VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 170


__ADS_3

"Selamat ulang tahun sayang." semua orang bergantian mengucapkan kalimat tersebut pada Nara.


Mulut Nara terbungkam. Semuanya terasa seperti mimpi untuk Nara. Kehidupannya berubah terbalik drastis setelah pertemuannya dengan Viki.


Yang kini, lelaki tersebut telah menjadi suaminya. "Ini bukan mimpikan. Jika ini mimpi, Nara tidak ingin bangun." gumam Nara.


Hati Tuan Smith seakan tercubit. Segera dipeluknya sang putri. "Maaf, maaf sayang. Papa bersalah. Hukum papa. Hukum papa seperti apapun keinginan kamu. Asal bisa membuat kamu memaafkan papa." Tuan Smith menangis dengan tangan memeluk sang putri.


Nyonya Binta meneteskan air mata, mencium Bima yang saat ini tengah berada dalam gendongannya. Berharap jika Nara memaafkan sang suami. Atas apa yang sudah dilakukan suaminya di waktu dulu.


Nyonya Rahma menyenderkan badannya pada Tuan Hendra, dengan Rini berada di depannya. "Mama, apa Tuan Smith itu papa kandung kak Nara?" tanya Rini, yang perlahan mulai mengerti keadaan seiring berjalannya waktu.


Nyonya Rahma menghapus air matanya. Tersenyum sambil mengangguk menatap Rini. Tampak, Rini tersenyum melihat Nara dipeluk Tuan Smith.


"Apa papa mau memeluk Rini?" tanya Rini, menengadahkan kepalanya memandang Tuan Hendra.


Dengan segera Tuan Hendra mengangkat badan Rini dalam gendongannya. Rini dengan segera melingkarkan tangannya di leher Tuan Hendra. Seakan dirinya tidak ingin turin dari gendongan Tuan Hendra. "Dasar." kekeh Nyonya Rahma memencet hidung Rini gemas.


Viki berdiri dan terdiam. Sudut bibirnya tersenyum memandang Nara dan Tuan Smith yang berada di sampingnya.


Tuan Smith mengurai pelukannya. Menatap sang putri dengan lamat-lamat. "Maafkan papa." Tuan Smith berucap dengan lirih, suaranya tercekat di tenggorokan. Menahan air mata.


Nara mengangguk. "Iya pa." sahut Nara lirih.


Saking bahagianya mendapat panggilan papa dari Nara, Tuan Smith memegang kedua pundak Nara dengan kencang. "Ulangi sayang, kamu panggil apa tadi." harap Tuan Smith dengan binar kebahagiaan.


"Pundak Nara sakit pa." cicit Nara meringis serta tersenyum.


"Tuhan...." seru Tuan Smith kembali memeluk Nara. Bahkan semuanya meneteskan air mata melihat adegan tersebut.


Termasuk Viki. Namun dengan segera Viki mengusapnya, sebelum ada yang menyadarinya. Dibalik kaca, ketiga pembantu Tuan Hendra juha menangis sambil berpelukan melihat hal tersebut.


"Putri papa, anak papa. Sayang. Putri papa...." ucap Tuan Smith dalam tangisnya.


Rasanya lebih bahagia mendapat panggilan papa dari Nara, dari pada memenangkan tender proyek. "Terimakasih sayang, terimakasih." Tuan Smith mencium kening Nara berkali-kali.


"Ckk,,, sudah cukup. Dia memang putri anda. Tapi ingat, dia istri saya." Viki menarik lengan Nara untuk menjauh dari Tuan Smith dan memeluknya.


Dari tangis, kini semuanya tertawa melihat sikap dan tingkah Viki. "Hey, berbicaralah yang sopan. Aku ini mertuamu." jelas Tuan Smith tidak terima.


Tapi Viki tetaplah Viki. Cuek. "Kamu ini, bukankah suamimu ini sudah pernah mengatakan. Jangan berpelukan dengan lelaki lain. Kecuali Bima." tegas Viki, seolah sedang marah.


"Astaga. Tuan Viki, saya papanya..!!" Tuan Smith menggeleng dan melotot tidak percaya.


"Dan saya tidak peduli." kilah Viki.


"Maaf, lain kali tidak akan lagi." cicit Nara, membuat Tuan Smith membulatkan mulutnya.


"Sayang, apa kamu tidak akan memeluk papa lagi?" tanya Tuan Smith memelas.


Nara memeluk tubuh sang suami. "Maaf papa, Nara ingin menjadi istri yang berbakti." papar Nara.


Semuanya tertawa melihat ekspresi Tuan Smith saat mendengar kalimat yang keluar dari mulut Nara.

__ADS_1


Nara tahu, jika semuanya hanyalah sebuah candaan. Mana mungkin Viki melarang Nara memeluk papanya sendiri.


"Apa sekarang kakak punya dua papa dan dia mama?" tanya Rini, membuat tawa mereka terhenti.


Nara mengerti mengapa sang adik bertanya seperti itu. "Bukan hanya kakak yang punya dua mama dan dua papa. Bukankah itu artinya Rini dan Bima juga." jelas Rini.


"Benarkan? Apakah boleh?" Rini memandang Tuan Smith dan Nyonya Binta.


Tuan Smith mengangguk dan tersenyum. Segera Rini turun dari gendongan Tuan Hendra dan berlari ke arah Tuan Smith.


"Dalam sekejap kamu melupakan papa." ucap Tuan Hendra dengan ekspresi dibuat sedih.


"Tidak pa, papa Hendra tetap papa Rini. Tapi Rini hanya ingin merasakan pelukan papa Smith." papar Rini sok bijak.


"Baiklah, papa mengalah." tutur Tuan Hendra, membuat semuanya kembali tertawa renyah.


Semuanya lantas makan bersama. Berbincang ringan. Hingga ponsel Tuan Smith berdering, menandakan jika ada seseorang yang sedang menghubunginya.


"Siapa pa? tanya Nyonya Binta, sebab sang suami tidak segera mengangkat panggilan telepon tersebut.


"Renggo." ucap Tuan Smith, berdiri dan menjauh untuk menerima panggilan telepon dari sang putra tirinya.


"Ma,,," kata Nara, seakan tahu apa yang ada dalam benak Nyonya Binta.


Nyonya Binta tersenyum. "Iya sayang, tenang saja. Meski Giska menantu mama, istri dari putra mama, yang artinya kakak ipar kamu. Tapi mama tidak akan berbelas kasih. Jika dia mengusik kamu. Bukan begitu besan?"


Nyonya Rahma mengangguk pasti. "Berani mengusik menantu saya. Hemm,,,, saya bejek-bejek." ucap Nyonya Rahma dengan ekspresi kesal.


Nara tertawa. "Mama tenang saja. Nara juga tidak mungkin akan diam saja, jika milik Nara diambil. Tapi beda cerita, jika....." Nara tidak meneruskan kalimatnya, namun menatap sang suami dengan penuh makna.


Nara tersipu mendengar perkataan Viki. "Awas saja, jika abang macam-macam." ancam Nara melotot.


"Nggak akan pernah. Abang mungkin cuma satu macam kok." Viki mengerlingkan sebelah matanya dengan genit.


"Bang..." geram Nara, sebab sang suami tidak tahu tempat.


"Tidak perlu malu sayang, kami juga pernah di posisi kamu." timpal Nyonya Rahma tersenyum. Bukan tenang, Nara malah semakin malu mendengar perkataan Nyonya Rahma.


Tuan Hendra hanya diam dan menggelengkan kepala melihat semuanya. Dia hanya diam dan menjadi pendengar. Tidak ingin terlibat urusan ibu-ibu yang menurutnya sedikit rumit.


"Bagaimana pa?" tanya Nyonya Binta, saat Tuan Smith kembali duduk.


Tuan Smith menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku. "Mereka sudah sampai. Dan Giska ngotot ingin ke sini. Tapi papa larang." ujar Tuan Smith.


"Dasar. Kenapa sih, Giska tidak bisa menerima Renggo dengan ikhlas. Renggo itu kan juga tampan. Tak kalah sama Viki." dengus Nyonya Binta.


"Sudah ma, tidak baik berbicara seperti itu." tegur Tuan Smith.


"Cckk,, Mama jadi sanksi. Jangan-jangan anak yang dikandung Giska bukan cucu kita." celetuk Nyonya Binta.


"Ma...!!" tegur Tuan Smith meninggikan suaranya.


Viki tersenyum samar, dan hal tersebut tertangkap di penglihatan Nara. "Apa ada sesuatu yang abang tahu." ucap Nara dalam hati.

__ADS_1


Brakkk,,,,, Setelah keinginannya ditolak oleh papa mertuanya, Giska masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan sangat keras.


Beberapa pelayan di rumah Tuan Smith sampai terjingkat kaget dan mengelus dada. Mereka hanya menggelengkan kepala melihat tabiat dari menantu majikannya tersebut.


Berbeda dengan Renggo, dia sudah terbiasa dengan sikap dan tingkah Giska. Dengan santai, Renggo masuk ke dalam kamar.


Catat. Setelah Renggo dan Giska menikah sah secara agama dan negara, mereka tidak pernah tidur dalam satu kamar, bahkan berhubungan badan.


Renggo yang dulu selalu mengemis dan melakukan apapun agar bisa bersama dan tidur dengan Giska, tidak melakukannya lagi setelah mereka menikah.


Entah apa yang membuat seorang Renggo tiba-tiba tidak lagi berniat dan berminat untuk mengejar kata cinta dari Giska.


"Aaaa....!!!" teriak Giska menjebak rambutnya sendiri. Membuang segala yang ada di atas tempat tidur. Membuat kamarnya seperti tidak pernah dirapikan.


"Aku pastikan, setelah kami lahir. Aku akan bercerai dengan Renggo. Dan kalian, tidak bisa mengekangku memenjarakanku seperti ini." teriak Giska.


Beruntung kamar yang di huni oleh Giska kedap suara, meskipun Giska berteriak dan mengamuk, tidak akan ada orang yang terganggu dengan apa gang dilakukannya.


Giska merasa jika kebebasannya terenggut setelah menikah dengan Renggo. Setiap langkah dan kegiatannya harus melalui persetujuan kedua orang tua Renggo dan kedua orang tuanya.


Sementara Renggo sendiri, hanya menyuruh bawahannya yang dia perintahkan untuk menjaga Giska, supaya lebih memperhatikan calon anak mereka.


Renggo berbaring di atas ranjang empuk dan besar miliknya. Menatap layar ponsel dengan bibir tersenyum.


"Seandainya kita di pertemukan sebelum aku mengenal Giska, pasti kamu yang akan menjadi ibu dari anak-anakku." gumam Renggo.


Jari Renggo mengelus layar ponsel miliknya. Tersenyum lalu menggeleng. "Jangan gila kamu Renggo, dia perempuan baik-baik." ucap Renggo pada dirinya sendiri.


Terbesit pikiran dari Renggo menjadikan perempuan tersebut sebagai simpanannya. Namun Renggo masih waras untuk tidak melakukan hal tersebut.


"Dia perempuan baik-baik. Dan punya perasaan selembut sutra. Mana mungkin aku akan memberinya luka." ucap Renggo lirih, mencium foto seorang perempuan cantik di layar ponsel miliknya.


Ting,,,, Ponsel Renggo berbunyi. Satu pesan tertulis masuk ke dalam ponselnya. "Bukankah perusahaan ini milik Viki." batin Renggo.


Sara. Dia adalah sosok perempuan yang mencuri hati Renggo beberapa bulan terakhir. Pertemuan mereka yang tak sengaja beberapa kali, menimbulkan benih cinta.


Sara yang saat itu tidak mengetahui status Renggo, menaruh hati pada lelaki tampan dan mapan tersebut.


Hingga Renggo dan Sara berhubungan dengan baik melalui ponsel, dan sempat bertemu beberapa kali.


Sara mengetahui jika Renggo sudah beristri, saat mereka makan berdua di sebuah restoran, dan mereka tak sengaja bertemu rekan bisnis Renggo.


Dari perbincangan mereka, Sara dapat menyimpulkan jika Renggo sudah beristri dan sang istri tengah hamil anak mereka.


Merasa di bohongi, membuat Sara marah besar. Sara yang memang tidak tahu apapun mengira jika sosok Renggo adalah lelaki yang tidak setia.


Meninggalkan istrinya yang hamil demi bersama dengan perempuan lain. Bukankah hal tersebut menunjukkan betapa bejatnya Renggo di mata Sara.


Sejak saat itu, tanpa mau mendengarkan penjelasan dari Renggo, Sara memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengan Renggo.


Dirinya tentu saja tidak ingin menjadi duri dalam pernikahan orang lain. Apalagi sampai menyakiti perasan istri Renggo.


Namun, apakah Sara berubah pikiran, jika mengetahui bahwa pernikahan Renggo adalah pernikahan yang tidak sehat.

__ADS_1


Apakah Sara akan kembali menjalin hubungan dengan Renggo, jika mengetahui siapa dan bagaimana Giska.


__ADS_2