnya di atas meja.
Menangkup kedua pipi Nara. "Tenang saja. Perempuan pertama di hati suamimu adalah kamu. Kinara. Dan selamanya akan tetap sama. Sampai mata ini, tak lagi bisa memandang, selamanya hanya ada satu nama. Nara."
Blusss.... pipi Nara terasa panas, mendengar gombalan dari sang suami. "Kehmmm,,, lalu kak Ella?"
Nara mencoba mengalihkan pembicaraan, dirinya tidak ingin jika Viki sampai tahu. Bahwa dirinya salah tingkah dan merasa baper.
"Ella. Bedalah. Ella sama Denis. Kalau mau menyebut nama Ella, harus ada nama Denis. Mereka sahabat aku. Bahkan sudah aku anggap saudara." jelas Viki.
"Mama Rahma, diakan juga perempuan?"
Viki mencubit gemas dagu sang istri. "Beda lagi sayang. Dia ibu aku. Perempuan yang melahirkan aku. Sama seperti kamu, dia juga perempuan yang sangat istimewa di hati aku."
Nara tersenyum, merasa senang dengan penjelasan yang diberikan sang suami. "Nara juga sayang sama mama." tukas Nara.
"Dan sebentar lagi, aku juga harus memberi perhatianaku untuk dia." Viki mengelus perut rata Nara dengan penuh kelembutan.
"Sayang, belum tentu dia sudah hadir." tutur Nara.
Nara bukan menolak. Lebih tepatnya, dia tidak ingin jika sang suami kecewa dengan apa yang belum diketahui pasti keberadaannya.
Terlebih, Nara melihat raut wajah Viki yang sangat bahagia. Nara takut, jika dirinya ternyata tidak hamil. Dan hanya sakit perut biasa.
Memang, Nara sudah telat datang bulan selama satu minggu. Tapi Nara sama sekali tidak berpikir jika dirinya tengah hamil. Nara hanya menebak, kemungkinan jika dirinya memang telat datang bulan. Sesimpel itu pemikiran Nara.
Beberapa bulan yang lalu Nara pernah terlambat beberapa hari. Dengan antusias, dirinya membeli alat pendeteksi kehamilan.
Dengan dada berdebar, Nara menggunakan alat tersebut. Sendiri. Niatnya ingin memberi kejutan untuk sang suami. Jika dirinya benar-benar hamil.
Namun hasilnya tidak sesuai keinginan hati Nara
Hasilnya nihil. Garis satu. Yang artinya dirinya belum hamil.
Rasa kecewa sempat menyeruak di hati Nara. Saat seperti itulah yang tidak ingin Nara lihat. Jika seandainya saat ini dirinya tidak hamil. Pasti Viki juga akan merasakan rasa kecewa.
Sama seperti yang dia rasakan beberapa bulan yang lalu. Dan rasanya sungguh terluka. Dan tidak bisa digambarkan.
Viki menggenggam telapak tangan Nara. "Semoga saja, saat ini insting aku tidak meleset. Ada calon pewaris keluarga kita di dalam perut istriku tersayang." Viki menatap perut Nara dengan penuh keyakinan.
Viki dan Nara berangkat dengan diantar pak sopir. Dengan keduanya duduk di kursi belakang. Semenjak masuk, hingga mobil sampai ditujuan. Nara selalu menempel di badan sang suami.
Dengan keduanya selalu mengobrol ringan mengenai jika seandainya di dalam perut Nara benar-benar terdapat benih cinta mereka berdua.
__ADS_1
Obrolan ringan yang random. Bahkan bisa menghidupkan suasana. Pak sopir yang ada di depan pun, juga ikut tersenyum mendengarkan percakapan mereka.
"Ayo turun." ajak Viki, saat mereka sudah sampai. Dengan pak sopir sigap berada di samping pintu sang Nyonya. Membukakannya dari luar.
"Terimakasih pak." cicit Nara.
"Sama-sama Nyonya." sahutnya ramah.
Seorang perempuan cantik berdiri di teras klinik. Tempatnya membuka praktek. Nara memicingkan sebelah matanya. "Segitunya nunggu kedatangan kami, atau kedatangan suami tampanku." ucap Nara dalam hati, mencibir.
Merasa jika yang dilakukan sang dokter seharusnya sama sekali tidak perlu dilakukan. Nara tersenyum jahil. Sifat jahilnya muncul, ketika dia sedang dalam mode cemburu.
"Gue akan buktikan. Jika Viki hanyalah milik Nara. Hanya Nara yang akan selamanya bertahta di hati seorang lelaki tampan bernama Viki. Tidak akan pernah ada perempuan lain. Secantik apapun dia." ujar Nara dalam hati.
"Sayang." ucap Nara manja, menjulurkan tangannya dengan ekspresi gemas.
Viki tersenyum samar. Dirinya sangat tahu, kenapa Nyonya nya bersikap demikian. Pasti karena ada dokter yang sedang berdiri menunggu kedatangan mereka.
Bukannya risih, dan marah. Viki malah menyambut dengan senang hati saat Nara mengulurkan tangannya. Dia menikmati sang istri kecilnya, bersikap manja dengannya.
Sebab keseharian Nara memang tidaklah manja. Malah terlalu mandiri. Makanya Viki yang mengimbanginya, dengan dirinya yang bersikap manja pada Nara.
Dan alhasil, sikap manja Viki keterusan sampai sekarang. Namun kelihatannya Viki harus kembali mejadi sosok lelaki yang mandiri saat bersama istri.
Sebab, sekarang saatnya Nara yang mengambil alih sikap manja darinya. Dan Nara yang akan memerankan sikap manja tersebut.
"Kita masuk." ajak Viki. Nara melingkarkan tangannya di lengan sang suami dengan mesra. Sementara Viki, melingkarkan tangannya di pinggang sang istri dengan posesif.
Sang dokter sudah menampakkan senyumnya, menyambut kedatangan padangan suami istri tersebut.
Nara tidak ingin ambil pusing dengan senyum di bibir sang dokter. Nara tidak peduli terhadap senyum yang ditunjukkannya.
Entah itu senyum tulus dari hati, atau hanya sekedar senyum penghias bibir. Palsu. Nara tidak peduli. Yang terpenting, Nara ingin memeriksakan kandungannya dulu.
Jika memang benar dirinya hamil, Nara ingin jika dirinyalah yang akan memilih dokter kandungan untuk menangani dirinya dan sang calon bayi.
Yang Nara inginkan hanyalah menunjukkan jika Viki hanyalah miliknya. "Selamat datang, Tuan dan Nyonya. Silahkan masuk." ucap sang dokter.
Selama pemeriksaan, tangan Nara dan Viki selalu bertautan. Tak pernah terlepas. Bahkan, saat Nara berbaring di atas ranjang untuk melakukan pemeriksaan pada kandungannya melalui USG, tangan mereka tetap bertautan.
Dengan Viki berdiri di samping ranjang tempat Nara berbaring. Dan Viki, tetap bersikap seperti biasa. Dingin, datar, tanpa senyum di bibir saat dia bersitatap dengan sang dokter.
Beda saat dirinya menatap Nara. Tampak raut wajah Viki memancarkan rasa hangat dengan senyum di bibir. Sesekali Viki membawa telapak tangan Nara untuk berada dibibirnya. Mendaratkan ciuman di punggung telapak tangan Nara.
"Bagaimana Dok? Apa benar, jika kami akan menjadi orang tua?" tanya Viki terlebih dahulu.
Tidak sabaran. Sebab, biasanya dokterlah yang akan mengatakan kabar tersebut terlebih dahulu. Tapi ini, Viki dengan tergesa menanyakan hal tersebut.
Sang dokter tersenyum. "Baik Tuan, Nyonya. Saya akan memberitahu sesuatu pada kalian. Saat ini, Nyonya Nara tengah mengandung."
Dokter belum selesai memberitahu semuanya, Viki sudah terlebih dulu memeluk erat tubuh Nara. Begitu pula dengan Nara, dia menangis bahagia mendengar berita baik tersebut.
Sang dokter menghela nafas panjang melihat semua drama di depannya. Dirinya hanya bisa menahan perkataan yang sudah berada di tenggorokannya. Membiarkan pasangan suami istri tersebut meluapkan rasa bahagianya.
Viki menangkup kedua pipi sang istri. "Bagaimana, kamu percaya. Perkataan suamimu ini benarkan. Kita akan segera memiliki anak. Di sini." Viki menaruh telapak tangannya di perut Nara.
"Ada calon anak kita." Viki mencium singkat bibir Nara.
Nara hanya mengangguk. Bahkan suaranya seakan tak bisa keluar, hanya air mata kebahagian yang dapat mewakili rasa syukurnya pada Tuhan.
"Ekkhmm,,,,," sang dokter berdehem untuk mengembalikan keadaan. Waktu yang diberikan pada mereka seolah sudah cukup bagi sang dokter.
Melihat Nara dan Viki sudah kembali seperti sebelumnya, kini beliau melanjutkan kembali penjelasannya.
"Usia kandungan Nyonya Nara masih berusia lima minggu. Yang artinya, di mana usia tersebut masih tergolong rawan. Oleh karena itu, saya sarankan. Untuk Nyonya Nara jangan terlalu kecapekan, atau berpikir sesuatu yang mengakibatkan stres."
Nara dan Viki mendengarkan penjelasan sang dokter dengan serius dan sungguh-sungguh.
__ADS_1
"Dan juga. Sebaiknya, Tuan dan Nyonya tidak melakukan hubungan badan terlebih dahulu. Mengingat diusia ini, sangat rawan sekali terjadi pendarahan."
Nara dan Viki saling bertatapan. Dan sang dokter sepertinya tahu apa yang sedang terjadi.