
Sudah seminggu Giska merasa tidak enak badan. Dia hanya mengurung diri di dalam kamar. "Sayang, kita ke dokter ya." bujuk Nyonya Gina pada sang putri, merasa cemas.
Setiap hari, sang mama selalu mengajaknya. Namun lagi-lagi Giska menolak ajakan dari sang mama. "Nggak ma, Giska cuma kecapekan aja. Nanti di bawa istirahat juga sembuh." kekeh Giska, sembari berbaring di atas ranjang empuknya.
"Hufftt,,,, Baiklah. Tapi mama mau menelpon dokter keluarga kita. Biar dia datang ke sini." ujar Nyonya Gina.
"Ma, Giska benar-benar baik-baik saja. Jangan berlebihan." kekeh Giska.
Nyonya Gina hanya bisa mendesah dengan sifat keras kepala sang putri. Beliau merasa sang anak dalam keadaan tidak baik-baik saja. Muntah di pagi hari. Muntah saat makan.
Mual saat mencium bau menyengat. Dan lebih memilih untuk terus berbaring di atas ranjang. Bermalas-malasan dan hanya tidur. Bahkan Giska juga tidak pernah lagi keluar malam, atau sekedar keluar untuk bertemu temannya.
Dan lagi, Giska sama sekali tidak seperti biasanya, yang selalu mandi, wangi, dan berpenampilan super cantik. Kali ini, Giska tampak lebih cuek dengan penampilannya. Tidak ada polesan make up di wajahnya.
Bahkan, jika tidak di ingatkan atau di suruh sang mama, Giska juga tidak membersihkan diri. Malas. Sungguh Nyonya Gina merasa jika dia bukan sang putri yang selama ini dia kenal.
Ketakutan Nyonya Gina hanya satu. Hamil. Nyonya Gina takut jika kecemasannya akan benar-benar terjadi.
Krekkk,,,,, seorang dengan memakai jas putih, masuk ke dalam kamar Giska. Di iringi dengan Tuan Marko, sang papa.
"Pa, dokter." sapa Nyonya Gina.
Giska segera membuka kedua matanya, mendengar kalimat yang di ucapkan oleh sang mama. "Mamaa..." rengek Giska, melihat dokter keluarga mereka masuk ke dalam kamarnya.
Dengan cepat Giska malah menarik selimut dan menutup seluruh badannya. "Bukan mama. Tapi papa yang menyuruhnya ke sini." tegas Tuan Marko. "Silahkan dok." ucap Tuan Marko.
"Ayo sayang. Buka selimut kamu." bujuk Nyonya Gina, saat sang putri malah menutupi semua badannya menggunakan selimut. Hingga satu ujung rambut pun tak kelihatan.
"Sayang." Nyonya Gina dengan pelan menyibak selimut yang menutupi tubuh Giska.
Giska hanya bisa pasrah. Dengan bibir cemberut, dia berbaring sesuai arahan sang dokter. "Bagaimana dok?" tanya Tuan Marko dan Nyonya Gina bersamaan.
__ADS_1
Sang dokter hanya menghela nafas dengan raut wajah tegang. Memandang seluruh orang di ruangan secara bergantian. "Dok." panggil Tuan Marko.
"Pa, ma, oke. Giska baik-baik saja. Giska hanya kecapekan. Tak perlu khawatir." ucap Giska yang memang sudah mulai merubah sifat dan sikapnya.
"Dok...!!" panggil Tuan Marko.
Sang dokter mengambil nafas pelan dan membuangnya dengan kasar. "Nona Giska, kapan terakhir kali anda datang bulan?" tanya sang dokter.
Degggg,,,,, seketika tatapan Giska terkejut memandang sang dokter. Begitu juga dengan Tuan Marko dan Nyonya Gina.
"Mak-mak-maksud dokter." Nyonya Gina melangkah mundur satu langkah. Tentu saja beliau takut, jika apa yang di cemaskan dan di pikirkan menjadi sebuah kebenaran yang akan menyakitkan.
Sementara Tuan Marko masih berdiri dan diam. Ekspresi wajahnya tampak masih datar. Seolah sedang baik-baik saja.
Padahal beliau saat ini tak kalah terkejut seperti sang istri. "Tapi maaf sebelumnya. Lebih baik Nona Giska di bawa ke dokter spesialis kandungan." saran sang dokter.
"Hamil." gumam Giska, dengan tatapan nanar. "Datang bulan." imbuhnya. Giska mengingat jika dirinya seharusnya sudah datang bulan sejak dua minggu yang lalu.
Giska segera duduk. Membenahi rambutnya yang berantakan. Dan juga cara duduknya. "Anda boleh pergi, dokter." usir Giska dnegan sopan.
"Tunggu. Berikan dia tespeck." ucap Tuan Marko.
Suasana hening sesaat. Tapi sang dokter mengerti, kenapa Tuan Marko menginginkan hal tersebut. "Maaf Tuan, tapi saya tidak membawa benda tersebut." ucapnya jujur.
"Mbok...!!" teriak Tuan Marko pada pembantu di rumahnya. Menyuruhnya untuk membeli tespeck.
Setelah itu, sang dokter pun pamit pada pemilik rumah. Dan sang pembantu datang dengan membawa apa yang di inginkan oleh Tuannya.
"Pakai ini." Tuan Marko menyerahkan benda yang masih tersegel di dalam wadahnya tersebut pada Giska.
Nyonya Gina mendekat pada Giska. Mengambil benda tersebut di tangan sang suami. Karena Giska tidak mengambil benda tersebut. Malah membuang muka dengan ekspresi kesal yang bercampur gelisah.
__ADS_1
"Sayang..." Nyonya Gina mendekat dan mengelus rambut sang anak.
Meskipun saat ini hati dan perasan Nyonya Gina sedang tidak baik-baik saja setelah mendengar apa yang di katakan oleh sang dokter.
Namun sebisa mungkin Nyonya Gina mengendalikan emosinya. Dan jika apa yang di katakan sang dokter benar adanya, Nyonya Gina ingin selalu berada di dekat sang putri.
"Ayo, kita coba." bujuk Nyonya Gina.
"Ma..." ucap Giska lirih, dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Huussttt... Belum tentu apa yang di katakan oleh dokter adalah kebenaran. Bisa jadi apa yang kamu katakan adalah hak benar. Tidak perlu takut. Ayo, mama temani." bujuk Nyonya Gina.
"Bagiamana jika benar. Bagaimana jika Giska memang hamil. Ma..." Giska berbicara dengan nada bergetar.
Baru saja Giska ingin berubah. Baru saja Giska memulai merubah gaya hidupnya. Baru saja Giska dan Nyonya Gina mempunyai hubungan yang baik yang sempat renggang beberapa tahun.
Tak dapat di bayangkan, betapa hancurnya perasaan Nyonya Gina dan Tuan Marko. Jika memang benar putri tunggal mereka hamil sebelum menikah.
"Ayo, kamu coba. Apapun hasilnya kamu tidak perlu takut. Mama di sini. Ada mama, ada papa. Oke." Nyonya Gina memegang telapak tangan Giska dan mengelus lembut pipi sang putri.
Dengan langkah pelan dan sedikit cemas, Giska di antar sang mama ke dalam kamar mandi. "Mama tunggu di sini saja. Biar Giska masuk sendiri." pinta Giska, saat keduanya sudah berada di pintu kamat mandi.
Nyonya Gina tersenyum lembut. Menyerahkan tespack pada Giska. "Jangan di kunci pintunya. Mama akan menunggu di sini. Ingat, apapun hasilnya, ada mama dan papa." ingat Nyonya Gina.
Giska masuk ke dalam kamar mandi. Segera Tuan Marko mendekat ke arah sang istri dan memeluknya. Beliau tahu, jika sedari tadi sang istri berpura-pura kuat.
Tuan Marko juga tahu, jika sedari tadi. Sang istri menyembunyikan rasa takut dan cemasnya. Pundak Nyonya Gina bergetar. Menandakan beliau sedang menangis.
"Kenapa pa.." gumamnya dalam pelukan sang suami. "Kenapa saat Giska sudah kembali ke pelukan kita, terjadi hal yang tidak kita inginkan." imbuhnya dengan suara bergetar.
"Kita hadapi sama-sama. Tenanglah, jangan sampai Giska mengetahui jika kita lemah. Kita harus berada di samping dia, harus selalu bersamanya. Apapun keadaannya." ujar Tuan Marko, menenangkan sang istri.
__ADS_1