VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 94


__ADS_3

"Iya benar, lakukan seperi itu." ucap Nyonya Gina memandang ke arah Giska dengan tatapan senang. Senyum beliau tak mau memudar dari bibirnya. Saat Giska, sang putri mau membantunya di butik.


Sejak malam itu, hubungan Giska dengan sang mama semakin membaik. Giska sudah tidak sering keluyuran jika saat malan hari. Meski beberapa kali dia pulang malam. Tapi sudah tidak sesering dulu.


Giska lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Tuan Marko dan Nyonya Gina juga tampak bahagia melihat perubahan sang putri. Keduanya berharap jika putri tunggal mereka akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi untuk ke depannya.


Tapi setiap orang tidak bisa langsung berubah seratus persen dalam hitungan hari. Begitupun dengan Giska. Terkadang dia juga melawan atau sedikit memberontak saat sang mama memberitahunya atau menjelaskan sesuatu.


Namun hal itu di anggap wajar oleh Nyonya Gina. Dengan begitu, mungkin akan lebih mempererat hubungan keduanya. "Hufffttt, ternyata capek juga." keluh Giska.


Padahal Giska hanya memakaikan beberapa baju ke manekin. Tapi dia sudah mengeluh. Sembari meregangkan otot-otot tangannya dan juga leher.


Nyonya Gina yang berdiri di samping Giska hanya tersenyum samar sambil melirik ke arah sang anak sambil menggeleng pelan.


Remeh menurut orang lain, tapi besar maknanya bagi Nyonya Gina. Melihat apa yang di kerjakan oleh Giska.


"Ma, kenapa kita turun sendiri. Bukankah mama punya karyawan lumayan banyak." ucap Giska, melihat manekin yang baru saja dia pasangkan pakaian.


Tangan Nyonya Gina merapikan pakaian di manekin yang baru saja dia pakaikan. "Tidak boleh begitu, jika kita tidak sedang sibuk. Sesekali harus turun tangan seperti ini. Biar kita lebih dekat dengan karyawan." tutur sang mama.

__ADS_1


Giska bersedekap dada, memandang sang mama yang masih tampak sibuk. "Mereka di bayar." ketus Giska.


"Husstt... jangan bicara seperti itu." ucap sang mama memperingati. "Iya benar. Tapi kita juga butuh keahlian dan tenaga mereka. Jadi, kita saling menguntungkan. Simbiosis mutualisme. Mereka membutuhkan uang dari kita. Kita membutuhkan tenaga mereka, juga untuk menghasilkan uang untuk kita." jelas Nyonya Gina.


"Kalau mereka menolak atau membantah, tinggal pecat." kilah Giska.


Nyonya Gina tersenyum. "Tidak bisa seperti itu. Jika kita ingin di hargai dan di hormati orang lain, maka kita harus melakukan hal yang sama. Jangan seenaknya sendiri. Mentang-mentang punya uang dan kekuasaan." jelas Nyonya Gina, dengan tangan tetap bergerak memasang pakaian pada manekin.


Giska terdiam, hanya mendengarkan apa yang di katakan oleh sang mama. "Kita tidak tahu sayang, apa kita akan terus di atas. Ingat, roda itu berputar. Begitu juga dengan kehidupan. Jadi, selama kita berada di atas. Jangan bertingkah dan bersikap sombong dan angkuh."


Dengan tiba-tiba Giska memeluk tubuh sang mama dari belakang. Perkataan Nyonya Gina mengena di hati Giska. Dia teringat bagaimana hidupnya saat sang papa memfasilitasi dirinya tanpa batas.


Berbeda dengan suasana hati yang di rasakan Nyonya Gina dan Giska. Renggo tampak cemas dan merasakan sesuatu yang mengganjal di hati.


Karena belakangan ini Giska sudah tidak lagi menemuinya. Tidak lagi meminta uang padanya. "Apa dia sudah mempunyai lelaki lain sebagai tambang emasnya." duga Renggo dalam hati berprasangka.


Menjauhnya Giska, di tambah restu yang terhalang. Membuat hati Renggo semakin tidak karuan. "Apa yang harus aku lakukan." kesal Renggo, menjambak kasar rambutnya sendiri.


Krekkk.... terdengar suar pintu terbuka. "Papa." gumam Renggo melihat sang papa masuk ke dalam.

__ADS_1


Tuan Smith melemparkan beberapa lembar kertas di atas meja kerja Renggo. "Jika kamu sudah tidak sanggup mengelola perusahaan ini, bilang pada papa." ucap Tuan Smith, menatap tajam pada anak tirinya.


Tangan Renggo terulur. Mengambil berkas yang di lemparkan oleh sang papa. "Jangan biarkan seorang perempuan membuat kamu lemah." lanjut Tuan Smith.


Teringat jika dulu, sewaktu dirinya belum sukses. Saat harga dirinya di injak-injak oleh mertuanya. Bahkan untuk menemui istri dan putrinya saja tidak bisa.


Akhirnya Tuan Smith bertekad dan berusaha membangun usaha sendiri. Tapi apa daya, di tengah-tengah usahanya untuk merintis usaha, dirinya malah mendapat kejutan besar.


Surat gugatan cerai dia dapatkan. Dan belum genap satu bulan, sang mantan istri menikah kembali dengan lelaki lain. Dan Tuan Smith sangat tahu, siapa calon suami dari mantan istrinya tersebut.


Bahkan, sampai sekarang. Beliau tidak tahu bagaimana kabar sang putri. Tuan Smith, mengira jika sang putri di sembunyikan oleh orang tua mantan istri di luar negeri.


Membuatnya tidak lagi mencarinya. Beliau berfikir jika keluarga seperti mereka akan merawat anaknya dengan baik. Meski mereka menyembunyikan dari dunia.


Beliau ingin menghubungi mantan istri, sekedar menanyakan kabar dan keadaan sang anak. Namun, beliau selalu mengurungkan niatnya. Dan akan mengubur masa lalunya dalam-dalam. Melihat kehidupan mantan istrinya yang bahagia.


Tanpa mereka sadari, putri yang mereka lupakan. Melalui kehidupan yang sulit. Tanpa mereka tahu, darah daging mereka menjalani kehidupan yang berat.


Nyonya Vanya. Mama tiri dari Melva, adalah mantan istri dari Tuan Smith. Papa tiri dari Renggo.

__ADS_1


__ADS_2