VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 69


__ADS_3

"Haaaa,,,, ha,,,,," suara tawa menggelegar memenuhi ruangan.


Seorang perempuan duduk di atas pangkuan lelaki yang mempunyai wajah tampan dengan sorot mata tegas dan tajam. "Kita berhasil. Terimakasih." ucapnya.


Mengecup dan memangut dengan lembut bibir sang lelaki tersebut. "Terimakasih." ucapnya lagi, dengan suara manja. Dengan jari membersihkan sisa air liur di sekitar bibir lelaki tersebut.


"Apapun akan kamu dapatkan. Asal kamu bisa memuaskanku di atas ranjang." ucap lelaki tampan.


Suara erangan nikmat menggema memenuhi ruangan. "Aaaahhh..." lelaki tersebut menjatuhkan tubuhnya di sebelah sang perempuan.


Setelah mendapatkan beberapa kali pelepasan karena olah raga panas keduanya di malam hari. Padahal ini masih sekitar pukul delapan malam.


Tapi keduanya malah menikmati makan malam yang lain dari pada yang lain. "Aku akan melakukan apapun untuk membalaskan dendamku." ucapnya dalam hati.


Dengan pelan dan hati-hati, perempuan tersebut bangun dan meninggalkan ranjang menuju ke kamar mandi. Dirinya tidak ingin membangunkan singa yang telah tertidur.


Sungguh, rasanya seluruh badannya terasa remuk redam. "Nafsunya benar-benar membuatku kewalahan." ucapnya pelan. Memasukkan badannya ke dalam zaquci yang berisi air hangat.


"Aaahhhhhh." dia mengeluarkan nafas panjang. Terasa nyaman saat dia merendam badannya di dalamnya.


Meski dirinya akan merasa tersiksa dan merasakan sakit ketika berhubungan badan dengan lelaki tersebut. Tapi dirinya tak lantas menyerah.


Karena lelaki yang pilihannya untuk membantu melancarkan balas dendam mempunyai permainan yang keras dan kasar saat bermain di atas ranjang.


Lelaki tersebut mempunyai ilusi sendiri saat melakukan penyatuan dengan lawan jenisnya.


Dia memilih meredam dan tidak menunjukkan rasa sakitnya. Karena hanya lelaki tersebut yang bisa membantunya untuk membalaskan dendamnya.


Dia menengadahkan kepalanya, bersandar di pinggiran zaquci. "Nyawa di bayar dengan nyawa." geramnya, membayangkan wajah Viki.


Membayangkan wajah seseorang yang sangat dicinta dan di kasihi sudah tidak bernyawa. Dan yang lebih membuatnya marah, dirinya tidak pernah melihat jazad dari lelaki yang di cintanya.


Apalagi, dia mendengar jika tubuh lelaki yang dicintanya menjadi santapan hewan kelahiran seseorang. Dia menggenggam erat telapak tangannya.


"Aku akan membalas semua perlakuan kalian. Tunggu saja" ancamnya dengan mata berkilat penuh dendam.


Dia membenarkan posisinya di dalam zaquci. Saat mendengar suara ponsel yang dia letakkan di samping zaquci. Dimana ada sebuah meja kecil yang terbuat dari marmer mahal terletak di sebelahnya.


Dengan tinggi sedikit lebih tinggu di atas zaquci. Tapi masih bisa di raih menggunakan tangan meski orang yang berendam tidak berdiri. Atau dengan kata lain duduk di dalamnya.


"Apa??!!" ucapnya tidak percaya. Dia melemparkan ponselnya ke dinding. Hingga ponselnya hancur. Matanya menatap penuh amarah.


Memukul air di dalam zaquci berkali-kali. Menyalurkan rasa kesal dan amarah yang ada di hatinya. Hingga air di dalamnya muncrat kemana-mana. Bahkan mengenai wajahnya.


Beruntung, kamar mandi tersebut di lengkapi alat peredam. Sehingga suara gaduh yang dia lakukan tidak terdengar sampai keluar.


"Kenapa dia tidak mati!!" teriaknya frustasi. Mendengar jika Tuan Hendra masih selamat. Dan sekarang beliau dalam keadaan koma. Dan di rawat di rumah sakit.


"Aki menginginkan dia mati. Supaya Viki tahu, bagaimana rasanya kehilangan orang yang berarti dalam hidupnya."


"Tidak boleh. Dia tidak boleh koma. Dia harus mati. Aku harus melakukan sesuatu." ucapnya, memikirkan rencana selanjutnya.


Karena menurutnya. Jika masih koma, kemungkinan besar Tuan Hendra bisa kembali sadar.


"Vano sudah mati. Dan itu membuat Ella terpuruk. Dan sekarang, aku menginginkan Viki merasakan hal yang sama dengan Ella. Terpuruk."


"Mereka semua harus merasakan rasa yang pernah aku alami. Harus. Dan setelah itu, Denis."


"Aku akan membuat kalian merasakannya. Tunggu saja saatnya tiba." ucapnya. Karena kali ini targetnya adalah keluarga Viki.


Dia tidak ingin langsung membunuh pada target. Dia menginginkan target merasakan hal yang sama dengannya. Saat dia kehilangan orang yang di sayangnya. Dan sangat berati dalam hidupnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nara menatap ke arah Giska dengan tatapan rumit. "Astaga, getol sekali dia." ucap Nara dalam hati, merasa kesal dengan Giska. Karena bersikeras untuk bisa masuk ke dalam ruang rawat Tuan Hendra


Padahal sudah jelas jika dirinya tidak diterima. Tidak di perbolehkan masuk. Tapi tetap memaksa. Apa benar perempuan ini sungguh tidak mempunyai urat malu.


Nara sanksi jika Giska berasal dari keluarga terpandang. Karena kelakuan dari Giska jauh dari kata sopan.


"Apa memang seperti ini, anak yang terlahir dari keluarga kaya. Tapi entahlah, mungkin hanya sebagian. Buktinya bang Viki dan kak Ella tidak." batin Nara.

__ADS_1


"Saya..." tunjuk Nara pada wajahnya sendiri.


"Iya,, kamu..." ucap Giska dengan lembut. Sangat berbeda tiga ratus enam puluh drajat dari apa yang diperlihatkan pada Nara sejak awal.


Nara rasanya mau muntah mendengar perkataan Giska. "Pasti karena ada tante Ane. Dasar penjilat ulung." ucap Nara dalam hati.


"Kamu mau tahu siapa saya?" tanya Nara tersenyum. Giska dan Nyonya Ane memandang ke arah Nara.


"Saya...." ucap Nara menggantung, dirinya seketika teringat perkataan Viki padanya tadi malam.


"Benar kata bang Viki. Aku tidak boleh menambah beban mereka. Apalagi sekarang kita harus fokus pada om Hendra." ucap Nara dalam hati.


Teringat bagaimana gilanya kelakuan Giska. Meski Nara belum melihatnya, tapi Nara sudah melihat bagaimana sifat Giska. Meski sedikit. Dan itu adalah sifat jelek dan suatu keburukan untuk Giska.


"Saya Nara. Saudara bang Viki." ucap Nara, memperkenalkan diri.


Nyonya Ane tersenyum samar. "Gadis pintar. Dia tahu cara menjaga diri dan menjaga keluarga Viki saat ini." puji Nyonya Ane dalam hati.


Kedua mata Giska membulat sempurna dengan mulut menganga. "Pantas dia memanggil om pada Tuan Hendra. Dan memanggil Viki dengan sebutan Abang." ucap Giska dalam hati.


Ada rasa sesal di hati Giska. Karena biar bagaimanapun, Nara ternyata adalah keluarga Viki. Meski bukan keluarga inti.


"Ohh,,, maaf. Saya belum mengenal kamu. Viki belum pernah bercerita tentang kamu pada saya." Giska segera menggenggam telapak tangan Nara dan tersenyum lembut.


"Saya Giska, kekasih Viki." ucap Giska mengenalkan diri. Giska merasa jika dia harus merebut hati Nara juga. Untuk memuluskan rencananya.


"Kekasih bang Viki?" tanya Nara dengan ekspresi ragu.


"Iya." jawab Giska dengan cepat.


Nara melihat ke arah Nyonya Ane. "Saya masuk ke dalam dulu." ucap Nyonya Ane. Meninggalkan mereka.


Dan sebenarnya Nyonya Ane tidak benar-benar masuk ke dalam. Beliau masih berdiri di balik pintu. Mendengarkan apa kiranya yang akan dikatakan oleh Nara pada Giska.


Nyonya Ane tersenyum. "Aku sudah seperti Viki. Penguping." kekehnya pelan, teringat saat Viki menguping pembicaraannya dengan Hana di ruang rawat Ella waktu itu.


"Benar? Anda tidak berbohong?" tanya Nara terlihat serius.


"Entah kenapa melihatnya bersikap sangat arogan membuatku ingin sedikit mengerjainya. Kurasa tidka terlalu buruk. Aku akan coba." ucap Nara dalam hati. Ingin sedikit bermain-main dengan Giska.


Menurut Giska, Nara seharusnya tidak perlu bertanya seperti itu. Apalagi Nara hanya saudara dari Viki. "Karena terakhir aku melihat, bang Viki pergi dengan Melva." ucap Nara dengan polos.


"Melva." ucap Giska terpancing.


"Kena kau." tawa Nara dalam hati.


"Iya, Melva. Artis cantik dan seksi. Eee,,, dan juga dia terlihat sangat anggun. Pembawaaannya juga ramah dan sopan." ucap Nara dengan tatapan mata mengarah jauh ke depan sambil menganggukkan kepala.


Nara sedikit melirik ke arah Giska. Tampak Giska mengeraskan rahangnya. Tapi Giska segera menarik nafasnya panjang. Mencoba mengatur emosinya.


Giska tersenyum dan tertawa pelan setelahnya. Nara mengerutkan keningnya melihat ekspresi dari Giska. "Benar. Benar kata bang Viki. Dia mempunyai pemikiran ekstrim." Nara mencoba melihat gestur Giska saat tersenyum, dan setelahnya tertawa. Meski pelan.


Giska mengibaskan rambutnya pelan. "Dia hanya artis yang berada di bawah naungan perusahaan milik Viki. Tidak lebih." ucap Giska.


"Dan soal Viki membawa, atau Viki bisa datang ke acara tersebut bersama Melva. Tentu saja karena mereka mempunyai hubungan sebagai atasan dan karyawan. Tidak lebih." imbuh Giska.


"Lagi pula, aku mengizinkannya. Karena saat itu aku sedang sibuk. Dan ya,,, kamu bisa menebak sendiri. Aku tidak bisa menemani Viki." lanjut Giska.


"Pembohong ulung. Kenapa dia tidak menulis novel saja. Mungkin hasil tulisannya akan lebih baik. Dia juga bisa mencurahkan imajinasinya di tempat yang seharusnya." dumal Nara dalam hati.


"Khemm,,,, tapi maaf, sepertinya saya harus kembali ke dalam." pamit Nara.


Giska memegang lengan Nara. "Tunggu." ucap Giska, menghentikan langkah Nara.


Nara dengan pelan melepaskan cekalan tangan Giska. "Tapi maaf. Tanpa seizin bang Viki, orang luar tidak di perbolehkan masuk.


"Whatttt!! Orang luar." pekik Giska dalam hati.


Tapi bukan Giska namanya jika tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya. "Iya saya mengerti. Maaf, jika tadi saya memaksa." ucap Giska tersenyum palsu.


"Sok cantik." kesal Nara dalam hati melihat Giska tersenyum lagi.

__ADS_1


"Bukan seperti itu." imbuh Giska.


"Lalu?"


"Saya boleh meminta nomor ponsel kamu?" tanya Giska, berharap dirinya bisa mendekati Viki lewat Nara.


"Ponsel. Mana punya aku." batin Nara.


Tapi tidak mungkin Nara mengatakan jika dirinya tidak mempunyai ponsel. Bisa-bisa Giska akan curiga. Lagi pula, kenapa Viki tidak membelikan ponsel untuk Nara.


Bukankan ponsel itu sangat penting. Apalagi untuk saat-saat seperti ini. "Maaf, saya tidak terbiasa memberikan nomor ponsel saya pada orang asing, ataupun pada orang yang baru saya kenal." tolak Nara dengan ekspresi pongah.


Sementara di dalam, Nyonya Ane segera meninggalkan tempatnya berdiri. Segera duduk di kursi. Jangan sampai Nara memergokinya, karena dia menguping.


"Sikap yang bagus. Dan memang seharusnya dia menunjukkannya." puji Nyonya Ane saat melihat Nara berhadapan dengan Giska.


"Permisi." segera Nara meninggalkan Giska. Dirinya tidak ingin Giska menyadari jika dia berbohong soal ponsel.


Dan Giska, dia masih berdiri mematung melihat Nara masuk ke dalam. Tidak menyangkan kalimat tersebut akan keluar lagi dari mulut Nara. "Orang asing." geram Giska.


Nara menyandarkan badannya di balik pintu. Memegang dadanya sendiri. "Hufffttt,,,, rasanya seperti berlari saat di kejar anjing." gumam Nara.


Nara memejamkan mata. Menetralkan perasaan kesal bercampur takut saat menghadapi Giska. "Tapi, aku tidak menyangka. Aku bisa sekeren itu." Nara menggigit ujung jarinya.


"What the hell??!!" pekik Giska dengan suara tertahan. Dirinya masih waras untuk tidak berteriak. Karena dia masih mengingat di mana sekarang kakinya berpijak. Rumah Sakit.


Giska menyugar rambutnya kebelakang, menariknya sedikit kencang.


"Baik." Nyonya Ane menerima penggilan telepon. Dan berbicara dengan seseorang dengan ponselnya.


Nara berdiri di belakang Nyonya Rahma. Memegang kedua pundak beliau. Sedikit membungkukkan badan. "Tante tenang saja. Om Hendra pasti akan segera sadar. Kita akan merawat dan menjaganya bersama."


Nyonya Rahma memegang salah satu telapak tangan Nara. Membawanya untuk memegang pipinya. Terasa hangat.


"Nara." panggil Nyonya Ane pelan.


Nara sepertinya mengerti. Dia melepaskan tangannya dari genggaman Nyonya Rahma. "Sebentar tante." Nara mencium kepala Nyonya Rahma.


"Tante harus pergi. Kamu tenang saja, tante akan menambah penjaga di luar. Sehingga kejadian seperti tadi tidak terjadi lagi."


"Apa ada sesuatu yang terjadi tante?" tanya Nara. Dia dapat melihat raut wajah khawatir di wajah Nyonya Ane.


"Putri Tante mengalami kecelakaan."


Nara menutup mulutnya dengan telapak tangannya. "Kak Ella." ucap Nara lirih.


"Bukan. Putri angkat Tante. Bukan kak Ella." Nara bernafas lega mendengar penuturan dari Nyonya Ane.


"Tante pergi saja. Nara akan menjaga Tante Rahma dan Om Hendra. Tante tidak perlu khawatir." ucap Nara, berkata untuk membuat Nyonya Ane pergi dengan tenang.


Nyonya Ane mengeluarkan tiga kertas berukuran kecil. "Ini kartu nama tante, om Haris, dan juga kak Ella. Kamu bisa menghubungi kami kapanpun. Tapi untuk sementara, hanya tante yang bisa kamu hubungi. Kamu paham?" tanya Nyonya Ane.


Nara mengangguk. Tersenyum memandang ke arah Nyonya Ane. Tangan Nyonya Ane mengelus pelan pipi Nara. "Maaf." Nyonya Ane seperti berat meninggalkan mereka sebelum Viki datang.


Tapi dirinya juga tidak bisa tinggal lebih lama. Apalagi mendengar kabar jika Hana, putri angkatnya mengalami kecelakaan.


Nara memegang tangan Nyonya Ane. "Tante tidak perlu khawatir. Kami akan baik-baik saja." ucap Nara.


Dalam perjalanan, Nyonya Ane tetap merasa tidak tenang. Akhirnya beliau menghubungi Viki. Dan memberitahu jika dirinya harus pergi meninggalkan Nara.


Karena Hana juga sedang mengalami kecelakaan. Dan Nyonya Ane harus melihat keadaannya. "Kenapa hari ini banyak sekali kejadian. Segera pulang sayang." gumam Nyonya Ane, berharap sang putri segera kembali ke dalam pelukannya.


"Bang Viki." ucap Nara, melihat kedatangan Viki tak lama setelah kepergian Nyonya Ane.


Viki tersenyum. Memeluk Nara dan mencium keningnya. Setelahnya, duduk di samping sang mama. Memegang kedua telapak tangan sang mama. "Papamu." ucap Nyonya Rahma lirih, air matanya kembali meluncur bebas ke bawah.


Viki menghapus air mata di kedua pipi mamanya. "Papa orang yang kuat. Dia akan kembali ke tengah-tengah kita." Viki mencium telapak tangan sang mama.


"Lagi pula, sebentar lagi Viki dan Nara akan menikah." Nyonya Rahma memandang Viki dan Nara bergantian.


Dengan Nyonya Rahma masih dalam posisi duduk, ketiganya saling berpelukan. Saling menguatkan.

__ADS_1


"Ini." Viki meyerahkan kardus pada Nara saat mereka berdua duduk di kursi. Sementara Nyonya Rahma berbaring tidur di ranjang yang memang di sediakan untuk menunggu pasien.


"Apa ini bang?" tanya Nara.


__ADS_2