
"Selamat atas pernikahan kalian." ucap Viki memberi selamat pada Denis dan Hana.
Denis dan Hana malah terdiam dan tidak segera menyahuti ucapan selamat yang di berikan Viki. Pandangan keduanya malah fokus pada sosok gadis cantik yang berdiri di samping Viki, dengan melingkarkan tangan di lengan Viki.
Viki tersenyum melihat pasangan pengantin yang pastinya penasaran pada gadis di samping Viki tersebut. "Kenalkan, dia Nara." ucap Viki dengan senyum angkuhnya, membuka suara. Bermaksud pamer pada pasangan pengantin tersebut.
Denis dan Hana beralih menatap Viki, seolah kalimat yang di ucapkan oleh Viki sama sekali belum bisa menghilangkan sesuatu yang berputar di benak mereka. "Nara, calon istri gue." lanjut Viki dengan santai, tersenyum bangga.
Denis dan Hana saling pandang dengan tatapan heran, lalu keduanya malah tertawa mendengar perkataan yang keluar dari mulut sahabatnya tersebut.
Sebab, sulit bagi keduanya percaya pada perkataan Viki. Mereka tahu jika selama ini Viki punya penyakit, yakni kelainan pada ****. Dan penyakit tersebut memang sulit untuk di sembuhkan.
Nara juga tersenyum melihat sikap dan tingkah pasangan suami istri yang baru sah tadi pagi, dalam menanggapi perkataan Viki. Nara sama sekali tidak tersinggung. Lantaran Nara tahu, kenapa keduanya tertawa.
"Kenapa kalian malah tertawa." geram Viki, merasa pasangan pengantin tersebut sedang tertawa mengejek pada dirinya.
Atau keduanya tidak percaya akan perkataan yang baru saja mereka dengar. Dan memang itulah kenyataannya. Mereka pasti sulit mempercayai apa yang di ucapkan oleh sahabatnya tersebut.
Denis kembali memandangi Nara dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan menyelidik. "Jaga mata elo." seru Viki dengan nada tertahan.
Meski Denis menatap Nara bukan dengan tatapan mesum, melainkan tatapan curiga bercampur rasa ingin tahu. Namun Viki tetap tidak suka jika ada lelaki yang memandang Nara dengan tatapan seperti itu.
Denis menepuk pundak Viki. "Sorry brow, bukan gue nggak percaya. Tapi dia seperti gadis baik-baik." ujar Denis tetap dengan intens memandang ke arah Nara.
Nara kembali tersenyum simpul mendengar perkataan Denis. Dengan sudut mata melirik ke arah Viki yang nampak tidak terima dengan perkataan sahabatnya.
"Sialan, elo pikir Nara ******!!" seru Viki dengan nada rendah. Nara kembali tersenyum mendengar perdebatan kedua lelaki di depannya.
Yang satu mencoba menyampaikan sesuatu, dan satunya lagi tetap tidak percaya yang di sampaikan lawan bicaranya. "Bukan gitu maksud gue. Pasti elo butuh duit banget ya." celetuk Denis dengan tatapan kasihan pada Nara.
Berbeda dengan Viki, Nara tampak tidak tersinggung sama sekali. Meski pandangan Denis seakan sedang menilai dirinya. "Sayang, kamu di bayar berapa sama Viki?" tanya Hana dengan lembut mengeluarkan suaranya, mengusap lengan Nara.
__ADS_1
Sontak saja, pertanyaan dari Hana membuat Nara tersenyum manis. Berbeda dengan Viki. Dia melotot tidak percaya. "Gratis kakak." papar Nara.
"Gratis." kata Denis dan Hana bersamaan. Keduanya memasang ekspresi rumit, memandang ke arah Viki.
"Vik, elo jangan mempermainkan perempuan. Awas saja elo. Dia sepertinya gadis baik-baik. Kalau Ella sampai tahu, habis elo." ancam Hana memandang Viki dengan sengit.
Viki mengusap wajahnya dengan kasar. Menatap pasangan pengantin di depannya dengan rasa putus asa. "Ckk,,, kalian tidak percaya. Dia, Nara. Calon istri gue." tekan Viki.
Mereka hanya berbicara lirih, lantaran memang keadaan sangat ramai. Mereka tahu, apa yang sedang mereka bicarakan. Dan pastinya mereka juga tidak ingin ada orang yang mengetahui pokok percakapan mereka.
Denis dan Hana lagi-lagi menggeleng dan menatap Viki dengan tatapan kesal. "Astaga, kalian mau bukti bagaimana, supaya kalian percaya?!" tanya Viki seperti seorang yang sedang frustasi.
Cup... Cup... Cup.... Viki mencium seluruh wajah Nara. "Bang,,, Nara malu." cicit Nara, lantaran semua orang memandang ke arah mereka.
Denis dan Hana melongo melihat apa yang di lakukan oleh Viki. "Gue sudah sembuh." ucap Viki lirih.
Viki menepuk pundak Denis. "Oke, gue mau ketemu om sama tante dulu. Ayo sayang." Viki mengajak Nara meninggalkan Denis dan Hana yang masih terlihat syok.
Keduanya saling bersitatap. Lalu berpelukan dengan Hana sedikit berjingkrak. "Viki mempunyai kekasih." Hana melepas pelukan Denis.
"Semoga dia tidak berbohong. Sungguh, ini kado terindah dalam pernikahan kita." lirih Denis, menatap punggung sahabatnya tersebut.
Seperti yang di janjikan Viki, dia membawa Nara untuk di perkenalkan pada beberapa orang penting yang bekerjasama dengan perusahaan Viki.
Dan juga pada beberapa orang yang penting dalam hidup Viki. Seperti kedua orang tua sahabatnya. "Semoga cepat menyusul Denis dan Hana." ucap mama dari Denis.
Selesai mengajak Nara berkeliling, Viki mengajak Nara untuk duduk di sebuah kursi di ruangan tersebut. "Capek?" tanya Viki dengan lembut. Nara menggeleng dan tersenyum.
Sedari tadi, sikap dan tingkah keduanya tak luput dari pandangan beberapa orang. Terlebih Viki yang terlihat begitu menyayangi Nara.
Memperlakukan Nara seperti guci mahal yang harus di jaga agar tak seorangpun menyentuhnya. "Abang ambilkan minum dulu. Kamu di sini, tunggu sebentar." pinta Viki, mencium pipi Nara dan meninggalkan Nara.
__ADS_1
Malam ini, Nara tidak ingin senyum di bibirnya hilang. Malam ini, Nara merasa menjadi perempuan paling beruntung.
Viki benar-benar memperkenalkan dirinya sebagai calon istrinya, bukan sebagai kekasih. Hal yang membuat senyum di bibir Nara tidak luntur.
"Kayla." panggil seseorang yang berdiri di samping Nara. Dan Nara dapat menebak siapa pemilik suara tersebut. Hanya beberapa orang yang memanggilnya dengan sebutan Kayla.
"Nara, ingat perkataan bang Viki. Tidak selamanya kamu bisa bersembunyi. Angkat kepalamu. Sebentar lagi kamu akan menjadi Nyonya Viki. Jangan membuat calon suamimu beserta keluarganya malu." ucap Nara dalam hati.
Nara menetralkan nafas dan degup jantungnya. Nara berdiri dan tersenyum memandang ke arah Tuan Smith dan Nyonya Binta.
"Maaf, tapi saya bukan Kayla. Nama saya Nara. Kinara." tekan Nara, menyiratkan jika dia tidak suka dengan panggilan nama Kayla. Meski tetap dengan senyum di bibirnya.
"Baiklah, maaf sudah mengganggu kamu. Na-ra." ujar Tuan Smith. Ingin sekali beliau memeluk putri kandungnya yang saat ini berada di depannya.
Meluapkan rasa rindu yang di sertai perasaan sesal yang mendalam. Tapi Tuan Smith masih mengingat perkataan sang istri.
"Jangan terlalu memperlihatkan rasa senang serta antusias kamu saat berhadapan dengan Kayla. Kita harus mendekatinya dengan perlahan. Dia juga punya perasaan kecewa, dan tentunya sakit hati. Jangan membuat dia malah semakin menjauh dari kita." Tuan Smith selalu mengingat perkataan sang istri.
Nyonya Binta mengelus pelan lengan sang suami. "Kamu sendiri?" tanya Nyonya Binta berbasa-basi, dengan tatapan lembut.
"Tidak Nyonya, saya bersama calon suami saya. Saya rasa anda sudah mengetahuinya." jawab Nara tetap dengan senyum di bibir.
Di tempat lain, Viki yang hendak kembali pada Nara menghentikan langkahnya melihat Nara sedang berbincang dengan Tuan Smith dan sang istri.
Viki membiarkan Nara untuk menjadi perempuan yang bisa mengatasi masalah. "Maaf, bukannya aku tega sama kamu sayang. Tapi kamu sekarang harus mulai belajar berdiri dan mengangkat wajah kamu sendiri." ucap Viki dalam hati.
"Tapi itu hanya untuk masalah sepele. Jika masalah besar, pastinya aku tidak akan membiarkan kamu berdiri sendiri. Cukup berdiri di belakangku." lanjut Viki.
Viki berjalan ke arah Nara dengan langkah perlahan. Seolah dia memberi waktu untuk Nara dan juga kedua orang di samping Nara untuk sekedar bertegur sapa.
"Aaauu...." seru seseorang, yang tanpa sengaja tertabrak tubuh Viki yang sedang berjalan.
__ADS_1