VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 150


__ADS_3

Selesai membersihkan diri, Nara meminta bawahan Viki untuk meninggalkannya. Nara berbaring di atas ranjang besar dan empuk yang di sediakan pihak hotel khusus untuk dirinya dan Viki.


Mungkin, karena lelah, Nara yang sebenarnya tidak ingin memejamkan mata, menunggu kedatangan sang suami. Perlahan memejamkan mata, masuk ke dalam mimpi.


Sementara di luar, tamu undangan mulai berkurang. Namun Viki sepertinya masih berbincang dengan seseorang lelaki.


Viki terlihat begitu serius. Begitu juga lawan bicaranya. Sudah dapat di tebak, jika keduanya sedang membicarakan masalah yang benar-benar penting.


"Segera kamu bertindak. Hubungi Rey jika membutuhkan sesuatu. Untuk pertama, beri dia peringatan. Jika tidak bisa, terpaksa akan aku kirim ke suatu tempat." seringai sang pengantin baru.


Viki menepuk pundak satu kali lelaki di depannya, namun dengan keras. Lalu meninggalkannya. "Semoga, dia dapat gue peringatkan. Jika tidak, habislah elo di tangan Viki. Seperti bokap elo." gumamnya, dengan mata memandang tubuh Viki yang semakin menjauh.


Viki meninggalkan tempat acara. Namun sebelumnya, dia pamit pada kedua orang tuanya dan , Tuan Smith beserta sang istri.


"Kalian boleh pergi." perintah Viki pada bawahannya yang berjaga di depan kamar Nara.


"Tuan, ada yang ingin kami sampaikan." ujarnya.


Viki sedikit mengangkat tangannya. "Tidak perlu." ujar Viki, dan langsung masuk ke dalam kamar. Dimana Nara sedang tidur pulas.


Semua bawahan Viki di depan kamar saling memandang satu sama lain. "Apa mungkin, Tuan Viki sudah mengetahuinya? Tapi dari siapa?" ucapnya penasaran.


"Mungkin yang berjaga di depan atau di bawah balkon yang memberitahu." tebak rekannya.


"Sudahlah, tugas kita disini sudah selesai. Sebaiknya kita segera pergi dan istirahat. Ingat, kita harus selalu siap kapanpun Tuan memanggil. Gunakan waktu luang sebaik mungkin." sahut yang lain.


"Oke, istirahat." timpal yang lain, sambil berjalan santai. Menjauh dari kamar Viki.


Viki mendekat ke arah ranjang, melihat wajah ayu dari Nara yang mempu membuatnya ingin sekali memilikinya.


"Kami terlihat begitu lelah. Padahal aku ingin sekali mengasah pusaka milikku. Haaaa..." desah Viki, padahal Viki ingin sekali mencoba pusaka miliknya.


Apakah dia benar-benar sudah sembuh, atau hanya pemikiran dia saja. "Semoga aku tidak mengecewakanmu." gumam Viki, perlahan mengecup pipi Nara dengan pelan.


Viki membersihkan diri. Dan segera bergabung bersama sang istri di tempat tidur. Memeluk tubuh kecil Nara layaknya guling.


"Aku suka harummu sayang." ucap Viki lirih, mendusel ke badan Nara.


Sama seperti Nara, Viki dengan cepat memejamkan kedua matanya. Hingga dengkuran halus terdengar di kamar tersebut.

__ADS_1


Malam ini, yang seharusnya menjadi malam pertama untuk pasangan pengantin, lewat begitu saja.


Tidak ada acara jebol selaput perawan. Keduanya nampak terlihat lelah. Membuat Nara maupun Viki malah memejamkan matanya untuk masuk ke dunia mimpi.


Jika Nara biasanya akan mudah terbangun, namun kali ini dia sepertinya juga sama sekali tidak terganggu dengan kedatangan Viki.


Pagi tiba, bahkan matahari sudah menyebarkan sinarnya ke seluruh penjuru dunia.


"Eeeeuuugghhhh." lenguh Nara, merasa silau. Sebab cahaya matahari menebus gorden hingga membuat matanya yang terpejam merasa silau.


Perlahan, Nara membuka kedua matanya tanpa banyak bergerak. Sebab, badannya terasa dililit sesuatu. Yang menyebabkan dirinya susah bergerak.


Nara tersenyum manis, mendapati sang suami tidur dengan memeluknya erat. "Pantas aku tidak bisa bergerak." ucap Nara lirih. Mencium pucuk kepala Viki.


Nara menggeser kaki hingga tangan Viki yang berada di tubuhnya. Bukannya bergeser, Viki malah semakin mengeratkan pelukannya. "Kamu sudah bangun sayang." ucap Viki dengan nada khas orang baru bangun tidur. Dengan kedua mata masih terpejam sempurna.


"Bang, minggir. Nara mau ke kamar mandi. Kebelet pipis." pinta Nara. Sebab memang kebiasaan Nara setiap pagi, dia selalu pipis jika kedua matanya terbuka.


"Bang,,," rengek Nara.


Dengan gerakan malas, Viki memindahkan bagian tubuhnya yang berada di atas tubuh Nara. Dengan segera, Nara turun dari ranjang dan berlari ke kamar mandi.


"Beberapa hari lagi, Nara akan berumur tujuh belas tahun. Berarti gue bukan pedofil." gumam Viki tiba-tiba.


Viki memejamkan kedua matanya, namun dengan tiba-tiba Viki kembali membuka matanya, bahkan kali ini benar-benar terbuka lebar.


Senyum menghiasi bibir Viki, dengan mata menatap kamar mandi. Bagaikan seekor katak, Viki meloncat dari atas ranjang. Menyusul Nara ke dalam kamar mandi.


Ceklek,,, pintu kamar mandi terbuka dari luar. Menampilkan sosok Viki yang berdiri di ambang pintu dengan senyum di bibir.


Sementara gerakan tangan Nara terhenti sebentar, sebab saat ini Nara sedang menggosok gigi, dan menoleh ke arah pintu.


Viki segera bergabung dengan sang istri. Menggosok giginya. Nara hanya diam dan meneruskan kegiatannya.


"Tunggu abang." tangan Viki mencekal lengan Nara yang hendak keluar kamar mandi. Nara mengangguk sambil tersenyum manis.


"Bang, abang mau apa..??!" seru Nara.


"Kencing." jawab Viki dengan santai.

__ADS_1


Mata Nara membelalak, melihat sesuatu keluar dari dalam celana Viki. Besar dan panjang, dengan sedikit bulu.


Viki menyeringai melihat ekspresi Nara yang sepertinya sedang ketakutan, menurut Viki tampak lucu dan menggemaskan.


Nara segera memejamkan mata dan menggeleng, entah apa yang sedang dipikirkan Nara. Tapi sepertinya bukan sesuatu yang baik.


"Mau ke mana?" Viki memeluk tubuh kecil Nara dari belakang. Menggesekkan benda yang baru saja di lihat Nara, tepat di pantat Nara. Hingga Nara menelan salivanya dengan pelan. Seakan terhenti di tenggorokan.


"Abang menginginkannya sekarang. Kamu maukan?" tanya Viki dengan berbisik di telinga Nara.


Wajah Nara tiba-tiba menjadi pucat. Rasa takut tiba-tiba menyeruak saat melihat pusaka milik Viki. "Bang, nanti saja ya." ucap Nara lirih.


Perkiraan Viki meleset. Dia pikir Nara akan tergoda setelah melihat aset berharganya yang berdiri tegak.


Viki tersenyum. "Abang akan melakukannya dengan hati-hati dan pelan. Ini juga pertama kali untuk abang." bujuk Viki yang mengetahui ketakutan Nara.


"Mau ya sayang..." rayu Viki, mencium leher putih milik Nara dan semakin menggesek-gesekkan pusakanya di pantat Nara.


"Bang, Nara mohon. Jangan sekarang." ucap Nara lirih, dengan wajah yang semakin pucat.


Viki berhenti bergerak. Membalikkan wajah sang istri. Viki melihat jika sang istri benar-benar tidak ingin melakukannya sekarang.


Sebab, Viki merasakan tangan Nara gemetar, dengan wajahnya yang sudah pucat. Membuat Viki jadi tidak tega.


Viki memegang dagu Nara, sedikit mengangkatnya. Sehingga kedua matanya bersitatap dengan mata Nara. "Baiklah, kamu bisa bilang ke abang. Kapan kamu siap." Viki mencium lembut dahi Nara.


"Abang ingin mandi dulu. Kamu bisa menunggu abang di luar, kalau mau." suruh Viki dengan suara lembut.


Nara segera mengangguk dan keluar dari kamar mandi. Viki menghela nafas, dan mengalihkan pandangannya pada pusakanya yang masih berdiri tegak. "Tak apalah, sabun masih banyak." ucapnya tersenyum getir.


"Mungkin memang seperti ini, rasanya mempunyai istri yang masih muda. Labil. Sabar Viki." ucap Viki dengan tangan mulai melucuti pakaiannya sendiri.


Melemparkannya ke dalam ranjang tempat pakaian kotor. Menghembuskan nafas panjang, lalu memandang ke arah sabun mandi dengan tatapan sedih.


Di luar kamar mandi, Nara duduk di tepi ranjang. Dengan pandangan mata menatap ke arah pintu kamar mandi.


Nara menggigit bibir bawahnya. "Padahal waktu itu aku pernah pegang. Meski dalam keadaan terbungkus. Tapi kenapa sekarang saat melihat secara langsung aki jadi merasa takut." ucap Nara lirih, mengalihkan pandangannya ke tempat dimana seharusnya pusaka milik Viki bersarang.


"Semoga Abang nggak marah." ucap Nara takut.

__ADS_1


__ADS_2