VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 60


__ADS_3

"Kenapa mereka melakukannya!!" geram Tuan Marko.


Saat bawahannya memberi laporan jika Viki telah bekerja sama dengan tiga pengusaha yang juga menjadi rekan kerja Tuan Marko.


"Mereka berempat meneruskan proyek sebelumnya, yang pernah tertunda." jelas bawahan Tuan Marko.


"Apa mereka bertiga tidak tahu, juka hubunganku dan Viki tidak baik." dengus Tuan Marko.


"Dalam sebuah bisnis, mereka tidak memerlukan dan tidak memikirkan sesuatu seperti itu Tuan. Seperti juga anda, sebagai pebisnis. Keuntungan tetaplah nomor wahid." jelasnya.


Tuan Marko mengibaskan tangannya, dengan segera bawahannya meninggalkan ruangan Tuan Marko. "Apa sebenarnya yang di inginkan Viki. Apa dia sengaja menantangku!" ucap Tuan Marko dengan nada kesal.


"Siapa yang menantang siapa?"


Tanpa pemberitahuan dari sekertaris, Nyonya Gina masuk ke dalam ruang kerja sang suami. Beliau mendengar semuanya dari luar.


Hingga bawahan sang suami meninggalkan ruangan, barulah dia masuk ke dalam. "Saya ke sini hanya ingin mengantarkan ini." ucap Nyonya Gina, saat sang suami menatapnya dengan pandangan mata yang tajam.


Nyonya Gina melempar sebuah amplop coklat ke atas meja kerja Tuan Marko. Tangan Tuan Marko mengambil amplop tersebut.


Seketika darah Tuan Marko mendidih melihat apa yang ada di dalam amplop tersebut. "Ini.. Giska." geramnya dengan wajah menahan amarah.


Dengan tenang, Nyonya Gina membuka suara. "Orang suruhanku yang mendapatkannya. Dan seharusnya kamu tahu. Siapa lelaki yang bersama putri kita di atas ranjang itu." ucap Nyonya Gina, berbohong.


Entah, alasan apa yang membuat Nyonya Gina berbohong pada suaminya.


SEBELUMNYA...


"Perkenalkan, saya Renggo." ucap Renggo dengan ramah dan sopan. Mengulurkan tangannya saat bertemu dengan Nyonya Gina di sebuah restoran.


Renggo memang sengaja menyuruh asistennya untuk membuat janji temu dengan Nyonya Gina. Tanpa sepengetahuan Giska dan pastinya Tuan Marko.


Nyonya Gina menyambut uluran tangan dari Renggo. "Gina. Silahkan duduk." ucap Nyonya Gina dengan ramah.


"Pasti anda sudah bisa menebak. Jika saya yang mengundang anda datang ke tempat ini." ucap Renggo.


Pandangan Nyonya Gina meneliti dan menilai penampilan Renggo. Tapi Renggo tidak marah dengan hal tersebut. Wajar bagi Nyonya Gina melakukannya. Karena mereka baru bertemu pertama kali.


Renggo memberikan sebuah amplop coklat pada Nyonya Gina. "Saya sangat mencintai putri anda. Giska." ucap Renggo tanpa berbasa-basi.


"Silahkan." imbuh Renggo, menyuruh Nyonya Gina membuka amplop tersebut. Dan mengetahui isinya.


Dengan anggun, Nyonya Gina mengambil dan membuka amplop tersebut. Nafas nyonya Gina tercekat, saat melihat isi dari amplop tersebut.


Nyonya Gina memandang tajam ke arah Renggo. "Kami sudah bertemu dan menjalin hubungan sudah lama. Tapi Giska, tidak mau jika hubungan kami diketahui oleh orang lain." ada jeda dalam perkataan Renggo.


"Dan saya selalu menurutinya. Membiarkan Giska bermain dengan leluasa di luar." Renggo mengambil cangkir berisi kopi yang baru saja di turunkan oleh pelayan restoran, dan menyeruputnya.


Di letakkannya cangkir tersebut kembali di atas meja. "Saya pikir, Giska akan bosan suatu saat nanti. Tapi ternyata saya salah. Huffffttttt." Renggo menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Ada seorang lelaki yang berhasil mencuri seluruh perhatiannya. Bahkan sekarang, Giska terobsesi untuk memilikinya." imbuh Renggo.


Nyonya Gina memandang tajam ke arah Renggo. "Apa yang kamu inginkan." tanya Nyonya Gina dengan tatapan mata menyalang.


Tak dapat di pungkiri. Meskipun Giska sudah banyak menorehkan luka di hati beliau. Tapi Giska tetap anaknya. Darah dagingnya.


Tidak ada satu pun orang tua di dunia ini yang rela melihat anaknya menderita. Termasuk Nyonya Gina.


"Izinkan saya menikahi putri anda." ucap Renggo.


Nyonya Gina tersenyum sumir mendengar permintaan Renggo. "Saya akan membahagiakan putri anda. Pasti anda tahu siapa keluarga saya. Bahkan, kekayaan saya melebihi apa yang di miliki oleh Viki." tegas Renggo, menyakinkan Nyonya Gina.


"Kekayaan." ejek Nyonya Gina tersenyum kecut, mendengar pemuda di depannya berbicara tentang harta.

__ADS_1


"Maaf Nyonya, bukan seperti itu maksud saya." ralat Renggo segera. Dirinya hanya tidak ingin jika mama dari Giska salah paham terhadapnya.


Apalagi selama ini Giska tidak pernah kekurangan uang. "Mungkin saat ini Giska belum bisa menerima saya sepenuhnya. Karena sekarang dia sedang terobsesi dengan sosok Viki." jelas Renggo.


Nyonya Gina tersenyum, memandang ke arah Renggo. "Kamu belum terlalu mengenal siapa Giska. Meski kalian sudah saling kenal selama satu tahun lebih. Mungkin." ucap Nyonya Gina.


"Apapun yang di diinginkannya. Dia harus mendapatkannya. Dan kamu hanya mengetahui Giska yang manja, bukan?" imbuh Nyonya Gina.


"Sekarang, bukan soal Viki yang aku takutkan. Tapi soal siapa perempuan di samping Viki. Karena dengan sifat Giska, dia bisa mencelakakan mereka." jelas Nyonya Gina, membuat Renggo terkejut.


"Sekarang saya akan bertanya. Dengan apa kamu akan membuat Giska menyukai kamu. Uang." ucap Nyonya Gina terkekeh.


Seketika Renggo bungkam. Nyonya Guna beranjak dari duduknya. "Beritahu saya, jika kamu sudah mendapatkan cara untuk membuat Giska menyukai kamu. Tapi ingat, saya tidak menyukai cara yang menjijikkan dan juga kriminal." ucap Nyonya Gina penuh penekanan.


"Dan ini, akan saya bawa. Terimakasih." ucap Nyonya Gina.


"Satu lagi. Jangan memberitahu pertemuan kita pada siapapun. Termasuk suami saya dan Giska." imbuh Nyonya Gina, Gina, meninggalkan Renggo sendirian di restoran.


Renggo mengernyitkan keningnya "Cara menjijikkan dan kriminal." gumam Renggo, melihat mama dari perempuan yang di cintanya keluar dari pintu restoran.


Renggo tersenyum. "Pasti Nyonya Gina berpikir gue akan melenyapkan Viki." gumam Renggo terkekeh dan menggeleng pelan.


"Saya bukan manusia seperti itu Nyonya. Lagi pula, saya juga tidak akan membuat masalah dengan seseorang bernama Viki." imbuh Renggo dalam hati.


Mengingat siapa saja sahabat dari Viki. "Saya akan cari aman. Untuk mendapatkan Giska." gumam Renggo, seperti mendapatkan cara membuat Giska hanya memandang pada dirinya.


KEMBALI KE RUANG KERJA TUAN MARKO....


"Dia,,,,," Tuan Marko mengingat wajah lelaki yang berada di foto bersama dengan Giska.


"Renggo." sahut Nyonya Gina dengan lantang. "Dan papa pasti tahu dari keluarga mana dia berasal." ucap Nyonya Gina.


"Sekarang papa mengerti, kenapa mama selalu melarang papa. Saat papa sangat memanjakan Giska. Memberikan semua yang dia mau." ucap Nyonya Gina menggebu-gebu.


"Setiap malam berkumpul dengan kelompok sosialitanya. Yang menurut mama sangat memuakkan. Mereka sama sekali tidak memberikan pengaruh baik pada putri kita. Malah sebaliknya."


Tuan Marko duduk sembari memijit kepalanya. "Sebaiknya papa jangan terlalu fokus dengan Viki." ucap Nyonya Gina, sontak membuat Tuan Marko menatap padanya.


"Sudah mama tekankan berkali-kali. Viki tidak bersalah. Viki tidak akan merubah sikap dan sifat Giska. Viki sama sekali tidak mencintai putri kita." ucap Nyonya Gina.


"Sekarang yang mama inginkan. Kita fokus pada Giska. Jangan sampai dia terlalu masuk ke dalam lubang hitam." cecar Nyonya Gina.


"Apa yang harus papa lakukan?" tanya Tuan Marko dengan wajah terlihat lesu dan murung.


Nyonya Gina tersenyum. "Cabut semua fasilitas yang papa berikan pada Giska."


"Maaa.... mana mungkin." seru Tuan Marko, merasa keberatan.


"Soal Giska, serahkan semuanya pada mama. Papa lihat, hasil didikan papa. Berantakan. Dengarkan perkataan mama. Sebelum Giska di luar kendali kita." tekan Nyonya Gina.


Sungguh, Nyonya Gina tidak ingin putrinya lebih hancur lagi. Cukup sampai di sini, dirinya melihat sang suami memanjakan putrinya.


Sebelum menemui sang suami, Nyonya Gina terlebih dahulu menemui sahabatnya. Dia mencari tahu sosok Renggo.


Dan ternyata semua dugaan Nyonya Gina di luar perkiraannya. Renggo benar-benar lelaki baik. Sama halnya dengan Viki.


Bahkan dirinya sama sekali tidak pernah terlibat masalah atau membuat ulah. Satu lagi, Renggo berasal dari keluarga terpandang sama dengan Viki.


Dimana keluarga Renggo termasuk keluarga yang masih menganut adat budaya zaman dulu, meskipun mereka termasuk keluarga pengusaha yang sukses.


"Haaahhh,,,, Apa keluarga Renggo mau menerima Giska." desah Nyonya Gina.


Karena menurut pengamatan Nyonya Gina, keluarga Renggo sangat jeli dan pemilih dalam memberi restu untuk anak mereka saat mereka memilih pasangan.

__ADS_1


Apalagi Nyonya Gina sangat mengetahui, jika mereka tidak memandang seseorang dari kekayaan. Yang artinya, Giska sangat jauh dari kriteria keluarga Renggo.


Terlebih dengan sifat dan sikap Giska selama ini. "Bagaimana jika mereka tahu, Giska dan Renggo sudah berhubungan badan." ucap Nyonya Gina dalam hati.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ellll.....!" seru Viki tidak percaya. Saat melihat ada pesan tertulis dari sahabatnya. Ella.


Dengan mata berkaca Viki menciumi ponselnya. Seolah sedang meluapkan rasa rindu pada sahabatnya melalui tulisan yang dikirimnya melalui ponsel tersebut.


Segera Viki membaca apa yang di tuliskan sahabatnya tersebut. Viki tersenyum sumringah setelah membacanya.


Viki kembali mencium berkali-kali layar ponselnya. "Dari dulu, elo memang bisa di andalkan." ucap Viki, segera memakai pakaian.


Baru saja Viki menaruh ponselnya ke dalam saku pakaiannya, sudah terdengar suara ponselnya.


Dengan segera Viki kembali mengeluarkan ponsel tersebut. Berharap sahabatnya yang menelpon dirinya. "Ckkk,, gue pikir Ella." gumam Viki berdecak.


"Ada apa?" tanya Viki pada si penelpon.


"Tuan, ternyata Giska yang mengintai semua kegiatan anda." lapor Rey di balik ponsel.


Viki memijat dan sedikit menekan pangkal hidungnya. "Apa maunya dia." ucap Viki.


"Perempuan tersebut hanya mengalami luka gores di pipi sebelah kanan." imbuh Rey.


Viki mendengus mendengar laporan dari Rey. "Baiklah, nanti kita bicarakan lagi soal Giska. Bagaimana dengan proyek kita. Apa sudah mulai berjalan?" tanya Viki.


"Baik Tuan. Untuk proyek, semua seperti yang anda harapkan. Dan ada beberapa orang kita yang berada dalam kelompok yang sempat bersitegang dengan ketiga pengusaha. Seperti yang sudah anda perintahkan." jelas Rey panjang lebar.


"Bagus. Jangan lupa, taruh juga mereka dalam pembangunan. Saya tidak ingin kecolongan." perintah Viki.


"Baik Tuan." ucap Rey, menunggu panggilan di matikan oleh Viki. Setelahnya Rey, memasukkan ponselnya ke dalam saku celana miliknya.


"Jangan sampai Giska bertemu dengan Nara. Dia terlalu berbahaya." batin Viki sambil melangkahkan kaki ke ruang kerja Tuan Hendra.


Di dalam ruang kerja Tuan Hendra, sudah ada Nyonya Rahma dan juga Nara. "Ada apa nih pa, mau arisan." celetuk Viki begitu masuk ke dalam ruangan.


Viki mendaratkan pantatnya ke kursi empuk. "Beruntung gue udah baca pesan dari Ella." ucap Viki dalam hati.


"Tenang. Tetap tenang. Sebagai lelaki harus tetap tenang." imbuh Viki dalam hati.


"Papa tidak mau bertele-tele. Pasti semua sudah tahu, kenapa papa menyuruh kalian berkumpul di sini." ucap Tuan Hendra.


"Maaf, sebentar pa. Viki mau berbicara." ucap Viki, memotong perkataan sang papa. Berusaha untuk bersikap tetap tenang.


Semua memandang ke arah Viki. "Soal perkataan Viki kemarin. Dimana Viki ingin menikahi Nara. Viki serius pa. Viki tidak main-main." ucap Viki dengan tenang.


Mengalihkan pandangan kepada Nara. "Tentang Nara. Viki akan menunggu Nara. Sampai Nara siap menikah dengan Viki." ucap Viki, seakan dirinya tidka menuntut pada Nara.


"Bagaimana Nara?" tanya Tuan Hendra.


"Awas saja kalau Nara bilang tidak mau." ucap Viki dalam hati. Karena sejak tadi, dirinya sudah menahan rasa gugupnya.


Nyonya Rahma mengelus pelan bahu Nara. Beliau tahu, jika saat ini Nara sedang gugup. "Nara mau menikah dengan bang Viki. Kapanpun. Dan Nara tidak keberatan jika harus melepas masa muda Nara." ucap Nara.


Nara mengalihkan pandangan ke arah Viki. "Selama ini, Nara hidup bertiga dengan kedua adik Nara. Jadi om dan tante tidak perlu khawatir, Nara tidak akan menjadi istri yang manja." ucap Nara, beralih memandang Nyonya Rahma.


Segera Nyonya Rahma membawa Nara dalam pelukannya. "Kamu bukan perempuan manja. Kamu hebat." ucap Nyonya Rahma mencium ujung kepala Nara.


"Akhirnya." ucap Viki dalam hati, merasa lega. Tapi ada satu pesan dari Ella yang membuatnya merasa sedikit bingung. Dan Viki akan membicarakannya sekarang.


"Baiklah, jika kalian berdua sudah memutuskannya. Papa hanya bisa merestuinya." ucap Tuan Hendra tersenyum.

__ADS_1


"Tunggu pa, tapi Viki masih belum bisa menikah dengan Nara dalam waktu dekat ini." ucap Viki.


Membuat semua orang memandang ke arah Viki. Bukankah Viki yang ngotot untuk menikahi Nara. Dan sekarang, setelah mendapat restu. Viki malah seakan melangkah mundur.


__ADS_2