
"Kamu yakin?" tanya Viki dengan tangan memegang sebuah foto. Memperhatikan kedua foto tersebut dengan seksama dan teliti.
"Dia bernama Sara. Sementara yang lelaki bernama Erlangga." ujar Rey menerangkan.
Perusahaan milik Viki sedang merekrut artis, sebab sepeninggal Melva, mereka kekurangan artis yang mumpuni dalam bidang akting.
Namun untuk bidang lainnya, perusahan sudah cukup mempunyai artis yang mumpuni dalam setiap bidangnya masing-masing.
"Kita lihat saja nanti." ucap Viki meletakkan kedua foto tersebut.
"Nanti malam kita akan bertemu dengan mereka. Atur waktunya." perintah Viki, sambil menggerakkan tangannya. Menyuruh Rey untuk meninggalkannya.
"Baik Tuan." ucap Rey, dan langsung mengundurkan diri.
Di lorong apartemen. Rey berjalan sembari memikirkan sang atasan. "Ckk,,, apa yang kamu pikirkan Rey. Jangan pernah berpikir macam-macam." ujar Rey dalam hati menepis pikiran yang berkelebat dalam benaknya.
Rey berpikir jika apa yang ada dalam berita benar adanya. Sehingga sang atasan menikah hanya sebagai tameng atau menutupi sebuah kebenarannya.
"Tapi tidak mungkin. Gue lihat wajah Tuan juga sedikit murung. Apa yang sebenarnya terjadi." ucap Rey dalam hati, tetap merasa penasaran.
Sementara di kediaman Tuan Hendra, Nara masih sama seperti biasa. Melakukan pekerjaan rumah yang dia senangi.
"Sayang..." panggil Nyonya Rahma.
Nara menghentikan kegiatannya membersihkan dan merapikan bunga yang berada di ruang tengah. "Iya, ma." sahut Nara meletakkan gunting di tangannya.
"Ikut mama yuk?" ajak Nyonya Rahma pada menantunya tersebut.
"Kemana ma?" tanya Nara, membersihkan tangannya dengan tisu basah yang terletak di sampingnya. Segera menghampiri sang mertua.
"Kita ke salon." jelas Nyonya Rahma.
"Salon. Mau ngapain ma?" tanya Nara polos.
Nyonya Rahma tersenyum, mencubit gemas pipi sang menantu cantiknya. "Memanjakan badanlah. Masa kita mau berbelanja." ujar Nyonya Rahma.
"Tapi ma, bagaimana dengan Bima?" tanya Nara, memandang ke arah sang adik yang sedang bermain lego di sebelahnya.
__ADS_1
"Tenang saja Non, pekerjaan saya sudah selesai." ujar Mbak Siti yang tiba-tiba datang.
"Biar Bima sama mbak Mira. Iya kan Bima. Bima maukan sama mbak Mira, biar mbak Nara pergi dulu sama mama." tanya mbak Mira, duduk di sebelah Bima.
"Bima mau." cicit Bima mengangguk cepat.
"Kamu dengarkan. Ayo, segera kamu bersiap. Kita pergi sekarang. Tante Binta juga akan ke sana. Kita pergi bertiga." jelas Nyonya Rahma.
Nara mengangguk dan segera membereskan peralatannya. Namun segera di hentikan oleh mbak Mira. "Sudah sana, biar saya yang membereskan. Segera bersiap, jangan sampai Nyonya Rahma menunggu." ucap mbak Mira mengambil alih.
Berbicara biasa dengan Nara, sebab Nyonya Rahma sudah pergi dari sekitar mereka. "Terimakasih mbak." kata Nara, dan segera pergi ke kamar untuk bersiap.
Sebenarnya Mbak Mira tanpa sengaja mendengar pembicaraan Nyonya Rahma dan Nyonya Binta di sambungan telepon.
Terdengar di telinga mbak Mira, jika Nyonya Rahma membicarakan Nara dan Viki. Dan tentu saja mbak Mira mendengar semuanya.
Mendengar jika hubungan keduanya sedang bermasalah. Meski baru kemarin mereka menikah.
Oleh karena itulah, mbak Mira berbohong jika pekerjaannya telah selesai. Padahal mana mungkin pekerjaannya selesai. Waktu masih menunjukkan pukul sepuluh pagi.
"Aku harus berbicara dengan Siti dan Mbok Nah. Jangan sampai pernikahan Nara dan den Viki yang seumur jagung akan berakhir." ucap mbak Mira dalam hati.
"Kamu tidak salah dengarkan?" tanya mbok Nah. Ketiganya tampak berkumpul di taman belakang sembari merapikan taman belakang rumah. Setelah Nyonya Rahma dan Nara meninggalkan rumah.
"Iya mbok, saya dengar saat Nyonya Rahma sedang berbicara di telepon dengan Nyonya Binta. Masa saya bohong." ucap mbak Mira dengan yakin.
"Astaga, ada apa dengan Nara?" tanya mbak Siti sambil menatap ke arah Bima yang sibuk bermain tanah.
"Biar nanti saya tanyakan perlahan pada Nara. Kasihan jika sampai Nara dan den Viki tidak bahagia. Sebaiknya kita segera bekerja lagi." ucap mbok Nah.
Seperti yang dikatakan Nyonya Rahma Rahma, Nyonya Binta ternyata sudah berada di dalam salon. Melakukan perawatan pada tubuhnya.
Tanpa mau membuang waktu, Nyonya Rahma juga menyuruh Nara untuk berganti pakaian. Dan melakukan perawatan seperti Nyonya Binta.
"Apa perlu ma?" tanya Nara yang sudah dalam posisi tengkurap, hendak melakukan pijat di badannya. Sama seperti Nyonya Binta dan Nyonya Rahma.
"Sangat perlu. Apalagi kamu pengantin baru. Kamu harus melakukan perawatan. Supaya tampilan kamu makin mempesona. Dan pastinya, putra mama semakin cinta dan sayang sama kamu." jelas Nyonya Rahma.
__ADS_1
"Benar kata mertua kamu. Tampilan itu juga penting. Jangan sampai Viki melirik perempuan lain. Hanya karena kamu dekil." lanjut Nyonya Binta.
Nyonya Rahma mengerlingkan sebelah matanya ke arah Nyonya Binta. "Benar jeng, tapi jangan lupa. Selain penampilan, kita juga harus memanjakan perut dan menghangatkan ranjang suami kita." seloroh Nyonya Rahma.
Kini, kedua perempuan paruh baya tersebut berbincang hal seputar hubungan suami istri. Tidak lain dan tidak bukan tujuannya adalah, agar Nara terpancing.
Dan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Apalagi Viki sudah sibuk dengan pekerjaannya. Terlebih, keduanya tahu bagaimana Viki sangat menginginkan pernikahan ini. Begit juga dengan Nara.
Pasti, lelaki seperti Viki tidak akan membiarkan waktu terlalu begitu saja dengan sang istri, setelah keduanya sah menjadi suami istri.
"Benar jeng, apalagi perempuan sekarang doyannya sama lelaki yang sudah bersuami. Makanya Nara, selain pandai memasak, kamu juga harus jago main di ranjang." timpal Nyonya Binta.
Kedua pipi Nara terlihat memerah. Lantaran Nyonya Rahma dan Nyonya Binta mengatakan hal yang sangat sensitif bagi Nara. Yakni masalah ranjang.
"Nanti tante kasih kamu jamu. Biar kuat dan betah tahan lama saat di gempur suami kamu." ujar Nyonya Binta.
Nyonya Rahma dan Nyonya Binta saling pandang. Lalu Nyonya Rahma tiba-tiba mengangguk kecil tanpa sepengetahuan Nara.
"Nara sayang, kamu sudah mulai buatkan kami cucukan?" tanya Nyonya Binta lebih menjurus.
"Haahhh,,, cucu." cicit Nara dengan ekspresi polos.
"Iya cucu. Kalian semalam sudah kikuk-kikuk kan. Tapi kok badan kamu masih mulus. Apa jangan-jangan Viki...." Nyonya Binta menggantung kalimatnya.
"Enggak tante, abang normal kok." sahut Nara dengan cepat. Padahal Nyonya Binta tidak berpikir ke arah sana.
Nyonya Binta mencebik lucu mendengar perkataan Nara yang tampak membela sang suami. Begitu pula dengan Nyonya Rahma. Beliau merasa terharu dengan menantunya.
"Hanya,,, hanya Nara belum siap." lanjut Nara dengan wajah berada di atas lengannya.
Nyonya Rahma dan Nyonya Binta saling memandang dan bernafas lega. "Emm,,, lalu Viki bagaimana?" tanya Nyonya Binta.
"Abang bilang tidak masalah. Abang tidak marah. Abang akan menunggu Nara sampai Nara siap." papar Nara dengan polosnya.
Nyonya Rahma kembali tersenyum. "Astaga, putra mama ternyata begitu mencintai kamu sayang." papar Nyonya Rahma.
"Tapi kamu tetap tidak boleh seperti itu lo Nara. Bisa bahaya jika kamu terus belum siap dan menolak. Suami kamu itu idaman banyak perempuan. Kalau kamu nggak memberikan haknya, bisa-bisa Viki cari perempuan yang mau melayani dia di ranjang. Sangat mudah bagi lelaki seperti Viki mencari pengganti kamu." tutur Nyonya Binta membuat Nara berpikir.
__ADS_1
Nyonya Binta yakin, jika Viki tidak akan melakukan apa yang dia katakan. Namun, beliau paham. Bagaimana perlunya hubungan **** bagi pasangan suami istri.