VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
Part 03. ReSa


__ADS_3

"Kamu yakin, dengan keputusan yang kamu ambil?" tanya Tuan Smith dengan menatap intens ke arah Sara.


Setelah daei perusahaan, Renggo segera mengajak Sara untuk menemui kedua orang tuanya. Keduanya sepakat untuk segera memberitahu tentang keputusan yang diambil oleh Sara.


Terkait setujunya Sara dengan syarat yang di ajukan oleh kedua orang tua Renggo. Jika memang dirinya dan Renggo benar-benar ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih serius.


Yakni menuju kata halal. Yang artinya Sara akan meninggalkan dunia yang telah membesarkan namanya. Dan dunia di mana dirinya mencari nafkah untuk bertahan hidup setelah ditinggal pergi kedua orang tuanya untuk selama-lamanya.


Sara menarik nafas perlahan. "Iya om, saya yakin." ucap Sara dengan tatapan kesungguhan.


Tuan Smith mengangguk perlahan. "Apa kamu yakin, bisa menerima Renggo dengan segala kekurangannya. Dan pastinya kamu mengerti maksud saya."


Tuan Smith yakin, jika Sara telah mengetahui siapa Al. Dan bagaimana hubungan antara Renggo dan Giska dahulu.


Sementara Nyonya Binta hanya duduk diam di samping sang suami. Biarlah sang suami yang bertanya pada Sara. Toh sama saja.


Padahal, Nyonya Binta sangat bahagia saat mendengar berita tersebut. Namun sebisa mungkin Nyonya Binta meredam rasa senang yang saat ini menguasai relung hatinya.


Sara mengangguk. "Saya akan terima, segala kekurangan Renggo." Sara menoleh, menatap Renggo di sampingnya.


"Apa kamu...." ucap Tuan Smith, tapi terpotong oleh perkataan Renggo.


"Pa,,, papa ini mau interview cari pegawai. Sara calon istri Renggo." potong Renggo, merasa kesal dengan apa yang ditanyakan sang papa.


Sontak Sara dan Nyonya Binta tersenyum. "Kamu ini. Main potong perkataan papa saja." tegur Tuan Smith.


"Sudah pa, sebentar lagi waktunya makan malam." Nyonya Binta menengahi kedua lelaki yang sangat dia sayangi. "Sara, kamu makan dulu bersama kami ya, sebelum pulang." pinta Nyonya Binta.


"Iya tante." sahut Sara.


Berbeda. Itulah yang Sara tangkap. Saat ini, Nyonya Binta memperlakukannya lebih hangat dari biasanya. Memang, biasanya Nyonya Binta selalu menerima kehadiran Sara di rumahnya.


Namun beliau seperti menjaga jarak. Dan malam ini, Sara dapat merasakan jika Nyonya Binta menghilangkan jarak tersebut.


"Oh,,, iya Sara, jika kalian memang sudah sepakat untuk menikah. Kami juga tidak akan membuang-buang waktu." ucap Tuan Smith menjeda kalimatnya.


"Kami akan segera menemui wali kamu. Bagaimana?" tanya Tuan Smith.


Kedua orang tua Renggo juga sudah mengetahui jika kedua orang tua Sara telah tiada sejak lama. Dan mereka berpikir, jika kemungkinan Sara masih memiliki saudara yang bisa menjadi wali nikahnya kelak.


Sara tersenyum. "Ada om, tapi beliau tidak tinggal di negara ini. Beliau tinggal di luar negeri."


Tuan Smith mengangguk pelan. "Tidak masalah. Kamu beritahu alamatnya pada Renggo. Segera om dan tante akan ke sana." tukas Tuan Smith.


Sara terdiam tidak percaya. Secepat itu dan semudah itu. Hati Sara merasa tersentuh, kedua orang tua Renggo bahkan bersedia untuk menemui saudara Sara yang akan menjadi wali nikahnya.


Dan itu bukan di luar kota. Melainkan di luar negeri. "Baik om. Nanti Sara akan menghubungi mereka. Jika sewaktu-waktu, oma dan tante akan datang."


"Kamu tenang saja, om dan tante yang akan ke sana. Namun, tante titip Al. Selama kami di sana." pinta Nyonya Binta.


"Dengan senang hati tante. Oh iya, tante. Baby Al kemana tante?" tanya Sara, yang memang sejak dirinya datang sama sekali belum melihat baby Al.


"Ke rumah Nara. Tadi Nyonya Rahma ke sini. Ehh,,, malah dia pulang ngajak Al. Katanya mau di ajak ke rumah Nara." jelas Nyonya Binta.


"Menginap di sana?" tanya Sara.


"Enggak, nanti aku jemput." bukan Nyonya Binta yang menjawab, melainkan Renggo.


Sara melihat ke arah pergelangan tangannya. "Nanti, nanti jam berapa. Ini sudah malam." tanya Sara, dengan nada tidak suka.


Tuan Smith dan Nyonya Binta hanya tersenyum samar. Melihat Renggo seperti sedang dimarahi calon istrinya.


"Sebentar lagi." sahut Renggo.

__ADS_1


"Baby Al masih kecil. Jangan dibiasakan keluar malam. Kasihan." tutur Sara.


Dari ucapan dan tatapan matanya, Sara memang benar-benar ikhlas dan peduli pada baby Al. "Nanti kalau kemalaman, biar baby Al tidur di sana." ucap Nyonya Binta.


"Janganlah ma, kasihan Nara." tukas Renggo.


"Nggak apa-apa. Baby Al pergi bersama pengasuh. Lagi pula, adik kamu pasti juga tidak akan memperbolehkan baby Al pulang, jika sudah larut." jelas Tuan Smith.


Renggo menatap kesal sang mama. "Lagian mama, kenapa ngebiarin baby Al pergi tanpa mama." ucap Renggo lirih.


"Tadi mama mau ikut. Tapi kamu telepon. Katanya mau kemari sama Sara. Ada yang mau kamu bicarakan. Penting. Jadinya, mama nggak ikut deh." bela Nyonya Binta pada diri sendiri.


"Yang bawa baby Al, Nyonya Rahma. Kamu tahu sendiri, Nyonya Rahma juga sangat menyayangi anak kamu." lanjut Renggo.


"Sudah nggak apa-apa. Yang terpenting kita tahu. Dengan siapa baby Al. Tidak perlu khawatir." Sara mencoba menenangkan Renggo.


Padahal, perdebatan kecil ini terjadi juga karena Sara. "Astaga..." Nyonya Binta melihat video yang dikirim oleh Nyonya Rahma pada dirinya.


"Ada apa ma?" tanya Tuan Smith.


Nyonya Binta menyerahkan ponselnya kepada sang suami. Tawa Tuan Smith pecah melihat apa yang ada di dalam video tersebut. "Lihat kelakuan anak kamu."


Tuan Smith menyerahkan ponselnya pada Renggo. Bersama Sara, Renggo melihat apa yang diperlihatkan dalam video tersebut.


Renggo dan Sara juga ikut tertawa. "Rame sekali di sana." cicit Sara.


Sebab di rumah Viki, semua sedang berkumpul. Dan kelihatannya mereka akan menginap di sana. "Baby Al merasa senang setiap di sana. Apalagi jika ada Bima dan Rini." jelas Nyonya Binta terkekeh pelan.


Keempatnya asyik mengomentari apa yang ada dalam video. Dan tiba-tiba ponsel Renggo berbunyi. Renggo menatap aneh ke arah ponselnya.


Dan segera mengangkatnya. "Halo, iya ma. Ada apa?" tanya Renggo dengan seseorang yang ada di seberang ponsel.


Dan sepertinya, Nyonya Binta dan Tuan Smith tahu siapa yang menghubungi sang putra. Sebab, ada satu lagi perempuan yang sampai detik ini masih Renggo panggil dengan sebutan mama dan papa


"Baik ma, terimakasih informasinya. Mama sama papa baik-baik di sana. Baby Al akan Renggo jaga dengan baik. Tidak perlu khawatir."


Renggo kemudian mematikan panggilan teleponnya, setelah selesai berbicara. "Kenapa. Apa Nyonya Gina sakit lagi?" tanya Nyonya Binta khawatir.


Sara hanya diam. Dirinya tahu, jika ini bukan ranahnya untuk berbicara. Meski dirinya calon istri Renggo. Namun Sara bisa menempatkan diri dnegan baik.


"Tidak ma, kesehatan mama Gina perlahan membaik."


"Lalu ada apa? Apa mereka akan kembali?" tanya Nyonya Binta semakin penasaran.


Renggo menggeleng. "Mama sudah tahu, jika mereka tidak akan kembali. Meski keadaan mama Gina membaik, tubuh mama Gina tidak akan kuat jika di ajak melalukan perjalanan jauh." papar Renggo.


"Jika sampai papa Marko memaksa untuk membawa mama Gina kembali, orang pertama yang akan marah besar adalah Viki. Dan mama tahu alasannya kenapa." lanjut Renggo.


Nyonya Binta mengangguk paham. "Ya, sebab lewat Viki, mereka bisa menemukan dokter hebat itu. Dan mama yakin, jika mereka nekat kembali, padahal kesehatan Nyonya Gina tidak memungkinkan untuk perjalanan jauh, Viki akan angkat tangan." jelas Nyonya Binta.


"Lalu, kenapa beliau menghubungi kamu. Tadi pagi saja mereka sudah melakukan panggilan video dengan baby Al." papar Nyonya Binta.


Renggo terdiam. Menunduk menatap kaki meja. Sejurus kemudian, dia memandangi orang di sekitarnya secara bergantian. "Giska meninggalkan mereka."


Nyonya Binta menggeleng heran. "Perempuan itu. Sungguh, anak tidak tahu balas budi." geramnya.


Sara menggeleng tidak percaya. Seorang anak yang dibesarkan dengan keringat dan kasih sayang. Dengan mudah meninggalkan kedua orang tuanya hanya untuk sebuah kebebasan.


"Perempuan macam apa dia itu." ucap Sara dalam hati.


"Pergi kemana dia?" tanya Tuan Smith, seolah beliau sudah tahu apa jawaban yang akan di berikan Renggo.


Renggo menatap sang papa dengan lamat-lamat. "Jangan bilang..." tebak Tuan Smith dengan kalimat menggantung.

__ADS_1


Nyonya Binta dan Sara sepertinya juga bisa menebak apa yang ada di benak Tuan Smith.


Renggo mengangguk. "Iya, dia ke sini."


Nyonya Binta menyenderkan badannya ke kursi dengan lemas. "Apa dia tidak takut dengan ancaman Viki yang dulu?!"


"Dia datang bukan untuk Viki. Tapi untuk hal lain. Karena itu, tidak ada ketakutan di hatinya." tebak Tuan Smith.


Perasaan Sara menjadi sedikit takut. "Apa dia kembali untuk mengambil Al." cicit Sara, dengan pandangan takut.


Nyonya Binta menatap Sara. "Jangan sampai." tuturnya.


"Renggo. Jangan biarkan Giska mengambil Al." pinta Sara.


Renggo tersenyum. Menggenggam telapak tangan Sara. "Tenang saja. Al adalah anakku. Sampai kapanpun, dia akan tetap putraku. ALDRIC SARRE AFRIZAL." tegas Renggo, menangkan Sara.


"Tenang saja, selamanya Al akan berada di samping kita." imbuh Tuan Smith.


"Lagi pula, tante juga tidak akan menyerahkan Al pada perempuan seperti Giska. Bagaimana perempuan iblis seperti dia akan mendidik seorang anak. Heh,,, tante tidak bisa membayangkan." ucap Nyonya Binta.


"Kita akan bersama-sama menjaga Al." Renggo mencium singkat kening Sara. Dan Sara mengangguk pelan.


Dapat Nyonya Binta dan Tuan Smith lihat. Jika Sara memang menyayangi Al dengan tulus. Membuat mereka merasa jika keputusan Renggo menikahi Sara adalah keputusan yang tepat.


Di belahan dunia lain, seorang lelaki memegang segelas air berwarna biru. Berdiri di dekat jendela. Memandang panasnya kota.


"Apa yang kamu temukan?" tanya Erlangga, menggoyangkan gelasnya dengan perlahan.


Seorang lelaki menaruh sebuah map di atas meja. "Semua ada di sini Tuan."


Erlangga membalikkan badan. Meneguk semua air berwarna biru tersebut hingga tandas. Melangkah mendekati meja.


Menggerakkan tangannya. "Terimakasih. Jika butuh bantuan, anda bisa menghubungi saya, Tuan." ucapnya, meninggalkan ruangan Erlangga.


Tangan Erlangga terulur mengambil map tersebut. Dimana di dalamnya terdapat beberapa kertas dan foro, terkait informasi mengenai sosok perempuan yang dia cari. "Giska." cicitnya.


Erlangga duduk di kursi single dan besar. Melihat setiap foto Giska yang seorang diri. Dan beberapa foto Giska bersama kelompok sosialitanya.


Lalu Erlangga meletakkan foto tersebut. Beralih ke lembaran kertas pertama. Di mana terdapat biodata Giska. Beserta kedua orang tuanya. "Tuan Marko dan Nyonya Gina."


Kening Erlangga mengerut. Dua nama yang cukup dikenal dalam duni bisnis di negara lain. Dan Erlangga tahu hal tersebut.


Sebab, selain menjalani hobinya sebagai artis dan model. Erlangga juga melanjutkan bisnis keluarga. Jadi tak aneh, jika Erlangga mengenal sosok Tuan Marko.


Erlangga membacanya dengan cermat. "Tapi, sepertinya beliau memilih istirahat dari dunia bisnis." papar Erlangga bermonolog.


Cukup dengan lembar pertama. Erlangga melanjutkan dengan lembar kertas kedua. Yang artinya kertas terakhir.


Kedua mata Erlangga membulat tak percaya. "Renggo Afrizal."


Bagaimana bisa. Kenapa Erlangga tidak mengetahui pernikahan putri Tuan Marko dengan lelaki yang saat ini akan menjadi calon suami dari sahabatnya.


"Bercerai satu tahun yang lalu. Dengan memiliki satu putra. Aldric Sarre Afrizal." gumam Erlangga.


Erlangga kembali mengernyitkan dahinya. "Dengan putra di bawa dan di asuh oleh pihak papa. Dengan kesepakatan bersama."


Erlangga terdiam sesaat. Mengingat beberapa bulan yang lalu, dirinya pernah melihat foto bayi lelaki di ponsel milik sahabatnya. Sara.


Erlangga terdiam. Mencoba mencerna apa yang mungkin dia yakini adalah suatu kebenaran. "Giska. Dan sekarang dia berada di negara yang sama dengan Sara." gumamnya.


Di dalam informasi yang ditemukan oleh orang suruhan Erlangga, tidak ada nama Viki di dalamnya. Padahal, semua orang tahu. Bagaiman seorang Giska sangat terobsesi pada sosok Viki.


Tentu saja, dengan kekuasaan yang Viki miliki, dengan mudah dirinya melenyapkan berita yang tidak dia inginkan.

__ADS_1


__ADS_2