
"Pagi bi." Sara masuk ke dapur dengan penampilan sederhana, namun tetap tidak mengurangi kecantikannya sama sekali.
Beberapa pembantu yang memang bertugas di dapur sedikit terkejut dengan kedatangan calon istri dari anak majikannya tersebut.
Sebelumnya, mereka sudah diberitahu oleh Nyonya Binta. Jika selama dirinya dan sang suami berada di luar negeri, Sara akan menginap di sini.
Menyuruh mereka memperlakukan Sara seperti mereka memperlakukan dirinya. Sebab Sara sebentar lagi akan menjadi Nyonya Muda mereka.
"Pagi Non. Ada yang bisa kami bantu?" tanyanya dengan ramah.
Sara menggeleng. "Sara ingin membantu. Katakan, apa yang bisa Sara lakukan." pinta Sara dengan semangat.
Semuanya terbengong. Membantu. Seorang artis besar terjun ke dapur. Memang apa yang akan Sara lakukan.
Sara sepertinya bisa menebak apa yang ada dibenak mereka. "Sejak SMA, Sara hidup sendiri. Jadi Sara sudah terbiasa mandiri. Tidak perlu terkejut." papar Sara tersenyum manis.
Segera mereka merubah ekspresi yang sangat mencolok di mata Sara. "Nona tidak perlu membantu kami. Silahkan duduk. Akan saya buatkan minuman hangat saja." tawarnya, sebab hari masih terlalu pagi di tambah hawa dingin, untuk menawarkan minuman dingin.
Sara menggeleng. "Nanti saya akan bosan. Biarkan saya membantu. Jangan sungkan katakan saja." pinta Sara, mengiba.
Berharap dengan wajah melasnya, mereka akan meloloskan keinginan Sara. Membantu mereka untuk memasak. Dan menyiapkan sarapan pagi.
Selama ini Sara memang hidup mandiri. Dia sudah terbiasa dengan pekerjaan dapur. Bahkan bersih-bersih rumah sekalipun.
Jika sedang tidak ada jadwal syuting atau kesibukan lain, Sara bisa menghabiskan waktu seharian berada di dalam apartemen.
Membersihkan apartemen hingga terlihat begitu kinclong dan pastinya juga memasak. Meski tak terlalu mahir dan jago di dapur. Setidaknya masakan Sara cukup nikmat untuk di santap. Untuk mencuci, Sara memilih untuk menggunakan jasa loundry.
"Maaf Nona, bukannya kami tidak ingin di bantu. Hanya saja, kami tidak ingin mendapat teguran dari Tuan Muda Renggo." jelasnya.
Sara cemberut. "Masa, apa Renggo akan marah?"
"Maaf, saya sendiri juga tidak tahu tentang hal itu. Tapi, alangkah baiknya jika Nona tidak berada di dapur. Nona katakan saja apa keinginan Nona. Kami akan menyiapkannya."
Sara terdiam. Mencerna penjelasan dari beberapa pembantu di rumah Renggo. "Kenapa Nona tidak melihat baby Al saja. Mungkin Tuan kecil sudah bangun."
Mereka bermaksud mengusir Sara dari dapur dengan cara halus. Tentu saja mereka mengantisipasi diri mereka sendiri.
Selain Sara adalah calon majikan mereka, saat ini Sara adalah tamu. Dan sebagai pekerja di rumah Tuan Smith, sudah menjadi kewajiban mereka melayani tamu dengan baik.
Apalagi tamunya adalah Sara.
Sara mendesah. "Baiklah. Siapa tahu baby Al sudah bangun."
Sara melangkah dengan santai menuju ke kamar baby Al. Padahal, sebelum ke dapur, Sara terlebih dahulu melihat ke kamar baby Al.
Terlihat baby Al masih tidur dengan nyenyaknya. Membuat Sara tak ingin menggangu dan memutuskan untuk pergi ke dapur.
Di dapurpun kehadirannya malah membuat para pembantu ketar-ketir. Padahal Sara hanya ingin membantu. Bukan membuat kerusuhan.
Tidak ingin kehadirannya malah akan menjadi beban untuk para pembantu, Sara memutuskan untuk mengikuti saran mereka. Pergi ke kamar baby Al.
Perlahan, Sara membuka pintu kamar baby Al. "Benarkan. Belum bangun." desah Sara.
Pergi ke kamar Renggo. Membantu menyiapkan keperluannya. Bukan rencana yang baik. Mengingat kejadian semalam saja, membuat Sara sedikit merasa malu.
Bisa-bisanya dia kehilangan kontrol dan malah masuk ke dalam permainan Renggo. Bukan hanya masuk. Tapi juga menikmati.
Sara tahu, jika saat pagi hari, seorang lelaki akan bereaksi dengan normal. Yakni, batangnya akan on saat bangun tidur.
Keberadaan Sara di sana malah akan semakin berbahaya. Memasukkan diri ke dalam kandang singa yang kelaparan.
Sara menggeleng, menepis semua bayangan Renggo di dalam kepalanya. Bisa-bisanya masih pagi membayangkan tubuh atletis dari calon suaminya. "Jangan gila Sara." gumamnya, menyadarkan dirinya sendiri dari khayalannya.
Sara segera melangkah ke dalam, tersenyum saat melihat pengasuh baby Al sibuk melakukan sesuatu. Sara duduk di tepi ranjang kecil baby Al. "Pagi Nona." sapanya.
Sara hanya tersenyum dan mengangguk.
Membaringkan tubuhnya dengan perlahan di samping baby Al. Memandangi dengan intens setiap inci wajahnya. "Siapa papa kamu sayang?" tanyanya dalam hati.
Tentu saja, rasa penasaran tersebut masih tersimpan di dalam hati Sara. Siapa yanga tidak akan merasa penasaran. Jika mengetahui sesuatu yang belum tuntas.
Sara masih waras untuk tidak berkata keras. Di ruangan ini ada pengasuh baby Al. Pastinya, dia juga tidak tahu, jika bayi lucu menggemaskan yang dia rawat dengan baik selama setahun terakhir ini bukan putra biologis dari Renggo.
Sara mengernyitkan keningnya. Menatap wajah baby Al dari samping. "Wajah kamu, sangat tampan. Sekilas, tante teringat seseorang hanya dengan melihat wajah kamu. Erlangga." ucap Sara dalam hati.
__ADS_1
Kembali, Sara mengamati setiap inci wajah tampan baby Al. Sara tersenyum geli. Memukul kepalanya dengan pelan. "Giska. Erlangga. Baby Al. Tidak mungkin. Jangan berpikir gila." kekeh Sara dalam hati.
Tanpa terasa, memandangi wajah tampan baby Al, Sara malah perlahan memejamkan matanya. Dengan tangan memeluk tubuh mungil baby Al.
Baby Al pun juga sama sekali tidak terganggu dengan kehadiran Sara di sampingnya.
Pengasuh baby Al tersenyum. Dia segers mengambil foto Sara bersama baby Al yang sedang terlelap. Lalu mengirimkannya pada sang Nyonya.
"Semoga, Nona Sara dan Tuan muda Renggo berjodoh." pintanya dalam hati.
Di lantai atas, selesai bersiap dengan kemeja dibalut jas diluarnya, Renggo bergegas pergi ke kamar Sara. "Sara, sayang." panggil Renggo setengah berteriak.
Melihat ponsel Sara masih teronggok di atas nakas. Renggo mengetuk pintu kamar mandi. Menempelkan daun telinganya di pintu.
Sepi. Renggo membuka pintu kamar mandi. Kosong. "Sara, kemana dia." gumamnya.
Segera Renggo turun ke bawah. Mencari calon permaisurinya. "Sara di mana?" insya Renggo, begitu melihat seorang pembantu.
"Nona Sara ada di dalam kamar baby Al, Tuan."
Segera Renggo membalikkan badan dan pergi ke kamar sang putra. "Kenapa gue nggak kepikiran sampai sana." gumam Renggo, menyangka jika Sara masih tidur.
"Ngapain Sara di sana. Paling baby Al juga masih tidur." Renggo tahu kebiasaan sang putra. Dia terbangun saat Renggo akan berangkat kerja.
Dimana Renggo mencium wajahnya. Baby Al akan terusik dan pasti terbangun.
Tahu jika pasti sang anak masih tertidur, sama seperti Sara. Renggo membuka pintu dengan pelan. Sang pengasuh yang sedang melakukan sesuatu di dalam kamar menoleh ke arah pintu.
"Tuan." siapanya lirih, sedikit menundukkan kepala.
Renggo hanya mengangguk. Merasa situasi berubah, segera pengasuh baby Al pergi keluar kamar. Meninggalkan ketiganya berada di dalam kamar.
Renggo tersenyum, melihat kedua makhluk yang di sayangnya tidur bersebelahan. Keduanya tampak tenang. "Lihat, wajah kamu kayak baby Al. Lucu dan menggemaskan."
Tak jauh beda dengan sang pengasuh, Renggo mengeluarkan ponselnya dan mengabadikan momen tersebut dnegan jepretan kamera di ponselnya.
"Selesai." Renggo menjadikan foto tersebut sebagai wallpaper di ponselnya.
Renggo membuka kancing jasnya yang sudah tertutup rapi. Duduk di sebelah Sara. Membelai wajah cantik calon istrinya.
Sara membuka matanya. Orang pertama yang dia lihat adalah Renggo. Wajah mereka sangat dekat.
Cup,,, "Kiss morning." Renggo mengecup singkat bibir Sara.
"Hussttt..." Renggo meletakkan jari telunjuknya di bibir Sara, dengan dagu sedikit terangkat ke atas. Seolah memberi isyarat pada Sara. Saat Sara hendak protes.
Sara menoleh. Tersenyum. Dirinya baru ingat jika sekarang sedang berada di kamar baby Al. "Aku ketiduran." kekeh Sara pelan.
Tidak menyangka. Dirinya akan merasakan nyaman saat berada di dekat bayi berumur setahun tersebut. "Dia belum bangun." lirih Sara.
Takut suaranya akan menganggu tidur dari baby Al. "Masih nanti." sahut Renggo.
Sara mengerutkan keningnya. Menepis kedua tangan Renggo yang berada di dekatnya. Seolah sedang mengungkung tubuhnya.
Cup,,, Renggo kembali mencium singkat bibir Sara, dan membiarkan Sara untuk duduk.
Sara turun dari ranjang kecil milik baby Al. Merapikan penampilannya yang sedikit acak-acakan karena baru bangun tidur.
"Kamu tetap cantik." ujar Renggo, menatap Sara yang sedang sibuk sendiri.
Sara memanyunkan bibir. Tidak mengindahkan perkataan Renggo. "Apalagi jika tanpa baju." celetuk Renggo.
Tangan Sara yang sibuk berhenti. Sara melotot ke arah Renggo. Tapi Renggo hanya tersenyum simpul.
"Bisa-bisanya bicara seperti itu." dumal Sara dalam hati.
Renggo berdiri. "Tolong, rapikan." pinta Renggo.
Sara menggeleng, mengancingkan kancing di jas Renggo. Membenahi letak dasinya yang sedikit miring. "Selesai." Sara berucap tanpa mengeluarkan suara. Hanya menggerakkan bibir saja.
Cup,,,, lagi, Renggo mengecup singkat kening Sara.
Tidak ingin menggangu tidur dari baby Al, Renggo dan Sara keluar dari dalam kamar. Dan langsung menuju ke ruang makan.
Dimana makanan sudah tertata rapi di atas meja. "Hari ini, kamu mau kemana?" tanya Renggo.
__ADS_1
Sementara Sara sibuk mengambilkan makanan, dam menaruhnya di atas piring milik Renggo.
"Nanti Erlangga akan datang ke sini." ucap Sara memberitahu Renggo.
Renggo terdiam. "Erlangga." cicitnya, menatap Sara dengan tatapan tidak suka.
Sara mengangguk. Lalu duduk. Sebab piring Renggo sudah berisi beberapa makanan yang dia ambilkan. Hanya tinggal menantikan Renggo untuk mengambil dan menyantapnya.
Renggo menatap tajam ke arah Sara. "Kapan?"
"Belum tahu. Dia menghubungiku. Datang ke apartemen. Mungkin, karena apartemen kosong, dia menelpon aku."
"Kamu memberitahu dia. Kalau kamu tinggal di sini?" tanyanya dingin.
Sara mengangguk. "Dia bertanya."
Renggo kesal sendiri. Ingin sekali Renggo tetap berada di rumah. Tapi mustahil. Ada pertemuan penting pagi ini.
Bukan perusahaannya. Tapi perusahaan sang papa. Dan Renggo bertanggung jawab atas hal tersebut.
Hening. Renggo makan dengan ekspresi dingin. Dan Sara belum menyadarinya. Sebab terlalu fokus pada makanan yang ada di piringnya.
Beberapa menit, baru Sara merasa ada yang berbeda. Mengangkat wajahnya dan menatap calon suaminya.
Sara menatap Renggo dengan lamat-lamat. "Tenang saja, mungkin Erlangga datang untuk menanyakan kenapa aku berhenti bekerja." jelas Sara.
Sara tahu, kekasihnya pasti sedang merasa cemburu. Apalagi, sebelum menjalin hubungan dengan Renggo, Sara memang santer dikabarkan dekat dengan Erlangga.
Renggo mengangguk tanpa memandang ke arah Sara.
Selesai sarapan, Sara mengantar Renggo hingga teras depan. "Hati-hati." ujar Sara.
Renggo hanya diam dan mengangguk kecil. Sara menahan lengan Renggo, merasa sang kekasih masih merajuk. "Kita akan bicara di rumah. Ada banyak orang di sini. Tidak perlu khawatir." papar Sara.
Renggo melepaskan tangan Sara dari lengannya. "Aku berangkat dulu."
"Renggo." Sara memeluk Renggo dari belakang. Renggo tersenyum samar. Ini pertama kalinya Sara bersikap agresif padanya.
Padahal Sara hanya memeluknya. Namun rasanya sungguh berbeda. Ada berjuta kupu-kupu yang terbang di sekeliling mereka.
"Khemm..." Renggo segera menetralkan emosinya. Dirinya tidak ingin Sara mengetahui apa yang dia rasakan.
Renggo membalikkan badan, dan otomatis Sara melepaskan pelukannya. "Aku hanya mencintai kamu." cicit Sara dengan wajah sedih bercampur takut.
Astaga, bagaimana Renggo tidak tergila-gila pada perempuan di depannya. Jika saja Renggo tidak ada pertemuan penting.
Renggo pasti akan membawa Sara ke dalam rumah dan menciumi seluruh wajahnya.
Ingin sekali Renggo mencium Sara, tapi dia menahannya. Dia tidak ingin terlihat begitu mudah luluh di depan Sara.
"Ingat. Aku tidak suka dikhianati." tegas Renggo, dengan nada tertahan dan pandangan mata menghunus tajam.
Sara segera mengangguk. Memeluk kembali tubuh Renggo, dan kali ini dari depan. "Mana mungkin aku mengkhianatimu. Aku sangat mencintai kamu." cicit Sara.
Renggo tersenyum senang melihat dan mendengar semua yang diucapkan Sara. Tapi segera dia menghilangkan senyumnya. "Aku berangkat. Titip baby Al." Sara mengangguk.
Giska bercermin di depan kaca full body. Melihat penampilannya dari kaca tersebut. "Kenapa gue bisa lupa, jika punya anak." kekehnya.
Merasa jika hal tersebut adalah hal sepele. "Mungkin karena bentuk tubuhku yang tetap aduhai. Sampai lupa, jika pernah melahirkan." ucapnya tanpa rasa bersalah.
Giska terus menatap tubuhnya juga wajahnya dari pantulan kaca. Tersenyum licik. "Akan aku buat Renggo kembali ke dalam pelukanku."
Giska memeluk tubuhnya sendiri. "Lelaki mana yang tidak akan memuja perempuan seperti aku." Giska meraba kulit wajahnya yang putih dan bersih seperti porselen.
"Seksi dan cantik. Tanpa cela." pujinya pada diri sendiri dengan penuh percaya diri.
"Viki mungkin sudah tidak bisa aku dapatkan. Tapi Renggo, aku yakin. Dia masih tergila-gila dengan diriku." ucapnya.
Giska menginginkan Renggo kembali tak lain karena alasan ekonomi. Giska membutuhkan seseorang yang bisa memberikan dirinya kepuasan materi.
Jika Renggo dulu selalu bersikap royal, dan membelikan apapun yang dia mau dan dia inginkan. Bahkan rela menjadi budak untuk melayani nafsunya. Padahal saat itu Renggo tahu. Jika dirinya mencintai dan menginginkan Viki.
Pasti sekarangpun juga sama. Itulah yang ada dalam benak Giska. Renggo tidak akan pernah berubah. "Mungkin kemarin karena ada sekertarisnya yang menyebalkan. Makanya dia pura-pura menolak."
Giska tersenyum, masih memandang wajahnya dari pantulan cermin. "Aku yakin, dengan sedikit kelembutan dan godaan, Renggo akan kembali ke tanganku."
__ADS_1
Giska tersenyum smirk. "Pasti." ucapnya, melihat ke arah tangannya, seperti sedang menggenggam sesuatu di dalamnya.