
Seperti yang mereka bicarakan di telepon. Renggo menemui pemilik hotel dimana Giska pernah bermalam di sana dengan seseorang lelaki yang tidak bisa ditemukan identitasnya oleh orang suruhan Renggo.
"Apa kabar?" tanyanya begitu mereka bertemu.
Pemilik hotel tersebut merupakan sahabat Renggo sejak di bangku SMA hingga perguruan tinggi.
"Seperti yang kamu lihat." sahut Renggo. Keduanya saling berjabat tangan dan duduk berseberangan. Dimana ada sebuah meja bundar sebagai pemisah di antara mereka.
"Ada apa, sepertinya sangat serius?" tanyanya pada Renggo.
"Aku membutuhkan bantuan kamu." ujarnya.
"Bagaimana kalau kita makan atau minum terlebih dahulu." ajaknya.
Renggo menggeleng. "Tidak perlu, aku cukup tahu jika kami sibuk."
"Baiklah, katakan. Aku akan membantu, jika memang bisa."
"Mungkin ini menyalahi aturan. Tapi aku minta kamu melakukannya."
"Apa?"
"Aku ingin melihat CCTV hotel kamu. Ada sesuatu yang sedang aku ingin cari tahu."
Dia hanya mengangguk. "Oke, ikut aku."
Sahabat Renggo tidak menanyakan alasan, kenapa Renggo menginginkan untuk melihat CCTV hotelnya. Dia sadar, jika tidak berhak menanyakan alasan dari sahabatnya tersebut.
Terlebih Renggo terlihat tidak ingin menjelaskan semua yang terjadi pada dirinya.
Sebagai sahabat, dia hanya ingin membantu tanpa ikut campur terlalu jauh. Mengingat kebaikan Renggo saat mereka masih menempuh pendidikan bersama dan kebersamaan mereka.
Dirinya juga masih mengingat, bagaimana Renggo dulu sering membantunya. Tanpa bertanya apapun, dan melakukannya. Mungkin itulah alasannya melakukan hal tersebut.
Sampai di ruang CCTV, sahabat Renggo memerintahkan untuk petugas yang menjaga tempat tersebut untuk membantu Renggo.
"Sorry, tapi aku harus pergi dulu. Ada urusan penting yang harus aku lakukan." pamitnya.
Bukannya dia tidak ingin menemani Renggo, namun dia tidak ingin Renggo merasa tidak nyaman dengan keberadaannya di sana.
Sebab, dengan keberadaannya di samping Renggo. Sama saja secara tidka langsung dia akan tahu apa yang sedang di cari Renggo.
"Oke. Terimakasih." sahut Renggo.
Sepeninggal sahabat Renggo, kini Renggo berada di dalam ruangan bersama dua petugas yang menjaga ruang CCTV.
Renggo menyebutkan perkiraan tanggal, bulan, dan tahun kapan Giska mengunjungi hotel tersebut. "Maaf, Tuan. Kenapa anda tidak menanyakan ke resepsionis terlebih dahulu. Siapa tahu di sana tertera lebih rinci." saran petugas CCTV.
Rekannya menendang kakinya. Menyuruhnya untuk diam dan melakukan apa yang diperintahkan sahabat pemilik hotel tempat dirinya bekerja.
Dia bahkan bisa menebak seberapa penting sosok yang berdiri di belakang mereka. Sehingga pemilik hotelpun mengizinkannya untuk mengakses CCTV.
"Lakukan saja apa yang aku katakan." ucap Renggo.
Memang apa yang dikatakan petugas tersebut benar adanya. Dan orang suruhan Renggo sudah melakukannya terlebih dahulu.
Hasilnya. Nihil. Tidak ada nama Giska dalam daftar sewa hotel. "Baik Tuan."
Sekitar setengah jam, mata mereka menatap layar-layar CCTV. Tapi belum mendapatkan hasil. "Pindahkan ke area parkir hotel." perintah Renggo.
Dan benar saja, selang waktu lima belas menit mata Renggo menatap seorang perempuan yang dia yakini adalah Giska. "Fokus ke dia." Renggo menunjuk ke arah salah satu layar CCTV.
"Baik." ucapnya.
Terlihat Giska turun dari dalam mobil dengan langkah terseok-seok. Tebakan Renggo, Giska sudah dalam tidak sadarkan diri karena terpengaruh minuman beralkhohol.
Renggo tersenyum miring. "Betapa bodohnya gue waktu dulu. Astaga, saking cintanya, aku bahkan mengabaikan perkataan kedua orang tuaku untuk menyelidiki siapa Giska." ucap Renggo dalam hati, merutuki kebodohannya.
__ADS_1
Namun Renggo cukup bersyukur, jika bukan karena Giska. Renggo tidak akan meninggalkan negara ini. Dan dia tidak akan bertemu perempuan seperti Sara.
"Ikuti kemanapun dia melangkah." pinta Renggo
Mata elang Renggo terus menatap kemana Giska akan melangkahkan kakinya. Sendirian. Renggo melihat Giska hanya sendirian.
Tanpa lelaki di sampingnya, masuk ke dalam kamar dengan mudah. "Terus awasi pintu itu."
"Baik, Tuan."
Renggo berharap-harap cemas. "Semoga bukan Erlangga." ucapnya dari dalam hati.
Jika lelaki tersebut bukan Erlangga, akan lebih mudah bagi Renggo untuk melakukan sesuatu. Terlebih jika hanya lelaki bayaran.
Renggo tak peduli siapa ayah biologis baby Al. Yang dia inginkan semua orang tahu, baby Al adalah putranya.
"Tuan." panggil petugas CCTV. Melihat seorang lelaki dengan keadaan yang sama seperti Giska masuk ke dalam kamar yang lebih dulu di masuki Giska dengan mudah. Lelaki tersebut mabuk.
"Cari titik yang fokus. Aku ingin melihat wajah lelaki itu."
Mata Renggo memejam sementara, apa yang ditakutkan terjadi. Dia adalah Erlangga. Renggo yakin, ayah biologis baby Al adalah Erlangga.
"Hapus CCTV, dimana lelaki itu masuk dan keluar." perintah Renggo.
"Baik."
"Maaf, Tuan. Sebelum ini, ada juga beberapa orang yang mendatangi kami. Meminta rekaman CCTV di tanggal yang anda sebutkan."
"Tapi kami tidak mau menyalahi aturan atau terkena pinalti kerja. Kami tidak melakukan apa yang mereka perintahkan."
Renggo mengangguk. Dengan mudah Renggo bisa menebak siap orang-orang tersebut. "Bulan ini kalian akan mendapat bonus gaji." tutur Renggo.
"Terimakasih Tuan."
Renggo pergi dari hotel dengan perasaan cemas. Saat kedua tangannya sibuk memegang stir mobil, ponsel miliknya berdering.
"Apa yang kamu dapatkan?" tanya Renggo pada seseorang di seberang telepon.
Renggo mendengarkan laporan dari orang suruhannya. "Selidiki lebih lanjut." perintah Renggo.
Renggo tersenyum penuh makna. "Jadi Erlangga sudah tahu, jika baby Al putra kandungnya."
Renggo mengembalikan ponselnya ke dalam saku. Melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Rumah adalah tujuan utamanya saat ini.
"Aku akan diam dulu. Mengamati dan terus mengawasi apa yang akan dilakukan Erlangga. Setidaknya dengan begitu, aku tahu apa yang akan aku lakukan selanjutnya." gumam Renggo.
Sementara di tempat lain. Kini, Erlangga tahu apa yang harus dia lakukan. "Sampai mati, gue nggak rela putra gue di rawat sama perempuan seperti dia."
"Tapi gue harus memastikan dulu. Renggo tahu hal ini, atau tidak. Tapi bagaimana caranya."
Erlangga mencoba memutar otaknya. Dia hanya ingin memastikan putra kandungnya berada di tangan yang tepat.
Dan jika Renggo mengetahui kebenarannya, Erlangga bisa dengan mudah membiarkan baby Al bersama mereka.
Apalagi Erlangga sudah melihat sendiri, bagaimana Sara menyayangi putranya.
Ketakutan Erlangga, jika Renggo ternyata belum mengetahui semuanya. Mengira jika baby Al adalah putra kandungnya.
Erlangga takut, suatu hari Renggo akan mencampakkan baby Al begitu saja. Saat dia tahu.
Dan saat itu, adalah saat yang sangat terlambat mengakui semuanya. Sebab, pasti jiwa dan psikis baby Al sudah terguncang.
Sebagai ayah kandungnya, tentu saja Erlangga tidak menginginkan hal tersebut. Meski dia bukan lelaki baik, tapi dia bukan ayah bajingan yang dengan tega melihat darah dagingnya hidup sengsara.
"Apa aku bertanya langsung pada Renggo?" gumam Erlangga.
"Aaa.... jangan bodoh Erlangga." ejek Erlangga pada dirinya sendiri. "Jika ternyata Renggo tidak tahu, bukankah malah akan membuat dia tahu."
__ADS_1
"Tapi, bukannya lebih baik Renggo tahu. Dengan begitu dia bisa mengambil sikap. Apalagi baby Al masih bayi."
Erlangga meremas kepalanya dengan kasar. Merasa frustasi dengan semua keadaan ini. Sekarang, Erlangga benar-benar tidak bisa melangkah jika menyangkut baby Al.
Sementara untuk Giska, Erlangga sudah menyiapkan sebuah rencana yang cukup matang. Dan terkesan ekstrim. Tapi Erlangga tidak peduli.
Perempuan seperti Giska, tidak bisa dibiarkan tetap berkeliaran dan bertindak sesuka hati. "Sara. Mungkin dia tahu. Pasti Renggo menceritakan semuanya pada Sara. Iya. Benar."
"Tinggal aku menyusun rencana, bagaimana Giska berkata jujur. Mengatakan semuanya padaku." Erlangga tersenyum senang.
Mobil Renggo berhenti tepat didepan pintu rumahnya. "Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Renggo, saat pintunya dibukakan seseorang dari luar mobil.
Berbohong. Tidak mungkin. Meski Sara sempat mengatakan jika jangan sampai Renggo tahu. Pasti lambat laun Renggo akan tahu.
Dan dia tidak ingin kehilangan pekerjaan. "Anu Tuan..,,," ucapnya terbata.
Renggo menangkap ada yang tidak beres di rumahnya selama dia bekerja. "Katakan. Aku tidak mempekerjakan pembohong, apalagi pengkhianat." tegas Renggo mengintimidasi.
"Maaf Nona Sara." ucapnya dalam hati. "Nyonya Giska tadi datang ke sini." lapornya.
Rahang Renggo langsung mengeras sempurna. Tahu jika majikannya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja, segera dia mengatakan suatu hal. Yang mungkin akan membuat Renggo sedikit lebih baik.
"Nona Sara melarang kami menghubungi Tuan Renggo. Sebab Nona Sara dapat mengatasi Nyonya Giska dengan baik. Dan Nyonya Giska tidak sempat masuk ke dalam rumah."
"Aku tidak suka pembangkang atau pekerja yang tidka menaati perkataanku." tegas Renggo.
"Maaf Tuan. Maafkan kami."
"Ini terakhir kalinya. Tidak ada lain waktu." tekan Renggo.
"Baik Tuan."
"Dan jangan panggil perempuan itu dengan sebutan Nyonya. Dia bukan majikan mu." peringat Renggo.
"Baik Tuan."
Renggo masuk ke dalam. Memberikan tasnya pada pembantu. Bergegas pergi ke kamar baby Al. Sebab disanalah Renggo selalu menemukan Sara saat dirinya pulang dari perusahaan.
"Sayang,,, kalian baik-baik saja." Renggo mengecup kedua pipi Sara dan baby Al bergantian.
Pengasuh baby Al segera keluar dari kamar baby Al. Dia cukup tahu diri dan mengerti situasi. Tidak mungkin dirinya tetap berada di sana seperti seekor nyamuk. Pengganggu.
Tapi dia tidak serta membawa baby Al. Sebab, baby Al berada di pangkuan Sara. Dan terlihat dari gesturnya, Sara belum ingin melepaskan baby Al.
"Baik papa. Kenapa kamu khawatir sekali, ada masalah?" Sara yang tidak tahu kekhawatiran Renggo, dia malah bertanya.
"Kenapa kamu tidak menelpon, jika ada perempuan itu datang ke sini?!" tanya Renggo dengan nada sedikit marah. Marah karena cemas.
"Pasti mereka mengadu. Dasar." omel Sara dalam hati.
"Apa kamu pikir calon istri kamu ini tidak bisa menjaga diri dan menjaga calon buah hatinya?" Sara mencium pipi gembul baby Al yang masih berada di pangkuannya.
Renggo memeluk tubuh Sara sekaligus baby Al dari samping. "Aku hanya khawatir. Kamu belum tahu seberapa nekat dia." tutur Renggo.
"Kamu tidka perlu berlebihan sayang. Kamu harus percaya, jika aku nisa menangani dia." Sara mencoba menyakinkan Renggo.
Melihat Renggo terdiam, Sara mempunyai niat iseng. "Memangnya apa yang kamu takutkan? Jangan bilang takut, karena Giska akan mengatakan kisah kalian berdua. Terutama di atas ranjang." hoda Sara, dengan nada ketus.
Benar-benar, Sara memang artis papan atas. Ekspresinya terlihat sangat natural. "Astaga, tidak sayang. Aku sudah menceritakan semuanya sama kamu. Tidak ada yang aku tutupo dari kamu." papar Renggo.
Renggo mengeratkan pelukannya. "I love you." bisik Renggo di telinga Sara.
Sara tertawa geli dalam hati. Calon suaminya mudah sekali dia tipu. "I love you to, papa." tutur Sara.
Baby Al yang belum mengerti, hanya tersenyum dan terkekeh pelan. Saat tubuhnya dipeluk oleh dua orang sekaligus.
Kemungkinan baby Al merasakan nyaman dalam dekapan dua orang yang menyayanginya tersebut. Tanpa berontak, baby Al malah menyandarkan kepalanya ke dada Sara.
__ADS_1
Dan Sara, menyandarkan kepalanya ke dada bidang Renggo. Rasanya sungguh tentram.