
"Tuan, Tuan Marko ingin bertemu." ucap Rey.
Viki yang sedang fokus pada lembar kertas yang bernilai milyaran di depannya menghentikan kegiatannya.
"Beliau sekarang berada di depan ruangan anda." ucap Rey memberitahu, sat Viki mengangkat kepala dan memandang ke arahnya.
"Persilahkan masuk." perintah Viki tanpa ekspresi dan terlihat tenang.
Rey sedikit membungkukkan badan. "Baik." ucap Rey, segera menjalankan perintah dari atasannya.
Viki mengangkat pantatnya dan segera mempersilahkan Tuan Marko untuk duduk. Dan Rey, segera keluar. Memberitahu pada OB untuk membuatkan dua gelas kopi.
Sementara dirinya berdiri di depan ruangan Viki. Menunggu OB, dan mengambil alih nampan berisi dua cangkir gelas. Lalu membawanya ke dalam.
"Silahkan." Rey, menurunkan kedua gelas tersebut dari atas nampan. Dan segera meninggalkan ruangan Viki.
"Silahkan." ucap Viki mengangkat segelas cangkir berisi kopi, dan menyeruputnya dengan pelan.
Sama halnya dengan Viki, Tuan Marko dengan tenang menyeruput kopi tersebut. Dan kembali meletakkan gelas di atas meja.
"Khemm.." Tuan Marko berdehem untuk mengurangi rasa canggungnya. Dan Viki, tersenyum samar.
"Saya ingin meminta maaf." ucap Tuan Marko dengan tegas. Tak menyurutkan wibawa seorang Tuan Marko meski kata minta maaf yang keluar dari mulutnya.
Viki tersenyum dan mengangguk pelan. "Saya terima perminta maafan anda." ucap Viki. "Saya juga sama, saya juga meminta maaf. Mungkin ada perkataan saya yang melukai hati Tuan." imbuh Viki dengan ikhlas.
Tuan Marko tersenyum. Dirinya tidak menyangka jika akan mendapatkan kalimat seperti ini dari Viki. Tuan Marko sempat berpikir jika Viki akan menanggapi dengan angkuh dan sombong kata permintaan maaf darinya.
Ternyata dugaan Tuan Marko melenceng jauh. "Pasti saya akan sangat senang. Jika mempunyai putra seperti kamu." puji Tuan Marko.
"Terimakasih. Papa saya juga berkata seperti itu." ucap Viki tertawa, mencairkan suasana. Tuan Marko juga tertawa bersama dengan Viki. Suasana yang tadinya tegang, kini berangsur menghangat.
Viki sempat terkejut, saat Tuan Marko mengatakan kata maaf pada dirinya. Karena yang dia tahu, sosok Tuan Marko terkenal sangat keras kepala dan juga arogan.
"Huhh..." Tuan Marko menghela nafas panjang. "Saya hanya sangat menyayangi putri tunggal saya. Memberikan apapun yang dia inginkan. Tanpa memikirkan yang lain." imbuh Tuan Marko dengan tatapan memandang jauh.
Tuan Marko menunduk sesaat. Lalu mengalihkan pandangannya pada Viki. "Tapi ternyata semua yang saya lakukan adalah sebuah kesalahan." imbuh Tuan Marko.
"Cara saya salah dalam memanjakan putri saya." ucap Tuan Marko dengan tatapan nanar, teringat jika dirinya kerap bersitegang dengan sang istri karena hal ini.
"Setiap orang tua, pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Dan saya tidak bisa menyalahkan anda. Karena saya belum berada di posisi anda." ujar Viki.
"Tapi yang saya rasakan. Sedikit kekangan dan juga sedikit aturan. Akan lebih baik untuk anak seperti saya." imbuh Viki.
Teringat dimana saat dirinya masih seorang pelajar. Sang papa memberikan banyak aturan yang harus di lakukan olehnya.
Dan jika Viki melanggarnya, maka Viki akan mendapatkan hukuman. Tapi bukan hukuman kekerasan. Melainkan hukuman yang bersifat mendidik.
Viki tersenyum. "Dulu, saya pernah dihukum oleh papa. Karena pernah bolos sekolah bersama Denis dan Ella. Dan anda tahu, hukuman apa yang kami terima." ucap Viki, menatap ke arah Tuan Marko.
"Ketiga orang tua kami sepakat. Jika kami bertiga harus membersihkan pekarangan rumah kami secara bergilir. Selama dua minggu." ucap Viki, melanjutkan kalimatnya dan tersenyum.
"Rumah saya, rumah Ella, dan rumah Denis." jelas Viki.
Tuan Marko menatap tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Viki. Tapi mengingat bagaimana eratnya hubungan ketiga keluarga yang bahkan bukan saudara ini, Tuan Marko mengangguk percaya.
"Pantas, ketiganya menjadi sosok hebat." ucap Tuan Marko dalam hati.
"Dan,, saya ingin mengatakan suatu hal. Mengenai kerja sama saya dengan ketiga klien anda." ucap Viki terhenti, ada jeda dalam kalimatnya.
"Saya minta maaf, jika membuat anda tidak nyaman." imbuh Viki.
"Saya tidak mempermasalahkan semua itu. Karena memang, kerja sama kalian tidak ada kaitannya dengan perusahaan milikku." jelas Tuan Marko.
Viki sedikit lega mendengar penjelasan Tuan Marko. Dirinya hanya tidak ingin timbul masalah baru dengan Tuan Marko. Padahal masalah itu seharusnya tidak perlu ada.
"Tapi, apa kamu sudah memikirkan dengan baik. Karena proyek tersebut sempat terhalang. Dan kamu pasti tahu penyebabnya." ucap Tuan Marko mengingatkan.
Viki menghembuskan nafas pelan. "Saya sudah mempelajarinya. Dan saya yakin, kali ini proyek tersebut akan berjalan dengan lancar." tegas Viki dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
Tuan Marko tersenyum tipis. Dirinya merasa melupakan sesuatu. Jika Viki sosok lelaki yang mempunyai pemikiran luas. Dan pasti Viki sudah menyiapkan segala sesuatunya.
"Ada lagi yang ingin saya tanyakan." ucap Tuan Marko, saat Viki kembali menyeruput kopi miliknya.
"Tidak mungkin kamu begitu saja menolak putri saya." ucap Tuan Marko, merasa jika Viki mengetahui sesuatu.
Viki tersenyum. Tidak di pungkiri, jika pemikiran Tuan Marko sangat tepat. "Saya rasa tidak baik, jika kita membicarakan aib putri anda." ucap Viki dengan sopan.
Tuan Marko tersenyum dan mengangguk. "Renggo. Apa kamu mengenalnya?" tanya Tuan Marko.
Seolah dirinya tidak perlu menutupi apapun. Karena Viki pasti sudah mengetahuinya. Mengingat seperti apa penolakan Viki terhadap putrinya. Dan pastinya itu bukan karena harta.
"Ya, beberapa jam yang lalu perusahaannya mengajukan kerjasama dengan perusahaan saya." ucap Viki, membuat Tuan Marko memandang dengan tatapan rumit ke arah Viki.
"Dia lelaki hebat. Meneruskan perusahaan keluarganya. Dan dalam kepemimpinannya, perusahaan tersebut berkembang pesat. Bisa dikatakan, perusahaan saya hanya secuil dari perusahaan miliknya." ucap Viki berkata sebuah kebenaran.
Tuan Marko terkekeh mendengar penuturan Viki. "Karena kamu membangun semua dari nol. Tanpa bantuan dari siapapun. Bahkan, perusahaan yang kamu bilang secuil ini. Adalah perusahaan yang sekarang di segani oleh perusahaan raksasa." lontar Tuan Marko, memuji Viki.
"Terimakasih." ucap Viki.
"Saya rasa, anda pasti tahu. Alasan dia untuk menjalin kerjasama dengan saya." imbuh Viki.
"Sepertinya Tuan Marko belum mengetahui, jika putrinya baru saja menculik seorang perempuan." ucap Viki dalam hati.
Tuan Marko menatap ke arah Viki dengan tatapan yang sulit di artikan. "Tenang saja Tuan. Saya tidak akan menggigit. Jika tidak tergigit lebih dulu." canda Viki, mencairkan suasana.
"Ya, saya tahu itu." ucap Tuan Marko.
Dirasa sudah cukup,Tuan Marko pamit dan meninggalkan perusahaan Viki. Tapi Viki menyampaikan satu kalimat saat dirinya hendak meninggalkan perusahaan. Dan kalimat tersebut terkesan janggal dan sedikit aneh.
"Jika anda tidak keberatan. Tolong awasi Giska lebih ketat. Bukankah anda punya banyak bawahan. Tapi jangan lupa, pilihlah bawahan yang benar-benar setia."
Selama di dalam mobil, Tuan Marko masih mengingat dengan jelas perkataan Viki. "Awasi Giska lebih ketat. Bawahan yang setia." gumam Tuan Marko.
"Sepertinya aku harus mencari tahu sendiri." ucap Tuan Marko dalam hati. "Entah kenapa perkataan dari Viki seperti sedang memberitahukan sesuatu padaku. Tapi dia ada rasa tidak enak untuk memberitahukan secara langsung." imbuh Tuan Marko menangkap raut wajah dari Viki saat mengatakan hal tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di kediaman Tuan Hendra, Nara kembali belajar dengan giat. "Kelihatannya kamu sangat senang." tegur Alif, melihat ekspresi yang Nara tunjukkan sedari tadi.
"Iya kak." sahut Nara tanpa menoleh ke arah sang guru.
Arif sedikit mencondongkan badan dan wajahnya. "Jika boleh tahu, ada apa?" ucap Arif lirih. Seperti berbisik.
Dengan segera Nara menjauhkan badannya. Nara menatap Arif dengan tatapan tidak suka. Bukannya merasa bersalah, Arif malah tertawa. "Ada yang lucu." ketus Nara.
"Kamu yang lucu." seloroh Arif, dengan tangan hendak menggapai hidung mancung Nara.
Tapi Nara segera menghindar. Nara merasa, belakangan ini Arif selalu membuat Nara jengkel dengan sikap dan tingkahnya. Arif terkesan hendak mendekati Nara.
Dan Nara menyadari hal itu. Meskipun Nara gadis polos, tapi Nara bukan gadis bodoh. Yang tidak tahu hal tersebut.
Mbok Nah dan Mbak Mira memandang dari arah lain. "Kenapa aku nggak suka yang mbok, sama gurunya Nara." ucap Mbak Mira.
"Aku juga Mir." tanggap Mbok Nah.
Memang, di awal-awal. Arif terlihat baik, sopan, dan juga santun. Tapi entah mengapa. Semakin ke sini, dia semakin berusaha mencari perhatian Nara.
"Tolong kak. Jaga sikap kakak. Kakak di sini sebagai guru saya. Dan saya adalah murid kakak. Jaga batasan yang ada." tegas Nara dengan raut wajah mengintimidasi.
Mbok Nah dan Mbak Mira bertos ria melihat sikap Nara. "Hebat Nara. Ini baru namanya calon istri Den Viki." celetuk Mboh Nah.
Mbak Mira mengangkat kedua jempol tangannya. "Betul, calon mantu Tuan Hendra dan Nyonya Rahma." sahut Mbak Mira.
"Khemm." tawa dan juga raut wajah senang dari Arif seketika lenyap, menghilang entah kemana.
"Sebaiknya kita lanjutkan." ucap Arif. Tidak ada kata maaf yang terlontar dari mulut Arif.
Dengan menahan rasa kesal dan dongkol, Nara kembali duduk dan melanjutkan belajarnya. "Tenang Nara. Ingat, belajar yang baik dan rajin. Supaya bang Viki tidak malu bersanding dengan kamu." ucap Nara dalam hati. Memotivasi dirinya sendiri.
__ADS_1
"Mbok, sebaiknya mbok tetap duduk di sini. Jaga Nara dari sini. Sampai belajarnya selesai. Biar saya yang melanjutkan pekerjaan dibelakang." saran Mbak Mira, merasa khawatir meninggalkan Nara berdua dengan Arif.
Mbok Nah mengangguk pasti. "Iya, aku juga tidak tenang, meninggalkan Nara bersama dia. Kamu ke belakang saja. Nanti mbok segera susul, setelah mereka selesai." ucap Mbok Nah, merasakan hal yang sama dengan Mbak Mira.
Nara kembali fokus dengan lembar kertas yang ada di depannya. Mengerjakan soal yang telah diberikan oleh Arif.
Sementara Arif, memandang dengan tajam ke arah Nara. Seperti ada sesuatu pada ekspresi wajah Arif. "Nara,,,," ucap Arif dalam hati.
Arif memejamkan mata sebentar. Mengambil nafas. Dan membuka kedua matanya lagi. Dan semua gerak-gerik Arif tidak luput dari perhatian Mboh Nah.
"Seandainya Nyonya melihat, pasti beliau akan marah." geram Mbok Nah.
Karena tadi pagi, Nyonya Rahma kembali menemani Tuan Hendra untuk mengikuti kegiatan amal yang di selenggarakan pemerintah.
"Apa aku perlu memberitahu Nyonya." batin Mbok Nah. Tapi Mbok Nah sendiri masih ragu. "Biarkan saja, jika Nara merasa tidak nyaman. Pasti dia akan mengatakannya sendiri." imbuh Mbok Nah.
Di perusahaan, Viki segera memanggil Rey setelah kepergian Tuan Marko.
"Cari tahu tentang ini." ucap Viki, meletakkan bros milik Nara di atas meja.
Segera Rey mengambil gambar benda tersebut dengan kamera ponselnya. Dan Viki, kembali menyimpan bros tersebut.
"Cari dengan diam. Jangan sampai ada yang mengetahui." perintah Viki.
"Baik Tuan." ucap Rey. Sebenarnya ada banyak pertanyaan yang berada di otak Rey, saat Viki memintanya mencari tahu benda tersebut. Tapi Rey memilih bungkam dan diam.
"Apa jadwal ku setelah ini?" tanya Viki, melihat ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Di mana sebentar lagi akan masuk waktu makan siang.
"Tuan harus menemui ketiga pemilik perusahaan untuk membahas proyek besar kita. Dan malam nanti, ada pertemuan tahunan para pebisnis muda yang akan di mulai pukul delapan malam." jelas Rey.
"Apa Denis ada di sana?" tanya Viki. Karena sebenarnya dirinya sangat malas untuk datang. Tapi karena keadaan yang mengharuskan dia datang. Mau tak mau Viki harus datang ke acara tersebut.
"Tidak perlu kamu jawab. Nanti akan aku tanyakan sendiri." sergah Viki, saat Rey hendak membuka mulutnya.
Mulut Rey yang sudah terbuka terkatup dengan otomatis. "Permisi Tuan." ucap Rey.
"Tunggu." seru Viki, saat Rey hendak meninggalkan ruangannya.
"Pesankan aku makan siang." ucap Viki.
"Baik Tuan."
Viki memandang dengan seksama ke arah bros milik Nara. Meneliti setiap sudutnya. Mata Viki sedikit menyipit saat melihat ada sesuatu di belakang bros tersebut.
"Ini,,,," gumam Viki. Melihat ada tanda seperti lambang di belakang bros. Sangat kecil. Tapi Viki yakin jika itu adalah sebuah lambang.
"Segera ke ruanganku. Sekarang." ucap Viki pada Rey lewat interphone.
"Tuan." ucap Rey setelah berada di dalam ruangan Viki. Baru saja Rey mendaratkan pantatnya di kursi miliknya. Tapi suara Viki dari interphone membuatnya segera mengangkat kembali pantatnya.
"Lihat ini." ucap Viki.
Segera Rey mengambil bros tersebut. Mengamati arah Viki menunjukkan sesuatu padanya. "Lambang apa itu?" gumam Rey.
"Itu yang harus kamu cari tahu." ujar Viki.
Rey kembali melihat bros tersebut dengan seksama. "Tuan, apakah saya bisa membawanya?" tanya Rey dengan hati-hati.
"Jika sampai benda tersebut hilang. Kepalamu akan aku penggal." sinis Viki.
Segera Rey menaruh bros tersebut di atas meja. Rey menelan ludahnya dengan kasar. "Berarti gue harus mengingatnya dengan jeli." ucap Rey dalam hati.
"Permisi." pamit Rey, meninggalkan ruangan Viki. Segera Rey mengambil kertas.
Menggambar simbol kecil tersebut di atas kertas. "Semoga ini tidak salah." gumam Rey, memandang ke arah kertas yang telah dia beri coretan pensil.
"Milik siapa bros tersebut. Sangat indah. Apalagi dengan banyaknya perhiasan mahal di sekitarnya." gumam Rey.
Rey melipat kertas yang bergambarkan simbol tersebut. Memasukkannya ke dalam saku celana. "Sebaiknya gue segera memesankan makan siang Tuan Viki." ucap Rey.
__ADS_1