VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 121


__ADS_3

"Tuan, ini." Rey menyerahkan sesuatu pada Viki.


"Kasihan sekali nasibnya. Sungguh tragis. Tapi salah sendiri, dia melangkah di jalur yang salah. Apa dia masih hidup?" tanya Viki.


"Orang kita tidak memastikannya. Lantaran takut jika mereka ketahuan sedang mengintai." jelas Rey.


"Biakan saja. Vanesa bukan lagi menjadi urusan kita." ujar Viki.


Viki menyuruh bawahannya untuk tetap memantau pergerakan Vanesa. Dan ternyata tebakan Viki benar-benar terjadi.


Mereka mengeluarkan Vanesa dari dalam mansion dengan tak sadarkan diri. Entah saat itu Vanesa sedang pingsan atau sudah tidak bernyawa.


Bawahan Viki mengirimi video, dimana tubuh Vanesa di buang ke jurang. Dengan di gelindingkan dari atas.


"Apa kita akan menyerang markas mereka, Tuan?" tanya Rey dengan hati-hati.


Viki menggeleng. "Sebenarnya bukan kita target utama dia. Tapi Ella." ujar Viki, yang memang sudah menyelidiki semuanya.


Namun dia tahu, jika dirinya maupun Denis hanya digunakan sebagai alat pancingan. "Apa kita akan diam saja?" tanya Rey.


"Iya, untuk saat ini. Apalagi kita sedang menghadapai sesuatu yang lebih penting." ucap Viki.


Viki yakin, jika musuh yang saat ini masih menyembunyikan dirinya akan menghentikan aksinya. Karena apa yang diinginkannya belum terlihat.


Pusat perbelanjaan milik Viki yang baru saja beroperasi mengalami kendala. Dan Viki yakin, jika saingan bisnisnya yang melakukan semua ini.


"Apa yang kamu temukan?" tanya Viki, karena pasti asistennya tersebut sudah menemukan sesuatu.


"Tuan Diego. Saya menebak, Tuan Diego juga terlibat. Mungkin Melva dalang di balik semua ini." ucap Rey menyimpulkan.


"Bukan Melva. Tapi Diego sendiri yang sedang mengincarku." jelas Viki.


Viki tersenyum sinis. "Cari tahu kelemahan Diego. Lelaki itu terlalu ambisius. Aku yakin, jika dia juga akan menggunakan anaknya sebagai umpan. Untuk mendapatkan apa yang sekarang sedang dia inginkan." tebak Viki.


Sedari dulu, sebelum Viki memulai mengambil alih tempat tersebut menjadi miliknya. Viki sudah mengetahui, jika Tuan Diego yang sebenarnya menyabotase pembangunan tersebut.

__ADS_1


Hingga pembangunan terhenti di tengah jalan. Namun Viki dengan berani mengambil langkah untuk meneruskan dan bekerja sama dengan para pengusaha untuk menyelesaikan pembangunan tersebut.


Dan berhasil. Tentu saja, Tuan Diego akan membuat ulah kembali. Dan tujuannya hanya satu. Menjadi pemilik dari pusat perbelanjaan nomor satu terbesar di negara tersebut. Tanpa harus bersusah payah.


"Cari tahu, siapa pengusaha yang bekerjasama dengan Tuan Diego. Tangkaplah ikan yang besar. Aku ingin memilikinya. Dan membuatnya pincang." seringai licik dari Viki.


"Baik Tuan."


"Maaf, Tuan. Ini." Rey menyerahkan sebuah tablet pada Viki.


"Ckk,,, biarkan saja. Aku yakin. Nara bisa mengatasinya." ucap Viki, mengembalikan tablet tersebut pada Rey sambil berdecak.


"Tetap awasi dan pantau. Suruh anak buahmu segera bertindak jika tikus kecil itu berani melakukan hal lebih." perintah Viki.


Viki percaya, jika wanitanya akan mampu mengatasi segala masalah yang ada di dalam rumah. Karena Nara adalah gadis dengan otak yang cerdik.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nara berjalan mendekati pagar. "Ada apa?" tanya Nara dengan wajah jutek.


Pak satpam tersenyum samar melihat sikap Nara. Karena selama ini, Nara selalu bersikap sopan pada siapa saja. Namun, baru pertama ini dia melihat Nara memasang wajah jutek.


"Hal penting apa. Sepertinya kita tidak punya hal penting untuk di bicarakan." Nara bersedekap, seolah dirinya enggan melakukan apa yang di minta oleh mantan guru privatnya tersebut.


"Ini soal kamu dan kedua adik kamu." kekeh Alif.


Nara menyipitkan sebelah matanya, mendengar apa yang dikatakan oleh Alif. "Tuan Hendra adalah seorang Gubernur. Kamu bisa menekan dia dengan memanfaatkan hal tersebut." ucap Alif tetap berusaha.


"Begitukah?" tanya Nara tersenyum miring.


Alif mengangguk dengan yakin. "Aku yakin, jika kamu menekan beliau. Dan akan melaporkannya ke pihak berwajib, maka kamu bersama kedua adikmu akan di lepaskan dari rumah ini." kekeh Alif.


"Hah,,,, sangat susah berbicara dengan orang macam kamu." desah Nara kesal.


Sang satpam yang mendengarnya hanya melongo sambil mengedipkan kedua matanya. Lalu dia tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Maaf Nona, dia sangat lucu." ucap Pak Satpam saat Nara memandangnya.


"Dia pernah menjadi guru Nona. Beruntung segera di pecat. Otaknya masih berfungsi milik saya dari pada miliknya. Mana ada orang di paksa bisa berdiri dan berpenampilan seperti ini." pak satpam menggerakkan tangannya dari bawah ke atas, tepat di hadapan Nara.


Penampilan Nara yang tampak cantik dan anggun. Memakai dress rumahan dengan motif bunga selutut, dengan lengan pendek.


Tak lupa, Nara menguncir kuda rambutnya yang panjang dan hitam tersebut.


"Otak kamu yang gampang dicuci oleh omongan orang lain. Berpikirlah secara terbuka wahai pak guru muda. Jangan asal percaya dengan mudah, apa yang dikatakan oleh orang lain."


"Pak, jika nanti ada bawahan Abang datang, panggil Nara ya pak. Atau bapak terima apa yang di bawanya. Nanti bapak kasih ke Nara." jelas Nara.


"Baik Non." ucap Pak satpam. Nara membalikkan badannya dan segera masuk ke dalam rumah.


Sementara di luar, pak satpam segera mengusir Alif. "Kamu ingin melaporkan majikan saya ke polisi. Laporkan saja. Silahkan. Ayo cepat. Saya jamin, kamu yang akan di penjara." ucap pak satpam sembari meledek Alif.


"Puspa, lihat saja. Akan aku beri pelajaran dia. Bisa-bisanya membuat masalah denganku."


gumam Nara.


Nara tahu, jika selama Alif mengajar dirinya. Puspa selalu mencuri waktu untuk menemui Alif. Dia selalu meracuni pemikiran sang guru muda perihal kehidupan Nara dan kedua adiknya di rumah ini yang di paksa untuk tinggal.


Dan penyebabnya adalah, karena Viki menginginkan Nara menjadi istrinya. Sedangkan Nara tidak mempunyai perasaan pada Viki.


Dan bodohnya Alif, percaya begitu daja dengan perkataan dari suster Puspa. Lantaran Alif melihat dari usia Nara dan Viki yang terpaut cukup jauh.


Nara menghentikan langkahnya. Tersenyum licik. "Ada dua ular di rumah ini. Bagaimana jika keduanya saling bertarung. Pertunjukan yang seru. Giska melawan Puspa." ucap Nara dalam hati.


Nata tersenyum senang. "Hari ini tante tidak ada di rumah. Aku akan meminta bantuan pada ketiga pahlawan dapur. Beres." Nara menjentikkan jarinya.


Segera Nara bergegas mencari ketiga pahlawan dapur. Yakin Mbok Nah, Mbak Mira, dan Mbak Siti. Nara menceritakan rencananya.


Mereka bertiga langsung setuju dan akan membantu Nara. "Beres Nara. Tenang saja, kita akan membantu kamu." ucap Mbak Mira.


"Sayangnya Nyonya tidak ada. Jika Nyonya ikut serta, pasti akan semakin ramai." ujar Mbak Siti.

__ADS_1


Seorang perempuan muncul di belakang mereka berempat. "Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanyanya dengan penasaran, melihat keempatnya terlihat berbicara serius.


Lantara ini masih pagi, dan seharusnya mereka sedang sibuk-sibuknya. Tapi malah berkumpul, seolah sedang membicarakan hal yang penting.


__ADS_2