
"Aku akan mempertahankan janin ini. Tapi dengan satu syarat." ucap Giska pada kedua orang tuanya.
Seolah kedua orang tuanya adalah penyebab semua masalah yang menimpa dirinya. "Katakan." ujar Tuan Marko.
"Aku menginginkan Viki yang menikahi denganku. Bukan Renggo." ucap Giska, seakan tidak ada beban saat mengucapkan kalimat tersebut.
Gila.
Plakk,,,,,, tanpa berucap apapun, Nyonya Gina menampar dengan keras pipi sang putri. Sementara Tuan Marko hanya memandang ke arah Giska dengan mengepalkan kedua telapak tangannya, yang beliau masukkan ke dalam saku celana.
Giska menatap sang mama yang bernafas dengan cepat, menahan amarah. "Kamu." Nyonya Gina menunjuk tepat ke arah Giska. "Mama sudah angkat tangan. Kesabaran mama sudah habis." geram Nyonya Gina.
"Terserah. Mau kamu apakan calon anak kamu itu. Terserah. Satu hal yang harus kamu tahu. Mama tidak akan pernah mengorbankan orang yang tidak bersalah dalam hal ini. Tidak akan pernah." ucap Nyonya Rahma dengan mata memerah.
Tuan Marko membiarkan sang istri yang menangani Giska. Tuan Marko hanya takut, jika dirinya juga maju, malah dia tidak akan bisa mengontrol diri.
Dan yang Tuan Marko takutkan, dia malah akan melukai Giska. Maka dari itu, beliau memilih berdiri dengan memendam emosinya.
Giska terdiam, mendapat tamparan dari sang mama. Manik matanya menatap sedih ke arah Tuan Marko. Tapi sungguh di sayangkan, sang papa memilih untuk tetap berdiri di tempatnya dan tidak bergeser satu centipun.
"Apa isi otak kamu. Kamu pikir seorang Viki, mau dengan perempuan yang tengah hamil anak orang. Kamu kira Viki itu panti sosial." ucap Nyonya Gina menaikkan nada suaranya.
"Ma,,, tapi Giska..." bantah Giska, tapi ucapannya terpotong lebih dulu oleh sang mama.
"Apa!! Kamu mau mengatakan, jika kamu mencintai Viki. Dan tidak mencintai Renggo. Tapi lihat!!! Nyatanya kamu malah tidur dengan Renggo. Bukan Viki." seru Nyonya Gina.
__ADS_1
"Mana ada, lelaki yang mau dengan perempuan yang tengah hamil. Jika bukan dia yang menanam benihnya di dalam perut perempuan itu. Pikir Giska. Pikir." lanjut Nyonya Gina menurunkan istonasinya.
Nyonya Gina mengangkat kedua tangannya ke atas. Beliau sudah benar-benar menyerah. "Jika pilihan kamu tetap menikah dengan Viki. Silahkan. Datangi sendiri rumah Viki. Mama tidak ikut campur." ucap Nyonya Gina dengan tegas.
"Mama masih punya malu, untuk mengetuk pintu rumah orang. Hanya untuk menutupi aib anak mama. Hanya karena pikiran gila dari putri kandungku." cerca Nyonya Gina.
Nyonya Gina menggelengkan kepala. Bahkan, kepalanya terasa hendak terasa pecah. Karena masalah yang di timbulkan oleh sang putri. Nyonya Gina meninggalkan kamar Giska, dengan membawa amarah.
"Kamu yakin, masih menginginkan Viki?" tanya Tuan Marko.
Giska mengangguk pelan. Tuan Marko tersenyum samar. "Jawaban papa, sama seperti mama. Silahkan kamu mendatangi rumah Viki. Dan katakan keinginan gila kamu. Tapi ingat, jangan pernah membawa nama saya, dan juga istri saya." tegas Tuan Marko, sebelum meninggalkan kamar sang putri.
Giska yang saat ini sendirian di dalam kamar, hanya bisa menangis tersedu-sedu. "Kenapa jadi seperti ini." teriaknya frustasi. Kedua orang tuanya bahkan tidak mendukung keinginannya.
Seketika Giska terdiam. Melihat ke arah perutnya yang masih rata. "Aku sangat membenci kamu. Sangat. Kenapa kamu harus ada di dalam perutku. Kenapa....!!!" teriak Giska memukul-mukul perutnya sendiri.
Giska menghentikan pukulannya ke perut. Memandang lurus ke depan, dengan tatapan aneh, lalu tersenyum licik.
Mengalihkan pandangan pada perutnya yang masih rata. "Aku akan mencobanya. Siapa tahu ini adalah peruntunganku mengandung benih sialan ini." gumam Giska tersenyum licik.
Di kediaman Viki, Tuan Hendra dan Nyonya Rahma mencoba berbicara dengan Nara secara pelan-pelan.
Tetapi sebelum berbicara dengan Nara, Tuan Hendra sudah mewanti-wanti sang istri agar menahan emosinya dan juga perkataannya.
Tuan Hendra tidak ingin semuanya malah bertambah ricuh dan keruh. Meskipun Nara bukan anak kandung dari keduanya. Namun, selama Nara tinggal di rumah ini dia adalah tanggung jawab mereka. Entah baik dan buruk.
__ADS_1
"Ada yang mau kamu sampaikan pada kami?" tanya Nyonya Rahma, membelai lembut rambut Nara.
"Tante, apa setelah ini, Nara tidak akan tinggal di rumah ini lagi?" tanya Nara. Entah dari mana Nara bisa menyampaikan pertanyaan seperti itu.
Nyonya Rahma memeluk Nara dengan penuh kasih sayang. "Sampai kapanpun. Kamu, Rini, dan Bima, akan tetap tinggal di sini." Nyonya Rahma menangkup kedua pipi Nara.
"Apalagi, sebentar lagi kamu akan menjadi menantu satu-satunya kesayangan tante dan om. Benarkan pa?" Tuan Hendra mengangguk mendengar kalimat yang keluar daei mulur sang istri.
"Jangan pernah berpikir seperti itu lagi. Janji." tutur Nyonya Rahma.
"Iya." cicit Nara.
Nara menghela nafas panjang. "Nara belum siap bertemu mereka." ucap Nara jujur.
Nara memegang dadanya. "Ada perasan aneh di sini. Setiap mengingat semuanya." air mata Nara mulai berkumpul di pelupuk mata.
"Rasanya sesak. Rasanya Nara ingin berteriak memaki mereka. Rasanya Nara ingin menangis setiap melihat wajah mereka." ucap Nara menggebu-ngebu sambil menangis.
Nyonya Rahma menepuk pelan pundak Nara. Mereka membiarkan Nara melepaskan semua beban yang ada di pundaknya.
"Anak seusia Nara. Dengan masalah hidup yang berat. Bahkan, belum tentu saya bisa bertahan sampai seperti Nara." ucap Nyonya Rahma dalam hati.
"Mereka jahat. Nara tidak boleh keluar rumah. Selama sepuluh tahun, Nara hanya melihat segelintir orang. Selama itu, Nara hanya melihat indahnya dunia luar melewati televisi. Nara bahkan tidak pernah merasakan kasih sayang. Mereka tidak pernah menganggap kehadiran Nara." ucap Nara terisak.
Nara menghapus air matanya. Begitu juga dengan Nyonya Rahma yang ikut merasakan pedihnya cerita masa lalu Nara.
__ADS_1
"Tapi Nara bersyukur. Orang tua kandung Nara membuang Nara. Nara bisa bertemu ibu dan bapak. Meski mereka keluarga yang kekurangan, tapi mereka selalu memberikan kasih sayang yang berlimpah pada Nara." ucap Nara, teringat saat dirinya sekeluarga makan satu piring. Hanya dengan lauk pauk telur dadar satu butir.
Tapi Nara merasa sangat senang. Ketimbang hidup mewah, tapi bagai penjara dan neraka.