VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 107


__ADS_3

Melva dengan tampilan seperti biasa, cantik dan seksi. Memandang dirinya sendiri dari pantulan cermin.


Meneliti penampilannya dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Sempurna." pujinya pada diri sendiri sembari tersenyum penuh percaya diri.


"Lelaki mana yang akan menolak pesona seorang Melva." ujarnya tersenyum miring, masih di depan cermin full body.


Ting... sebuah pesan membuyarkan lamunannya. Tampak pesan tertulis masuk ke ponsel miliknya. Segera Melva menyalakan layar ponselnya. Berharap seseorang yang di nanti-nanti mengirimkan sesuatu lewat ponsel. Meski hanya sekedar bertanya kabar atau menyapa.


Melva cemberut dengan ekspresi jengah. Ternyata si pengirim pesan bukan lelaki yang di harapkannya Viki. Melainkan sang asisten yang kembali mengingatkannya. Jika sebentar lagi dirinya harus datang ke suatu tempat untuk bekerja.


"Menyebalkan." geramnya dengan memasukkan ponselnya ke dalam tas berukuran sedang dengan harga selangit.


Tiba-tiba Melva tersenyum. "Sebaiknya aku segera pergi menemui Viki. Bukankah saatnya makan siang. Tidak masalah terlambat bekerja. Mereka pasti akan menungguku. Lagi pula, siapa yang berani memarahiku." ucapnya tersenyum miring menunjukkan sisi angkuhnya.


Dengan menggunakan mobil mewah berwarna silver, Melva berangkat mengunjungi Viki di perusahaan. "Berhenti di restoran Z." perintah Melva pada sang sopir dengan mata menatap layar ponsel.


"Baik Nona."


Melva kembali mengeluarkan alat make-upnya. Kembali memandang wajahnya di depan cermin kecil. Membenahi atau menambahi polesan di wajahnya yang menurutnya masih kurang.


Ya, Melva ingin tampil cantik di depan Viki. Padahal, secantik apapun Melva, tentu saja Viki tidak akan pernah meliriknya.


Di perusahaan Viki.


Viki dengan suasana hati berbunga, menunggu kedatangan sang pujaan hati. Nara. Namun indera pendengarannya malah menangkap suara-suara berisik di depan ruangannya.


Membuat Viki penasaran, kiranya siapa yang berani membuat kegaduhan tepat di depan ruangan miliknya. "Apa mereka mau di pecat!!" geram Viki, berjalan menuju pintu.


Ceklek,,,, Pintu terbuka. Menampakkan dua anak manusia yang sangat di kenal oleh Viki. Nara dan Rey.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Viki dengan nada datar dan ekspresi wajah kesal.


"Abang....." panggil Nara dengan mengangkat tangannya tang membawa rantang berisi makanan.


Kemarahan yang tadinya hendak di lampiaskan olehnya kini hilang karena melihat senyum manis Nara. "Masuk." Viki menggandeng tangan Nara.


"Jangan biarkan siapapun masuk. Mengerti." ucap Viki menatap tajam Rey.

__ADS_1


"Kunci saja pintunya dari dalam Tuan." celetuk Rey, segera Rey menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


Viki mengangkat sebelah alisnya, menatap Rey dengan tatapan yang tidak suka. Jawaban yang di inginkan Viki bukan seperti itu. "Maaf. Baik Tuan." ralat Rey, mengulang jawabannya.


Brak... Viki menutup dengan kasar pintu ruangannya. Sementara Rey memegang dadanya serta kakinya sedikit terjingkat karena kaget.


"Hukum karma di bayar tunai." desah Rey, karena baru saja dirinya juga membuat Nara terkejut dengan suara panggilannya yang keras.


Viki menatap ke arah pintu. "Benar juga kata Rey, lebih baik gue kunci dari dalam." gumam Viki, berjalan ke arah mejanya. Dan menekan tombol otomatis untuk mengunci pintu ruangannya.


Sementara Nara sudah berada di meja. Menata makanan untuk Viki. "Bang sudah." panggil Nara, Viki tersenyum dan duduk di sebelah Nara.


Viki memegang dagu Nara. "Cepat sekali." ucap Viki. Nara hanya memamerkan deretan giginya yang putih dan rapi.


"Nara pengen lihat-lihat perusahaan abang." ucap Nara jujur.


"Baiklah, tapi nanti." Viki mengelus pelan rambut panjang Nara.


"Ada apa bang?" tanya Nara merasa risih, sebab Viki memandangi dirinya dengan seksama dan intens.


"Abang ingin segera menghalalkan kamu." celetuk Viki, langsung mendapat pukulan di pahanya.


Nara bukan gadis bodoh yang tidak mengerti arti perkataan dari Viki. "Abang pikir, Nara sudah pernah." ucap Nara dengan kesal.


"Kapan kita nikahnya." rengek Viki, persis seperti bocah yang tidak di belikan permen oleh orang tuanya.


"Abang sabar. Tinggal beberapa hari. Trus Nara punya KTP." jelas Nara.


"Iya. Kamu punya KTP. Terus kamu menikah." lanjut Viki membuat Nara menggeleng heran.


"Sudah, sebaiknya abang segera makan." Nara dengan telaten menyuapi Viki.


"Ini masakan kamu?" tanya Viki di sela-sela mengunyah makanan.


"Masakan semuanya." jawab Nara jujur. Karena memang Nara di bantu yang lain untuk menyiapkan makan siang.


"Apa lagi bang...??" tanya Nara melihat Viki mengunyah makanan sambil memandang dirinya dengan senyum.

__ADS_1


"Kamu cantik banget sayang." ucap Viki memuji calon istrinya.


"Abang juga tampan." timpal Nara, tersenyum canggung. "Ckk,,, sudah makan dulu. Jangan banyak bicara. Nanti keselek." tegur Nara.


Di lantai bawah, Melva melangkahkan kakinya dengan percaya diri. Tak lupa di tangan kanannya menenteng sesuatu yang baru saja di beli dari restoran.


"Siang mbak Melva." sapa resepsionis dengan ramah.


Melva menghentikan langkah kakinya. "Mbak." Melva menatap sang resepsionis dengan mata sombongnya.


"Perbaiki panggilan kamu. Saya calon istri dari perusahan ini." imbuhnya dengan angkuh, menatap tajam sang resepsionis dengan tatapan remeh.


"Maaf." ucap sang resepsionis.


Tanpa berkata lagi, Melva pergi meninggalkan lobi dengan gayanya yang anggun dan angkuh. "Ckk,,, apa benar Tuan Viki memiliki hubungan dengan dia. Amit-amit. Dandannya saja seperti ondel-ondel. Dadanya besar. Pasti hasil operasi." gumamnya dengan kesal, memandang Melva masuk ke dalam lift.


"Ehh,,, kenapa?" tanya Nara, saat Viki mengambil sendok dari tangannya.


"Aaa... cepat buka mulut kamu, pegel." keluh Viki, saat Nara tidak segera membuka mulutnya untuk menerima suapan dari Viki.


Nara mengunyah makanan sembari tersenyum. "Kenapa makanan ini rasanya enak sekali. Tidak seperti biasanya. Apa Mbak Mira menambahkan bumbu lain." ucap Nara dalam hati.


Padahal masakannya masih sama seperti biasa. Mungkin karena Nara makan menggunakan tangan dari Viki. Di tambah lagi perasaannya yang sedang bahagia.


"Lain kali, aku ingin makan masakan yang kamu buat sendiri. Boleh?" pinta Viki sambil mengusap sudut bibir Nara, di mana ada butiran nasi tertinggal di sana.


"Iya, nanti Nara buatkan. Tapi mungkin rasanya tidak seenak ini." ungkap Nara.


"Tambah lagi?" tanya Viki, saat piring yang di pegangnya telah kosong. Nara menggeleng pelan. Viki meletakan piring tersebut, dan segera mengambil minuman untuk Nara.


"Seharusnya Nara yang melakukannya bang. Kok malah Abang." cicit Nara.


"Tidak masalah, abang suka." Viki menepuk pahanya. Nara yang mengerti, bergerak menuju ke tempat Viki. Duduk di pangkuan Viki.


"Belum Nara bereskan loh bang." ujar Nara, melihat rantangnya masih berserakan memenuhi meja.


"Nanti saja." Viki menaruh kepalanya di pundak Nara, dengan posisi menyamping. Menghirup wangi dari leher Nara.

__ADS_1


Keduanya sedang menikmati kebersamaan di ruangan Viki. Tanpa mereka ketahui, Rey sedang menghadang Melva yang ingin masuk ke dalam ruangan Viki.


__ADS_2