
"Tante tenang saja, Sara akan menjaga baby Al dengan baik." ucap Sara.
Hari ini, Tuan Smith dan Nyonya Binta akan bertolak pergi ke luar negeri. Dimana seseorang yang akan menjadi wali nikah untuk pernikahan Sara dan putranya berada di negara tersebut.
Namun, sebelum mereka ke sana. Sara sudah mengajak Renggo terlebih dahulu untuk menemui keluarga Sara yang tinggal di sana.
Mengutarakan apa keinginan Sara dan Renggo. Sehingga kedatangan kedua orang tua Renggo kali ini, hanya sebagai penegasan.
Jika keluarga Renggo sudah menerima Sara dengan kedua tangan terbuka. Dan benar-benar ingin menjadikan perempuan cantik tersebut bagian dari keluarga mereka.
"Tante percaya sama kamu." Nyonya Binta menggenggam telapak tangan Sara.
Setelah Sara mengambil keputusan untuk meninggalkan dunia artisnya, hubungan Sara dan Nyonya Binta semakin dekat.
Bahkan, setiap hari keduanya selalu berkomunikasi dengan baik. Sara merasa jika keputusan yang diambilnya ternyata sangat tepat untuk kehidupannya.
Sosok ibu yang sempat hilang beberapa tahun lalu, kini perlahan mulai Sara rasakan kembali kehadirannya. Nyonya Binta, menyayangi dan memperhatikan Sara seperti layaknya putrinya sendiri.
Sara dan Renggo, bersama baby Al. Mereka mengantar Tuan Smith dan Nyonya Binta pergi ke bandara.
Cup,,, Nyonya Binta mencium pipi gembul sang cucu. "Jangan nakal. Jangan nyusahin tante Sara." Nyonya Binta mengusap rambut tipis milik baby Al yang saat ini berada di gendongan Sara.
Pengumuman keberangkatan pesawat yang akan dinaiki keduanya sudah terdengar di telinga. "Jaga mereka dengan baik." Tuan Smith menatap ke arah Renggo.
Renggo mengangguk pelan. Cup,,,, Tuan Smith mengecup kening baby Al. Mencubit gemas pipi gembul sang cucu.
"Hati-hati om, tante."
"Hati-hati ma, pa."
Tuan Smith dan Nyonya Binta berangkat, setelah keduanya bersalaman dengan Renggo dan Sara.
Sara memegang lengan baby Al, membawanya sedikit ke atas. "Da,, da,, oma. Da,, da,, opa. Hati-hati di jalan." Sara menirukan suara anak kecil yang terdengar lucu.
Dari tempatnya, Nyonya Binta juga melambaikan tangan dengan senyum di bibirnya. Dengan Tuan Smith menyeret koper kecil di tangan kirinya.
Kepergian keduanya tanpa membawa sang asisten atau pekerja lainnya. Entahlah. Mungkin sepasang suami istri tersebut menginginkan kebersamaan tanpa adanya orang lain.
Katakanlah bulan madu untuk para opa oma. Renggo juga sadar, jika keduanya juga butuh refreshing dan sedikit penyegaran hidup.
Setelah pernikahan dirinya dan Giska, hingga perceraian mereka yang penuh drama. Yang pastinya membuat kedua orang tuanya juga merasakan stres akan ulah mereka.
"Sini." Renggo mengambil alih baby Al dari gendongan Sara. Kini, ketiganya kembali ke parkiran mobil. Dengan Renggo menggendong baby Al, dan Sara berjalan di samping Renggo.
Terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia tanpa cela.
Tak lupa, keduanya kembali menggunakan kacamata, topi, dan masker sebagai penutup wajah. Namun baby Al hanya menggunakan topi saja. Renggo maupun Sara bukannya bermaksud menutup-nutupi hubungan mereka.
Hanya saja, Sara yang baru saja hengkang dari manajemen perusahaan milik Viki, pasti sedang menjadi incaran awak media.
Karena kepergiannya tanpa penjelasan kepada awak media. Terlebih, dari perusahaan Viki pun tidak ada pelurusan masalah atau suatu klarifikasi atas hal tersebut.
Menekan pihak Viki untuk mengatakan alasan hengkangnya Sara dari perusahaan mereka. Tidak mungkin mereka lakukan.
Mereka cukup tahu bagaimana kekuasaan seorang Viki. Menyinggung orang yang salah akan membuat karir mereka juga akan salah jalan.
Dan satu-satunya cara adalah langsung bertanya pada Sara. Pihak yang terkait. Namun, Sara seperti belut. Dia dengan pandai dan mudah mengklamufase dirinya.
Meloloskan diri dari para pencari berita. Agar pihak media atau pencari berita tidak bisa bertemu dengan dirinya
Renggo dan Sara, menghindari pencari berita hanya karena memikirkan baby Al dan kedua orang tua Renggo. Agar tidak terlalu tersorot kamera wartawan.
"Aku akan mengantar kalian pulang terlebih dahulu. Setelah itu aku harus kembali ke kantor." jelas Renggo.
"Kamu tidak apa-apakan, aku tinggalkan di rumah?" tanya Renggo.
Selama kedua orang tua Renggo berada di luar negeri, mereka meminta Sara untuk menginap di kediaman mereka.
__ADS_1
Tentunya untuk menjaga baby Al, saat Renggo bekerja. Meski sebenarnya di rumah sudah ada banyak pembantu dan juga pengasuh baby Al.
Namun Nyonya Binta merasa jika perasaannya masih tidak bisa nyaman. Dan akan cemas meninggalkan baby Al tanpa keluarga di dekat sang cucu.
Menitipkan pada Nara. Bukan pilihan yang bijak. Sebab Nara sendiri juga mempunyai bayi yang masih berumur beberapa bulan.
Akhirnya Nyonya Binta memutuskan meminta tolong pada Sara untuk merawat baby Al bersama pengasuhnya. Dan dengan senang hati, Sara menerimanya.
Namun baik Nyonya Binta atau Tuan Smith selalu mewanti-wanti keduanya, Renggo dan Sara untuk selalu menjaga jarak.
Jangan sampai, karena hanya sudah mendapat restu. Lantas keduanya membuat kecewa Tuan Smith dan Nyonya Binta.
"Renggo, aku ingin ke rumah Nara. Boleh?" tanya Sara, meminta izin. Sara merasa dirinya perlu teman bicara untuk saat ini.
Dan Nara. Adalah satu-satunya pilihan terbaik. Sebab, Renggo sendiri juga memberi batasan pada Sara. Terkait kedekatannya dengan Erlangga. Agar Sara tidak terlalu dekat dengan Erlangga seperti sebelumnya.
Alih-alih marah, Sara malah menyetujui keinginan calon suaminya tersebut. Dan Sara bukan perempuan bodoh. Yang tidak mengerti kenapa Renggo melarang dirinya untuk terlalu dekat dengan Erlangga.
Cemburu dan tidak nyaman. Pasangan manapun pasti akan merasakan hal tersebut. Jika melihat pasangannya lebih dekat dengan lawan jenis dari pada mereka. Apapun alasannya.
Renggo tersenyum dan mengangguk. Hubungan Sara dan Nara semakin erat, saat Sara memutuskan telah siap menjadi istri dari Renggo.
Dan hal tersebut tentu saja membuat Renggo senang. Sebab, selain dengan kedua orang tuanya, Sara juga menjalin hubungan baik dengan adik tirinya tersebut.
"Biar nanti aku hubungi pengasuh baby Al, untuk dia menyusul ke sana." Renggo yang fokus menyetir, sesekali melirik ke kursi di sampingnya.
Dimana sang anak dan calon istrinya berada. Terlihat baby Al tampak anteng dan nyaman duduk di pangkuan Sara, dengan tangan memegang mainan.
Renggo menghentikan mobilnya di halaman rumah Nara. "Aku tidak ikut masuk. Tidak apa-apakan?"
"Iya." kata Sara, mengerti jika calon suaminya sedang terburu-buru.
Cup,,, cup,,, Bergantian, Renggo mencium pipi Sara dan baby Al. "Jangan nakal." Renggo mengelus pipi baby Al.
Renggo beralih mengelus rambut Sara. "Nanti aku jemput."
Sara mencium punggung telapak tangan Renggo sebelum turun dari mobil, dengan baby Al berada di gendongannya. "Hati-hati papa." ucap Sara, menirukan suara baby Al.
Renggo menggerakkan tangan, memanggil salah satu petugas keamanan di rumah Viki. "Jika ada sesuatu, segera hubungi aku atau Viki." perintah Renggo.
"Baik Tuan Renggo."
Bukan tanpa alasan Renggo sedikit mengkhawatirkan keberadaan Sara dan baby Al di kediaman Viki.
Sebab sekarang, perempuan yang paling ingin Renggo hindari sepertinya akan mulai mengusik kenyamanan hidupnya.
Nara segera menemui dan menyambut Sara yang berada di ruang tengah, begitu pembantu memberitahunya tentang kedatangan Sara.
"Kak Sara kok nggak bilang mau. ke sini." Sara dan Nara saling berciuman dengan menempelkan pipi mereka.
Nara segera mengambil baby Al dari gendongan Sara, dan menggendongnya. "Dadakan. Baru nganterin tante sama om ke bandara." jelas Sara.
"Tolong buatkan minum ya, bawa ke belakang." pinta Nara pada pembantu di rumahnya.
"Baik Nyonya."
"Yuk kak. Kita ke belakang baby Al,,, baby boy Ezza ada di sana." Nara mengajak Sara ke belakang rumah. Dimana ada sebuah bangunan berbentuk seperti rumah kecil yang berada di sawah. Tapi di tempat Nara ukurannya jauh lebih besar.
"Halo, baby Ezza." sapa Sara, mencium pipi anak dari Nara dan Viki.
"Baby Ezza baru bangun." ujar Nara menatap ke arah sang putra yang baru berusia beberapa bulan tersebut, tampak malas. Dengan hanya mengedipkan matanya dnegan lucu.
Setelah pengasuh baby Al datang, dia juga segera bergabung bersama Nara dan Sara di belakang. "Ini sus." Sara memberikan sebuah roti pada sang pengasuh, untuk diberikan pada baby Al.
Sara mengelus lembut rambut tipis baby Al. "Lucu sekali dia." ucap Sara pada baby Al yang sudah berpindah tangan pada pengasuhnya.
"Minum kak." Nara mengambil segelas air dan meneguknya beberapa teguk. Begitu juga dengan Sara.
__ADS_1
Keduanya bersamaan menaruh kembali gelas tersebut di atas meja. "Ada apa kak? Kak Sara bisa cerita sama Nara jika mau." tawar Nara.
Nara melihat jika Sara sedang memikirkan sesuatu yang membuatnya khawatir dan gelisah. "Giska." cicit Sara.
Nara tersenyum. Dirinya juga tahu jika Giska kembali ke negara ini. Pastinya Nyonya Binta yang memberitahunya. "Apa yang kakak khawatirkan?"
Sara memandang baby Al yang bermain bersama pengasuhnya dan baby Ezza tak jauh di belakang Nara.
"Tenang saja, Nara yakin kak Renggo akan bisa melindungi kalian." Nara mencoba membuat perasaan takut di hati Sara menghilang.
Namun, tidak semudah itu, rasa cemas dalam hati Sara lenyap. "Semoga. Tapi, apa dia benar-benar jahat?" Sara penasaran, memang selama ini dirinya belum pernah bertemu dengan sosok Giska sama sekali.
"Kakak mau aku ceritakan sebuah kejadian yang membuat Giska diusir dari negara ini oleh suamiku?" Sara mengangguk, ingin mendengarkan apa yang terjadi.
"Jadi, sebenarnya...." Nara menceritakan tentang kejadian di dalam ruang pribadi sang suami.
Sara menggeleng. "Astaga. Nekat sekali dia." ucap Sara, setelah mendengar semua cerita Nara.
"Tapi kamu percaya, jika saat itu di antar Viki dan Giska tidak pernah terjadi apa-apa. Maaf, maksud aku..." Sara tidak enak melanjutkan kalimatnya.
Nara tertawa pelan. "Ya,,, Giska yang hanya memakai handuk. Dan posisi suamiku yang berada di atasnya. Sangat ambigu. Benar?"
Sara mengangguk. "Jika Viki memang berniat selingkuh. Aku rasa bukan dengan Giska orangnya. Lagi pula, aku percaya. Viki bukan lelaki seperti itu."
Sara mengangguk. "Bisa di simpulkan. Dia nekat dan bermuka badak."
Nara terkekeh. "Dan gila." Sara mengangguk membenarkan perkataan Nara.
"Aku hanya takut, jika Giska menggunakan baby Al untuk masuk ke dalam kehidupan Renggo kembali." cicit Sara, tersirat rasa khawatir yang tidak bisa disimpan seorang diri.
Nara sadar, jika kekhawatiran Sara beralasan. "Tenang saja. Kak Renggo bukan lelaki bodoh. Dia tidak akan masuk ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya."
"Lagi pula, mana mungkin mama sama papa menerima Giska kembali." Nara menggeleng. "Tidak mungkin terjadi. Mustahil. Nara juga akan menolak mentah-mentah."
"Nara, sampai sekarang. Aku masih berpikir dan mencoba menebak. Siapa ayah biologis baby Al." ucap Sara lirih.
Nara terdiam. Memainkan bibirnya dengan lucu. "Sebenarnya aku juga kak. Tapi, aku sendiri juga tidak begitu mengenal Giska." papar Nara.
"Bagaimana kamu mengenal Giska. Kalian saja musuhan." Sara dan Nara tergelak bersama.
Sementara di perusahaan, Renggo disibukkan dengan setumpuk berkas pekerjaan. Kepergian sang papa, juga sedikit berimbas pada dirinya.
Beberapa pekerjaan penting yang menjadi tanggung jawab Tuan Smith semua beralih pada Renggo. Meski perusahan keduanya berbeda tempat.
Asisten Tuan Smith hanya menghandle pekerjaan yang dapat dia tangani. Dan selebihnya, untuk beberapa hal yang penting, dia kirimkan ke tangan Renggo langsung.
"Maaf Tuan, nanti sore anda akan bertemu dengan klien dari negara tetangga. Membahas kerjasama yang akan kita lakukan ke depan." lapor sang sekertaris.
"Dimana?" Renggo bertanya tanpa melihat ke arah sang sekertaris yang berdiri di depannya. Pandangannya tetap fokus pada lembaran kertas yang bernilai ratusan juta di depannya.
Sang sekertaris menyebutkan nama sebuah restoran terkenal. "Baik, kamu persiapkan semuanya." perintah Renggo.
Segera sang sekertaris undur diri dan melakukan pekerjaannya.
"Sara, aku harus memberitahunya." gumam Renggo, jika dirinya tidak bisa menjemput calon istri beserta anaknya di rumah Nara.
"Iya, maaf sayang. Nanti kamu dan baby Al biar di antar sopir Nara saja. Jangan naik taksi." pesan Renggo pada Sara lewat sambungan telepon.
"Ada apa?" tanya Nara, begitu Sara mematikan panggilan teleponnya.
"Boleh minta tolong." cengir Sara merasa tidak enak untuk mengatakannya.
"Apapun. Katakan kak."
"Renggo nanti tidak bisa menjemput aku dan baby Al. Ada pekerjaan penting. Apa boleh, jika nanti sopir kamu mengantar kami?"
Sara yang sejak dulu memang mandiri. Merasa tidak enak mengatakan permintaannya pada Nara.
__ADS_1
"Ya ampun kak,, Nara pikir ada apa." kekeh Nara.
"Silahkan. Bahkan Nara ijinkan jika kak Sara memakai sopir Nara untuk selamanya. Tapi kak Sara yang bayar." canda Nara.