VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 30


__ADS_3

Nara sedang mencuci beberapa wadah kotor yang sempat dia gunakan untuk memasak. Bima masih terlelap dalam tidurnya. Sementara Rini, sedang mencuci muka, karena baru saja bangun tidur.


Suara gedoran pintu mengagetkan Nara dan Rini. Bahkan Bima sampai terbangun. "Siapa kak?" tanya Rini takut. Lantaran tidak biasanya hal ini terjadi. Dan juga masih terlalu pagi untuk orang yang akan bertemu ke kontrakan mereka.


Nara menggeleng. "Kamu jaga Bima." pinta Nara. "Biar kakak yang buka pintu." Nara segera mencuci bersih tangannya yang terkena sabun.


Rini menenangkan Bima yang hendak menangis karena terkejut.


Nara mengernyitkan dahinya saat dia sudah membuat pintu. Merasa bingung. Kenapa banyak orang di depan rumahnya. "Ada apa?" tanya Nara.


Tiba-tiba seorang perempuan muda hendak menyerang Nara. Tapi segera dihentikan oleh yang lain. Serangan yang membuat Nara tersentak kaget. Beruntung Nara melangkahkan kakinya kebelakang.


"Usir saja dari sini. Membuat resah!!" teriak ibu-ibu dengan wajah kesal memandang ke arah Nara.


Bu Anis segera berdiri di depan Nara. Sepertinya Bu Anis mencoba melindungi Nara. "Semuanya tenang. Ini kontrakan milik saya. Saya tidak ingin ada keributan. Jadi, kita bicarakan baik-baik." ucap Bu Anis menenangkan semua orang.


Nara masih bingung dengan keadaan ini. Apalagi raut wajah setiap orang berbeda saat menatapnya. Ada yang iba, ada yang kesal, bahkan ada yang memandang Nara dengan tatapan benci dan jijik.


"Maaf, ini ada apa?" Nara memberanikan diri untuk membuka mulutnya. Bertanya apa yang terjadi.


"Dasar perempuan munafik. Sok suci." seru seorang perempuan.


"Bu,," ucap seorang lelaki paruh baya.


"Apa. Jangan-jangan bapak juga menginginkan tubuh perempuan itu." sungutnya pada sang suami, saat suaminya hendak menyuruhnya diam.


"Tenang semua!!!" teriak seorang lelaki tua. Dimana beliau sangat di segani di gang ini. Di mana sebagian besar orangnya bekerja sebagai seorang pemulung.


"Bukankah tadi kita sudah berbicara. Akan menyelesaikannya dengan cara baik-baik." ucap beliau mengingatkan.


"Maaf pak, tapi saya sudah muak melihat wajah sok polosnya. Pengen saya cakar-cakar."


"Sudah semuanya, harap tenang. Keberadaan kita di sini untuk bertanya pada Nara. Menyelesaikan masalah. Bukan malah menambah masalah." ucap Bu Anis.


"Bertanya apa. Perempuan ini pasti tidak mau mengaku." seru perempuan muda yang hendak menyerang Nara tadi.


"Kalau kamu tidak bisa diam, sebaiknya kamu pulang." usir seorang lelaki menatapnya dengan tajam. Membuatnya mau tidak mau membungkam mulutnya. Tapi matanya tetap memandang Nara dengan tatapan bengis. Seperti ingin melenyapkan Nara.

__ADS_1


"Nara, ibu mau tanya. Apa kamu kenal dengan lelaki itu?" tanya Bu Anis menunjuk kepada seorang lelaki muda yang diam menunduk.


"Diakan lelaki yang kemarin ada di gang bersama teman-temannya." batin Nara.


"Tidak bu." jawab Nara tidak berbohong. Karena Nara hanya melihat wajahnya kemarin saja. Bahkan Nara tidak mengetahui namanya.


"Kalian dengarkan." ucap Bu Anis.


"Namanya juga salah, mana mau ngaku kalau salah, kotor lagi!!" seru yang lain masih tidak terima.


"Sebenarnya ada apa ini bu?" tanya Nara.


"Begini nak Nara." sahut lelaki tua di samping Nara.


"Lelaki tadi bilang pada dia." beliau menunjuk ke arah perempuan yang hendak menyerang Nara. "Dia adalah calon istrinya." jelas beliau.


"Katanya kamu kemarin menggodanya. Makanya kalian janjian keluar bersama." imbuh beliau.


"Astaga. Tidak pernah pak. Sumpah." tegas Nara terkejut. Bagaimana bisa lelaki itu bisa berbicara seperti itu. Padahal mereka yang menggoda Nara. Kenapa malah dia membalikkan ceritanya.


"Semalam saya di rumah. Bersama kedua adik saya. Mereka berdua saksinya." ucap Nara membela diri.


"Ra, uang lelaki tersebut habis. Dia bilang semalam di kasih ke kamu." imbuh Bu Anis dengan lembut. Menatap iba pada Nara.


Bu Anis percaya, Nara anak yang baik. Tidak mungkin melakukan hal sekotor apa yang dituduhkan mereka.


"Sumpah Bu. Nara tidak melakukan apa-apa. Nara tidak pernah melakukan yang dituduhkan mereka. Nara juga tidak pernah menerima uang dari dia." ucap Nara menahan amarah. Atas perkataan semua orang.


"Kalian dengarkan." ucap Bu Anis.


"Sekarang kalian bisa pulang." imbuh Bu Anis.


"Tidak bisa!! Kami tetap tidak tenang jika perempuan sok suci ini masih tinggal di lingkungan ini. Kami mempunyai suami dan anak lelaki." kekehnya.


"Benar. Bisa jadi dia melakukan lagi." imbuh yang lain.


Nara mendesah. "Melakukan apa. Nara tidak pernah melakukan apapun yang kalian tuduhkan." ucap Nara dengan nada tinggi.

__ADS_1


"Dan kamu." Nara menatap tajam ke arah lelaki tersebut. "Kenapa kamu tega memfitnah saya. Salah saya apa sama kamu." ucap Nara meledak, tidak bisa mengontrol emosinya lagi.


"Kenapa kamu marah sama anak saya. Anak saya nggak mungkin mau, jika kamu nggak menggodanya." seru seorang ibu-ibu. Lelaki tersebut hanya diam dan menunduk.


Seolah dirinya memang tidak mau menceritakan kebenarannya di depan semua orang.


"Pokoknya. Kami tidak mau dia tetap tinggal di tempat ini. Jika dia tetap tinggal disini. Lebih baik saya angkat kaki." teriak seseorang.


"Saya juga."


"Saya juga. Saya khawatir sama suami dan anak saya."


Bu Anis mengusap pelan lengan Nara. Mencoba memberi semangat pada Nara.


"Eee,,,, tunggu!!!" teriak pak Gombloh. Suami Bu Anis.


"Kenapa kalian pergi?" tanya pak Gombloh. Jika mereka pergi, lantas bagaimana dengan kontrakannya.


Pasti akan sulit mencari orang untuk mengontrak rumah dia lagi. Apalagi, sekarang sudah berhembus kabar tak enak tentang Nara. Pasti tidak akan ada yang mau untuk mengontrak rumahnya lagi.


"Baiklah. Saya janji akan mengusir Nara keluar dari kontrakan saya."


"Pak...!!" seru bu Anis.


"Diam." bentak oak Gombloh.


"Tapi kalian harus janji. Jangan pergi. Bagaimana?" ucap Pak Gombloh mencoba bersepakat dnegan mereka.


"Baik. Tapi jika nanti siang dia masih ada di sini. Kami semua akan meninggalkan kontrakan ini"


"Setuju." ucap mereka serempak.


Kebanyakan dari mereka adalah ibu-ibu. Karena para lelaki tidak mau mengurusi masalah seperti itu. Mereka memilih untuk bekerja dan mencari uang.


"Pak, kenapa bapak bicara begitu?" tanya bu Anis pada suaminya. Dengan nada tidak suka dengan keputusan yang di buat suaminya.


"Pakai otakmu." jari Pak Gombloh menunjuk tepat di kening Bu Anis.

__ADS_1


"Jika mereka pergi, kita dapat uang dari mana. Bodoh."


"Dan dia. Apa dia mau menyewa semua kontrakan ini." geram pak Gombloh meninggalkan kontrakan Nara.


__ADS_2