VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 46


__ADS_3

Melva mengibaskan rambut panjangnya. "Ya,,, ya,,, ya,,, Nona Giska. Yang setiap malam pergi berpesta dengan teman sosialitanya. Menghamburkan uang milik sang papa." sindir Melva.


"Ya iyalah,,, dia nggak bisa cari uang sendiri. Beda sama elo Melva. Makanya Viki suka sama elo." ucap Melva lirih, memandang ke arah lain, dan masih bisa di dengar oleh Giska dengan sangat jelas.


"Elo,, jaga mulut elo." sarkas Giska.


"Upsss.. maaf." Melva menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya. Dengan menyenderkan badannya di kap mobil miliknya.


"Pasti elo irikan. Gue bisa hidup mewah tanpa harus capek. Karena memang, gue dilahirkan untuk menjadi tuan putri. Bukan rakyat, je-la-ta." sindir Giska.


"Percuma jadi Tuan Putri. Menaklukkan lelaki saja tidak bisa." timpal Melva.


"Elo,,,," geram Giska.


"Aduh, maaf. Gue harus cabut. Karena gue bukan pengangguran. Gue bukan parasit, yang hanya bisa nemplok di uang milik bokap. And..." ucap Melva terhenti. Dengan mata melihat ke arah pergelangan tangannya. Dimana ada sebuah jam tangan dengan harga mahal di melingkar di sana.


"Sebelum jam makan siang, gue harus siap. Karena Viki ngajak gue untuk bertemu." ucap Melva dengan nada dibuat-buat.


Giska mencekal erat pada lengan Melva, saat Melva hendak beranjak pergi meninggalkannya. "Gue ingetin, jangan pernah mencoba mendekati Viki. Kalau elo lakuin. Gue nggak segan-segan bikin karir elo hancur. Nona Melva." tegas Giska, melepaskan dengan kasar tangan Melva.


Melva mengusap lengannya yang memerah keran ulah Giska. Memandang ke arah Giska dengan senyum licik. "Gue tunggu, Nona Giska." tantang Melva.


Brak... Melva menutup pintu mobil dengan keras. Melajukan mobilnya dengan kencang. Beruntung Giska segera menghindar. "Gila..!!!?" teriak Giska, karena dirinya hampir tertabrak mobil Melva.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di perusahaan, Viki meninggalkan rapat begitu saja. Setelah mendapat kabar dari Rey. Jika Ella dan Vano mengalami kecelakaan.


"Maaf. Rapat di tunda. Tuan Viki ada sesuatu yang sangat penting yang tidak bisa di tinggalkan." ucap Rey, mewakili Viki pada para karyawan.


Karena Viki meninggalkan ruangan begitu saja, tanpa berbicara sepatah katapun. Viki melajukan mobilnya dengan cepat. Saat ini dipikirannya hanya Ella dan Ella.


Sampai di parkiran rumah sakit, ternyata sudah ada beberapa bawahan Tuan Danto maupun Tuan Haris yang berjaga.


"Dimana Ella dan Vano?!" tanya Viki dengan nada tinggi.


"Di ruang operasi Tuan."


Segera Viki berlari menuju ke ruang operasi. Viki tak menggubris saat dirinya di teriaki oleh beberapa orang, karena telah menabrak tubuhnya.


Viki melihat Tuan Danto dan juga Tuan Haris. Segera Viki mendekat. "Ommm..!!" seru Viki dengan nafas terengah-engah. "Bagaimana kondisi Ella?" tanya Viki.


Tuan Haris menampakkan wajah sedihnya. "Omm..." ucap Viki lirih.


"Ella koma."ucap Tuan Haris lirih. Viki seketika memeluk tubuh Tuan Haris.


Air mata yang sedari tadi di tahan Tuan Haris, akhirnya tumpah juga. Menangis. Tuan Haris memeluk erat tubuh Viki dan menangis. Begitu pula Viki, dia juga meneteskan air mata.


"Janinnya tidak bisa di selamatkan." ucap Tuan Haris dengan lirih. Semua bawahan Vano membuang muka melihat Tuan Haris mengeluarkan air mata. Karena saat ini, mereka juga tengah menangis dalam diam.


"Tenang om, Ella pasti akan membuka matanya lagi." Viki mengurai pelukannya. Menghapus air matanya.


"Vano. Bagaimana dengan lelaki brengsek itu. Pasti dia selamat. Lelaki itu begitu kuat." ucap Viki. Tapi semuanya hanya diam.


Viki melanjutkan kalimatnya. "Om tenang saja. Ella pasti akan segera bangun. Apalagi Vano juga tidak apa-apa. Mana mungkin Ella akan pergi begitu saja. Dia cinta mati dengan Vano. Dia tidak akan rela, melihat Vano dengan perempuan lain." imbuh Viki, mencoba menguatkan hati Tuan Haris.


Meskipun sebenarnya Viki juga merasa khawatir pada sahabatnya, yang sudah di anggap seperti saudaranya tersebut.


Tuan Danto dan Tuan Haris menggeleng pelan saat keduanya melihat ke arah Viki. Dan Hana, tangisannya semakin kencang mendengar perkataan Viki.


Bahkan mata Hana sudah bisa terbuka lagi. Hana memejamkan mata sambil menangis, dan menyenderkan badannya ke tembok dengan posisi miring.


"Om.." Viki bergantian memandang semua orang.


"Vano tidak bisa di selamatkan." ucap Tuan Danto lirih. Seketika tubuh Viki menegang, mendengar apa yang barusan dikatakan oleh Tuan Danto.


"Jangan bercanda. Om...!!!" seru Viki. Tuan Haris membalikkan badan. Dan Tuan Danto menundukkan kepalanya.


"Tidak mungkin." ucap Viki lirih. Seakan semuanya seperti mimpi buruk baginya. Viki menepuk kasar pipinya.


"Bangun. Pasti ini mimpi. Ella,,, Vano,,, tidak. Ini pasti mimpi." ucap Viki. Tubuh Viki luruh, duduk di atas lantai. Memukul lantai berkali-kali.

__ADS_1


"Hana...!" teriak seseorang dari arah lain. Segera tangannya mengamankan tubuh Hana yang hendak terjengkang ke belakang.


"Han,,," ucap Denis, menepuk pelan pipi Hana.


"Apa yang terjadi." gumam Denis.


"Tuan, biar Nona Hana kami bawa ke ruang rawat juga. Bersama Nyonya Risma dan Nyonya Ane." ucap bawahan Vano menawarkan bantuan.


Denis melepaskan tubun Hana. Dia menyerahkan Hana pada bawahan Vano. Sebenarnya Denis menginginkan dirinya sendiri yang menggendong Hana ke tempat tersebut.


Tapi ada yang mengusik hatinya. Melihat ketiga orang di depannya tampak tidak baik-baik saja. "Sebenarnya, apa yang terjadi Vik?" tanya Denis, ikut berjongkok di depan Viki.


Viki mengangkat kepalanya, wajah Viki sudah penuh air mata. "Ella... Vano...." ucap Viki dengan nada bergetar.


"Katakan. Mereka baik-baik saja bukan?" tanya Denis, seolah dirinya menginginkan berita baik masuk ke dalam telinganya.


Viki menggeleng lemah. "Ella koma." ucap Viki menatap Denis.


Tubuh Denis seketika terhuyung ke belakang. Menabrak deretan kursi. Beruntung, Denis dalam keadaan jongkok. Sehingga dia tidak kenapa-napa.


Denis duduk di atas lantai. Dadanya terasa sesak. Seakan kadar oksigen yang masuk ke dalam tubuhnya berkurang.


"Vano... Vano tidak bisa di selamatkan." ucap Viki lirih.


Denis segera mendekat ke arah Viki. Memegang kerah pakaian Viki dengan erat. "Jangan bercanda Vik. Vano, dia iblis. Mana mungkin dia semudah itu meninggal." ucap Denis tidak terima.


"Dan Ella, dia sama seperti Vano. Mereka dua orang yang kuat. Jangan bercanda. Tidak lucu." Denis melepaskan kerah baju Viki.


Denis berdiri dan menatap Tuan Danto dan Tuan Haris bergantian. "Omm..." ucap Denis.


Tapi keduanya hanya diam dan membuang muka. "Astaga....!!!" seru Denis tertahan. Melihat Tuan Haris dan Tuan Danto hanya diam. Yang menandakan apa yang dikatakan Viki adalah benar adanya.


"Aaa... aaa... aaa..." Denis meninju tembok berkali-kali. Melampiaskan emosinya.


Jasad Vano di bawa pulang ke rumah mendiang. Sementara Viki tidak ikut mengantar kepergian Vano.


Dia memilih untuk menunggu Ella bersama dengan Nyonya Ane. Karena menurutnya, Ella saat ini dalam bahaya, jika dibiarkan sendiri. Apalagi dengan keadaan Ella yang saat ini masih belum sadar.


Saat menunggu Ella, Viki mendengar sesuatu yang sangat mengejutkan. Sesuatu yang menjadi awal mula terjadinya kecelakaan.


Tanpa sengaja, Viki mendengar Hana bercerita pada Nyonya Ane.


"Vano memperkosa Hana." ucap Hana lirih, kembali menangis dan menutup wajahnya dengan telapak tangannya.


Dan Viki, nafasnya memburu, saat mendengar perkataan Hana. Jika dirinya dipaksa oleh Vano. Viki menggeduk-ngedukkan kepala bagian belakangnya ke tembok secara pelan, dengan mata terpejam. Ekspresi wajahnya menahan emosi yang siap meledak.


Hana kembali melanjutkan perkataannya. "Malam itu, Hana tidur di apartemen Ella. Karena Ella berkata, akan tinggal di apartemen milik Vano. Tapi, siapa sangka. Saat tengah malam, Vano datang. Dia datang dengan keadaan tidak baik-baik saja." jelas Hana dengan air mata kembali menetes di pipi.


"Vano bahkan tidak mengenali Hana. Dia terus meracau, menyebutkan nama Ella. Hana sudah berusaha melawan Vano. Tapi,, tapi Hana tidak sanggup mengalahkan kekuatan Vano." ucap Hana.


Viki terdiam di tempatnya. Dapat Viki simpulkan, jika Vano pasti masuk ke dalam jebakan musuh. Dan sialnya, Hana lah yang menjadi pelampiasan. Karena mengira dia adalah Ella. Lantaran Hana tidur di apartemen Ella.


Di balik tembok, Viki menatap ke arah ranjang Ella. Membayangkan perasaan Ella, saat pertama mengetahui hal tersebut.


"Kamu benar-benar perempuan hebat Ell." ucap Viki lirih.


Hingga Hana menceritakan, jika Ella mengajaknya bertemu. Dan memberikannya sebuah video kejadian malam itu.


"Video." batin Viki yang masih berada di balik tembok. Viki tersenyum samar.


"Ella, orang seperti dia tidak bisa di beri celah. Meski hanya setitik. Pasti dia mencari tahu sendiri. Saat dia merasa ada yang janggal." batin Viki.


"Astaga..!!!" seru Viki terkejut, saat dirinya menengok kesamping. Viki tidak menyadari jika ada Reza yang sudah berdiri di sampingnya.


"Elo mau bikin gue mati!!" imbuh Viki dengan nada sedikit tinggi, memegang dadanya. Dengan kedua bola mata melotot sempurna.


"Apa!!" seru Viki, saat Reza malah menatapnya dengan tatapan curiga.


"Viki...." panggil Nyonya Ane sedikit meninggikan suaranya.


"Ckkk.. elo. Pengganggu." Viki menatap Reza dengan tatapan tidak suka, dengan tangan kanan terkepal tepat di depan wajah Reza.

__ADS_1


Reza hanya menggeleng pelan. "Penguping." gumam Reza masih terdengar Viki.


Seketika Viki langsung menghentikan langkahnya. Dan menatap ke arah Reza. Belum sempat Viki mengeluarkan perkataan pedasnya, Nyonya Ane sudah memanggil Reza.


"Loh,, Reza. Kamu disini? Dari kapan? Tante nggak tahu?" tanya Nyonya Ane beruntun.


"Sejak tadi tante. Sejak seseorang tengah asik menguping. Bahkan tidak sadar jika Reza datang dan masuk keruangan." sindir Reza.


"Sungguh, tingkat kewaspadaan yang sangat minim. Beruntung tidak ada musuh yang masuk menyelinap." imbuh Reza.


"Elo...!" geram Viki.


"Ckk,,, sudah. Jangan ribut." ucap Nyonya Ane, menengahi pertengkaran kecil keduanya.


"Kamu dari mana? Bagaimana Nyonya Risma?" tanya Nyonya Ane khawatir.


"Saya sedang menjaga Oma Yeti. Beliau anfal, begitu mendengar tentang Vano. Dan Nyonya Risma. Beliau sudah tidak ada di ruangannya." jelas Reza.


Karena Reza sempat melihat ke ruangan di mana Nyonya Risma di rawat sementara, sebelum datang ke ruangan Ella.


"Nyonya Risma pulang, di antar Paman Haki." sahut Viki.


Ternyata Viki keluar karena ada pesan dari paman Haki, mengatakan jika beliau pulang mengantar Nyonya Risma. Untuk memastikannya, Viki menghubungi kembali paman Haki.


Viki menggaruk tengkuknya saat di pandang oleh Nyonya Ane, dengan tatapan tajam. "Maaf tante. Bukan maksud Viki menguping. Tapi Viki tidak sengaja mendengarnya. Viki lanjutkan saja." jelas Viki, seolah dia tidak bersalah.


Reza menatap ke arah Hana yang sedang duduk di kursi tak jauh dari mereka. "Bagaimana keadaanmu?" tanya Reza setelah dia mendekat ke arah Hana.


"Lebih baik." ucapnya lirih, memandang ke arah Nyonya Ane.


"Kalian duduklah. Ada yang ingin tante bicarakan." ucap Nyonya Ane menyuruh Viki dan Reza duduk di kursi.


"Kamu Viki, Pasti sudah tahu." ucap Nyonya Ane, dijawab anggukan oleh Viki.


"Reza. Apa kamu juga sudah tahu. Tentang permasalahan ini. Ella, Vano, dan Hana?" tanya Nyonya Ane.


Reza tahu, kemana arah pembicaraan Nyonya Ane. "Awalnya saya tidak tahu Nyonya. Waktu itu, saya sedang berada di ruangan bersama Tuan. Tiba-tiba, Tuan Vano berlari keluar ruangan dengan tergesa-gesa, setelah memperhatikan laptopnya." ucap Reza.


"Karena rasa penasaran, saya memberanikan diri melihat ke arah layar laptop yang masih menyala. Meskipun sebenarnya itu tidak di perbolehkan. Karena menyalahi aturan." jelas Reza.


"Dari situlah saya tahu semuanya." imbuh Reza.


"Siapa yang mengirim video itu?" tanya Nyonya Ane.


"Ella." jawab Reza dan Viki bersamaan.


Semua menatap kaget ke arah Viki. Padahal tidak ada yang tahu siapa pengirimnya. Selain Vano dan Reza. Dan pastinya Ella sendiri.


"Tidak perlu terkejut. Saya sudah menduganya. Sejak Hana bercerita jika Ella memberikan sebuah video untuk Hana." ucap Viki.


"Siapa lagi yang bisa melakukan semua ini. Selain Ella." imbuh Viki, menatap ke arah Ella.


"Benar." ucap Reza, dengan mata memandang ke arah Ella.


"Tung-tunggu. Ella. Ella sendiri yang,,, yang mengirimkannya." tanya Hana, seakan tidak percaya.


"Iya." jawab Reza. Sementara Nyonya Ane hanya diam, dia sendiri tidak tahu harus berkata apa.


"Ella, apa jangan-jangan..." ucap Hana lirih, memandang ke arah Ella.


Semuanya sontak memandang ke arah Hana. "Ada apa?" tanya Viki.


Hana teringat saat dirinya dan Ella berada di taman. "Sebelum ini, aku dan Ella pernah bertemu. Dan Ella mengajakku pergi ke apartemen. Tapi aku tidak mau. Aku menolaknya. Karena masih tersisa rasa trauma saat aku mengingat apartemen tersebut. Apalagi masuk ke dalamnya." ucap Hana dengan tatapan menerawang jauh.


Hana memandang ke arah Viki. "Tapi aku tidak mengatakan apapun saat itu." ucap Hana.


Reza dan Viki saling berpandangan. "Ella bukan perempuan biasa. Dia dapat melihat sesuatu yang aneh menurutnya, hanya dari ekspresi dan gelagat seseorang." ucap Nyonya Ane membuka suara.


"Benar." kata Viki.


"Maaf." ucap Hana lirih.

__ADS_1


__ADS_2