VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 160


__ADS_3

Kedua mata Nara terbuka. Namun Nara tetap diam, sama sekali tak bergerak.


Pagi yang indah. Terlebih di depan matanya, nampak sosok dengan wajah bagai dewa. Sangat tampan dengan segala kesempurnaannya. Membuat semua kaum hawa akan bertekuk lutut di hadapannya.


Mengingat kejadian semalam, membuat Nara tersenyum dan mengulum bibirnya sendiri. Sesekali Nara memejamkan kedua matanya dengan erat.


"Sakit, tapi enak." ucap Nara dalam hati, tersipu malu sendiri.


Senyum Nara menghilang, teringat jika semalam dirinya melihat luka di tubuh Viki bagian depan. Perlahan, Nara menggeser badannya ke belakang. Sedikit menyibakkan selimut. Dan menatap ke bawah. Melihat luka di tubuh sang suami.


"Kenapa tidak dibuka semua." ucap Viki dengan suara khas orang bangun tidur.


Viki menyingkirkan selimut daei tubuhnya. Membuat seluruh badannya terlihat. Termasuk sang junior yang berdiri tegak. Yang sedang tidak berada di dalam sangkar.


"Abang..." seru Nara dengan nada rendah, melihat kelakuan nyleneh sang suami.


"Kenapa malah menatap wajah abang, katanya pengen lihat anunya abang lagi?" goda Viki.


"Abang mesum." kata Nara, tak berani melihat ke arah bawah.


"Loh,, kok mesum. Tadi siapa yang ngintip-ngintip, pake membuka selimut segala." goda Viki, membuat Nara semakin kesal.


"Siapa juga yang mau ngintip. Nara cuma mau lihat luka abang. Semalam Nara hanya melihat sekilas." cicit Nara dengan pipi bersemu merah.


Viki menjawil hidung sang istri. "Salah siapa, pake memejamkan mata, miring ke sana ke sini. Hemm..." dengan gemas, Viki mencubit dagu Nara.


Sebab, saat keduanya melakukan hubungan intim, Nara selalu mengalihkan pandangannya. Dirinya tidak ingin melihat dan terlihat oleh Viki.


"Nara malu,,,," cicit Nara menggelembungkan pipinya.


"Pake malu segala." Viki mendaratkan bibirnya pada bibir Nara, sekilas.


"Abang..." rengek Nara, malah membuat darah Viki semakin naik ke ubun-ubun.

__ADS_1


"Kita ulangi tadi malam ya." pinta Viki.


"Aaaa.... abang...hhhh." desah Nara, saat tangan Viki mulai bermain di salah satu bongkahan di dadanya.


"Enak..." goda Viki, melihat wajah Nara yang mulai menunjukkan ekspresi yang menarik di mata Viki.


"Abang cukup. Nara ma--mau bangunnn.... aahh.." ujar Nara menolak, namun menikmati setiap sentuhan yang di berikan oleh sang suami.


"Buka mata kamu sayang, tatap abang." pinta Viki.


"Nara malu." cicit Nara, membuka matanya perlahan, menatap wajah tampan sang suami.


"Luka Abang..." Nara mulai kelingsutan, tangan Viki mulai bergerilya di titik-titik sensitif tubuh Nara.


"Yang luka dada abang. Bukan tongkat abang." bisik Viki, dengan lidah memainkan telinga Nara.


"Pelan ya bang, masih perih." pinta Nara dengan malu-malu.


"Tenang baby, abang akan melakukannya dengan perlahan. Hingga kamu akan menginginkan lagi dan lagi." ucap Viki dengan posisi sudah berada di atas sang istri. Memainkan anggota tubuh Nara yang dia sukai.


Viki menjatuhkan badannya di samping Nara, setelah menyemburkan benihnya ke dalam rahim sang istri.


Cup,,,, Viki berbaring menyamping, menjadikan lengannya sebagai penyangga kepala. "Kenapa ditutup. Abang saja tidak." lagi-lagi Viki menggoda Nara, saat Nara memegang erat selimut sampai di dadanya.


Nara cemberut, padahal ingin sekali Nara menutupi wajahnya dengan bantal. Rasanya sangat memalukan.


Keinginan Viki benar-benar terwujud. Pagi hari, di awali dengan sarapan di atas ranjang. "Sayang, abang tidak ingin kerja. Rasanya ingin tetap di sini. Bersama kamu." rengek Viki seperti anak kecil.


Nara menelan ludahnya dengan kasar. Bisa jadi rempeyek dirinya, bila Viki tidak bekerja. Sudah cukup semalam dan pagi ini, itupun membuat tulang Nara seakan remuk semua.


"Nggak bisa bang, abangkan pimpinan. Masa bolos." ujar Nara.


"Justru pimpinan sekaligus pemilik perusahaan. Jadi terserah abang dong." kekeh Viki seenak jidatnya.

__ADS_1


Seketika, Nara teringat sesuatu. "Ehh,,, bang. Kenapa abang bisa terluka?" tanya Nara, menatap sekitar dada dan perut Viki yang masih sedikit merah kehitam-hitaman.


"Abang,,, yang serius." ucap Nara geregetan.


Bukannya menjawab, tangan Viki malah memegang tongkatnya kembali dan tersenyum mesum memandang Nara.


"Abang akan menjawab, dengan syarat. Kita mandi bersama. Bagaimana? Setuju?" tawar Viki.


Nara tersenyum. Membuat Viki juga tersenyum. Mengira Nara akan menyetujui tawarannya. "Tidak. Tidak ada mandi bareng." tegas Nara, menghilangkan senyumnya.


Sontak senyum di bibir Viki juga menghilang. Berganti wajah manyun. "Apa abang nggak lelah. Sumpah,,, Nara capek bang..." ucap Nara dengan wajah lelahnya.


Viki mengecup kening Nara. "Ya sudah, nanti malam lagi saja." ujar Viki dengan enteng.


"Bang, apa nggak ada jeda. Masa nanti malam begituan lagi?" tanya Nara keberatan.


Viki memeluk tubuh Nara. "Tapi abang pengen. Ya sudah, sekarang saja. Dikamar mandi. Nanti malam tidak usah. Bagaimana?" saran Viki.


Nara memutar kedua bola matanya dengan malas. Nara tahu, jika Viki sedang mengibuli dirinya. Pasti nanti malam Viki akan meminta lagi. "Iya, nanti malam saja. Sekarang badan Nara sakit semua. Tulang Nara kayak mau patah." keluh Nara.


"Makanya olah raga. Tuh, di atas ada tempat olah raga. Kamu pakai saja." jelas Viki.


Tok,,, tok,,,, ketukan pintu menghentikan obrolan ringan pagi mereka.


Viki segera turun dari ranjang, dengan santai memakai celana di depan Nara, dan juga memakai kaos.


Viki hanya membuka pintu sedikit. Memperlihatkan kepalanya saja. "Den, ditunggu dibawah. Sarapan bersama." ucap mbak Mira.


"Suruh mereka duluan saja mbak. Saya sama Nara nanti saja." tutur Viki, kembali menutup pintu kamar. Dan kembali naik ke atas ranjang tempat tidur.


Viki tidak menyadari, jika mbak Mira melihat sebuah lingerie berwarna hitam di atas lantai. Jauh dari ranjang tempat tidur mereka.


Mbak Mira tersenyum sendiri. Bahkan sampai berjingkrak senang. "Tahan Mira, tahan. Tunggu Tuan Hendra berangkat kerja dulu." ucap mbak Mira pada diri sendiri.

__ADS_1


Tentunya Mbak Mira ingin berbagi cerita lada rekan kerjanya dan juga majikannya, Nyonya Rahma. Jika dia melihat sebuah lingerie teronggok di lantai kamar Viki dan Nara.


Ditambah Viki, yang membuka pintu hanya sedikit. Semakin menguatkan dugaan mbak Mira. Jika semalam terjadi gempa di kamar Viki dan Nara.


__ADS_2