VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 75


__ADS_3

"Kenapa kau mengemudikan mobil seperti siput." geram Viki, duduk di kursi belakang dalam mobil. Sementara Rey berada di belakang kemudi. Melajukan mobil menuju rumah sakit.


Rey hanya diam, tidak menjawab. Kerena Rey tahu, jika saat ini atasannya tersebut sedang dalam emosi tingkat tinggi yang tidak stabil.


Pikiran Viki sepenuhnya tertuju pada sang papa yang berada di rumah sakit. Tapi apalah daya, kecepatan mobil yang melaju tidak semulus jalanan aspal yang mereka lewati.


Ada banyak rentetan mobil di depannya. "Sial, kenapa harus jam istirahat." umpat Viki kesal dengan keadaan.


"Apa mereka tidak bisa makan di tempat kerja mereka." kesal Viki.


"Tuan, sabar. Di sana sudah ada Dokter Andrew. Pasti semua bisa beliau atasi." ucap Rey, namun sayangnya perkataan Rey hanya bisa dipendam di dalam hati saja.


Mana mungkin Rey berani memberi makan singa yang sedang kelaparan. Bisa jadi dirinya yang akan menjadi santapannya.


"Tekan klaksonmu. Mereka harus melajukan kendaraan mereka dengan cepat." ucap Viki meninju kursi di depannya berkali-kali.


Rey hanya bisa menghembuskan nafas dengan pelan. "Kenapa anda tidak keluar dari dalam mobil. Dan terbang. Seperti superman. Dengan begitu anda akan cepat sampai." keluh Rey dalam hati.


Viki merasa frustasi. "Tekan Reyyy!!" perintah Viki dengan nada rendah, tapi sangat menakutkan dalam pendengaran Rey.


Tittt,,, tiittt,,,tiitt,,,


Akhirnya Rey melakukan apa yang diperintahkan oleh atasannya. "Percuma kan Tuan." ucap Rey dalam hati.


Meski dia menekan klakson mobil, tetap saja mobil di depannya berjalan pelan. "Tuan, sabar. Lagi pula sebentar lagi kita sudah sampai tempat tujuan." lagi-lagi Rey hanya bisa mengucapkannya dalam hati..


Di rumah sakit tempat Tuan Hendra di rawat.


Andrew melihat pancaran di mata Nara, jika gadis di depannya tidak berbohong sama sekali. Bahkan untuk gadis seusianya, Nara tidak merasakan takut menghadapi seseorang yang mempunyai gelar dokter. "Geledah dan periksa semua, jangan sampai terlewatkan." perintah Andrew pada bawahan Viki.


"Baik." segera bawahan Viki melakukan apa yang diperintahkan oleh dokter Andrew. Semuanya hanya diam dan pasrah. Apalagi yang mereka hadapi adalah dokter muda berbakat, sekaligus putra dari pemilik rumah sakit.


Bawahan Viki memeriksa dengan teliti, mereka tidak ingin mendapat hukuman dari Tuannya. Terlebih yang mengatakannya adalah perempuan yang sejak kemarin ada di ruangan Tuan Hendra di rawat. Pastinya dia tidak berbohong.


Mereka menyimpulkan sendiri, jika Nara dan Viki mempunyai hubungan spesial. Meski mereka melihat jika keduanya mempunyai perbedaan mencolok di umur.


Sebelumnya, Viki mendapat telepon dari bawahannya yang berada di rumah sakit. Menceritakan apa yang di katakan oleh Nara pada Viki.


Tanpa membuang waktu, Viki dan Rey bergegas ke rumah sakit. Tapi Viki sadar jika akan membutuhkan waktu untuk sampai di sana. Terlebih saat ini jalanan juga sedikit padat akan kendaraan.

__ADS_1


Viki memutuskan menghubungi Andrew. Sahabat sekaligus anak dari pemilik rumah sakit. Menceritakan semua pada Andre.


Bawahan Viki tersenyum sinis. "Bisa anda menyingkir sebentar." pintanya pada seorang dokter.


Jangan remehkan kejelian mata dari bawahan Viki. Dia dapat melihat jika cara berpijak kaki dari sang dokter ada yang aneh.


"Anda seorang dengan pendidikan tinggi, seharusnya bisa mengerti. Tanpa aku mengulang perkataanku. Dokter." ucapnya lagi, dengan penekanan.


Andrew menatapnya dengan tajam. Dan bukan hanya dia, tapi semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut. Menatap ke arah sang dokter tersebut.


"Ckk,,, terlalu lama." dengus bawahan Viki lainnya. Dengan saru gerakan memindahkan tubuh sang dokter dengan cara mengangkatnya dari belakang.


Nara tersenyum melihat bagaimana mereka menyelesaikan masalah. Sesuatu menggelinding setelah badan sang dokter di pindahkan.


Tanpa ragu, Andrew langsung dengan cepat mengambil benda tersebut. Semua petugas medis menatap rekannya dengan tatapan tidak percaya.


Andrew melihat ke ara botol kecil berisi cairan berwarna bening. Membuka tutupnya dengan hati-hati. "Tak berbau." ucapnya dalam hati setelah mengendus baunya.


Tatapan matanya beralih ke arah sang dokter berdiri. "Maafkan saya, saya hanya di perintahkan oleh seseorang." ucapnya langsung berlutut di hadapan Andrew. Dengan kening sudah badah karena keringat ketakutan.


Nyonya Rahma menutup mulutnya dan menggeleng tidak percaya. Segera Nara merangkul beliau. Takut jika tubuh Nyonya Rahma limbung.


"Kamu,,," ucap Nyonya Rahma dengan suara bergetar. "Apa suami saya pernah berbuat salah padamu? Kenapa dengan tega kamu mencelakainya? Seorang dokter, menjadikan nyawa pasiennya sebagai mainan." cecar Nyonya Rahma.


"Petaka. Kenapa dia bisa melakukan hak seperti itu. Pasti aku akan dapat getahnya." ucap dokter kepala dalam hati. Padahal dirinya sudah sangat berhati-hati.


Karena biar bagaimanapun dirinyalah yang membentuk tim ini. Sehingga dia juga yang merekrut beberapa dokter yang di anggapanya mempunyai kemampuan untuk bisa di ajak bekerja sama merawat Tuan Hendra.


Brakkk.... pintu di buka dengan kasar dari luar. Siapa lagi kalau bukan Viki pelakunya. Dengan hanya memandang, Viki bisa melihat dan menebak apa yang terjadi.


Viki berjalan dan mengambil botol kecil yang berada di tangan Andrew. "Vikkk!!" geram Andrew, saat tangan Viki main serobot.


"Ajak mama keluar." pinta Viki pada Nara.


Tapi sayangnya sang mama tidak mau keluar dari ruangan. "Tidak, mama tidak akan meninggalkan papa kamu. Tidak akan." tolak Nyonya Rahma kekeh.


Viki mengusap wajahnya kasar. Sungguh, dirinya tidak ingin sang mama melihat apa yang seharusnya Nyonya Rahma dan Nara tidak boleh lihat. Kekejamannya.


Di belakang Viki, nampak Rey memandang ke arah Nara. "Siapa gadis cantik itu?" tanya Rey dalam hati.

__ADS_1


Nara begitu dekat dengan Nyonya Rahma. Dan Rey, sama sekali belum pernah melihat Nara. Rey menebak jika Nara mungkin kerabat dari Nyonya Rahma atau Tuan Hendra. Yang berarti saudara Viki.


Tapi semua tebakan Rey seketika menguap saat mendengar suara bariton Viki. "Jaga pandangan kamu. Jika masih menginginkan melihat indahnya dunia." ucap Viki tanpa melihat ke arah Rey.


Glekkk,,,, dengan susah payah Rey menelan air liurnya. Rey sadar jika perkataan Viki ditujukan pada dirinya. Dan Rey segera mengalihkan pandangan matanya.


Andrew hanya menggeleng dan tersenyum. Dirinya juga tahu, pada siapa perkataan tersebut di tujukan.


"Maafkan saya Tuan, saya terpaksa." ucap sang dokter, beralih bersimpuh di hadapan Viki.


"Kalian, lanjutkan apa yang sudah aku perintahkan." tegas Viki, menatap semua petugas medis yang berdiri rapi di depannya.


"Lakukan dengan baik. Seharusnya kakian tahu, apa yang aku ingin dengar." imbuh Viki.


"Baik Tuan." ucap mereka serempak.


Viki mengangkat kakinya. Menaruhnya tepat berada di bawah dagu sang dokter yang tengah bersimpuh di hadapannya.


"Bawa dia." ucap Viki.


"Tuan Andrew...??!" serunya, meminta tolong.


Belum sempat Andrew berucap, Viki terlebih dulu mengekuarkan suaranya. "Jangan ikut campur. Jika tidak ingin rumah sakit ini rata dengan tanah." ancamnya.


"Ckk,,, siapa yang mau ikut campur. Aku hanya ingin mengatakan, jika mulai sekarang. Dia bukan dokter di rumah sakit ini lagi." ucap Andrew dengan santai.


Semia petugas medis segera melakukan apa yang sebelumnya di perintahkan oleh Viki. Mereka tidak ingin membuang-buang waktu.


"Saya terpaksa. Ampuni saya. Saya berjanji, tidak akan melakukannya lagi. Atau, saya akan pergi sejauh mungkin. Iya,,, tolong." ucapnya memohon.


Viki memandangnya. Tersenyum menakutkan. "Dan saya, tidak terpaksa melakukannya."


"Bawa." perintah Viki, dirinyq mendekqt ke ranjang sang papa. Membuat jantung beberapa petugas medis berdegup kencang.


"Aku hanya mengingkan hasil yang ingin aku ketahui. Dan,,,, kerjakan dengan cepat." Viki membalikkan badan.


"Terimakasih." ucap Viki. Andrew tersenyum dan meninggalkan ruangan Tuan Hendra.


"Kerjakan dengan baik." Viki menyerahkan botol kecil berisi cairan pada Rey. Segera Rey meninggalkan ruanga Tuan Hendra.

__ADS_1


Nyonya Rahma dan Nara terdiam. Keduanya bahkan terkejut. Seorang Viki, bisa mengancam sedemikian rupa. Dan yang lebih mengejutkan lagi, semua petugas medis sepertinya ketakutan dengan perkataan Viki.


Bahkan dengan mudahnya, berkata akan meratakan rumah sakit besar milik orang tua Andrew.


__ADS_2