
"Bang...." Nara melihat sebuah bunga besar dengan sepasang foto pengantin di sampingnya.
"Iya, ini acara pernikahan sahabat abang. Denis dan Hana." jelas Viki dengan senyum bahagia.
"Abang, kok nggak bilang. Mana Nara nggak bawa apa-apa lagi." kesal Nara.
Nara merasa kurang sopan dan merasa malu, datang dengan tangan kosong. Apalagi ini adalah acara pernikahan sahabat dekat sang kekasih.
"Tidak perlu khawatir. Kamu akan menjadi kado dan hadiah besar untuk mereka berdua." ucap Viki tersenyum bangga.
Nara memutar kedua bola matanya dengan malas mendengar perkataan Viki yang menurutnya sangat aneh.
"Ada apa?" tanya Viki, melihat Nara memandang foto pandangan pengantin di depannya. Nara segera menggeleng, pasalnya Nara sama sekali belum pernah bertemu mereka berdua.
Nara hanya mendengar cerita tentang Denis dari Nyonya Rahma dan pelayan di rumah Viki. Namun Nara sama sekali belum pernah mendengar nama Hana.
"Tuan Viki." sapa seseorang, membuyarkan lamunan Nara.
Viki menengok ke arah suara. Tanpa tersenyum, Viki dan lelaki tersebut berjabat tangan. Nara yang melihat ekspresi Viki, tersenyum dalam hati melihat perubahan drastis dari seorang Viki.
Viki mengajak Nara masuk ke dalam ruangan pesta di selenggarakan. "Dia." ucap Nara dalam hati, melihat Melva juga ada di dalam.
Bahkan bukan hanya Melva, namun juga Nyonya Vanya beserta sang suami. Tak hanya mereka, Nara juga melihat sosok Tuan Smith beserta sang istri.
Nara mencoba menenangkan diri. Tapi sayangnya, tidak semudah yang Nara bayangkan. Bertemu dengan kedua orang, yang selama ini sangat Nara hindari.
Nafas Nara terasa sesak. Tubuhnya bahkan terasa gemetar. Nara semakin mengeratkan pegangan tangannya pada lengan Viki.
Viki seolah mengetahui jika Nara sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Sebab Viki juga melihat jika mereka ada di pesta ini.
Viki mengetahui jika mereka juga di undang dan pastinya akan datang. Viki sengaja menjalankan rencananya.
__ADS_1
Tidak mungkin Viki terus menerus membiarkan Nara bersembunyi di dalam cangkaknya. Dia ingin Nara bisa bebas. Viki ingin Nara bisa mengangkat wajahnya dan menjadi perempuan kuat.
"Sayang, kamu pasti bisa." bisik Viki. Nara dan Viki saling bersitatap. Senyum di bibir Viki membuat ketakutan dan rasa cemas di hati Nara seolah hilang dan lenyap entah kemana.
Nara mengikuti senyum di bibir Viki. "Abang, nanti jangan senyum sembarangan." celetuk Nara tidak menyambung dengan obrolan mereka.
Cup,, Viki mengecup lembut dahi Nara. "Abang, banyak orang." Nara mencubit gemas lengan Viki.
"Tidak masalah. Biar semua tahu. Kamu milik dari seorang Viki." tegas Viki.
Dari arah lain, Melva mengepalkan tangannya melihat adegan romantis yang tersaji di depan matanya.
Bahkan semua tamu undangan berbisik saat melihat Viki menggandeng gadis cantik untuk datang ke pesta pernikahan sahabatnya.
Sebab, selama ini Viki tidak pernah terlihat menggandeng perempuan di sampingnya. Selain sahabat dekatnya bernama Ella. Yang kini keberadaannya entah berada di mana.
Viki menaruh tangannya di pinggang Nara dengan erat. Membawa Nara untuk menemui pasangan pengantin yang tadi pagi baru sah menjadi suami istri.
"Pa, papa tahan. Jangan sampai papa membuat Kayla semakin menjauh dari kita." saran Nyonya Binta pada sang suami.
Tuan Smith hanya menghela nafas panjang. Lalu mengangguk pelan. "Papa lihat, bukan hanya ada kita yang melihat ke arah mereka. Tapi semua orang. Terutama pasangan yang saat ini menatap benci pada Viki dan Kayla." lirih Nyonya Binta melihat ke arah Tuan Diego dengan Nyonya Vanya.
"Papa sekarang mengertikan. Apa yang seharusnya kita lakukan?" tanya Nyonya Binta seolah bertanya, padahal pertanyaaan dari beliau seperti memberitahu.
"Iya, papa akan segera menemui Viki. Papa akan memberitahu Viki, mereka manusia tidak punya hati. Papa tidak ingin Kayla merasakan sakit hati untuk kedua kalinya." ucap Tuan Smith.
Nyonya Binta menepuk pelan lengan sang suami sambil tersenyum. Seolah beliau setuju dengan apa yang saat ini di pikirkan oleh sang suami.
"Apa Renggo sudah menghubungi mama?" tanya Tuan Smith, Nyonya Binta menggeleng. "Anak itu, semakin lama semakin sulit di beritahu." dumal Nyonya Binta.
"Bagaimana dengan perempuan bernama Giska?" tanya Tuan Smith.
__ADS_1
Nyonya Binta mengangkat kedua bahunya. "Kata orang suruhan mama, perempuan itu sudah lama tidak terlihat mengunjungi rumah Renggo." jelas Nyonya Binta.
Renggo memang tidak tinggal serumah dengan kedua orang tuanya. Dia beralasan ingin mandiri dan juga karena rumah yang sekarang dia tempati lebih dekat jaraknya ke tempatnya bekerja dari pada rumah kedua orang tuanya.
Padahal semuanya hanya alasan Renggo. Dia melakukan semua itu hanya karena ingin bebas bertemu dengan Giska.
"Sebenarnya mama setuju dengan perempuan manapun Renggo berhubungan. Tapi dengan Giska, mama tidak akan merestui. Meski dia putri tunggal Tuan Marko." ucap Nyonya Binta, yang memang sudah menyelidiki bagaimana pergaulan dan sifat dari Giska.
Di sudut ruangan lain, Nyonya Vanya merasakan ketakutan. Tentu saja, dia merasa takut. Seandainya sang putri yang telah dia buang tujuh tahun yang lalu tiba-tiba menghampirinya.
"Mama, mama lihat. Dia yang bernama Nara." ucap Melva memandang tajam ke arah Viki dan Nara yang sedang berbincang dengan tamu lain.
"Ooo... iya." sahut Nyonya Vanya, yang dirinya sendiri bingung hendak berkata apa.
"Dia perempuan yang kamu katakan?!" tanya Tuan Diego.
"Benar." tanya Melva singkat.
"Apa kamu perlu bantuan papa?" tanya Tuan Diego.
"Tidak. Melva akan menanganinya sendiri." ucap Melva dengan percaya diri.
Mana mungkin Melva menerima bantuan dari sang papa. Sama saja Melva berkata menyerah pada sang papa sebelum melakukan apapun.
Dan tentunya Melva tidak ingin di pandang remeh oleh orang lain. Meskipun pada papanya sendiri. Sebab sedari dulu, Melva selalu ingin terlihat hebat di mata siapapun. Termasuk sang papa.
"Baiklah. Papa percaya kamu." Tuan Diego menepuk pundak Melva dengan bangga.
Nyonya Vanya hanya diam. Dirinya tidak ingin salah bicara dan malah akan menjadi bumerang untuk dirinya. Untuk saat ini, diam adalah hal yang paling ampuh yang bisa Nyonya Vanya lakukan.
Tuan Diego meninggalkan sang putri, dia bersama sang istri kembali menemui rekan bisnisnya yang juga kebetulan datang menjadi tamu undangan di pesta pernikahan ini.
__ADS_1