VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 36


__ADS_3

"Jelaskan." tegas Viki dengan duduk di kursi empuk di dalam kamarnya.


Menyilangkan kaki dan duduk bersandar seraya bersedekap. Postur tubuhnya benar-benar bagus dan sempurna. Seperti seorang atasan yang sedang menilai bawahannya yang tengah melakukan kesalahan. Benar-benar membuat Nara tertekan.


Sementara Nara berdiri di depan Viki. Kedua tangannya saling meremas. "Bang." ucap Nara lirih.


"Jangan membuang-buang waktu." tegas Viki.


Nara memejamkan mata. Mengatur detak jantung dan juga nafasnya yang tidak beraturan. Antara rasa takut dan gugup menjadi satu.


"Dia memfitnah Nara." ucap Nara lirih. Meski demikian masih terdengar jelas di telinga Viki.


Viki menyatukan alisnya. "Dia bilang, uangnya di berikan pada Nara semua." imbuh Nara masih menundukkan kepala.


"Mereka bilang, Nara,,, Nara,,, Nara menjual tubuh Nara." ucap Nara bergetar. Tangan Viki mengepal sempurna.


"Mereka mengusir Nara, Bang." ucap Nara dengan pundak mulai bergetar naik turun. Menandakan jika Nara tengah menangis.


"Nara tidak melakukannya Bang. Nara tidak pernah menjual tubuh Nara." ucap Nara masih menunduk dengan air mata mulai mengalir dari dalam mata.


Viki berdiri. Membawa Nara dalam pelukannya. Menepuk pelan bahu Nara. Tinggi badan yang berbeda, membuat Nara menangkupkan wajahnya di dada bidang milik Vano.


Lagi-lagi, Viki melihat air mata di wajah Nara. "Nara bukan perempuan murahan. Nara tidak menjual badan Nara untuk mendapatkan uang." ucap Nara lirih.


"Bang." Nara meremas pakaian yang di pakai Viki.


"Iya, abang percaya." ucap Viki memeluk erat tubuh Nara. Mencoba menenangkan Nara.


Setelah dirasa tangisan Nara mereda, Viki mulai membuka suara kembali. "Mulai sekarang, tinggallah di sini. Jangan pernah meninggalkan rumah, jika bukan aku yang memintanya. Mengerti." Nara mengangguk pelan, masih dalam pelukan Viki.


Beberapa menit badan Nara berada dalam dekapan hangat tubuh Viki. Terasa nyaman dan aman. Hingga tangis Nara tersadar.


"Maaf." ucap Nara menarik diri dari pelukan Viki.


"Siapa dia?" tanya Viki memandang ke arah Nara.


"Jawab. Siapa dia?" tegas Viki, dengan sorot tajam memandang ke arah Nara.


"Bang." ucap Nara lirih. Merasa takut dengan tatapan yang di berikan Viki padanya.


"Jawab." seru Viki dengan nada rendah, tapi penuh penekanan.


Viki melihat ke arah Nara. Ada rasa takut dari matanya. "Katakan. Siapa dia?" tanya Viki dengan nada lebih lembut.


"Salah satu pemuda yang tinggal di sana." ucap Nara dengan lirih.


"Bang." Nara memegang tangan Viki. "Sekarang Nara dan kedua adik Nara baik-baik saja." imbuh Nara, dirinya takut jika Viki memperpanjang masalah ini.

__ADS_1


Nara takut jika mereka malah berpikir macam-macam. Apalagi jika sampai Viki menemui lelaki tersebut. Pasti mereka semakin merendahkan Nara. Seolah perkataan mereka semua adalah kenyataan.


"Keluarlah, aku sedang ada pekerjaan." ucap Viki.


"Keluar." ucap Viki lagi dengan suara lembut. Nara mengusap air mata di pipinya dan tersenyum.


"Abang mau kopi?" tanya Nara, dirinya tahu jika Viki sedang kesal dengannya.


Viki menatap ke arah Nara dan mengangguk pelan. Segera Nara keluar dari dalam kamar Viki dan membuatkan kopi untuk Viki.


Sementara Viki, menghubungi asistennya. Membicarakan permasalahan perusahaan.


"Tante, om, terimakasih sudah menjaga Rini dan Bima." ucap Nara dengan sopan.


"Sama-sama. Mereka anak yang baik dan penurut." ucap Tuan Hendra mengelus lembut rambut Bima.


"Rini, Bima. Sudah malam sayang. Kalian tidur gih." ucap Nara.


"Rini, ajak Bima ke dalam kamar dulu. Kakak mau buatkan kopi buat Abang." jelas Nara.


"Bang Viki lagi kerja ya kak." tanya Rini.


"Iya." jawab Nara. Karena selama tinggal di apartemen, Rini biasanya melihat Viki berada di dalam ruang kerjanya dengan banyak kertas di meja depan Viki.


"Om, tante, kami mau tidur dulu. Terimakasih sudah menemani kami." pamit Rini dengan sopan. Rini menggandeng tangan Bima dan membawanya ke dalam kamar mereka.


"Om dan tante, sekalian Nara buatkan kopi?" tawar Nara sebelum meninggalkan kedua orang tua Viki.


"Tidak perlu. Kamu buatkan kopi untuk Viki saja." ucap Tuan Hendra.


"Baik." Nara tersenyum dan segera bergegas ke dapur. Membuatkan segelas kopi untuk Viki.


"Selesai." segera Nara membawa segelas kopi ke dalam kamar Viki.


Melihat Viki tengah berbincang serius dengan seseorang menggunakan ponselnya, membuat Nara menaruh kopinya di atas meja. Dan bergegas meninggalkan kamar Viki. Dirinya tidak ingin mengganggu Viki


Tuan Hendra dan Nyonya Rahma mematikan televisi, dan segera beristirahat di dalam kamar.


"Pa, menurut papa bagaimana?" tanya Nyonya Rahma berbaring menyamping dan menatap sang suami dari samping.


"Entahlah. Papa juga belum bisa menyimpulkan." ucap Tuan Hendra, dengan badan telentang. Manik matanya memandang ke langit-langit atap kamarnya.


Tuan Hendra tahu maksud pertanyaan sang istri. "Biarkan saja semua berjalan sesuai alurnya." imbuh Tuan Hendra.


"Mama lihat dan pantau saja." kata Tuan Hendra.


Keduanya tidak menyangka, tamu yang di bawa oleh Nyonya Rahma bisa merubah sikap dan sifat putranya yang biasanya cuek, sekarang lebih hangat.

__ADS_1


Meskipun perubahan Viki tidak begitu banyak. Tapi menurut mereka, Nara dan kedua adiknya membawa dampak besar untuk Viki.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Bagiamana pa?" tanya Giska pada papanya, terdengar seperti sebuah rengekan.


"Sabar dulu sayang. Papa sedang berusaha." ucap Tuan Marko mencoba menenangkan sang anak.


"Sabar." ucap Giska memandang tajam ke arah papanya. "Tidak ada kata sabar dalam kehidupan Giska." imbuh Giska dengan emosi.


"Jika papa tidak bisa membuat Viki menjadi milik Giska. Biar Giska sendiri yang melakukannya." seru Giska.


Giska melanjutkannya. "Dengan cara Giska." ucap Giska dengan senyum picik dan licik.


"Giska." teriak Tuan Hendra melihat putrinya pergi meninggalkannya.


Pandangan Tuan Marko bertatapan dengan Nyonya Gina. Segera Nyonya Gina mengalihkan pandangannya dan meninggalkan Tuan Marko seorang diri.


"Bagaimana lagi aku harus memberitahu Giska. Perasaan cinta tidak bisa dipaksakan." gumam Nyonya Gina, yang sekarang sudah berada di depan pintu kamar putrinya.


"Giska. Mama mau bicara." ucap Nyonya Gina masuk ke dalam kamar Giska yang memang tidak terkunci.


Giska tampak acuh dan tetap memainkan ponselnya di atas ranjang miliknya. Nyonya Gina menghembuskan nafas panjang, duduk di samping Giska.


"Jangan memaksakan perasaan orang sayang." ucap Nyonya Guna dengan lembut. Tampak Giska masih acuh.


Berbicara dengan putrinya, harus memiliki kesabaran yang ekstra. "Nanti kamu sendiri yang akan dirugikan." imbuh Nyonya Gina, mengelus rambut panjang putrinya yang indah dan panjang.


"Sekarang coba kamu pikirkan. Bagaimana kamu akan menjalani kehidupan rumah tanggamu, jika lelaki tersebut terpaksa menerima kamu."


Giska berhenti menatap ke layar ponselnya. "Aku tidak peduli. Dia harus menjadi milikku. Bagaimanapun caranya." ucap Giska terkesan memaksa.


Nyonya Gina menggeleng pelan. Ada raut sedih di wajahnya. "Bagaimana jika kamu akan di tinggalkan olehnya, saat menjalani rumah tangga dengannya." ucap Nyonya Gina dengan lembut.


"Maka, akan aku buat dia tidak bisa meninggalkanku. Dan tetap berada di sisiku. Bagaimanapun caranya." ucap Giska tersenyum jahat.


"Tapi itu salah sayang." ucap Nyonya Gina, masih berusaha menasehati putrinya.


"Kamu akan menyakiti dirimu sendiri, dan orang lain." imbuh Nyonya Gina.


"Dan aku. TIDAK PEDULI." ucap Giska dengan penekanan dan menatap tajam ke arah Nyonya Gina.


"Keluar dari kamarku. Aku tidak butuh omong kosong. KELUAR." ucap Giska dengan tatapan benci dengan kedua mata melebar sempurna.


Nyonya Gina meninggalkan kamar putrinya. Dia membalikkan badannya, menatap ke arah Giska sebelum menutup pintu kamar putrinya.


"Apa yang sudah kamu lakukan pada putri kita Marko. Kenapa kamu jadikan putri kita menjadi seperti ini." gumam Nyonya Gina.

__ADS_1


__ADS_2