VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 70


__ADS_3

"Melva..!!!" geram Giska.


Giska merasa kesal. Tapi sekarang dirinya tidak bisa berbuat apa-apa. Jika dulu Giska bisa menggunakan uang, dengan membayar bawahan sang papa. Tapi sekarang tidak.


Beberapa bawahan Tuan Marko yang menjaga Giska. Dan selalu mengikuti kemanapun dirinya pergi, sekarang sudah tidak terlihat lagi. Dan Giska sekarang sendiri. Benar-benar sendiri.


Giska tidak mengetahui jika sang mama tetap memantaunya dan mengawasinya dengan meletakkan beberapa orang di sekitarnya.


"Aaaa..." teriak Giska memukul stir mobil berkali-kali. Melampiaskan rasa kesal yang hanya bisa dia rasakan tanpa bisa dia salurkan.


Sekarang saja, Giska sangat jarang berkumpul bersama teman sosialitanya. Dan pastinya dia mempunyai seribu alasan untuk di katakan pada mereka.


"Apa aku harus meminta uang pada Renggo lagi." pikir Giska. Teringat jika uang di dalam rekeningnya sudah menipis. Padahal belum ada seminggu mamanya mentransfer ke rekeningnya.


"Brengsek." umpat Giska. Mana semua perhiasan di kamar Giska semua raib. Hanya tinggal beberapa saja.


Awalnya Giska hendak menjual perhiasannya. Tapi siapa yang menyangka. Jika perhiasannya hilang, tidak ada di tempatnya. Hanya menyisakan beberapa saja.


Dan tak mungkin Giska menjualnya. Kerena jika dia menjualnya, pasti dirinya sendiri yang akan bingung. Karena tidak mungkin dia keluar tanpa menggunakan perhiasan.


Dan Giska tahu ulah siapa. Pasti sang mama yang mengambilnya. Dengan alasan perhiasan tersebut di beli dari uang suaminya.


"Giska memijat kepalanya yang terasa mau pecah." Ingin menjual tas yang harganya mahal, tidak mungkin. Pasti akan ketahuan oleh sahabatnya. Karena untuk menjual tas, tidak seperti menjual perhiasan.


Dan saat ini hanya ada Renggo. Lagi-lagi Giska memukul stir mobil. "Apa iya, gue meminta uang pada Renggo. Itu sama saja gue menjual tubuh gue." ucap Giska merasa putus asa.


Setiap datang dan meminta uang pada Renggo, itu artinya Giska juga harus melakukan hubungan intim bersama dengan Renggo.


Padahal dulu, dirinya hanya menggunakan Renggo sebagai pelampiasan nafsunya. Tidak lebih. Karena dulu, Giska mampu membeli apapun. Berbalik dengan keadaannya yang sekarang.


"Tapi uangnya tidak seberapa." desah Giska frustasi. Renggo memberikan uang sekitar lima juta pada Giska. Dan untuk seorang Giska, uang tersebut terbilang sedikit.


Sungguh, Giska sudah seperti seorang perempuan nakal. Sekarang pikirannya bercabang. Antara Viki dan uang. "Seandainya saja Viki mau menerima gue. Pasti gue nggak akan memikirkan hal seperti ini." gumamnya, melihat ke depan. Menatap dengan jauh ke depan.


"Aaa...." teriaknya. "Kenapa gue bodoh sekali. Kenapa semua bisa terbongkar. Siapa yang melakukannya. Sial." umpatnya, merasa kehidupannya yang sekarang menjadi berantakan. Tidak seperti apa yang dia inginkan sebelumnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Viki menghapus air mata di kedua pipi mamanya. "Papa orang yang kuat. Dia akan kembali ke tengah-tengah kita." Viki mencium telapak tangan sang mama.

__ADS_1


"Lagi pula, sebentar lagi Viki dan Nara akan menikah." imbuh Viki, Nyonya Rahma memandang Viki dan Nara bergantian.


Dengan Nyonya Rahma masih dalam posisi duduk, ketiganya saling berpelukan. Saling menguatkan.


"Ini." Viki meyerahkan kardus pada Nara saat mereka berdua duduk di kursi. Sementara Nyonya Rahma berbaring tidur di ranjang yang memang di sediakan untuk menunggu pasien. Itupun Viki fan Nara memaksa Nyonya Rahma untuk beristirahat.


Karena pasti beliau sangat capek. Bukan hanya capek badan. Tapi juga capek batin. "Apa ini bang?" tanya Nara.


"Ambil." Viki mengambil tangan Nara, meletakkan benda tersebut di atas telapak tangan Nara.


"Ini." Nara menatap ke arah Viki.


"Iya. Kamu perlu. Dan butuh ini." ucap Viki.


"Terimakasih bang." ucap Nara.


Nara membuka kardus berisi sebuah ponsel, yang di belikan oleh Viki. "Bagus sekali bang. Pasti mahal." cicit Nara.


Viki mengelus rambut panjang kekasihnya. "Tidak. Yang terpenting kamu punya." ucap Viki.


Viki mengambil kembali ponsel Nara. "Duduklah lebih dekat. Biar abang jelaskan caranya." segera Nara menggeser sedikit duduknya.


Menjadikan Nara dan Viki duduk tanpa sekat. Dengan rinci dan telaten Viki menjelaskan pada Nara. Sementara Nara, memperhatikan dengan sungguh-sungguh dan seksama.


"Terimakasih bang." ucap Nara. Dirinya juga teringat jika Nyonya Ane juga memberikan nomor ponsel pada dirinya.


"Nanti saja aku coba." ucap Nara dalam hati. "Tadi tante Ane yang memberitahu abang?" tanya Nara, karena Viki tiba-tiba datang.


Viki hanya mengangguk. "Kata tante Ane, tadi putri angkatnya mengalami kecelakaan." jelas Nara.


"Iya, dia kekasih Denis. Sahabat abang sama kak Ella." ucap Viki menjelaskan.


Viki tampak melamun. Pandangannya terarah ke arah ranjang pasien tempat sang papa tengah berbaring. Viki menghembuskan nafas panjang. "Tadi papa. Dan sekarang Hana. Semoga saja, Hana tidak separah papa." gumam Viki masih bisa di dengar oleh Nara.


"Amin. Semoga." sahut Nara.


Viki sudah berkirim kabar dengan Denis. Jika dirinya tidak bisa menjenguk Hana. Karena kondisi Tuan Hendra.


Begitupun dengan Denis, dia juga meminta maaf. Karena saat kejadian kecelakaan yang menimpa Hana, Denis sedang perjalanan ke rumah sakit. Hendak menjenguk Tuan Hendra.

__ADS_1


Tapi baru setengah perjalanan, dia kembali berputar arah. Karena mendengar berita tentang kecelakaan yang menimpa kekasihnya. Hana.


Viki mengusap wajahnya. Nara memeluk Viki dari samping. "Semua akan baik-baik saja. Kita hanya perlu berdo'a." ucap Nara, mencoba menyemangati Viki.


"Tadi Giska ke sini?" tanya Viki.


Nara meregangkan pelukannya. "Iya. Tadi....." Nara menceritakan semuanya pada Viki. Termasuk jika Nara memperkenalkan dirinya sebagai saudara Viki.


Viki tersenyum puas. Mendengar cerita dari Nara. Menarik gemas hidung Nara. "Pintar." Viki memeluk kembali Nara.


"Sebaiknya kamu pulang dulu. Biar aku dan mama yang berjaga di sini." pinta Viki, menepuk punggung Nara.


"Tapi bang." Nara merasa keberatan dengan permintaan Viki.


"Besok pagi kamu bisa datang. Sekalian kamu bawakan sarapan dan baju ganti untuk kami." jelas Viki. "Lagi pula kasihan Bima. Jika kamu semalam berada di sini." imbuh Viki.


"Iya bang."


"Nanti biar kamu di antar seseorang."


"Tidak perlu bang, Nara bisa naik angkot." tolak Nara polos. Dia hanya tidak ingin merepotkan orang lain.


"Mana ada. Calon istri seorang Viki naik angkot." kekeh Viki. Ada celotehan dari Nara, yang memang tidak di sengaja. Justru tanpa Nara sadari bisa sedikit menghibur perasaan Viki yang sedih.


Akhirnya Nara di antar oleh bawahan Viki. Dengan beberapa lainnya mengikuti Nara. Viki hanya tidak ingin jika terjadi sesuatu dengan Nara. Cukup sang papa saja.


Tengah malam, Viki menerima telepon dari bawahan Ella yang memperbaiki serta mencari sesuatu yang mungkin bisa di jadikan petunjuk. "Besok pagi aku akan ke sana. Jangan sampai ada orang yang tahu, sebelum diriku." ucap Viki.


Setelahnya, Viki keluar dari ruang rawat sang papa. "Ada sesuatu?" tanya Viki, pada Rey.


Karena tadi Viki meninggalkan tempat kejadian di mana sang papa mengalami kecelakaan. Karena dirinya mendapat pemberitahuan dari Nyonya Ane. Jika beliau harus meninggalkan Nara hanya berdua bersama Nyonya Rahma. Meski ada beberapa bawahan Tuan Haris di depan ruangan.


Menjadikan Viki kembali ke rumah sakit. Padahal bawahannya masih di dasar jurang untuk mencari sesuatu. Yang mungkin bisa di jadikan petunjuk.


Namun, Viki tidak langsung kembali ke rumah sakit. Dia mampir ke toko yang menjual ponsel. Dirinya teringat jika Nara belum mempunyai barang yang sangat berguna tersebut.


"Ini Tuan." Rey, menemukan serpihan mobil. Seperti potongan dari pintu mobil bagian atas.


"Pasti mereka juga mengalami kecelakaan. Lumayan parah." jelas Rey. Beruntung Tuan Hendra tidak masuk ke dalam jurang. Mungkin akan lain ceritanya, jika mobil Tuan Hendra sampai terperosok dan masuk ke dalam jurang.

__ADS_1


"Sepertinya ini tidak di buang, tapi tidak sengaja terlempar. Apalagi ini ditemukan bukan di dasar jurang. Melainkan tersangkut di akar pohon yang menjuntai dari atas. Sementara di dasar jurang hanya ada beberapa serpihan kaca. Kaca tersebut bersih." jelas Rey terperinci.


Rey, menyerahkan serpihan kaca kecil. Di mana ada noda darah yang sudah mengering. Viki duduk. Dengan kedua tangan memegang kedua benda yang baru saja di berikan oleh Rey.


__ADS_2