VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 64


__ADS_3

"Tuan, beberapa hari yang lalu Nona Giska menyuruh rekan saya untuk menculik seorang perempuan." lapor bawahan Tuan Marko padanya.


Tuan Marko duduk menyenderkan tubuhnya di kursi sambil memijat keningnya. Dimana kepalanya terasa seperti ingin pecah karena kelakuan sang putri akhir-akhir ini.


Benar-benar membuat Tuan Marko seakan kehilangan kesabarannya. Padahal selam ini, dirinyalah yang tanpa sengaja membuat Giska menjadi sosok seperti itu.


Bawahan tersebut melanjutkan laporan dari hasil penyelidikannya. "Perempuan tersebut bekerja di salah satu club malam di kota ini. Dan dia, emmm..." ucapnya terhenti, seakan enggan untuk mengucapkannya.


"Dia menggoda Tuan Viki." imbuhnya dengan lirih. Tapi Tuan Marko masih memejamkan matanya dengan tangan masih memijat keningnya.


"Mereka di bayar oleh Nona Giska dengan jumlah yang tidak bisa mereka tolak." sambungnya.


"Giska,,," geram Tuan Marko. "Berhubungan dengan Renggo, tapi menginginkan untuk menikah dengan Viki. Apa yang diinginkannya." ucap Tuan Marko dalam hati.


Beberapa hari ini, Tuan Marko mendapat laporan dari bawahannya yang dia suruh untuk menjaga keamanan di rumah. Jika Giska membuat keributan di rumah saat dirinya sedang berada di perusahaan.


Dan pastinya Giska mengusik dan menantang sang mama. Tapi Tuan Marko sudah berjanji, menyerahkan semuanya pada sang istri. Dan Nyonya Gina meminta sang suami mulai sekarang tidak ikut campur untuk masalah Giska.


"Untuk mereka yang berkhianat dan malah menerima uang dari Giska, beri mereka hadiah yang tidak akan pernah mereka lupakan." perintah Tuan Marko.


"Dan Giska. Suruh orang yang bisa di percaya untuk selalu mengikuti kemanapun Giska pergi." lanjut Tuan Marko. Beliau tidak ingin putrinya melakukan kekerasan atau kesalahan pada orang lain. Yang akan berakibat fatal. Apalagi sampai ke ranah hukum.


"Baik Tuan." ucapnya.


Sementara di luar, tampak Giska dan Nyonya Gina berdebat. Tidak ada niat dari Tuan Marko untuk keluar dari ruang kerjanya dan melihat apa yang terjadi, meskipun indera pendengarannya mendengarkan suara tersebut . Karena sepertinya, Tuan Marko sudah bisa menebak apa yang terjadi.


Giska menatap sengit ke arah sang mama. Tapi tidak sedikitpun Nyonya Gina merasa terusik hatinya. "Baru kali ini, aku melihat seorang ibu seperti dirimu." ucap Giska dengan mulut tajamnya.


Nyonya Gina tetap tidak bergeming. Beliau malah tersenyum penuh arti. "Memang susah, mengajari seorang pembangkang. Bisanya hanya menghamburkan uang." sindir Nyonya Gina sambil mengupas buah apel.


"Cih,,, itu uang milik papaku. Tidak ada yang berhak melarangku. Sekalipun kamu." ucap Giska dengan jari menunjuk ke arah sang mama.


Nyonya Giska memotong buah apel dan meletakkannya di atas piring kecil. "Apa anda lupa. Saya istrinya, dan jauh lebih berhak atas apa yang ada pada diri suami saya. Apapun itu." ucap Nyonya Giska dengan tenang dan penuh penekanan, sembari memasukkan potongan apel ke dalam mulutnya.


Nyonya Gina berdiri. "Berikan ini pada suamiku. Katakan, jika semua ini dari istrinya. Yang sudah menemaninya dari nol. Hingga seperti sekarang." lanjut Nyonya Gina, beralih menatap ke arah Giska.


Menyuruh seorang pelayan untuk membawa buah apel yang sudah di kupas pada Tuan Marko. "Baik Nyonya." ucapnya sedikit membungkukkan badan.


"Pelayan saja mengerti dan tahu akan kewajibannya." ucap Nyonya Gina, mengelap telapak tangannya dengan tisu.


"Apa maumu!?" hardik Giska, tak ada sopan-sopannya.


"Mauku." Nyonya Gina menunjuk ke arahnya sendiri. "Jika Nona Giska ingin semua fasilitas di kembalikan pada anda, turuti semua perkataan saya. Sebagai Nyonya di rumah ini. Bereskan." tutur Nyonya Gina.


"Tidak akan pernah. Dan jangan berharap." teriak Giska tidak terima. Karena selama ini, dirinya tidak pernah berurusan dengan sang mama, yang menurutnya sangat ribet dan banyak aturan.


"Jika begitu. Jangan harap, anda akan mendapatkan fasilitas seperti semula. Dan jika uang yang saya transfer ke rekening anda kurang, anda bisa bekerja untuk mendapatkan tambahan uang." ucap Nyonya Gina.


Giska dengan perasaan kesal pergi dari hadapan sang mama. "Tunggu Nona Giska!!" teriak Nyonya Gina, menghentikan langkah sang anak.


Giska menghentikan langkahnya, membalikkan badan dan menatap dengan congkak ke arah sang mama. "Jika uang yang saya kirim habis. Tidak akan ada uang tambahan." ucap Nyonya Gina, mengangkat jari telunjuknya, menggoyang ke kanan dan kiri.


Nyonya Gina kembali mendaratkan pantatnya di kursi. Air matanya kembali jatuh ke pipi. Saat sang putri pergi dari hadapannya.


"Nyonya." ucap kepala pelayan di sampingnya.


"Apa saya salah. Saya seorang ibu, saya menginginkan putri saya menjadi seorang perempuan yang berhati lembut. Penyayang. Apa saya salah." ucap Nyonya Gina, menangis.


"Tidak Nyonya. Anda melakukan hal benar. Meski sedikit terlambat, tapi setidaknya Nyonya sudah berusaha. Saya yakin, suatu hari. Nona Giska akan mengucapkan beribu rasa terimakasih pada Nyonya." ujar kepala pelayan.


Tuan Marko berdiri tak jauh dari Nyonya Gina. "Maaf, selama ini aku salah. Maaf." ucap Tuan Marko dalam hati.

__ADS_1


Tangan Nyonya Gina terulur mengambil ponsel miliknya. Memberitahu Renggo jika Giska baru saja meninggalkan rumah karena berdebat dengannya.


Nyonya Gina sengaja memberitahu Renggo, karena sudah dapat di pastikan kemana Giska akan pergi. Tak lupa Nyonya Gina mengingatkan Renggo untuk tidak memberikannya uang atau apapun itu.


Dengan ancaman, restu darinya maupun Tuan Marko tidak akan dia dapat. Jika berani melakukannya. "Saya yakin, Renggo akan mengikuti perkataan saya." ucap Nyonya Gina dalam hati. Mengingat bagaimana keluarga Renggo.


Masih di dalam mobil, Viki dan Denis sampai ke tempat tujuan mereka. Ada banyak pencari berita yang sudah berjejer rapi untuk mendapatkan gambar dan pastinya berita menarik dari para pebisnis muda.


"Jaga tu muka." ingat Viki pada Denis. Sebab banyak kamera yang pastinya akan meliput mereka.


"Bawel." ketus Denis. Padahal sedari tadi, dirinyalah yang selalu cerewet di dalam mobil. Rey dan Miko hanya menggeleng pelan di belakang mereka, melihat kedua atasannya tersebut.


Viki dan Denis melangkah dengan pasti. Terlebih, tidak ada senyum ramah di wajah mereka. Bahkan, beberapa pencari berita memanggil mereka.


Tapi mereka seolah tuli dan acuh. Tetap meneruskan langkah mereka untuk masuk ke dalam ruangan. Kehadiran keduanya menjadi magnet tersendiri bagi kaun hawa. Terlebih Viki.


Karena sampai detik ini, mereka sama sekali tidak pernah melihat pengusaha tampan tersebut menggandeng seorang perempuan.


Mata Viki menyapu ke seluruh ruangan. "Kita berpisah sebentar. Ada yang harus gue urus." ucap Viki, tanpa menolah ke arah Denis.


Tanpa menunggu jawaban dari Denis, Viki melangkahkan kakinya ke sebuah meja kecil. Diiringi Rey yang berada di belakangnya.


"Selamat malam." ucap Viki, langsung duduk di salah satu kursi yang masih kosong. Tampak kedua lelaki yang duduk di kursi tersebut spontan memandang ke arah Viki.


"Khemm.." Viki berdehem. Segera Rey mengeluarkan kertas kecil dari balik jas yang dia pakai. Menaruhnya di atas meja.


Kedua lelaki tersebut menatap ke arah meja. Di mana ada sebuah kertas dengan tulisan yang sangat mudah di baca.


Keduanya memandang ke arah Viki, mengepalkan tangannya di bawah meja. Dengan raut wajah seperti ingin memakan Viki mentah-mentah.


Viki tersenyum. "Ini hanya sebuah peringatan kecil. Karena sekarang, proyek tersebut berada di bawah pantauan saya. Dan tentunya di kerjakan oleh perusahaan saya." Viki berdiri dari duduknya.


Salah satu dari mereka mengambil kertas tersebut. Meremasnya dengan menyalurkan emosinya. "Dari mana dia mendapatkannya." ucapnya lirih namun menahan amarah.


Ingin sekali dia membuang kertas tersebut. Tapi urung dia lakukan, karena jika ada yang menemukan. Dan mengetahui arti dari tulisan tersebut, yang ada rahasia mereka akan terbongkar dengan sendirinya.


"Bagaimana ini?" tanya lelaki yang satunya.


Dia memasukkan kertas yang telah dia remas ke dalam saku celana. "Kita harus melapor pada boss terlebih dahulu." ucapnya lirih, meneguk minuman di depannya dengan sekali teguk.


"Bagaimana elo bisa kenal mereka?" tanya Denis yang ternyata sudah berada di belakang Viki.


Denis melihat ke mana Viki melangkahkan kaki dan mendaratkan pantatnya. "Elo tidak perlu khawatir. Gue yakin, jika gue sanggup menghadapi mereka." ucap Viki dengan pandangan mata masih melihat ke arah kedua lelaki tersebut.


Viki mengalihkan pandangannya kepada sahabatnya. "Lagi pula ada elo sama Ella. Kenapa gue meski takut." ucapnya dengan nada bercanda. Tapi terkesan serius.


"Ckkk,,, gue bukan Ella. Yang begitu mengerti dunia bawah." ucap Denis dengan serius.


"Oleh karena itu, gue akan belajar mengenai hal tersebut." ucap Viki enteng. Denis menatap tajam ke arah Viki, seolah ada sebuah larangan di tatapan matanya.


Sementara Rey, sekarang sudah tidak bersama Viki. Asisten Viki tersebut nampak keluar dari gedung, melewati pintu samping. Entah apa yang Viki perintahkan kepadanya.


Tapi Viki acuh. Dirinya malah melenggang pergi meninggalkan Denis. "Eee,, maaf." ucap seorang perempuan yang menabrak tubuh Viki saat Viki hendak berjalan menuju meja untuk mengambil minuman.


Viki tersenyum samar. "Tidak masalah Nona, anda tidak apa-apa?" tanya Viki dengan senyum menawan.


"Iya,, Ehh,,, tidak. Iya, iya, tidak apa-apa." jawabnya dengan menampilkan wajah secantik mungkin.


Viki masih menampilkan senyum di bibirnya. "Masih cantik Nara kemana-mana. Tebal di bedak doang." ucap Viki dalam hati.


"Kalau begitu, saya permisi." ucap Viki, meninggalkan perempuan tersebut. Tapi perempuan tersebut tidak menjawab. Dia masih menatap Viki dengan tatapan mendamba.

__ADS_1


Dari arah lain, ada Giska yang menyaksikannya. Tangan Giska memegang erat gelas yang berada dalam genggamannya.


Giska sedikit terkejut, saat sebuah tangan melingkar di punggungnya. "Aku ingin mengenalkanmu pada seseorang." ucap Renggo.


Tepat sesuai perkiraan Nyonya Gina, jika Giska meninggalkan rumah dan malah pergi ke kediaman Renggo.


Giska mengatakan jika dirinya membutuhkan sejumlah uang. Dan Renggo akan memberikannya, jika Giska menemani Renggo pergi ke acara tersebut.


Mau tidak mau Giska menyanggupi permintaan Renggo, dari pada dirinya harus malu di depan teman sosialitanya.


Tanpa menjawab, Giska melangkahkan kaki. Mengikuti ke mana Renggo membawanya. Dan betapa terkejutnya Giska, saat Renggo membawanya untuk menghampiri Viki.


Padahal dari tadi Giska sangat menghindari untuk bertemu dengan Viki. "Renggo brengsek. Dia pasti sengaja." umpat Giska dalam hati.


"Tuan Renggo."


"Tuan Viki."


Kedua pengusaha muda tersebut saling berjabat tangan. Viki tersenyum menatap ke samping Renggo. Di mana ada Giska yang sedang di peluk dengan posesif oleh Renggo dengan menaruh tangannya di pinggang ramping Giska.


"Kenalkan, dia Giska. Kekasih saya." ucap Renggo, mengenalkan Giska pada Viki. Giska mengeratkan giginya. Menahan rasa kesal pada Renggo.


"Saya sudah mengenalnya Tuan." ucap Viki, membuat Giska menatap ke arah Viki dengan tatapan yang sulit terbaca.


"Siapa yang tidak mengenal putri tunggal dari Tuan Marko. Bukan begitu." sambung Viki tersenyum.


"Bodoh sekali saya." kekeh Renggo. "Pasti semua orang mengenal Giska. Mengingat siapa papanya." imbuh Renggo.


"Sayang, dia Tuan Viki. Kemungkinan, kedepannya kami akan menjalankan kerja sama dalam jangka panjang." jelas Renggo.


Giska hanya tersenyum kecut menanggapi perkataan Renggo. Dirinya merasa Renggo sengaja menjebaknya dalam permainan ini.


"Kalian berdua sangat serasi. Saya menunggu undangannya." ucap Viki, menyesap air berwarna biru yang berada di dalam gelas yang sedang dia pegang.


"Terimakasih, tentunya segera." ucap Renggo.


"Tuan Viki." panggil seorang perempuan, membuat ketiganya menoleh ke arah suara tersebut.


"Melva." ucap Viki, menampilkan ekspresi terkejut. Padahal dirinya sudah melihat Melva sedari tadi.


"Saya datang menemani sahabat saya." jelas Melva.


Melva memandang ke arah Giska. "Nona Giska. Kalian berdua sangat serasi." puji Melva dengan senyum palsunya mengejek ke arah Giska.


Kali ini, Giska hanya bisa diam. Karena keadaannya sangat tidak memihak dirinya. Melva semakin mendekat ke arah Viki. "Tuan Viki datang sendirian?" tanya Melva.


"Panggil Viki, jika di luar perusahaan." ucap Viki. Ekor mata Renggo melirik ke arah Giska. Dan Renggo melihat dengan jelas, jika Giska sedang menahan emosinya.


"Baik. Terimakasih." Melva tersenyum, memamerkan deretan giginya yang putih dan rapi.


"Beruntung gue nggak ngajak Nara. Ternyata ada dua lampir di tempat ini." ucap Viki dalam hati.


Melva memandang dengan senyum remeh pada Giska. Melva mengira jika Giska sudah menyerah untuk mendapatkan Viki. "Karena elo bukan lawan gue." ucap Melva dalam hati.


"Secepatnya gue harus memberitahu mama. Supaya mama bisa membuat Nara menjadi perempuan kuat. Karena gue nggak mungkin selamanya menyembunyikan Nara. Ckk,,,, kenapa Ella mesti nggak ada. Mungkin jika ada Ella, gue bisa menyerahkan Nara ke Ella." imbuh Viki dalam hati.


Bukannya Viki tidak sanggup untuk melindungi Nara dengan kemampuannya saat ini. Tapi, bukan hanya perlindungan dari Viki yang Nara butuhkan.


Nara lebih membutuhkan kekuatan di mental untuk berada di samping Viki. Mengingat perempuan yang mendekati Viki mempunyai pikiran seorang psikopat.


Apalagi saat Viki membawa Nara ke hadapan umum. Yang berarti penting bagi Nara untuk mengenal siapa kawan dan lawan Viki.

__ADS_1


__ADS_2