
"Besok mama kan menemui Ella." ucap Nyonya Rahma.
"Bicara baik-baik. Jaga lisan mama." ucap Tuan Hendra mengingatkan sang istri.
"Iya." ucap Nyonya Rahma dengan patuh.
Malam ini, Viki enggan pulang ke apartemen. Tapi dirinya juga malas untuk pulang ke rumah. Alhasil, disinilah Viki berada. Di apartemen asistennya. Rey.
"Ckk." Beberapa kali Rey mendecakkan lidahnya karena sebal dan kesal.
Bagaimana tidak, dengan kehadiran Viki. Rey akhirnya tidur di depan televisi. Menggelar karpet bulu untuk alas tidurnya.
Sementara Viki, tertidur lelap di dalam kamar Rey. Apartemen milik Rey hanya kecil. Hanya mempunyai satu kamar. Tidak seperti apartemen milik Viki yang besar, dengan jumlah kamar banyak.
Padahal Viki menggaji Rey cukup banyak. Tapi entahlah, Viki juga tidak terlalu mengurusi kehidupan pribadi sang asisten. Yang terpenting bagi Viki, Rey bekerja baik dengannya.
Sesekali Rey membolak-balikkan badan. Merasa tidak nyaman tidur seperti ini. Tapi tidak mungkin, dirinya menyuruh Viki yang tidur di sini. Sementara dirinya tidur di dalam kamar.
"Lagi pula kenapa dengan apartemennya si Boss." gumam Rey, karena apartemen tersebut baru di beli. Dan belum genap satu bulan.
Pagi pun tiba, Viki berangkat dengan Rey menuju kantor. Untuk urusan pakaian, Viki memang sudah menyiapkan beberapa pakaian beserta perlengkapannya di dalam mobil.
Jika saja ada suatu hal yang membuatnya harus mengganti pakaian segera. Seperti sekarang, Viki dengan mudah bisa tidur di rumah Rey tanpa perlu memusingkan masalah pakaian.
Bukankah ada Rey. Kenapa Viki tidak menggunakan tenaganya. Bercanda Rey...
Sementara Viki tengah di sibukkan dengan berkas-berkas yang ada di atas meja kerjanya. Nara tengah membersihkan rumah Viki, sebelum nanti sore dirinya dan kedua adiknya akan kembali ke rumahnya.
"Kak, kita jadi pulang?" tanya Rini terlihat sedikit tidak rela meninggalkan apartemen Viki. Mungkin karena Rini mulai nyaman dengan semua pemberian Viki.
__ADS_1
Dan bukan itu saja, Rini senang tinggal di apartemen Viki karena bisa bersama kakaknya setiap waktu. Rini merasa senang diperhatikan oleh Nara.
Berbeda jika mereka tinggal di rumah sewa. Rini dan Nara hanya akan bertemu pagi. Itupun hanya sebentar. Keduanya akan bertemu jika matahari mulai menyembunyikan sinarnya.
Tapi Rini tidak bisa berinteraksi banyak dengan Nara. Sebab dirinya sudah lelah dan mengantuk. Karena seharian menjaga Bima.
"Kenapa Rini bertanya lagi? Apa Rini tetap ingin tinggal di sini? Bersama Bang Viki. Dan kakak akan tinggal berdua dengan Bima." tegas Nara.
Nara harus mengambil bersikap tegas kali ini. Dirinya tidak ingin jika Rini terlalu nyaman dengan semua yang di berikan Viki.
"Maaf kak, Rini akan ikut kemanapun kakak pergi." ucap Rini tersenyum tulus. Membuat Nara merasakan lega di hatinya.
"Terimakasih sayang. Kamu jaga Bima. Kakak akan bersiap. Kita pergi setelah bang Viki datang." jelas Nara.
"Mainannya?" tanya Rini.
"Kita hanya membawa sebagian. Rini sendiri tahukan, bagaimana keadaan rumah kita. Tidak mungkin kita membawa semuanya."
Di kediaman Tuan Hendra, Nyonya Rahma sedang berkirim pesan dengan Ella. Seperti yang disarankan oleh suaminya, Nyonya Rahma akan berbicara dengan Ella. Tentunya mengenai putranya, Viki.
BAIK TANTE, KITA AKAN BERTEMU JAM TIGA SORE.
Nyonya Rahma tersenyum, saat melihat Ella membalas pesannya. Dan mau bertemu dengannya.
"Benar kata suamiku. Selama ini Ella sudah bersikap baik dan sopan pada kami. Tidak sepantasnya aku bersikap tidak baik padanya." ucap Nyonya Rahma melihat layar ponselnya. Dan segera membalas pesan dari Ella.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tanpa memberitahu Viki sebelumnya, Giska dengan berani mengunjugi perusahaan Viki. Bahkan dia menyebut jika dirinya adalah kekasih dari Viki pada resepsionis.
__ADS_1
Dengan penampilan Giska, pasti resepsionis mempercayai perkataan Giska. Apalagi sebelum ini, tidak ada perempuan yang datang menemui atasan mereka. Kecuali Ella.
"Maaf, Tuan sedang ada tamu penting." ucap Rey, menghalangi langkah Giska saat dia hendak menemui Viki.
Giska melihat Rey dari ujung rambut hingga kaki. "Mungkin dia orang kepercayaan Viki. Baiklah, aku akan menjadi ibu peri berhati malaikat." batinnya tersenyum manis.
"Baiklah, saya akan menunggu di sini dulu. Apakah boleh?" tanya Giska dengan lembut.
"Silahkan. Apa Nona perlu minum, untuk menunggu Tuan?" tanya Rey.
"Tidak. Terimakasih." tolak Giska dengan sopan.
"Jika begitu, saya permisi dulu." pamit Rey.
"Lihat saja jika gue sudah jadi kekasih Viki. Elo nggak akan bisa menghentikan langkah gue." batin Giska melihat punggung Rey yang menjauh darinya.
Sudah lima belas menit Giska menunggu Viki. Membuat Giska benar-benar harus menjaga emosinya agar tidak meletup.
"Sampai kapan gue harus berada di sini." desisnya, sudah mulai tidak sabar.
Viki tengah asik berbincang dengan Denis di dalam. Sahabatnya yang mengetahui penyakit Viki selain Ella. "Elo gila, perempuan cantik elo suruh nunggu di depan." celetuk Denis.
Viki di telpon oleh Rey, memberitahu jika Giska sedang menunggunya di depan. Mengetahui sang Boss tidak menyukai perempuan tersebut, membuat Rey memberitahu atasannya tersebut.
Dari pada dia salah mengambil keputusan. Membiarkan Giska masuk, dan mendapat masalah atas kemarahan Viki.
Padahal Denis sudah ingin meninggalkan perusahaan Viki. Namun Viki menghentikannya. Menceritakan jika ada Giska di luar.
Perempuan yang sedang di jodohkan dengan Viki oleh sang mama. "Jika elo mau, elo bisa ambil." ucap Viki dengan enteng.
__ADS_1
"Ogah, gue sudah punya Hana. Di memang tidak kaya, tapi gue mencintainya." ucap Denis dengan bangga menyebut nama kekasihnya tersebut.
Viki mendengus sebal mendengar penuturan sahabatnya. "Seandainya gue seperti elo. Pasti sekarang gue juga sudah mempunyai kekasih." batin Viki tersenyum kecut.