VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 82


__ADS_3

"Giska, berhenti." tegur Nyonya Gina, melihat sang putri terus berjalan dan mengabaikan keberadaannya.


Dengan wajah malas, Giska menghentikan langkahnya tanpa memandang ke arah Nyonya Gina. Sang mama berdiri tepat di depannya. Keduanya saling menatap. "Besok kamu ikut mama ke butik." perintah sang mama.


"Tidak ada penolakan." imbuh sang mama, saat Giska hendak membuka mulutnya.


Nyonya Gina beberapa minggu terakhir membiarkan sang anak bertindak sesuka hati. Meski semua fasilitas untuk Giska sudah dibatasi.


Dan ternyata, Giska masih bisa bergaya seperti dulu. Dan Nyonya Gina tahu betul, dari mana uang yang di peroleh Giska.


Hanya saja, sekarang Giska tidak terlalu berfoya-foya, membelikan barang untuk teman sosialitanya. "Jika kamu menolak, mama pastikan. Fasilitas untuk kamu akan mama cabut. Termasuk uang bulanan kamu." ancam Nyonya Gina.


Sangat jelas, raut wajah Giska menampilkan ekspresi tidak suka. Tapi dia tidak bisa melakukan apapun saat ini. Karena sang papa sudah tidak memperlakukan dirinya seperti dulu.


Nyonya Guna berdiri lebih mendekat ke arah sang putri. Mengikis jarak di antara keduanya. "Mama tidak akan segan-segan menyebarkan foto kamu." bisik Nyonya Gina mengancam.


Giska mengerutkan keningnya. Segera Nyonya Guna mengambil ponsel, mengirimkan beberapa foto ke ponsel Giska. "Buka." perintah Nyonya Gina mengangkat ponsel miliknya. Menyuruh Giska membuka pesan bergambar yang dia kirim ke ponsel Giska lewat aplikasi berwarna hijau.


Kedua mata Giska membulat sempurna. Dirinya sungguh tidak menyangka, dari mana sang mama mendapatkan foto-fotonya saat dia melakukan hubungan bersama dengan Renggo.


"Apa anda sudah tidak waras!!" hardik Giska. "Saya anak kandung anda. Di mana otak anda di letakkan!!" bentak Giska.


"Anak kandung. Astaga." Nyonya Gina membungkam mulutnya menggunakan telapak tangannya.


"Maaf, saya juga sudah tidak ingat. Kapan terakhir kali anda memanggil saya, yang katanya ibu kandung anda. Dengan sebutan Ma--ma." jelas Nyonya Gina dengan penekanan di akhir kalimat.


Giska meremas sendiri ponsel miliknya. Berjalan dengan kesal ke dalam kamarnya. Nyonya Gina menghela nafas. Tampak raut wajah sedih di kedua matanya.


"Mama akan mengubah pola pikir kamu. Sedikit demi sedikit sayang. Mama sangat menyayangi kamu." gumam Nyonya Gina dengan suara bergetar menahan tangis.


Padahal awalnya, Nyonya Gina ingin Giska merasa kekurangan uang. Dan meminta padanya. Dengan begitu, Nyonya Gina bisa mendidik Giska secara perlahan.


Tapi semuanya tidak berjalan sesuai rencana Nyonya Gina. Dan yang membuat Nyonya Guna jengkel, adalah Renggo. Bukannya membantu untuk menyadarkan Giska, Renggo malah memberikan uang pada Giska.

__ADS_1


Di restoran, Viki bertemu dengan beberapa rekan bisnisnya. Mereka membicarakan proyek bersama mereka yang hampir rampung.


Selesai makan siang di sertai pembahasan proyek yang mereka kerjakan, pemimpin tiga pengusaha lainnya beserta perwakilannya, meninggalkan restoran lebih dulu. Sementara Viki dan Rey tampak masih duduk di kursi mereka.


Sepertinya Viki memang sengaja melakukannya. Terlebih, pandangannya tertuju pada seorang perempuan paruh baya yang juga sedang makan bersama orang lain.


"Bagiamana dengan Renggo?" tanya Viki.


"Setelah ini, kita akan bertemu dengan Tuan Renggo. Beliau sedang dalam perjalanan kesini Tuan." jelas Rey.


Rey memandang sekilas ke arah Viki. Rey merasa heran. Sebab sedari tadi atasannya tersebut memandang ke arah meja.


Dimana di sana terdapat beberapa ibu-ibu yang sedang makan siang sambil berbincang. Terlebih, Rey menangkap Viki tersenyum sinis, meski hanya senyum samar.


"Ada apa dengan mereka. Siapa mereka?" ucap Rey dalam hati. "Tidak mungkinkan, jika Tuan Viki menyukai salah satu dari mereka." imbuh Rey dalam hati.


Apalagi sekarang Rey mengetahui hubungan antara Viki dengan Nara. "Cari tahu perempuan yang menggunakan pakaian ungu beraksen renda yang duduk di sana." perintah Viki.


"Baik." sahut Rey.


Setelah Renggo dan asistennya memesan minuman, tanpa banyak berbasa-basi Viki langsung mengajak Renggo untuk membahas perihal kerja sama keduanya. Hingga kesepakatan terjalin.


Renggo menyuruh asistennya untuk menunggu di meja lain, begitu juga dengan Viki. Terlihat jika Viki dan Renggo hendak membicarakan masalah pribadi.


Viki menyeruput kopi di dalam cangkir, lalu meletakkannya kembali. "Apa yang ingin anda bicarakan?" tanya Viki tenang.


"Giska." jawab Renggo singkat. Renggo tidak melihat perubahan pada ekspresi wajah Viki.


"Giska. Saya tidak mempunyai hubungan dengan dia." jelas Viki.


Renggo tersenyum sinis. "Saya rasa anda bukan lelaki bodoh. Pasti anda tahu, jika Giska menyukai anda." ucap Renggo, menatap Viki lekat-lekat.


"Saya tidak menyukainya." sahut Viki santai. "Jika tidak ada ada lagi yang ingin di bicarakan, saya permisi. Masih banyak pekerjaan saya di perusahaan." pamit Viki.

__ADS_1


Viki berdiri. "Jauhi Giska." ujar Renggo.


Viki terkekeh pelan. "Kenapa saya harus menjauhi Giska. Mendekat saja saya tidak pernah." sindir Viki, meninggalkan Renggo yang terlihat tampak frustasi.


Rey berjalan menghampiri Renggo sebelum menyusul atasannya keluar dari restoran. "Nona Giska tidak akan pernah menjadi istri dari Viki Radika Mahendra. Saya bisa menjamin seratus persen." ucap Rey dengan raut wajah datar.


Renggo memegang kepalanya, mengusap kasar wajahnya dengan telapak tangannya. "Apa yang kamu lakukan?" desis Renggo pada dirinya sendiri.


Renggo hanya merasa frustasi. Karena sampai detik ini, Giska belum bisa melepaskan Viki. Sementara sampai saat ini, dirinya hanya di manfaatkan oleh Giska. Dan Renggo sadar betul.


Dan yang paling Renggo khawatirkan adalah restu kedua orang tuanya terkait keinginannya untuk menikah dengan Giska.


Secara terang-terangan, kedua orang tua Renggo sama sekali tidak menyetujui rencana Renggo menjadikan Giska istrinya.


Dapat di pastikan, jika Renggo meneruskan niatnya untuk menikah dengan Giska. Semua harta yang sekarang Renggo kelola akan di tarik.


Alhasil, Renggo tidak akan mempunyai apapun. Karena semuanya masih atas nama mama dan papanya. Dan pastinya Giska juga akan dengan senang hati meninggalkannya.


"Capek?" tanya Nara, masuk ke dalam kamar Viki. Setelah melihat Viki menaiki anak tangga menuju ke dalam kamarnya, segera Nara pergi ke dapur dan membuatkan secangkir teh hangat.


Nara memberikan secangkir teh hangat pada Viki. Setelah Viki menyeruputnya sedikit, Nara meletakkannya bersama nampan di atas meja.


Segera Nara masuk ke kamar mandi. Menyiapkan air untuk Viki mandi. "Aaa..." seru Nara kaget, saat ada sepasang tangan yang melingkar di perutnya yang kecil.


"Mandi bareng yuk." ajak Viki. Nara beralih menghadap ke arah Viki. "Jangan macam-macam." jawil Nara di hidung mancung milik Viki.


Viki mengendus wangi leher Nara. "Sumpah, aku sudah tidak kuat sayang." desah Viki, menahan sesuatu di bawah sana yang ingin dipuaskan.


Nara sedikit mendorong tubuh Viki. "Apaan. Bukannya abang selama ini belum pernah melakukannya?" tanya Nara.


"Iya,,, makanya. Abang penasaran."ucap Viki. "Bagaimana rasanya jika tongkat abang masuk ke dalam sarang milik kamu." ucap Viki mencium pipi Nara.


Nara mendorong tubuh Viki. Nara tidak ingin terjadi sesuatu pada dirinya dan Viki sebelum menikah. Bukan karena Nara tidak cinta, hanya Nara tidak ingin membuat semua orang kecewa padanya.

__ADS_1


"Naraaa!!!" teriak Viki, saat Nara langsung berlari keluar kamar mandi begitu tangan Viki lepas dari pinggangnya.


Nara tertawa mendengar suara teriakan dari Viki. "Tenang saja bang, Nara akan memberikan semuanya setelah kita menjadi pasangan yang sah." Nara mengambil baju ganti untuk Viki. Menaruhnya di tepi ranjang.


__ADS_2