
"Lihat, kamu di tinggalkan sendiri. Kasihan." cibir Melva, melihat Nara berdiri sendiri. Sementara Viki sudah bergabung bersama sahabatnya yang lain.
Lantaran ada sosok yang datang ke pesta pernikahan sahabat Viki, membuat dia dan juga pasangan pengantin tersebut memilih untuk menyambut kedatangan sosok tersebut.
Ella. Dia adalah sosok yang datang di malam istimewa untuk pasangan pengantin, yang adalah sahabat Viki.
Nara masih diam, tidak menanggapi keberadaan Melva di sampingnya. Menganggap Melva hanyalah debu yang tidak terlihat.
Pandangan Nara malah terfokus pada sang kekasih dan juga para sahabatnya yang sedang melepas rindu. Nara sama sekali tidak merasa terabaikan karena sikap Viki.
Justru Nara juga merasakan kebahagiaan yang sekarang juga di rasakan oleh Viki dan para sahabatnya. Tampak dari senyum tulus di bibir Nara yang sedang merekah di bibirnya.
Merasa Nara tidak terpancing dengan perkataannya, Melva tidak lantas tinggal diam dan pergi meninggalkan Nara. Otak licik Melva bahkan tidak berhenti untuk menyusun rencana.
"Khemm... Ternyata dari dulu, di mata Viki tidak ada perempuan yang lebih penting di hidupnya. Kecuali Ella." ucap Melva, dengan sudut mata melirik ke arah Nara.
"Ckk,,, memang dia perempuan sempurna. Cantik, seksi, kaya, dan smart. Dan yang pasti berasal dari keluarga yang sudah pasti bebet bobot dan bibitnya." ucap Melva, berniat membuat Nara sadar akan siapa dirinya.
Nara memutar kedua bola matanya dengan malas. Niat hati ingin melihat sang kekasih dan para sahabatnya yang sedang melepas rindu.
Malah telinganya seperti sedang mendengarkan siaran radio. "Khemm,,, sadar diri. Elo siapa, elo cuma mainan buat Viki. Gue yakin, sebentar lagi elo akan di buang. Elo lihat sendiri. Viki lebih memilih Ella ketimbang elo." desis Melva.
Nara memandang ke arah Melva dengan bersedekap dada. Memandang sosok perempuan di depannya dari atas hingga ujung kakinya yang memakai high hell dengan sangat tenang dan santai.
Seolah perempuan iblis di depannya, bukanlah orang yang harus dia takuti dan dia khawatirkan.
Melva tersenyum sinis, merasa Nara memperhatikan. Dirinya mengira jika saat ini Nara sedang membandingkan dirinya dengan Nara sendiri.
"Jauh lebih oke gue kemana-mana, dari pada elo." ucap Melva dengan pongah.
__ADS_1
"Empat." kata Nara dengan singkat, dengan bibir terangkat sebelah.
Melva memicingkan sebelah matanya. Dirinya heran, kenapa Nara menyebutkan angka empat setelah memperhatikan dirinya dari atas hingga bawah.
Nara memainkan kedua alisnya naik turun. Melva juga bukan perempuan bodoh, segera Melva menyadari arti kata empat yang di lontarkan dari bibir Nara.
Yakni Nara sedang menilai dirinya, entah penampilan atau apalah. Melva tidak mau ambil pusing. Yang Melva yakinin, Nara sedang membuatnya merasa di rendahkan secara tidak langsung.
"Elo...!!" geram Melva menatap Nara dengan tatapan benci, tapi dirinya masih waras untuk tidak membuat keributan. Nara tersenyum santai. Nara juga yakin, jika Melva tidak akan bertindak jauh pada dirinya.
Sebab di sini banyak orang. Dan Melva adalah artis papan atas, yang di kenal sebagai ibu peri. Mustahil bagi Melva untuk marah atau membuat ulah di depan umum.
Bisa-bisa imeg yang selama ini dia bangun dengan susah payah akan hilang seketika. Dan Nara juga yakin, jika Melva akan berusaha untuk tetap bersikap tenang.
Nara kembali tersenyum manis. "Kamu seharusnya senang Nona, saya memberi nilai empat untuk kamu." jelas Nara dengan menekan kata empat di kalimatnya.
"Dan untuk kak Ella. Sepeti yang kamu katakan. Cantik, seksi, kaya, dan smart. Sempurna. Pasti banyak lelaki yang mengejar kak Ella. Dan karena kita sepaham untuk hal itu. Saya memberi nilai sepuluh untuk kak Ella. Setuju." lanjut Nara dengan senyum lebar, membuat emosi Melva semakin membuncah.
Nara melihat jika Melva sedang mati-matian menahan emosinya. Tampak Melva menggenggam erat telapak tangannya dengan sempurna. Dan Nara mengetahuinya.
"Dan jika kamu tanya nilai saya. Maaf, saya tidak bisa memberi nilai pada diri saya sendiri. Sangat tidak profesional. Emmm,,, sebaiknya kamu tanyakan pada calon suami saya. Viki Radika Mahendra." ucap Nara dengan keyakinan penuh, menyebut Viki sebagai calon suaminya.
"Ups,,,, sepertinya anda sudah tahu. Berapa nilai yang akan di berikan oleh lelaki yang saat ini anda inginkan sekali berada di dekat anda." Nara menutup mulutnya dengan telapak tangannya dengan gaya anggun.
"Pasti tahulah." Nara seperti membenarkan gaun yang terpasang di badannya.
Nara mendekatkan diri ke samping Melva. "Karena seorang Viki, lebih memilih seorang gadis pemulung dengan status yatim piatu. Dari pada seorang artis terkenal, yang terlahir dari keluarga kaya raya." bisik Nara.
Melva menatap nyalang pada Nara. Perkataan Nara bagai sebuah kail pancing yang tersangkut di tenggorokan ikan. Pasti sakit.
__ADS_1
"Dan satu lagi Nona Melva. Sebaiknya tanyakan pada mama tirimu tersayang. Nyonya Vanya, apakah saya anak yatim piatu atau bukan?" ucap Nara tersenyum penuh misteri.
Seketika ekspresi wajah Melva berubah, saat Nara menyebut nama sang mama. "Apa maksudnya. Kenapa Nara malah membawa-bawa nama mama." ucap Melva dalam hati, menatap punggung Nara yang menjauh darinya.
Tanpa keduanya sadari, di belakang mereka ada sepasang suami istri yang sedari tadi mendengarkan obrolan sengit mereka.
Tuan Smith dan Nyonya Binta, keduanya merangsek maju mendekat. Melihat Melva juga mendekat ke arah Nara. Khawatir, tentu saja.
Keduanya khawatir jika Melva membuat Nara dalam masalah atau dalam bahaya. Namun, melihat bagaimana Nara menghadapi Melva. Rasa khawatir keduanya menguap.
Viki menggerakkan tangannya. Dengan segera Nara mendekat ke arah mereka. "Kak Ella..." seru Nara mempercepat langkahnya. Dan langsung berhambur memeluk sahabat sang kekasih, Ella.
"Nara kangen." cicit Nara sambil menangis dalam pelukan Ella.
"Kalian saling kenal?" tanya Denis, merasa heran. Juga demikian dengan Hana. Keduanya seolah tidak percaya, jika Ella sudah kenal dengan Nara. Yang katanya calon istri dari Viki.
"Kalau nggak kenal, nggak mungkin calon istri gue manggil Ella. Baru menikah saja, kepintaran elo sudah berkurang." celetuk Viki dengan santai.
"Sialan." gerutu Denis.
"****... Brengsek. Ternyata gadis pemulung itu akrab dengan sahabatnya Viki. Juga Ella." ucap Melva dengan lirih.
"Bagiamana bisa. Nara,,, elo pengacau. Semakin sulit gue mendapatkan Viki." geram Melva.
Apalagi Melva melihat keluarga dari sahabat Viki juga terlihat akrab dan juga menyambut baik kehadiran Nara di tengah-tengah mereka.
Melva menghentakkan kakinya. "Sabar Melva, sabar." Melva mengatur deru nafasnya.
"Banyak jalan menuju roma." ucap Melva tersenyum licik.
__ADS_1