VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 122


__ADS_3

"Bagaimana hubunganmu dengan Viki?" tanya Tuan Diego pada sang putri.


"Baik." jawab Melva singkat.


Melva menunduk saat sang papa memandangnya dengan lekat. "Kenapa kamu begitu bodoh. Membuat satu lelaki berlutut di bawah kakimu saja tidak mampu." sarkas Tuan Diego dengan geram.


Tak ada suara yang keluar dari mulut Melva. Berbohong. Tentu saja Melva melakukannya. Namun sayangnya, sang putri mungkin lupa. Siapa sang papa.


"Apa kamu bisu..!!" bentak Tuan Diego.


Melva menghela nafas kasar. Dia sudah menduga, jika sang papa akan segera mengetahuinya. "Viki sudah memiliki perempuan di hatinya." lirih Melva mengalihkan pandangan ke arah lain.


Tuan Diego mendekat ke arah sang putri. Memegang dagu Melva dan membawa pandangannya untuk bersitatap dengannya. "Dan kamu membiarkannya. Kamu menyerah dengan mudah." tekan Tuan Diego.


"Tidak. Melva akan merebut Viki dari Nara." ucap Melva dengan tatapan pasti menatap sang papa.


Tuan Diego tersenyum. Melepaskan tangannya di dagu sang putri. Menepuk pelan pundak Melva. "Ini baru putri papa." ucap Tuan Diego dengan bangga.


"Kamu harus bisa membuat Viki berada di dalam


genggaman kamu. Dengan begitu, posisi keluarga kita di putaran bisnis akan semakin kuat." tutur Tuan Diego.


"Iya pa, lagi pula mana mungkin Melva akan mengaku kalah dan mundur. Perempuan itu sama sekali bukan level kita. Dia hanya perempuan rendahan." hina Melva pada sosok Nara.


"Jika begitu, buktikan semua ucapanmu." ucap Tuan Diego.


Melva dan sang papa saling memandang. Keduanya seolah akan melakukan semuanya, segala cara. Demi mendapatkan hasil, yakni Viki berada di genggaman tangan mereka.


Di belakang tembok, Nyonya Vanya sedang ketar ketir. Dirinya sekarang merasa cemas setelah mendengar percakapan sang suami dengan anak tirinya.


Nyonya Vanya bukan mencemaskan Nara. Akan tetapi, Nyonya Vanya mencemaskan dirinya sendiri. Tentunya dia tidak ingin jika sampai keduanya tahu, jika Nara adalah putrinya.


Apalagi Nyonya Vanya terlanjur memberikan perusahaan yang di wariskan dari keluarganya untuk dikelola sang suami.


Dan bodohnya Nyonya Vanya, perusahaan tersebut sudah berpindah tangan atas nama Tuan Diego dengan Nyonya Vanya menyerahkan secara sadar.


"Apa yang harus aku lakukan." ucap Nyonya Vanya dalam hati.

__ADS_1


Ketakutan terbesar Nyonya Vanya jika semua terbongkar adalah kehidupannya. Dirinya takut jika kemungkinan, sang suami akan menceraikannya dan mengusirnya dari rumah.


"Aku tidak mau menjadi gembel. Aku tidak mau hidup menderita tanpa uang." segera Nyonya Vanya bergegas meninggalkan tempatnya.


"Apa aku harus berkata terus terang pada papa. Tapi, apa dia akan tetap mempertahankan aku di sisinya. Jika mengetahui Nara adalah putri kandungku." resah Nyonya Vanya dalam hati.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat Nara bersama ketiga pembantu sedang berbicara sesuatu di dapur, Giska tiba-tiba muncul mengagetkan mereka.


"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Giska penasaran.


Nara tersenyum ramah. "Tidak ada yang penting Nona, kami hanya menunggu suster Puspa datang." jelas Nara.


"Jangan panggil aku Nona, panggil saja kakak. Bukankah kamu juga memanggil Viki dengan panggilan abang." pinta Giska dengan senyum di bibirnya.


"Oke baiklah. Kakak." ujar Nara membenahi panggilannya pada Giska.


"Jadi perawat Om Hendra bernama Puspa?" tanya Giska memastikan.


"Ah,,, sudahlah. Kenapa aku malah membicarakan sus Puspa." ucap Nara kemudian.


"Maaf kaka, aku harus pergi dulu. Sebentar lagi guru Nara akan datang." ucap Nara tersenyum simpul.


Ketiga pembantu tersebut meninggalkan Giska yang masih berdiri mematung dengan pikiran entah kemana. "Masuk..." lirih Mbak Mira tersenyum.


Seperti yang di rencanakan Nara. Begitu Puspa melangkahkan kakinya di dalam rumah, mbak Mira dan mbak Siti langsung membicarakan tentang Giska yang tinggal di rumah ini.


Dan tentunya dengan banyak bumbu-bumbu yang akan membuat Puspa semakin penasaran. "Khemm..." dehem Puspa.


"Suster, Tuan Hendra sudah ada di ruang terapi." tutur Mbak Siti.


"Iya, tapi sepertinya Giska ada di sana." timpal Mbak Mira.


Puspa menghiraukan perkataan keduanya dan langsung melangkahkan kaki ke ruang terapi Tuan Hendra.


Seperti apa yang dikatakan Mbak Mira dan Mbak Siti, ternyata Giska berada di ruang terapi Tuan Hendra.

__ADS_1


"Dia yang namanya Giska." ujar Puspa menatap Giska dengan tatapan menilai.


"Maaf, permisi." ucap Puspa masuk ke dalam ruangan. Giska dan Puspa saling menatap, namun Giska langsung mengalihkan pandangannya.


Dan Nara tersenyum senang sembari mengerjakan tugas dari sang guru. "Kalian yang bertengkar, berdebat, bersaing. Namun tetap akulah pemenangnya." ucap Nara dengan sombong dalam hati.


Di kediaman Tuan Smith, Nyonya Binta dan sang suami sedang membahas perihal Kayla, atau Nara. "Apa ada kabar dari Tuan Hendra pa?" tanya Nyonya Binta.


Tuan Smith menggeleng pelan. "Papa harus segera bertemu dan berbicara dengan Kayla. Viki. Hanya dia yang bisa membantu kita pa." saran Nyonya Binta.


"Iya, papa tahu. Tapi apa mama lupa bagaimana sikap Viki." ujar Tuan Smith.


"Setidaknya kita bisa mencobanya. Mama akan menemani papa." kekeh Nyonya Binta.


Entah kenapa, setelah melihat dengan mata kepala sendiri. Bagaimana sosok Kayla, membuat Nyonya Binta langsung menyukainya.


"Baiklah, nanti siang mama datang ke perusahaan. Kita akan mendatangi Viki bersama. Semoga dia dapat membantu kita." ucap Tuan Smith berharap.


"Semoga." lirih Nyonya Binta.


"Ada apa pa?" tanya Nyonya Binta, lantaran sang suami memandangnya dengan intens.


"Terimakasih." ucap Tuan Smith.


"Hemmm... maksudnya?" tanya Nyonya Binta bingung, secara tiba-tiba sang suami mengucapkan kata tersebut.


"Awalnya papa takut. Papa takut jika mama akan marah pada papa." jelas Tuan Smith.


"Soal Kayla?" tanya Nyonya Vanya memastikan.


Tuan Smith mengangguk pelan. "Ceritanya berbeda pa. Mungkin, jika saat ini Kayla hidup bahagia dengan mantan istri kamu. Aku akan marah, dan tentunya tetap pada perjanjian awal kita." papar Nyonya Binta.


"Namun ternyata semuanya berbeda. Kayla hidup menderita. Dan aku, merasa ikut andil dalam penderitaan Kayla." lirih Nyonya Binta.


Nyonya Binta menghela nafas panjang. "Jika dulu aku tetap mengizinkan papa menemui Kayla, mungkin anak itu tidak akan menderita. Dan pasti sekarang kita berempat hidup bahagia." ucap Nyonya Binta.


"Sudah ma, jangan menyalahkan diri sendiri. Bukan saatnya kita saling mencari siapa yang bersalah. Sekarang, lebih baik kita memikirkan cara. Bagaimana kita bisa membuat Kayla mau berbicara dan mendengarkan kita." tutur Tuan Diego.

__ADS_1


__ADS_2