VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 59


__ADS_3

"Bagaimana. Apa yang kamu temukan?" tanya seorang lelaki yang tengah duduk di kursi dengan memainkan asap rokok yang keluar dari celah bibirnya.


"Nona Giska menyuruh bawahannya untuk mengikuti kemanapun Tuan Viki berada." ucapnya.


"Viki...." Renggo memijat pelipisnya.


Renggo. Lelaki yang akhir-akhir ini dekat dengan Giska. Dan dialah yang dituju oleh Giska saat dirinya menginginkan pelepasan di atas ranjang.


"Viki Radika Mahendra. Tapi lelaki tersebut sama sekali tidak tertarik dengan Nona Giska. Malah dia terkesan acuh dan selalu menolak jika Nona Giska mendekatinya." jelasnya pada atasannya tersebut.


"Baiklah. Kamu pantau terus Giska. Laporkan jika Giska melakukan hal yang berbahaya." perintah Renggo.


"Baik Tuan."


Renggo, seorang pengusaha muda dan tampan. Bahkan ketampanan seimbang dengan Viki. Tapi, untuk kesuksesan, Renggo berada di atas Viki.


Lantaran Renggo meneruskan perusahaan milik keluarganya. Berbeda dengan Viki, yang merintis usahanya dari nol.


Sejak bertemu dengan Giska, Renggo memang sudah jatuh hati pada Giska. Dia dengan suka rela bersedia dimanfaatkan oleh Giska dalam berbagai kesempatan dan berbagai hal.


"Apa yang sedang kamu kejar." ucap Renggo menatap layar ponsel miliknya. Dimana di sana terdapat gambar Giska yang tersenyum manis.


"Viki, dia bukan halangan. Hanya saja, Giska terlalu terobsesi dengannya." ucap Renggo.


Ada ketakutan pada diri Renggo, saat Giska sudah sampai tahap ini. Karena biasanya, Giska hanya akan bermain-main dengan beberapa lelaki di luar. Tak lebih dari satu bulan. Lalu Giska membuangnya. Atau memutuskannya.


"Mungkin Non Giska merasa tertantang. Karena Tuan Viki tidak seperti lelaki yang dia dekati sebelumnya." ucapnya pada Renggo.


Renggo hanya mengangguk pelan. "Bisa jadi." sahutnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dengan segera Rey meretas CCTV di club yang baru saja ditinggalkan oleh atasannya. Mencari perempuan dan lelaki yang dikatakan oleh Viki.


"Ini dia." Rey memperbesar hasil penangkapan gambarnya.


"Selesai." ucap Rey. Segera Rey mengirimkan kedua foto tersebut pada anak buahnya. Menyuruh mereka untuk mencari tahu.


Mata Rey sudah tidak bisa diajak berkompromi. Rey merasakan jika kedua matanya terdapat lem. "Sebaiknya gue memejamkan mata, barang sebentar saja." ucap Rey.


Karena memang, sejak tadi Rey sama sekali belum beristirahat. Apalagi sekarang sudah hampir menjelang subuh. Hanya membutuhkan waktu beberapa detik, untuk Rey masuk ke dalam dunia mimpi.


Bahkan saking nyeyaknya tertidur, Rey tidka mendengar jika ponselnya berbunyi. Beberapa notifikasi masuk ke dalam ponsel milik asisten Viki tersebut.


"Astaga, jam berapa sekarang." ucap Rey, saat dirinya sudah keluar dari dunia mimpi.


Hal pertama yang Rey lakukan saat kedua matanya terbuka adalah mencari keberadaan ponselnya. "Dimana gue taruh ponsel. Ponsel gue di mana." ucap Rey, mondar-mandir mencari ponsel miliknya.


"Cckkk,,, ternyata di sini." decak Rey, karena ponselnya berada di bawah bantal.


Rey merasa lega, tidak ada notifikasi dari atasannya. Hanya pesan tertulis dari bawahannya. Mengenai laporan tentang identitas orang yang Rey perintahkan untuk mencari.


Rey membaca dengan teliti. "Bawahan Tuan Marko." gumam Rey.


"Lalu dia hanya perempuan yang bekerja di club. Menawarkan tubuhnya untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah." ucap Rey.


"Cari tahu, apa yang terjadi dengan perempuan tersebut. Sekarang." perintah Rey dari ujung ponselnya.


Rey merasa, jika pasti terjadi sesuatu dengan perempuan yang sudah mendekati Viki. "Pasti setelah ini, akan ada yang lain." gumam Viki.


"Kenapa Tuan Marko sampai penguntit Tuan Viki sampai segitunya. Atau,,,, Giska. Ya,,, pasti Giska." tebak Rey.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ponsel Viki menyala dan berbunyi sekali. Menandakan ada pesan yang masuk ke dalam ponselnya.


Tapi sayang, si empunya sedang membersihkan badannya di kamar mandi. Sehingga tidak mengerti jika ada pesan tertulis yang masuk ke dalam ponselnya.


Seandainya dia mengetahuinya, pasti Viki akan bersorak gembira. Saat mengetahui siapa yang sudah mengirim pesan tertulis padanya.


Viki hanya memakai boxer untuk menutupi badannya bagian bawah. Menghempaskan badannya yang kekar dan berotot di atas ranjang.

__ADS_1


Alih-alih melihat ke arah ponsel. Viki malah memilih memejamkan kedua matanya. Entahlah apa yang ada di dalam benaknya. Dia tertidur dengan kedua sudut bibir melengkung ke atas.


Seperti biasa, Nara bangun saat pagi. Bahkan tidak tampak sama sekali raut wajahnya karena kekurangan tidur. Dengan senyum di bibir, Nara membantu yang lain menyiapkan makanan untuk sarapan.


Hingga suara Mbak Mira mengingatkannya. "Ra, kamu nggak membangunkan Rini. Nanti dia terlambat loo." ucapnya.


Nara menepuk pelan keningnya sendiri. "Iya mbak." ucap Nara melepas celemek di badannya. "Biasanya Rini sudah bangun, kenapa pagi ini belum ya.." gumam Nara menuju ke kamarnya.


Di dalam kamar, Rini dan Bima malah saling berpelukan. Belum ada tanda dari keduanya untuk membuka kedua matanya.


"Rini, bangun. Nanti kesiangan masuk sekolahnya." ucap Nara, dengan pelan menggoyang badan Rini.


"Eeeuuggghhh...." Rini meregangkan kedua tangannya. "Jam berapa kak." tanya Rini dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Buka kedua matanya, lihat sendiri." ucap Nara.


Rini segera duduk, mengucek kedua matanya dan memandang ke arah jam dinding. "Ayo, mandi. Mumpung Bima masih tidur." ucap Nara, membantu Rini berdiri.


"Kamu mandi, kakak siapkan bajunya ya. Setelah itu, kakak ke depan lagi. Membantu yang lain." jelas Nara, diangguki oleh Rini.


"Sudah Ra?" tanya Mbak Siti, melihat Nara kembali.


"Sudah mbak, Rini sedang mandi. Bimanya masih tidur." jelas Nara.


"Tumben." sahut Mbok Nah. Karena biasanya, kedua anak itu sudah bangun sedari tadi.


"Mungkin hawanya itu lo mbok,, bikin kepengen di bawah selimut terus." celetuk mbak Siti.


Mbak Mira mengangkat centong ke atas. "Betullll." ucapnya.


Sarapan sudah selesai di hidangkan di atas meja. "Maaf, tadi nggak bisa bantu. Capek banget." ucap Nyonya Rahma, setelah menuruni tangga.


"Iya tante. Tidak apa-apa." jawab Nara.


Tampak Rini dengan pakaian sekolah lengkapnya menghampiri meja makan dengan senyum di bibir. "Sudah siap nih kelihatannya." ujar Nyonya Rahma.


Nara mengambil tas di pundak Rini. "Ini, bekalnya kakak masukkan di dalam tas." jelas Nara sambil memasukkan ke dalam tas.


"Iya tante, terkadang Rini malas jalan ke kantin." ucap Rini berbohong.


Padahal semalam dirinya dan Nara sudah sepakat untuk Rini membawa bekal. Rini juga mengatakan jika banyak temannya yang membawa bekal dari rumah.


Selain itu, Rini bisa berhemat. Karena tak harus jajan di kantin. "Coba, sini dulu. Tante mau lihat. Bekalnya apa?" ucap Nyonya Rahma mengeluarkan lagi bekal yang sudah Nara masukkan ke dalam tas milik Rini.


Nyonya Rahma menatap ke arah Nara, saat beliau tahu isi dari kotak bekal milik Rini. Sementara Nara malah membuang muka. Seakan dirinya takut terkena marah dari Nyonya Rahma.


"Mbokkk...!!!" seru Nyonya Rahma.


Mbok Nah tergopoh-gopoh datang menghampiri majikannya. "Iya Nya..." ujar Mbok Nah dengan nafas sedikit terengah.


Nyonya Rahma masih memandang ke arah Nara. Sembari menggelengkan kepala. "Mulai sekarang, mbok Nah yang akan membuatkan bekal untuk Rini." tegas Nyonya Rahma.


"Iya Nya." jawab mbok Nah, dengan ekor mata melirik ke arah Nara yang diam dan menunduk.


Tangan Nyonya Rahma memasukkan beberapa lauk ke dalam bekal milik Rini. "Nah selesai." ucap Nyonya Rahma, selesai menambahkan beberapa lauk ke dalam bekal.


"Nggak bawa sayur?" tanya Nyonya Rahma.


"Nggak tante. Lauk saja." jawab Rini, tidak mau terlalu ribet.


"Bima mana?" tanya Nyonya Rahma.


"Masih tidur tante." jawab Nara.


"Tumben." gumam Nyonya Rahma.


"Pa,,"


"Om.."


"Tuan..."

__ADS_1


Sapa semuanya, saat Tuan Hendra mendekat ke arah mereka. "Viki semalam tidak pulang?" tanya Tuan Hendra.


Ingin sekali Nara membuka mulutnya. Mengatakan jika Viki sudah ada di dalam rumah. Karena semalam dia pulang. Tapi, Nara menahannya. Dirinya tidak ingin ada kesalahpahaman.


"Biar mbok lihat dulu Tuan, Nyonya." ucap Mbok Nah. Dengan segera Mbok Nah menaiki anak tangga, menuju ke kamar Viki.


"Astaga." gumam Mbok Nah. Melihat Viki masih terlentang di atas kasur dengan kedua mata terpejam.


Mbok Nah memilih untuk membiarkan Viki melanjutkan mimpinya. Sementara mbok Nah bergegas turun. "Den Viki ada di dalam kamar Tuan. Masih tertidur." jelas Mbok Nah.


"Ya sudah, biarkan saja." ucap Tuan Hendra.


"Om tidak masuk kerja?" tanya Rini, melihat Tuan Hendra tidak memakai pakaian seperti biasanya.


Tuan Hendra tersenyum mendengar pertanyaan Rini. Ternyata anak kecil tersebut sangat pemerhati. "Om berangkat kerja agak siang." jawab Tuan Hendra. Rini hanya mengangguk kecil.


Selesai sarapan, Tuan Hendra menyuruh Nara untuk membangunkan Viki. "Katakan, om dan tante menunggu di ruang kerja om. Kami juga." ucap Tuan Hendra menyuruh Nara.


"Baik om." sahut Nara.


"Mbak Mira, kamu lihat Bima. Nanti kalau bangun, kamu ajak dia ya. Kami ada perlu dengan Nara." jelas Nyonya Rahma.


"Baik Nya." ucap Mbak Mira.


Deg... Dada Nara kembali berdegup, saat melihat Viki tidur tanpa memakai baju. Dengan bawah badan hanya memakai boxer.


Srekkk.... srekk... Nara membuka gorden jendela kamar Viki. Membuat sinar matahari menerobos masuk.


"Eeeuugghh." lenguh Viki, merasa silau. Bukannya bangun, Viki malah menutup wajahnya menggunakan lengan.


Nara yang melihatnya hanya menggeleng pelan. "Ckkk,, bang bangun." Nara menggoyang pelan tubuh Viki.


"Iya." sahut Viki dengan suara serak, dan tangan masih berada di atas wajahnya.


Nara duduk di tepi ranjang Viki. "Bang, mama sama papa abang nunggu di bawah." ucap Nara.


Viki segera membuka kedua matanya dan duduk. "Kamu sudah cantik." ucap Viki saat pertama melihat ke arah Nara.


"Bangg...." seru Nara, saat Viki malah menaruh kepalanya di pundak Nara. "Aku suka wangi kamu." cicit Viki.


"Abang cepat mandi, di tunggu om sama tante di ruang kerja." ucap Nara.


Viki mengangkat wajahnya. Dan Nara segera menggeleng, pertanda dirinya tidak tahu apapun perihal tersebut. "Ada apa. Mau ngomong apa sih mereka." gumam Viki.


Viki menyadari jika sedari tadi Nara tidka memandang ke arahnya. Nara malah memandang ke arah belakang atau samping Viki.


Viki tersenyum saat menyadari jika dirinya saat ini dalam keadaan tanpa baju. "Ehh.." Nara terperanjat, saat Viki menarik tangan Nara.


Dan membawanya untuk menyentuh perut Viki yang kotak-kotak. "Gimana rasanya?" tanya Viki menggoda Nara.


"Hahh..." Nara melihat ke arah Viki, dengan wajah bersemu.


Viki tertawa melihat sikap lucu dan tingkah polos Nara. "Mau lebih." goda Viki.


Segera Nara menarik telapak tangannya. "Jangan aneh-aneh." kesal Nara dengan cemberut. Padahal jantung Nara sudah berdetak tak karuan.


Segera Nara meninggalkan kamar Viki. "Cepat mandi. Ditunggu." seru Nara, berhenti di ambang pintu kamar Viki. Sebelum menutup pintu tersebut.


Viki tersenyum dengan pandangan melihat ke arah pintu. "Sabar, aku pastikan sebentar lagi kamu akan masuk ke dalam sarangmu." ucap Viki, mengalihkan pandangan ke pusakanya yang sudah on.


Segera Viki membersihkan badan. "Ponselku." gumam Viki dengan handuk masih melilit di pinggangnya.


Viki menyibakkan selimut, mencari ponsel miliknya. Karena terakhir, Viki hanya melemparkan ke arah kasur.


"Ellll.....!" seru Viki tidak percaya. Saat melihat ada pesan tertulis dari sahabatnya. Ella.


Dengan mata berkaca Viki menciumi ponselnya. Seolah sedang meluapkan rasa rindu pada sahabatnya melalui tulisan yang di kirimnya melalui ponsel tersebut.


Segera Viki membaca apa yang di tuliskan sahabatnya tersebut. Viki tersenyum sumringah setelah membacanya.


Viki kembali mencium berkali-kali layar ponselnya. "Dari dulu, elo memang bisa di andalkan." ucap Viki, segera memakai pakaian.

__ADS_1


__ADS_2