
"Baru pulang?" tanya Nyonya Vanya pada putri tirinya. "Ada apa?" tanyanya lagi, melihat Melva dengan wajah sedihnya.
"Mama,,,," Melva memeluk sang mama tiri dengan penuh kasih sayang.
Setelah meninggalnya sang mama kandung. Selang waktu dua tahun, papa Melva menikah kembali dengan Vanya.
Kehadiran Vanya mengobati rasa rindu Melva pada almarhum sang mama. Terlebih, Vanya memperlakukannya dengan dangat baik dan penuh kasih sayang.
Membuat Melva tidak pernah kekurangan kasih sayang dari seorang ibu. Tidak ada yang mengira dan menyangka, jika keduanya adalah ibu dan anak tiri. Karena kedekatan mereka. "Ada apa, hemmm..." tanya Nyonya Vanya dengan lembut, mengelus rambut Melva dengan penuh kasih sayang.
Nyonya Vanya mengajak Melva untuk duduk. "Katakan." ucap Nyonya Vanya, mengusap lembut pipi sang anak.
"Melva bingung, Melva sedih." ucap Melva dengan manja.
"Apa ada artis yang mengganggu kamu?"
Melva menggeleng. "Viki." ucap Melva lirih.
"Viki. Bukankah dia pemilik perusahaan di mana kamu bernaung. Ada apa dengan dia?" tanya Nyonya Vanya.
Melva memandang lurus ke depan. "Terkadang dia baik. Terkadang dia cuek. Melva tidak tahu, apa dan bagaimana sifat dan sikap Viki. Melva bingung." ucap Melva terjeda sebentar.
"Tadi, saat di mall. Dia baik dan memperlakukan Melva dengan lembut. Tapi saat di jalan, tiba-tiba dia memberhentikan mobilnya. Menyuruh Melva keluar dari mobil. Padahal saat itu jalanan sedang sepi." tutur Melva sendu.
"Apa saat di pusat perbelanjaan ada wartawan atau sejenisnya?" tanya sang mama.
Melva mengangguk. "Iya, kami di kelilingi wartawan." ungkap Melva.
__ADS_1
Nyonya Vanya mengangguk pelan. "Apa Viki punya alasan, menyuruh kamu keluar dari mobilnya?" tanya sang mama lagi.
Melva kembali mengangguk pelan. "Dia bilang ada pekerjaan penting." ungkap Melva.
"Sudah, jangan terlalu kamu pikirkan. Boleh mama berbicara jujur?" tanya Nyonya Vanya.
Melva hanya memandang ke arah sang mama. "Pertama, Viki mungkin bersikap baik pada kamu. Lantaran ada banyak wartawan. Dia tahu, jika kamu adalah seorang aktris. Terlebih, kamu adalah artis miliknya. Dia pasti ingin menjaga kamu."
"Yang kedua, bisa jadi karena Viki memang ada pekerjaan penting. Jadi dia terpaksa menurunkan kamu di tengah jalan."
"Apa artinya itu ma?" tanya Melva. Meskipun Melva di kenal sebagai artis papan atas, namun dia bukan artis dengan banyak skandal.
Dia menjadi terkenal karena prestasinya. Dan yang membuat dia di sukai banyak orang, dia terlihat lugu dan baik hati. Juga ramah.
"Kamu sudah dewasa. Pasti kamu juga tahu, tanpa mama menjelaskan." tutur Nyonya Vanya.
Nyonya Vanya sangat tahu bagaimana sifat dari putrinya tersebut. Meski di larang, Melva akan tetap melakukannya. Jika dia menginginkannya.
Nyonya Vanya tersenyum simpul. "Lakukan. Asal jangan membahayakan diri. Dan ingat, jaga nama baik papa."
"Oke. Baik mama." Melva mengangkat kedua jempol tangannya. Mencium singkat pipi sang mama mama dan melenggang pergi.
Nyonya Vanya menatap punggung Melva yang semakin menjauh. "Kayla." gumam Nyonya Vanya, teringat putri kandungnya.
"Bagaimana kabarnya sekarang. Seperti apa wajahnya." tanyanya dalam hati, mengingat sang putri yang telah dia buang.
Malam hari di rumah Tuan Hendra. Viki berada di dalam kamar rawat sang papa. Bersama dengan Rini di samping ranjang Tuan Hendra.
__ADS_1
Viki hanya diam dan tersenyum melihat bagaimana Rini sedari tadi berbicara, seolah dia sedang berbicara dengan sang papa.
"Pa, cepat buka kedua mata papa. Lihatlah, banyak yang menyayangi papa. Kami semua menunggu papa untuk membuka mata papa." ucap Viki dalam hati.
Dirasa sudah malam, Viki dan Rini keluar meninggalkan ruang rawat Tuan Hendra. Tanpa keduanya sadari, jari tangan Tuan Hendra sedikit bergerak dengan pelan. Walau hanya sesaat.
"Terimakasih abang." ucap Rini, karena tadi Nata memberikan sebuah paper bag berisi pakaian pada Rini. Dan sang kakak mengatakan jika itu adalah pemberian dari Viki.
"Sama-sama." Viki mengacak pelan rambut Rini. Segera Rini berlari kecil masuk ke dalam kamar. Sementara Viki, berjalan-jalan ke belakang rumah.
"Kenapa masih di luar?" tanya Viki, memeluk Nara dari belakang.
Nara memegang lengan Viki yang melingkar di perutnya. "Apa abang sudah bertemu, bertatap muka dengan mereka?" tanya Nara, tetap memandang ke depan.
Nara menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Viki. "Belum. Tapi akan segera abang lakukan." jawab Viki.
"Bang...." ucap Nara tertahan, seolah lidahnya kelu untuk sekedar mengeluarkan suara. Dan Viki menyadarinya.
Viki semakin mengeratkan pelukannya. "Jangan pikirkan apapun. Tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Ada abang. Semua akan abang bereskan. Kamu akan selalu menjadi prioritas abang."
Nara tersenyum. "Terimakasih abang." ucap Nara lirih dengan sepenuh hati.
"Tidak perlu. Untuk kamu, abang akan melakukan yang terbaik. Ingat, tugas kamu menjaga mama dan papa di rumah. Selama abang tidak ada di rumah." ucap Viki.
"Abang tenang saja. Nyawa Nara taruhannya. Mama dan papa abang, juga mama dan papa Nara." jelas Nara merasa damai di hati.
Tanpa Nara sadari, Nyonya Rahma berada di belakang mereka. Mendengar semua pembicaraan keduanya.
__ADS_1
Tapi tidak dengan Viki. Dia menyadari sejak tadi, jika sang mama berada di belakang mereka. Menguping pembicaraan keduanya.