VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 19


__ADS_3

Giska. Perempuan cantik, putri semata wayang dari seorang pengusaha. Menjadikan dirinya sangat manja. Apapun yang diinginkannya harus terpenuhi.


Mungkin karena sedari kecil, sang papa selalu menuruti semua keinginannya. Meski sang mama selalu melarang, tapi suaminya seperti acuh akan perkataan sang istri untuk tidak terlalu memanjakan putri semata wayangnya.


Hingga saat ini, apa yang diinginkan Giska harus terpenuhi dan terwujud. Apapun itu, dan bagaimanapun caranya.


"Nyonya." ucap pembantu di rumah tersebut melihat sang majikan keluar dari kamar putrinya dengan menangis. Dan sepertinya dia tahu apa penyebabnya. Karena hal ini sudah sering terjadi.


"Aku hanya takut jika Giska semakin tidak terkendali." ucap mama Giska.


"Bagaimana jika aku dan suamiku sudah tidak ada." imbuhnya.


"Dari dulu, aku sudah melarang papanya memperlakukan Giska dengan manja. Tidak semua yang dia inginkan bisa dia raih. Tapi kamu tahu sendiri, bagaimana suamiku selalu memarahiku. Jika aku mengingatkannya." ucap mama Giska pada pembantu yang sudah tua tersebut.


Karena pembantu tersebut sudah bekerja di rumah ini selama berpuluh-puluh tahun. Dia hanya diam mendengarkan keluar kesah majikannya tersebut.


Karena memang tidak ada yang bisa dia lakukan. Karena posisinya hanya seorang pembantu.


Terdengar dari luar jika Giska sedang menelpon papanya. Karena sang mama dan pembantu masih berada di depan kamar Giska dengan pintu terbuka lebar.


Saat ini papa Giska sedang berada di luar negeri, untuk melakukan perjalanan bisnisnya. "Terimakasih banyak pa. Giska sayang papa."


Terdengar suara Giska yang senang. Menandakan jika papanya akan membantu Giska mendapatkan apa yang Giska inginkan.


"Aku hanya takut, jika Giska melakukan hal yang tidak baik pada orang lain. Aku tidak ingin mempunyai anak yang tidak mempunyai hati nurani. Apa itu salah." ucap mama Giska menangis.

__ADS_1


Mama Giska hanya tidka ingin putrinya melukai orang lain, dan juga dirinya sendiri.


Karena sejak kecil, Giska lebih dekat dengan sang papa. Dan Giska tidak terlalu dekat dengan sang mama. Lantaran cara mendidik keduanya yang berbeda.


Dan Giska lebih senang berada dekat dengan sang papa yang selalu menuruti semua kemauannya, ketimbang sang mama yang selalu menentang apa yang diinginkannya.


Di kediaman Tuan Hendra, Nyonya Rahma sedang mengeluarkan semua gundah di hatinya pada sang suami.


"Mama hanya tidak mau jika Viki selalu memperhatikan Ella pa, Ella sudah menikah." ungkap sang istri


"Ma, Ella sudah menikah. Berarti memang tidak ada hubungan khusus antara Ella dan Viki." ucap Tuan Hendra.


"Tapi kenapa Viki selalu memperhatikan Ella." kekeh Nyonya Rahma.


"Mama akan menemui Ella. Menyuruhnya menjauh dari Viki. Dengan begitu, Viki akan membuka hatinya pada perempuan lain." tegas Nyonya Rahma.


"Jangan gegabah ma. Jika sampai mama salah langkah, keluarga kita jaminannya. Terlebih hubungan kita dengan keluarga Ella." saran Tuan Hendra.


"Sekarang mama berpikir secara tenang. Apa selama ini Ella maupun Viki pernah mempublish hubungan mereka. Tidak. Yang semua orang tahu, Ella kekasih Vano. Dan mama lihat, siapa Vano. Apa mungkin seseorang yang berkuasa seperti Vano akan diam melihat Ella berselingkuh darinya. Mengkhianatinya. Meskipun dengan putra kita. Viki." jelas Tuan Hendra memberi pengertian pada sang istri.


"Jika benar Ella dan Viki berselingkuh. Apa mama pikir keluarga kita masih bisa hidup dengan tenang dan nyaman. Pasti Vano membuat kita sengsara ma." imbuh Tuan Hendra.


Nyonya Rahma hanya diam. Mencerna perkataan sang suami. "Mama hanya ingin melihat Viki segera berkeluarga. Tidak ada yang tahu umur manusia pa. Mama hanya takut, seandainya kita meninggalkan Viki sendiri." ucap Nyonya Rahma meneteskan air mata.


Tuan Hendra mendesah berat. Membawa tubuh sang istri ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Jangan pernah merusak hubungan yang sudah terjalin dengan baik. Seandainya mama benar mendatangi Ella hanya untuk memintanya menjauh dari Viki. Lantas Ella melakukannya. Apa mama tidak berpikir dampaknya."


Tuan Hendra sebenarnya tahu maksud sang istri. Tapi sebagai suaminya, beliau tidak mau jika sang istri salah langkah. Apalagi mereka adalah panutan rakyat.


Karena papa Viki menjabat sebagai Gubernur di kota tersebut.


"Bagaimana jika Viki malah yang menjauh dari kita, seperti dulu. Belum lagi keluarga Ella. Pastinya mereka juga akan kecewa dengan sikap mama." ucap Tuan Hendra.


"Ma, jika saran papa. Mama sebaiknya bertanya pada Ella. Perempuan seperti apa yang di inginkan putra kita. Bukankah mereka sudah seperti saudara." saran Tuan Hendra.


Nyonya Rahma mengurai pelukan dari tubuh sang suami. "Iya ya pa. Kenapa mama tidak berpikir sampai sana." ucap Nyonya Rahma membenarkan perkataan sang suami.


"Tapi, mama sudah berjanji pada Giska." imbuh Nyonya Rahma.


"Jika Viki juga tertarik dengan Giska. Nyatanya, anak itu bahkan enggan sekedar menatap wajah Giska." kata Tuan Hendra.


"Mama suka dengan Giska. Dia perempuan yang lembut dan baik. Mama yakin, dia bisa menjaga dan mendampingi Viki."


"Baik di mata mama, belum tentu tepat menjadi pendamping Viki. Seorang pendamping, bukan hanya sekedar baik. Jika mama cari yang seperti itu. Pembantu di rumah kita malah baik semua." canda Tuan Hendra.


"Papa." rajuk sang istri.


"Ma, apa yang kita lihat. Belum tentu sepeti apa yang kita pikirkan. Mama jangan terlalu jauh menjodohkan Giska dengan Viki. Nanti yang ada, Viki malah kabur lagi ke luar negeri." ujar Tuan Hendra.


Sebenarnya Tuan Hendra juga kurang menyukai Giska. Entah dari sudut pandang mana. Tapi hati Tuan Hendra tidak srek dengan kehadiran Giska di sisi Viki.

__ADS_1


__ADS_2