VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 164


__ADS_3

"Maaf Tuan, di ruangan Tuan ada tamu yang sedang menunggu." jelas resepsionis, saat Viki dan Rey baru saja menginjakkan kaki mereka di lobi.


"Maaf Tuan, kami tidak bisa menolak atau mengusir mereka. Mereka memaksa. Dan mengancam akan membuat keributan. Terlebih mereka mengaku sebagai keluarga dari Nyonya Nara. Bahkan mereka juga membawa beberapa foto, saat Nyonya masih kecil. Sekitar,,, iya, saat nyonya berumur tujuh tahun." lanjut sang resepsionis, saat Viki menatapnya dengan tajam.


"Dari mana kamu tahu jika itu foto istri saya. Apalagi masih berumur tujuh tahun. Kenapa perusahaan mempekerjakan karyawan bodoh seperti kalian." bentak Viki.


Kedua resepsionis dan juga satpam hanya bisa terdiam dan menundukkan kepala mereka. Mereka merutuki keputusan yang mereka ambil.


Saat ini, harapan mereka hanya satu. Tidak kehilangan pekerjaan, atau dengan kata lain, tidak dipecat dari perusahaan ini.


Tanpa berpikir panjang, segera Viki berlari ke ruangannya. "Berdo'alah, supaya Nyonya baik-baik saja. Jika sampai Nyonya kenapa-napa, kalian akan tanggung akibat dari kelalaian kalian." ancam Rey, segera menyusul sang atasan.


Rey tidak hanis pikir, bagaimana mereka hanya dengan sebuah bukti foto, bisa mempersilahkan seseorang masuk. Dan bahkan menunggu di ruangan Viki.


"Apa mereka tidak punya otak. Bisa saja mereka mengambil berkas penting. Atau ingin melakukan hal yang membahayakan lainnya." geram Rey merasa kesal dengan tindakan yang diambil mereka. "Sangat ceroboh." imbuh Rey kesal.


Brak... Viki membuka dengan kasar pintu ruangannya dari luar. Menatap tajam ke arah tiga orang yang duduk dnegan santai di kursi panjang dan empuk yang tersedia di ruangannya.


Rasa khawatir Viki seketika hilang, melihat pintu ruang pribadinya masih tertutup rapat. Dan dapat dipastikan, jika sang istri masih berada di dalam.


Entah tertidur, atau sudah terbangun. Yang Viki cemaskan hanya saat Nara bertemu ketiganya sendirian. Atau lebih tepatnya, saat tidak bersama dengan dirinya.


Tak lama, datanglah Rey, dan langsung berdiri di belakang Viki. Rey mengenali ketiganya. Lantaran Rey juga yang menyelidiki tentang kehidupan Nara sebelum bersama dengan atasannya. "Parasit." gumam Rey, terdengar Viki.


"Cucu menantuku sudah datang." ucap seorang lelaki tua, memegang tongkat di tangannya. Tanpa berdiri dari duduknya. Tampak beliau masih terlihat berwibawa. Meski sudah berumur.


"Tidak perlu terburu-buru, kami akan menunggu kamu." lanjutnya dengan ramah. Seolah mereka sudah kenal lama dan akrab.


Beliau adalah Tuan Beno. Papa dari Vanya, yang artinya kakek Nara. Sementara, di sampingnya. Duduk perempuan yang sudah berumur. Namun masih terlihat anggun dengan cara berpakaiannya.

__ADS_1


Dia adalah Nyonya Rianti. Mama dari Vanya, nenek dari Nara. Sedangkan Nyonya Vanya sendiri duduk di sebelah kiri Tuan Beno, sang papa. Dengan cara duduk yang angkuh dan wajah sombongnya.


"Tuan." Rey ingin mengatakan sesuatu. Namun Viki mengangkat tangannya.


"Sediakan minuman untuk para tamu kita. Bukankah sebagai tuan rumah yang baik kita harus menghormati tamu yang datang." perintah Viki pada Rey.


Viki berjalan menuju kursi single yang besar. Sebelah Nyonya Rianti. Duduk dengan kaki di silangkan. Dan badan tegap. Dengan tatapan mata tajam dan ekspresi datar.


Sementara Rey mengambil ponsel dan meminta minuman pada OB. Dirinya berdiri tepat di belakang Viki duduk.


"Apa yang membawa Anda datang kemari Tuan Beno?" tanya Viki dengan gaya arogannya.


Tuan Beno terkekeh. "Kita adalah keluarga. Dan kamu menikahi cucuku. Tidak perlu sungkan." jawab Tuan Beno.


Viki tersenyum miring. "Cucu, astaga. Siapa cucu anda? Seingat saya, istri saya adalah anak yatim piatu. Kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Bagaimana bisa istri saya menjadi cucu anda." sindir Viki langsung pada intinya.


Ekspresi Tuan Beno dan yang lainnya langsung berubah. "Lancang sekali kamu!" bentak Nyonya Rianti.


"Kamu..!!" seru Nyonya Vanya menunjuk ke wajah Viki, namun Viki masih santai.


"Kayla adalah putri saya. Darah daging saya. Saya yang mengandungnya. Saya juga yang melahirkan dengan mempertaruhkan nyawa saya. Lalu, seenaknya kamu mau memisahkan dia dari kami!!" teriak Nyonya Vanya berapi-api.


"Astaga Nyonya, ada satu lagi kalimat yang kurang anda sebutkan dari rentetan tersebut. Rey, katakan." pinta Viki dengan tenang.


"Anda juga yang membuangnya. Menurunkan putri anda di tepi jalan. Meninggalkannya seorang diri." ujar Rey tersenyum smirk, jauh dari kata sopan.


Mulut Nyonya Vanya terbungkam dengan perkataan Rey. Tuan Beno mencengkeram tongkatnya dengan kuat. "Tetap saja. Kayla adalah putri anak kami. Cucu kami. Darah daging kami." kekeh Tuan Beno.


Viki tersenyum miring. Seolah mengerti permainan apa yang akan mereka mainkan dengan mengakui kembali Nara. Viki dapat menebak, mereka berniat mengambil Nara kembali.

__ADS_1


Entah, apa rencana dibalik keinginan mereka ini. Tapi tentu saja, tidak mudah bagi mereka berhadapan dengan Viki.


"Baiklah, buktikan. Buktikan jika Nara. Istri saya adalah Kayla. Putri dari Nyonya Vanya. Jika terbukti, apapun yang kalian inginkan. Akan saya penuhi." ucap Viki enteng.


Rey memandang atasannya tersebut. Mencoba menebak permainan apa yang dimainkan oleh Viki. Sampai Viki berani mengatakan hal seperti itu.


Padahal Viki dan semuanya tahu, jika Nara memang putri kandung dari Nyonya Vanya bersama suaminya terdahulu. Tuan Smith.


"Kamu akan menyesal anak muda, telah menantang saya. Kamu hanya anak kemarin sore. Jangan harap akan menang." ucap Tuan Beno dengan yakin.


Ketiganya lantas keluar dari ruangan Viki dengan menahan amarah. "Maaf Tuan." ucap OB, mengira jika dirinya terlambat mengantarkan minuman, saat para tamu atasannya sudah meninggalkan tempat.


"Bawa kembali." ucap Rey. "Tuan, katakan. Apa yang saya lakukan?" tanya Rey, menunggu perintah Viki.


"Tidak ada. Hanya saja, kamu awasi terus mereka. Katakan dan laporkan apa saja yang mereka lakukan." perintah Viki.


"Baik." ucap Rey dan segera undur diri.


Dari dalam kamar, Nara mendengar semuanya. Sejak saat pintu terbuka olek ketiga tamu tak di undang tersebut, Nara sudah membuka kedua matanya.


Dia teringat akan pesan sang suami. Membuatnya tidak keluar dan hanya mencuri dengar apa yang terjadi di lua.


Sebelum sang suami datang, Nara juga sempat mendengarkan rencana licik mereka dan alasan mereka mendatangi Viki.


Meminta Nara kembali pada mereka, untuk kesalahan mereka terdahulu dan telah menyesal. Tentu saja bukan.


Mereka mendekati Nara dan Viki tak lain dan tak bukan, hanya masalah harta dan kedudukan. Mereka menginginkan masa kejayaan yang sempat Tuan Beno rengkuh dulu, mereka rasakan kembali.


Dengan jalan melalui Nara. Putri dan cucu mereka yang telah mereka buang.

__ADS_1


Nara duduk di tepi ranjang. Perkataan Viki yang menantang Tuan Beno membuat Nara tidak bisa tenang. "Bagaimana mungkin, abang berbicara seperti itu. Aku memang anak kandung perempuan itu." gumam Nara gelisah.


__ADS_2