
Nara berada di dalam kamar. Berdandan cantik menggunakan gaun dan juga high hell yang dikirimkan oleh Viki melalui bawahannya.
Nara tidak sendirian di dalam kamar. Ada mbak Mira yang membantunya berdandan. "Nikmati malam ini. Tadi Nyonya berpesan, jika malam ini Rini akan tidur bersama beliau dan Tuan." jelas Mbak Mira, dengan tangan merapikan rambut Nara.
"Dan Bima, akan tidur bersama Mboh Nah." imbuh Mbak Mira.
Mbak Mira memang bisa merias wajah, namun hanya sekedarnya. Sebab, dulu dia pernah bekerja di salon yang ada di desanya, sebelum bekerja di rumah Tuan Hendra.
"Giska?" tanya Nara.
"Ckk,,, perempuan ular itu. Tadi dia bilang tidak enak badan. Tahu sendiri bagaimana Tuan Hendra. Beliau merasa kasihan, dan membiarkannya untuk bermalam lagi di sini." jelas Mbak Mira dengan raut wajah kesal.
"Tapi kamu tenang saja. Mbak perhatikan, dari tadi dia berada di dalam kamarnya. Dan kata Siti, dia sedang tidur." ucap Mbak Mira.
"Ada apa mbak?" tanya Nara, melihat ekspresi wajah Mbak Mira yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu dari pantulan cermin.
Mbak Mira menghentikan pergerakan tangannya. Menatap Nara dari pantulan cermin juga. Sehingga keduanya saling bersitatap meski tidak secara langsung. "Mbak merasa jika Giska sedikit aneh." ucap Mbak Mira.
Nara berdiri, dan menghadap ke arah Mbak Mira. "Pagi tadi, aku melihat wajah Giska pucat. Terus, seharian dia banyak menghabiskan waktu di dalam kamar." imbuh mbak Mira.
"Kan memang, Giska bilang pada om dan tante jika sedang tidak enak badan." tutur Nara.
Karena memang, semua orang yang berada di dalam rumah tidak mengetahui tentang Giska yang saat ini tengah berbadan dua.
Dan karena seharian Giska banyak menghabiskan waktu di dalam kamar, rencana Nara untuk membuat Puspa dan Giska saling serang tidak berjalan sesuai rencana.
"Tapi ada untungnya juga, Giska malah mengeram di dalam kamar. Aku tidak perlu pergi dengan sembunyi-sembunyi." papar Nara.
"Iya juga sih." sahut mbak Mira.
Sementara di rumah Giska, Nyonya Gina dan Tuan Marko hanya bisa diam dan saling pandang. Mereka tidak menyangka, jika sang putri akan melakukan rencananya.
Sebelumnya, tadi pagi rumah tempat tinggal Giska dibuat gempar dengan tidak adanya Giska didalam kamar. Terlebih, semua barang-barang Giska masih utuh di dalam kamar. Termasuk ponselnya.
__ADS_1
Dengan segera, Tuan Marko menyuruh bawahannya untuk mencari sang putri. Tidak memerlukan waktu lama. Mereka sudah menemukan keberadaan Giska.
Yakni di rumah Tuan Hendra. Di mana Viki juga tinggal di sana.
"Giska juga belum pulang pa, apa malam ini kita perlu menjemputnya ke sana?" tanya Nyonya Gina.
Tuan Marko menggeleng. "Biarkan saja. Bukankah itu pilihannya." jawab Tuan Marko.
"Bukan itu yang mama khawatirkan. Tapi kehamilannya. Mama takut, dia akan mempergunakan untuk melakukan hal yang tidak baik pada Viki." gusar Nyonya Gina.
"Mama tidak perlu khawatir. Papa rasa, Giska tidak akan bisa melakukannya." ucap Tuan Marko.
"Tapi pa... Mam.."
"Hussttt,,, tenang ma, tenang. Jika itu sampai terjadi, papa akan bertindak." tegas Tuan Marko.
Nyonya Gina tersenyum lega. Keduanya tidak ingin, orang yang tidak bersalah akan menanggung kesalahan sang putri.
Di kamar, Nara sudah selesai bersiap. Dirinya kini hanya tinggal menunggu Viki datang menjemputnya. "Kamu cantik sekali. Sungguh." puji Mbak Mira.
Nara tersenyum simpul. Memandang dirinya yang tampak cantik dari pantulan kaca. "Khemm...." suara deheman dari seorang lelaki mengalihkan perhatian kedua perempuan berbeda usia tersebut.
"Saya permisi dulu." pamit Mbak Mira, melihat siapa yang datang. Tak lupa, mbak Mira menutup pintu dengan pelan.
"Nara sudah selesai bang." ucap Nara dengan senyum di bibir. Dengan Viki melangkahkan kaki semakin mendekatinya.
Cup... inilah hal pertama yang di lakukan oleh Viki, saat dia sudah berada di dekat Nara. Mencium singkat bibir Nara. "Abang...!!" Nara melotot tidak percaya dengan apa yang dilakukan Viki.
Bukannya menjauh, Viki malah menempelkan kembali bibirnya di bibir tipis milik Nara. Dan tidak seperti yang sebelumnya, kini Viki ******* dan menghisap bibir tipis tersebut.
Viki menikmati setiap inci dari bibir Nara. Sementara Nara hanya bisa memukul dada Viki, meminta Viki menyudahi ciuman mereka.
"Bang....!! hah,, hah,,, hah..." nafas Nara tersengal, setelah Viki melepaskan tautan dari bibir keduanya.
__ADS_1
Dengan bibir cemberut, Nara memandang ke arah Viki. Dengan lembut dan perlahan, Viki membersihkan sisa saliva di sekitar bibir Nara.
"Abang..." Nara membulatkan kedua matanya, sambil menaruh telapak tangannya di depan bibirnya. Lalu segera Nara membalikkan badan dan merapikan kembali lipstik di bibirnya.
"Aisshhh...." Viki menyugar rambutnya dengan kasar ke belakang. Segera Viki mengambil ponselnya. Dan menghubungi Rey.
"Urus segera KTP milik Nara." perintah Viki pada Rey, melalui sambungan telepon. Lalu mematikannya tanpa mendengarkan suara dari lawan bicaranya.
Nara menggeleng tidak percaya, dengan apa yang di dengarkannya. "Sayang, aku ingin segera menikahi denganmu. Sumpah, jika terus seperti ini. Abang tidak bisa menjamin, bisa mengendalikan diri abang." ujar Viki dengan memelas.
"Kenapa kamu sangat cantik." puji Viki, membuat Nara tersipu.
Padahal gaun yang dipakai Nara bukan gaun seksi. Gaun berwarna merah tua bertabur mutiara di beberapa bagian, dengan panjang lengan hingga siku. Dan panjang selutut. Dimana ada sebuah ikat kecil di pinggang ramping sang empunya.
Bahkan, gaun tersebut sangat tertutup. Sama sekali tidak menampakkan kesan seksi. Namun malah membuat Nara tampak anggun dan sangat cantik. Untuk gadis seusianya.
Lagi pula, mana mungkin Viki memilihkan gaun dengan bentuk atau model terbuka. Pasti Viki tidak akan rela, tubuh milik sang kekasih menjadi bahan tontonan semua tamu undangan di acara tersebut.
"Jika saja ini bukan acara penting. Pasti aku tidak akan mengajakmu." ucap Viki.
"Lagian, kenapa mbak Mira merias wajahmu secantik ini." ucap Viki, seakan tidak rela.
Padahal Viki memang sengaja tidak memakai jasa salon untuk me-make over penampilan Nara. Viki dapat membayangkan, betapa cantiknya Nara jika di rias oleh tangan profesional.
Maka dari itu, Viki yang mengetahui jika mbak Mira dulu pernah bekerja di salon, meminta tolong pada mbak Mira. Dan Viki juga memerintahkan mbak Mira untuk membeli alat make up untuk dipergunakan.
"Memang kita mau pergi ke acara apa sih bang?" tanya Nara penasaran. Pasalnya memang Viki tidak memberitahu Nara, akan di ajak kemana dirinya.
"Ckk,,," decak Viki, dengan tampang tidak rela.
Bang,,, kapan berangkatnya?" tanya Nara.
"Hahh,,,, sekarang. Tapi ingat pesan abang. Jangan pernah meninggalkan abang. Tetap di samping abang." pinta Viki.
__ADS_1
"Sip. Nara janji. Tapi, jika abang yang meninggalkan Nara bagaimana?" tanya Nara.
"Tidak akan." ucap Viki. "Karena gue akan memamerkan kamu ke semua orang." ucap Viki dalam hati, memandang wajah cantik gadis di depannya.