VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 89


__ADS_3

"Kita langsung pulang." perintah Viki pada Rey.


"Baik Tuan." jawab Rey, melihat majikannya dari spion mobil yang tergantung di depannya.


Terlihat Viki tampak tersenyum melihat ke arah beberapa paper bag yang ada di sampingnya. Dan Rey tahu, apa isi dari paper bag tersebut.


Rey juga tersenyum samar melihat Viki. Dirinya juga merasa senang, saat atasannya tersebut menemukan pujaan hatinya. "Semoga Nona Nara bisa membuat Tuan Viki bahagia." do'a Rey dalam hati.


Sampai di rumah, Viki langsung tersenyum manis melihat ke arah Nara. Dan suatu kebetulan, posisi Nara berada di belakang Puspa.


Sehingga terlihat Viki seperti sedang tersenyum ke arah Puspa. Dengan percaya diri, Puspa tersenyum ke arah Viki. "Benarkan, tidak mungkin. Jika Tuan Viki lebih menyukai bocah seperti Nara." ucap Puspa dalam hati dengan percaya diri.


"Gadis bau kencur seperti Nara. Mana mungkin bisa membuat Tuan Viki merasa puas." ucapnya dalam hati penuh makna.

__ADS_1


Dan Puspa, tidak mengetahui. Jika ada Nara berdiri di belakangnya. Saat Viki berjalan ke arahnya, senyum Puspa semakin mengembang sempurna.


Puspa hendak mengeluarkan suaranya. Berniat menyapa Viki, namun senyum yang sempat merekah dengan sempurna hilang seketika saat Viki berjalan melewatinya begitu saja.


"Hah,,," ucap Puspa. Melongo tidak percaya. Viki melewatinya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Tatapan mata Puspamengikuti ke mana Viki berjalan. "Nara." gumam Puspa mengerjap tidak percaya.


"Sejak kapan Nara ada di belakang ku?" tanyanya pada diri sendiri dalam hati.


"Jadi,,, tadi,,, Tuan Viki...." ucap Puspa dalam hati mengaitkan senyum Viki yang dia pikir di berikan padanya.


Nara memandang Puspa dengan tatapan rumit dan senyum mengejek. "Kamu pikir bisa bersaing dengan saya. Pastinya Abang Viki lebih memilih daun muda. Dari pada daun kering seperti kamu." ucap Nara dalam hati.


"Abang." ucap Nara dengan nada manja, dan langsung memeluk tubuh Viki. Pandangan matanya melihat ke arah Puspa yang sedang memperhatikan keduanya.

__ADS_1


Tampak Puspa memandang Nara dengan rasa kesal yang membuncah. Terlebih Nara malah memperlihatkan kemesraannya dengan Viki tepat di hadapan Puspa.


Nara masih mencuri pandang ke arah Puspa. Karena Puspa masih berdiri di tempatnya semula. Viki mengangkat tangannya yang memegang paper bag, memperlihatkan pada Nara. "Apa ini?" tanya Nara tanpa melepaskan pelukan tangannya di pinggang Viki.


Viki mengecup dengan lembut kening Nara berkali-kali. "Abang...." ucap Nara dengan nada manja.


Puspa menghentakkan kakinya, meninggalkan tempatnya berdiri dengan rasa kesal dan sebal karena keromantisan yang ditunjukkan oleh Nara dan Viki.


"Nakal." Viki menjawil gemas hidung Nara. Karena Viki tahu, jika sedari tadi Nara sengaja mengerjai Puspa.


Viki bukan lelaki bodoh. Mata dan telinganya tajam. Jadi, tidak mungkin jika Viki tidak tahu jika Puspa mengincar dan menginginkan dirinya. Puspa juga selalu memberi kode dan berusaha menggoda dirinya.


Tapi, bagi Viki. Hanya Nara yang dapat membuat senyum manisnya merekah. Hanya Nara yang bisa membuatnya merasakan beribu kupu-kupu berterbangan di sekitarnya.

__ADS_1


Viki juga merasa, hanya Nara yang bisa membangkitkan gairahnya. Tidak ada nama perempuan lain di hatinya.


Hanya ada nama Nara di dalam hatinya.


__ADS_2