
"Kalian sudah siap?" tanya Nyonya Rahma pada Nara dan Viki.
Nara mengangguk sambil tersenyum sempurna. Kali ini, Nara memakai gaun berwarna putih yang mereka pilih saat mereka berada di butik.
Gaun tertutup. Namun malah membuat Nara semakin terlihat anggun, dan juga cantik. Apalagi, melingkar kalung kecil dengan liontin sederhana melingkar di leher Nara.
Kalung tersebut memang tampak sederhana, namun siapa yang akan menyangka. Jika harganya sangat tinggi. Ya, kalung tersebut memang sengaja Viki pesan dari sebuah toko perhiasan yang sudah terkenal akan koleksi indah dengan harga fantatis.
Tak lupa, sebagai pemanis, di pucuk kepala Nara terdapat sebuah mahkota kecil. Menambah kesempurnaan bagi penampilan Nara.
Sementara Viki masih berada di depan cermin, merapikan kembali penampilannya. Tentu saja, Viki tampil dengan sangat memukau.
Memakai setelan jas putih, dengan bawahan senada. Menjadikan Viki seperti pangeran dalam dongeng-dongeng yang menaiki kuda putih sebagai kendaraannya.
"Viki,, nanti jangan lupa senyum." tegur Nyonya Rahma, sebab ekspresi Viki tampak dingin.
"Hemmm." sahut Viki, dengan cuek. Tetap melihat tampilannya di depan cermin.
Nara tersenyum samar melihat tingkah Viki yang lucu karena merajuk, sangat menggemaskan di mata Nara.
Sebelumnya, saat keduanya hendak pergi mandi. Terjadi sedikit drama. Dimana Viki menginginkan mandi bersama dengan sang istri.
Namun Nara menolak dengan tegas. Nara tahu, jika dirinya pasti akan di makan habis oleh sang suami, jika mereka mandi bersama.
Alhasil, Viki mendiami Nara. Bahkan, sesudah mandipun, Viki tetap diam seribu kata. Saat datang perias, dimana mereka akan memberi sentuhan magic di wajah Nara, Viki pun masih terlihat cuek.
Dan itu terjadi sampai detik ini. "Ma, mama keluar saja dulu. Sebentar lagi Nara dan abang akan menyusul." pinta Nara.
Nyonya Rahma mengangguk kecil dan tersenyum. Seolah beliau mengerti, jika diantara Nara dan Viki pasti sedang berseteru kecil.
Dan sebagai orang yang pernah mengalami hal tersebut, Nyonya Rahma seakan mengetahui masalah di antara keduanya.
Bukannya pergi dengan tenang, Nyonya Rahma malah memanas-manasi Viki. "Sayang, jika Viki tidak mau tersenyum, nanti malam kami tidur saja sama mama." ucap Nyonya Rahma di ambang pintu dengan meninggikan nada suaranya.
Viki langsung menatap ke arah sang mama dengan tatapan horor. "Iiihh,,,, mama kok merinding ya..." sindir Nyonya Rahma segera menutup pintu dan pergi meninggalkan kamar Nara dan Viki.
"Bang,,, senyum dong." Nara bergelayut manja di lengan kekar milik Viki.
__ADS_1
"Memang abang nggak senang ya, menikah dengan Nara." ucap Nara dengan suara manja, sambil menggesekkan pelan pipinya di lengan Viki.
"Abang, Nara janji deh. Nanti malam Nara milik abang. Sepenuhnya." bisik Nara dengan nada sensual.
Sontak, Viki langsung menengok ke arah sang istri. "Suamiku tampan banget sih. Nggak sabar, pengen makan." ucap Nara dengan mengerlingkan sebelah matanya, menggoda Viki.
Viki tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Kamu belajar sama siapa? Centil banget." Viki dengan gemas mencubit dagu Nara.
"Tapi abang sukakan?" tanya Nara, menatap Viki penuh cinta.
"Sangat. Tapi ingat, jaga sikap jika dengan lelaki lain, selain abang." ingat Viki.
"Papa Hendra." kata Nara.
"Siapapun dia. Termasuk papa. Tapi ada satu pengecualian." ujar Viki.
"Siapa?" tanya Nara penasaran.
"Bima." jawab Viki dengan enteng. Membuat Nara memukul lengan Viki pelan.
Sementara di luar, tepatnya di tempat acara. Para tamu undangan sudah mulai berdatangan. "Ma, mana Nara dan Viki?" tanya Tuan Hendra setengah berbisik.
"Jeng, pengantinnya mana, kok belum keluar. Jangan-jangan mereka....?" ucap Nyonya Binta menahan perkataannya.
"Itu mereka." tunjuk Nyonya Rahma ke arah lain. Seketika Tuan Hendra, Nyonya Binta, dan Tuan Smith memandang kemana Nyonya Rahma memandang.
"Cantik sekali putriku." ucap Tuan Smith, dengan ekspresi bangga.
Pesta di rayakan dengan meriah dan megah. Nara dan Viki berada di atas, di dampingi oleh Nyonya Rahma dan Tuan Hendra di sebelah Viki.
Sedangkan di sebelah Nara, berdiri Nyonya Binta dan Tuan Smith. Tentu saja, keberadaan Tuan Smith dan Nyonya Binta di samping Nara akan menambah banyaknya tanda tanya di kalangan masyarakat umum.
Meski hubungan Nara dengan Tuan Smith dan Nyonya Binta belum sepenuhnya baik, namun Nara secara perlahan sudah mau menerima kehadiran mereka berdua.
Contohnya saja seperti sekarang. Saat Tuan Smith meminta dirinya bersama sang istri untuk ikut berdiri di samping Nara, Nara juga mengizinkannya.
Hal sekecil itu, sudah membuat Tuan Smith dan Nyonya Binta nampak begitu bahagia.
__ADS_1
Para tamu undangan bergantian mengucapkan selamat kepada kedua pengantin. "Bang, lihat. Seperti ular." bisik Nara, mampu membuat Viki tersenyum mendengar perkataan yang keluar dari mulut sang istri.
Memang, Viki dan keluarganya menyebar undangan dengan jumlah banyak. Termasuk Tuan Smith. Beliau meminta izin untuk mengundang kolega bisnisnya. Juga Nyonya Binta, yang tak mau kalah dengan Nyonya Rahma.
Nara dan Viki juga mengizinkan untuk Tuan Smith dan Nyonya Binta berpartisipasi dalam menyebarkan undangan.
Pasalnya, di dalam undangan tersebut nama Tuan Smith dan Nyonya Binta juga tersemat sebagai kedua orang tua Nara.
Di tempat lain, Melva sadar dari tidur panjangnya. Secara perlahan dia membuka matanya. Membuat Nyonya Ernanda segera memanggil dokter.
Namun sayang, keadaan Melva tidak begitu baik. Karena kecelakaan tersebut. Melva mengalami cacar permanen. Dimana, tulang di kedua kakinya patah. Hingga membuat Melva tidak akan bisa berjalan lagi. Tanpa menggunakan alat ganti kaki.
Salah satu lengannya juga mengalami cidera yang parah. Dokter mengatakan, jika kemungkinan tangan Melva akan sembuh. Namun membutuhkan waktu yang cukup lama.
Dan yang lebih parah, adalah kepala Melva. Karena kecelakaan tersebut membuat kepala Melva terbentur bagian stir mobil dengan sangat kuat. Sebab Melva tidak memakai sabuk pengaman.
Sehingga dokter mengatakan jika sebagian saraf di otak Melva mengalami gangguan. Membuat Melva terkadang bisa berpikir seperti orang normal pada umumnya.
Namun, ada kalanya Melva menjadi seperti orang yang nampak mati. Hanya diam dan mengedipkan matanya, tanpa berpikir apapun.
Sungguh ironis nasib Melva.
Tapi Melva tetap beruntung. Meskipun Nyonya Ernanda bukanlah ibu kandungnya. Beliau masih sudi dan mau merawat Melva.
Bahkan, Nyonya Ernanda akan membawa Melva ke negara dengan kecanggihannya alatnya dalam mengobati pasien. Nyonya Ernanda berharap jika Melva akan menjadi lebih baik dari sekarang.
Di negara lain, Giska sedang mengamuk. Menyaksikan siaran di layar televisi. Bagaimana meriahnya pesta pernikahan Viki dan Nara.
"Ini tidak adil. Ini semua tidak adil. Kenapa malah perempuan seperti Nara yang bersanding dengan Viki. Aaaa...!!!" teriaknya meluapkan amarah di dalam dirinya.
"Tunggu sebentar lagi, lihat saja. Sebentar lagi, aku akan datang. Akan aku ambil kembali sesuatu yang seharusnya menjadi milikku." seru Giska menatap layar televisi.
Prannnggggg... tangan Giska menyambar gelas di sisinya, dan melemparkannya ke layar televisi. Membuat layar televisi tersebut seketika pecah.
Renggo, di perusahaannya. Dia mendapat laporan dari bawahannya. Jika Giska sedang mengamuk. Segera Renggo menyalakan ponselnya. Melihat sang istri dari pantauan CCTV.
Renggo memang menaruh CCTV di dalam kamarnya. Dan hanya dia sendiri yang bisa melihatnya.
__ADS_1
Renggo hanya diam, menyaksikan Giska mengamuk. Membuat kamarnya menjadi seperti penampungan rongsokan.
Renggo tersenyum miring. "Tidak akan aku biarkan kamu menggangu adikku." ucap Renggo dalam hati.