VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 134


__ADS_3

"Benarkah?!" tanya Nyonya Rahma tidak percaya dengan apa yang di dengarnya lewat sambungan telepon.


"Baiklah, terimakasih infonya jeng." Nyonya Rahma memutuskan panggilan telepon dengan sahabat arisannya.


"Ada apa ma?" tanya Nara, yang duduk di samping Nyonya Rahma.


Nara memang sudah memanggil kedua orang tua Viki dengan sebutan mama dan papa. Sama halnya seperti Viki memanggil mereka.


Itupun juga karena Nyonya Rahmalah yang menyuruh Nara untuk memanggil demikian. Juga dengan kedua adik Nara. Rini dan Bima. Keduanya kini dibiasakan memanggil mama papa pada kedua orang tua Viki.


"Giska akan menikah." ungkap Nyonya Rahma dengan antusias, memberitahu pada calon menantunya.


Terlihat jelas raut wajah Nyonya Rahma sangat senang. Dengan demikian, tentunya Giska tidak akan pernah mengganggu lagi hubungan Nara dan Viki. Itulah kini yang ada di dalam benak Nyonya Rahma.


Nara mengangguk pelan. "Memang seharusnyakan ma. Mereka harus segera menikah, perut Giska pasti semakin lama semakin besar." ujar Nara.


Jiwa kepo seorang perempuan langsung keluar dari dalam diri Nyonya Rahma. "Mama penasaran, sama siapa Giska akan menikah. Aduh,,,, kenapa teman mama cuma ngasih info setengah-setengah sih." gerutu Nyonya Rahma menyalahkan temannya.


Nara hanya tersenyum dan menggeleng samar. Meskipun Nara tahu, siapa yang akan menjadi calon suami dari Giska. Sekaligus lelaki yang telah menanamkan benih di rahim Giska.


Tapi Nara memilih untuk tidak memberitahu. Dirinya tidak mau ikut campur tentang permasalahan Giska. Sebab, sepulang dari rumah Tuan Smith, Viki sudah menceritakan semuanya. Giska dan Renggo.


Di perusahan, Viki menyelesaikan permasalahan yang disebabkan oleh Tuan Diego. Papa dari Melva.


"Sudah kamu lakukan?" tanya Viki pada Rey.


"Sudah Tuan." jawab Rey.


Rey sendiri merasa bingung pada perintah sang atasan. Pasalnya, Viki meminta Rey untuk mengeluarkan istri pertama Tuan Diego yang di sembunyikan, dari rumah sakit jiwa.


Membuatnya seolah-olah dia kabur dari rumah sakit. Padahal semuanya sudah di atur oleh Viki. Dan dengan bantuan seseorang yang bekerja di dalam rumah sakit, yang di kenal Viki.

__ADS_1


Dan sekarang, Viki menyuruh Rey untuk membawa istri dari Tuan Diego kepada seorang dokter ahli jiwa. Viki menitipkan beliau di sana.


Viki menginginkan jika beliau sembuh. Sebab, menurut penyelidikan, beliau tidak gila saat di masukkan ke dalam rumah sakit jiwa tersebut.


Menurut sumber yang dapat di percaya, beliau dalam keadaan tidak sadar saat di bawa ke rumah sakit jiwa.


Bahkan, setelah sadar, beliau juga histeris dan berteriak meminta pulang. Karena memang, bukan di sanalah tempatnya tinggal.


Namun, seiring berjalannya waktu. Kejiwaan beliau benar-benar terganggu. Dan pasti semua ini karena ulah dan keinginan Tuan Diego.


"Maaf Tuan, bagaimana dengan dokter yang membantu kita. Saya hanya takut, jika dia berkhianat. Mengatakan pada Tuan Diego." ujar Rey mengatakan kecemasannya.


Viki tersenyum sinis. "Jika itu terjadi, itu artinya dia sudah siap untuk menerima hadiah besar dariku." jelas Viki dengan santai. Membuat Rey percaya, jika sang atasan sudah mempersiapkan semuanya.


Viki merasa akan membutuhkan istri pertama Tuan Diego untuk kedepannya. Viki bisa merasakan, jika Tuan Diego sekarang sedang menargetkan dirinya.


Tuan Diego juga bukan seorang yang bisa di pandang remeh. Selain berkuasa, dia juga licik. Itulah kenapa Viki memerlukan beberapa amunisi yang dia dapat digunakan untuk melawan Tuan Diego di kemudian hari.


"Tuan, ada undangan pernikahan untuk anda. Apakah anda akan datang?" Rey menyerahkan sebuah kartu undangan dengan bentuk khusus pada Viki.


"Saya menerima laporan, jika pesta pernikahan antara Renggo dan Giska di adakan secara tertutup. Mereka hanya mengundang beberapa tamu, yang di anggap penting." jelas Rey.


"Papa mama juga di undang?" tanya Viki, membolak-balikkan undangan di tangannya, tanpa berniat membuka atau membacanya.


Undangan ditujukan ke tempat Tuan Hendra bekerja. Oleh karena itulah Nyonya Rahma belum mengetahui tentang pernikahan Renggo dan Giska.


"Iya Tuan. Namun Tuan Hendra dan Nyonya Rahma tidak bisa menghadiri undangan tersebut. Lantaran Tuan Hendra akan ada kunjungan tahunan ke sebuah tempat." jelas Rey.


Viki menghentikan gerakan tangannya manik matanya menatap ke arah Rey. "Tuan tenang saja, saya sudah menyuruh beberapa orang untuk menjaga dan mengawasi Tuan Hendra dan Nyonya Rahma dari arah lain" jelas Rey.


Rey dapat menebak, pasti atasannya akan merasa khawatir saat mendengar jika sang papa dan mamanya akan melakukan perjalanan kembali ke luar kota setelah kecelakaan tersebut.

__ADS_1


Oleh karenanya, Rey mengantisipasi dulu. Menurunkan beberapa anak buahnya secara diam-diam untuk memastikan kemanan kedua orang tua atasannya tersebut.


Hari dimana pesta sederhana pernikahan Giska fan Renggo di laksanakan. Entah kenapa, mereka memilih untuk melakukan pesta yang sangat sederhana yang hanya di hadiri oleh beberapa tamu saja.


Padahal keluarga Giska maupun Renggo adalah keluarga kaya. Bahkan kekayaannya mungkin tidak akan habis tujuh turunan.


Semua terjadi sesuai keinginan dari mempelai perempuan. Giska.


Entahlah, bagaimana mereka dapat membujuk seorang Giska yang sangat keras kepala, akhirnya mau melakukan pernikahan tersebut.


Namun Giska meminta syarat. Jika pernikahan mereka dilakukan dengan sederhana. Dengan beberapa tamu undangan.


Seperti yang sudah direncanakan, Viki mengajak Nara untuk datang ke pesta pernikahan Renggo dan Giska. "Tadi mama bilang apa?" tanya Viki pada Nara.


"Tidak ada." jawab Nara berbohong. Mana mungkin Nara memberitahu pada calon suaminya apa yang di perintahkan oleh sang mama.


Karena Nara akan membuat kejutan-kejutan kecil untuk Giska. Viki yang tengah berada di balik kemudi tersenyum sembari melirik ke arah Nara.


"Sebentar lagi kita pasti akan menyusul." Viki mengecup singkat pipi Nara.


"Abang..." seru Nara terkejut. Nara melotot melihat ke arah Viki. Bagaimana bisa Viki menciumnya saat tengah menyetir. "Berbahaya bang..." ucap Nara kesal.


Sebelum berangkat ke pesta pernikahan Giska dan Renggo, terjadi perdebatan kecil antara Nara dan Viki. Tentu saja, Viki tidak setuju dengan pakaian yang akan di kenakan Nara ke acara tersebut.


Alhasil, Nara hanya bisa pasrah dan menuruti perkataan Viki untuk mengganti gaun yang melekat di tubuhnya.


"Ayo." Viki menyodorkan lengannya pada Nara, saat keduanya sudah sampai di tempat acara dan sudah keluar dari dalam mobil.


"Sepi sekali ya bang." bisik Nara, sembari memasukkan tangannya di lingkaran tangan Viki.


"Tenang saja, pesta pernikahan kita tidak akan seperti ini." ucap Viki, membuat Nara memutar kedua matanya dengan malas.

__ADS_1


Padahal Nara sama sekali tidak membicarakan pernikahan mereka. Nara hanya penasaran, kenapa pesta pernikahan dua keluarga kaya di gelar sangat amat sederhana sekali.


__ADS_2