
Bawahan Ella menjelaskan, jika kondisi mesin mobil yang di tumpangi oleh Tuan Hendra dalam keadaan baik-baik saja.
"Lihat, sebelah sini." tunjuknya, mengarah pada bagian samping kanan. Dimana ada goresan. Meski hanya sedikit.
Viki menunduk, melihat dengan seksama apa yang di perlihatkan oleh anak buah Ella padanya. "Dan ini." ucapnya lagi, memperlihatkan sesuatu pada Viki.
Mereka saling pandang. Memang jika dilihat, itu hanya sebuah goresan kecil yang tidak berarti. Tapi hanya orang tertentu yang bisa melihat, penyebab goresan yang tidak lebih dari satu centi meter tersebut.
Bahkan terlihat hanya seperti titik hitam. Viki menajamkan penglihatannya. "Peluru." gumam Viki. Rey yang berdiri tak jauh dari Viki, seketika menajamkan pendengarannya.
"Tapi tidak ada luka tembak pada Tuan Hendra." ucap Rey. "Apa jangan-jangan....." ucapan Rey menggantung. Melihat ke arah mobil. Dimana tempat tersebut terkena serempetan peluru.
"Terimakasih." ucap Viki, meninggalkan tempat tersebut. Tapi langkahnya terhenti saat bawahan Ella memanggilnya.
"Tunggu." ucapnya, Viki membalikkan kembali badannya. "Hanya ada beberapa orang di dunia ini yang mempunyai kemampuan seperti itu. Menembak lawan bagai angin. Tak akan pernah meninggalkan jejak." imbuhnya.
Viki mengerti kemana arah perkataannya. "Dan salah satunya adalah anak buah Ella. Tapi sekarang, kita tidak tahu dia ada di mana." ucap Viki tepat.
"Tante, lebih baik tante bersihkan badan dulu. Biar om saya yang menunggunya." ucap Nara, berdiri di belakang Nyonya Rahma yang sedang memandang ke arah sang suami.
Nyonya Rahma berdiri, membelai pucuk kepala Nara sembari tersenyum. "Tadi Nara sudah bawakan baju ganti. Maaf, jika..." ucap Nara terhenti.
"Tidak masalah. Yang terpenting tante bisa ganti baju." potong Nyonya Rahma.
Nara duduk di kursi samping Tuan Hendra, setelah Nyonya Rahma masuk ke dalam kamar mandi. Nara memegang lengan Tuan Hendra. Mengajaknya berbicara.
Karena dokter mengatakan jika sebaiknya, pasien yamg mengalami koma seperti Tuan Hendra di ajak berkomunikasi. Untuk merangsang bawah sadarnya. Yakni bisa juga hal tersebut akan menjadi pemicu kinerja otak.
"Om, om tahu. Nara sayang banget sama om." Nara menghapus air matanya, jangan sampai jatuh ke pipi.
Nara menetralkan nafasnya, sebelum melanjutkan perkataannya. "Om, Nara sangat senang. Saat om dan tante menerima Nara beserta kedua adik Nara untuk tinggal di rumah om. Memperlakukan kami seperti anggota keluarga."
"Nara janji, Nara akan menjadi perempuan kuat. Nara akan bersanding bersama bang Viki. Menjaga om dan tante."
"Om, buka mata om. Kami merindukan om. Om tahu, di rumah, Bima dan Rini menanyakan om. Dan, maafkan Mbak Mira ya om. Karena mbak Mira berbohong. Mengatakan jika om sedang dalam perjalanan dinas ke luar negeri pada Rini dan Bima."
__ADS_1
"Om,,,, Nara sayang,,,,,, banget sama om. Buka mata om." Nara menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya. Dirinya sudah tidak bisa lagi menahan air matanya.
Sementara, di ambang pintu kamar mandi. Nyonya Rahma berdiri. Menghentikan langkahnya yang hendak keluar dari kamar mandi saat mendengar perkataan dari Nara.
"Pa, lihat. Sekarang bukan hanya mama sama Viki yang mengharapkan papa segera sadar dan kembali seperti semula. Ada Nara dan kedua adiknya juga. Yang sangat membutuhkan kehadiran papa. Sebagai sosok ayah bagi mereka." ucap Nyonya Rahma dalam hati.
"Nara." panggil Nyonya Rahma pelan. Segera Nara membersihkan air matanya yang tersisa. Menoleh ke belakang, di mana Nyonya Rahma duduk di kursi empuk dan panjang.
Nara berjalan mendekat. Duduk di samping Nyonya Rahma. "Kita sarapan bareng. Pasti kamu juga belum sarapan." ucap Nyonya Rahma, mengambilkan nasi beserta sayur dan lauk pauk untuk Nara.
Nyonya Rahma menyerahkan pada Nara. "Kamu makan. Biar kita bisa menjaga om bareng-bareng."
Nara menerima piring tersebut. Dan segera memakannya. "Tante juga. Kita harus sehat dan kuat. Supaya bisa menjaga om." ujar Nara.
"Iya." Nyonya Rahma mengambil makanan untuk di makan sendiri.
Di kediaman Tuan Hendra, Alif bersikeras meminta alamat rumah sakit di mana Tuan Hendra di rawat. "Tapi maaf, untuk sekarang Tuan Hendra tidak bisa di jenguk." tegas Mbok Nah.
Mbak Mira menatap Alif dengan sinis. Begitu juga dengan Mbak Siti, yang tidak jauh berada di tempat Mbok Nah dan Alif berbincang.
"Saya hanya ingin menjenguk beliau. Karena daya adalah guru privat dari Nara. Tidak lebih." kekeh Alif.
Mbak Mira yang jengkel, berjalan menuju ke arah mereka. "Maaf pak Guru. Apakah perkataan Mbok Nah kurang jelas. Tuan Handra belum bisa di jenguk." tegas Mbak Mira dengan wajah kesal.
"Maaf, kita di sini sebagai pembantu. Permisi. Kami tidak ingin di pecat. Masih banyak kerjaan yang belum kami kerjakan. Karena ini masih terlalu pagi untuk bersantai." ucap Mbak Mira memegang lengan Mbok Nah, membawanya masuk ke dalam. Membiarkan Alif berdiri di ruang tamu.
"Ngeyel." ucap Mbak Siti yang melihatnya.
Alif mengeratkan telapak tangannya. "Pembantu sialan. Babu brengsek. Bertingkah banget." geram Alif, merasa kesal pada mereka karena tidak memberikan alamat rumah sakit tempat Tuan Hendra di rawat.
"Keamanan dan sopir." gumam Alif, mencoba peruntungan untuk bertanya pada mereka.
Tapi hasilnya nihil. Mereka juga tidak memberikan alamat rumah sakitnya. Alhasil, Alif keluar dari rumah Viki dengan tampang kesal dan sebal.
Pagi-pagi datang ke kediaman dimana Nara tinggal. Berniat untuk bertemu dengan Nara. Ternyata Nara sudah tidak ada di rumah.
__ADS_1
"Bagaimana dok?" tanya Viki pada dokter yang menangani Tuan Hendra.
Selesai melihat kondisi mobil yang di tumpangi sang papa di markas sahabatnya, Viki kembali ke rumah sakit untuk menemui dokter yang menangani sang papa.
Sementara Rey, sesuai perintah dari Viki. Dirinya pergi ke perusahaan. Menyelesaikan beberapa pekerjaan di sana. Termasuk memantau proyek besar bersama ketiga pengusaha lainnya.
Sang dokter melihat ke arah catatan lembar kertas yang memperlihatkan luka yang di alami oleh Tuan Hendra. "Ada satu luka, tapi kami menyimpulkan jika luka itu adalah luka goresan." jelas sang dokter.
Menunjukkan foto ronsen tepat di sebelah dada Tuan Handra bagian kiri. "Hanya seperti goresan. Tidak ada bekas timah ataupun benda lainnya. Kami memprediksi jika luka tersebut karena serpihan kaca yang pecah dari mobil." jelas sang dokter.
"Anda yakin?" tanya Viki dengan tatapan mengintimidasi, membuat sang dokter meneguk ludahnya dengan kasar.
"Saya akan memeriksanya lagi dengan teliti." ucap sang dokter dengan sungguh-sungguh.
"Jika anda tidak mampu, katakan. Saya akan mencari dokter pengganti." ancam Viki.
Segera sang dokter menyahuti perkataan Viki. "Tidak perlu Tuan, saya akan memeriksa kembali dengan benar. Hari ini akan saya laporkan hasil pemeriksaannya." jelas sang dokter gemetar ketakutan.
Mencari dokter pengganti. Dengan kata lain Viki akan melengserkan jabatan sang dokter dari kepala dokter di rumah sakit ini.
"Baiklah, kerjakan dengan benar."
Sang dokter bernafas lega mendengar kalimat yang baru saja di lontarkan oleh Viki. "Tidak lebih dari tiga jam. Mulai sekarang." perintah Viki.
Viki melenggang pergi meninggalkan ruangan sang dokter dengan santai. "Tiga jam. Untuk pemeriksaan menyeluruh. Gila." ucap sang dokter.
Tidak ingin membuang waktu, segera sang dokter menyuruh tim yang di bentuk sebelumnya untuk merawat Tuan Hendra segera bersiap.
"Ada apa dok?" tanya Nyonya Rahma terlihat khawatir, begitu juga Nara, karena beberapa petugas medis masuk ke ruang rawat Tuan Hendra.
"Kami hanya melakukan pemeriksaan secara berkala Nyonya." jelasnya dengan senyum ramah. Karena tidak mungkin jika berkata terus terang pada Nyonya Rahma.
"Silahkan." Nyonya Rahma dan Nara memberi ruang pada beberapa petugas medis. Melihat dari belakang, apa saja yang hendak di lakukan oleh mereka.
Nyonya Rahma merangkul pundak Nara. Entah kenapa, Nyonya Rahma merasa jika Nara lebih tegang dari pada dirinya.
__ADS_1
Nara sedikit mendongakkan kepalanya. Menatap ke arah Nyonya Rahma. "Semua akan baik-baik saja. Om pasti akan segera sembuh." ucap Nyonya Rahma, menenangkan Nara.