
"Bisa saya berbicara, berdua dengan Nara." pinta Tuan Smith, saat Viki dan Nara hendak meninggalkan pesta pernikahan Giska dan Renggo.
Viki tidak segera menjawab, dia menoleh dan menatap ke arah Nara. Begitu juga dengan Nara. Viki tersenyum manis, membelai dengan lembut rambut sang kekasih, dan mengangguk pelan.
"Silahkan, jangan terlalu lama." Viki mengecup pucuk kepala Nara, dan melepaskan tangannya di pinggang Nara.
Selama Nara dan sang papa berbincang, Viki lebih memilih untuk duduk di sebuah kursi, dengan mata tetap mengawasi sang kekasih dari tempat duduknya.
"Tenang saja, papa tidak akan membawa Nara pergi." Renggo meletakkan segelas air berwarna merah di meja depan Viki, dengan segelas lagi tetap berada di tangannya.
Viki mengambil air minum tersebut, menyesapnya sedikit, lalu meletakkan kembali ke atas meja. "Silahkan bawa Nara pergi, jika Tuan Smith memang mempunyai nyali." Viki tersenyum smirk.
"Dia papa kandung Nara, pastinya Nara lebih memilihnya dari pada kamu." ujar Renggo, yang memang tidak tahu permasalahan di antara mereka.
"Benarkah?!" tanya Viki seperti sedang mengejek.
Di sudut lain, Nara dengan ekspresi datar berbincang dengan Tuan Smith.
"Apa kamu sudah mau menerima papa kembali nak?" tanya Tuan Smith.
Serrrr.... aliran darah Nara berdesir, saat mendengar kata nak terlontar dari mulut sang papa. Namun, Nara bukan gadis yang mudah luluh hanya dengan sebuah kata-kata.
"Seperti yang sudah abang Viki katakan. Apakah kurang jelas?" ungkap Nara, tanpa memandang wajah sang papa.
"Semalam saja, papa meminta kamu untuk menginap di rumah papa. Bagaimana?" bujuk Tuan Smith.
Nara memandang tajam ke arah sang papa. "Jika anda memang tidak mau menjadi wali pernikahan saya, saya tidak akan memaksa." tegas Nara.
"Permisi." pamit Nara, menyudahi percakapan mereka.
"Tunggu." kata Tuan Smith.
"Baiklah, papa akan menjadi wali nikah kamu." ucap Tuan Smith, beliau sadar jika sikap keras kepala Nara tidak bisa di lawan dengan sikap keras juga.
__ADS_1
Tuan Smith berharap, seiring berjalannya waktu. hubungan mereka akan mencair. Tuan Smith akan terus mendekati sang anak.
Beliau sadar diri, jika Nara bersikap demikian karena rasa kecewa dan juga rasa sakit hati. Dan Tuan Smith juga ikut andil dalam rasa sakit hati yang di rasakan sang putri.
"Terimakasih. Untuk selanjutnya, biar abang yang menghubungi anda." jelas Nara, seperti masih enggan berhubungan dengannya.
"Apa kamu yakin, mau membina rumah tangga sekarang. Dengan Viki?" tanya Tuan Smith, membuat Nara menaikkan alisnya.
"Maksud papa, umur kamu masih terlalu muda. Sementara Viki, umur kalian terpaut jauh." papar Tuan Smith.
"Anda tidak perlu khawatir dengan kehidupan saya. Selama bertahun-tahun, saya sudah terbiasa hidup menderita. Saya tahu, mana yang tulus, dan mana yang hanya sekedar berpura-pura baik kepada saya." jelas Nara dengan eskpresi kesal.
Tanpa mengucapkan sepatah kata, Nara pergi meninggalkan Tuan Smith. Tanpa Nara ketahui, semenjak tadi, Giska selalu mengawasi setiap langkahnya.
"Pengecut." ejek Giska, membuat langkah Nara terhenti.
"Berpura-pura menjadi saudara Viki. Astaga, kenapa Viki memilih gadis kecil yang tak bernyali seperti kamu." ejek Giska.
"Lihatlah." cibir Giska, memindai tubuh Nara. Seperti sedang menilai penampilan Nara.
Giska sudah dapat menebak apa isi dari pikiran Nara. Hal tersebut membuat Giska meradang. Terlihat jelas, kedua telapak tangan Giska mengepal kuat.
"Siapa yang pancing masalah, siapa yang sewot." ucap Nara lirih.
"Kakak ipar, jangan banyak marah-marah. Kasihan calon keponakan aku." ucap Nara dengan nada lembut dan senyum di bibir.
"Kakak ipar, hati-hati ya, nanti di perjalanan. Pasti sungguh menyenangkan. Pergi dan menetap di luar negeri. Bersama sang suami tercinta." sindir Nara, menambah darah di dalam tubuh Giska semakin mendidih.
Cukup, Nara melihat semua perkataannya cukup membuat Giska panas. Nara melenggang pergi meninggalkan Giska yang pastinya sedang menahan emosi.
"Bang." panggil Nara, saat sudah dekat dengan tempat Viki duduk bersama dengan Renggo.
"Sudah?" tanya Viki menatap Nara dengan penuh cinta. Nara mengangguk dengan bibir tersenyum.
__ADS_1
"Kheeemm,,, Meski saya baru tahu jika kita saudara tiri. Tapi kakak berharap, setelah kakak meninggalkan negera ini, kamu sering-seringlah mengunjungi papa dan mama." ucap Renggo.
"Tidak perlu anda mengajari apa yang harus di lakukan oleh calon istri saya. Lebih baik anda melihat pada diri anda sendiri. Kenapa selama di negara ini, anda memilih hidup terpisah dengan kedua orang tua anda. Sementara anda, anak tunggal." sindir Viki.
Tentu saja Viki tidak suka dengan perkataan Renggo yang ditujukan untuk Nara. Meskipun Viki sendiri juga pernah hidup terpisah dengan kedua orang tuanya, dengan alasan tertentu.
Nara tersenyum samar mendengar perkataan Viki. "Calon suamiku memang pahlawanku." ucap Nara dalam hati.
Sementara Renggo sendiri bungkam. Sebab, memang dirinya tidak bisa membela diri, dari pernyataan yang diucapkan oleh Viki.
"Ayo kita pulang, abang masih ada pekerjaan di kantor." ucap Viki, lantaran memang pesta di adakan siang hari.
Setelah berpamitan dengan kedua orang tua Renggo dan kedua orang tua Giska, Nara dan Viki pergi meninggalkan tempat tersebut.
Dada Giska bergemuruh, melihat bagaimana Viki memperlakukan Nara. Bagaimana Viki selalu tersenyum dan memandang Nara penuh cinta. Viki memperlakukan Nara seperti sebuah guci antik dan mahal.
Tapi Giska hanya bisa memendam amarah tersebut, lantaran memang dirinya tidak bisa berbuat apapun. Apalagi sebentar lagi, dirinya akan diboyong oleh Renggo untuk meninggalkan negara ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Suara ponsel membuat Viki terbangun dari tidurnya. "Aiiisshhh,,,, siapa yang mengganggu tidurku." kesal Viki dengan kedua mata masih terpejam.
Dengan perasaan jengkel dan mata terpejam, tangan Viki meraba ke sisi tempat tidur. Mengambil ponsel yang berada di atas meja, dekat ranjang tidurnya.
"Halo...Ada apa Rey?" tanya Viki dengan nada tidak bersahabat.
Entah apa yang dikatakan oleh Rey, kedua mata Viki tiba-tiba terbuka lebar dengan wajah yang serius mendengarkan lawan bicaranya di seberang sana.
"Cukup diam. Aku sendiri yang akan turun tangan." ujar Viki, menutup panggilan teleponnya dengan Rey.
Di lantai bawah, Tuan Hendra sedang menenangkan sang istri. Begitu juga dengan Nara. "Mbok, titip Rini dan Bima. Ajak mereka ke belakang." ucap Nara.
Tanpa banyak berkata, Mbok Nah segera melakukan apa yang dikatakan oleh Nara. Mbok Nah hakin, jika majikannya sedang berada dalam masalah.
__ADS_1
"Pa, apa ini semua benar. Jawab pa... Viki...." ucap Nyonya Rahma dengan badan lemas dan air mata di pipinya.
"Ma, tenang. Belum tentu semua ini benar. Jangan mudah percaya dengan apa yang mama lihat dan mama dengar. Apalagi hanya lewat layar ponsel." ujar Tuan Hendra, mencoba menenangkan sang istri.